Mans Lumiu Mananohas
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Matriks Simplektik dan Hubungannya Pada Sistem Linier Hamiltonian Artmo Dihartomo Laweangi; Jullia Titaley; Mans Lumiu Mananohas
d\'Cartesian: Jurnal Matematika dan Aplikasi Vol. 4 No. 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/dc.4.1.2015.7434

Abstract

Matriks Simplektik  dengan pengali m merupakan matriks sembarang berukuran  yang memenuhi     persamaan   TTJT = mJ dengan  J merupakan matriks blok berukuran 2n ´ 2n.  Apabila m = 1  maka T disebut simplektik. Sedangkan  sistem linier Hamiltonian merupakan  2n sistem persamaan diferensial dengan  bentuk: z’ =J(dH/dz) = JS(t)z = A(t)z, dimana H = H(t,z) = ½ zTS(t)z.  Dengan S(t) merupakan matriks simetrik yang kontinu pada sebuah interval q pada ℜ. Pada penelitian ini didapati bahwa hanya matriks simplektik dengan  pengali m (dimana m sembarang ) yang dapat mentrasformasi sistem linier Hamiltonian  z’ = A(t)z ke sebuah sistem linier Hamiltonian yang berpadanan, juga bahwa ada sebuah subgrup dari matriks Hamiltonian yang isomorfik terhadap subgrup matriks simplektik. Kata kunci: Isomorfik, Matriks Hamiltonian, Matriks Simplektik, Sistem Linier Hamiltonian, Subgrup
Model Sistem Antrian dengan Menggunakan Pola Kedatangan dan Pola Pelayanan Pemohon SIM di Satuan Penyelenggaraan Adminstrasi SIM Resort Kepolisian Manado Safril Bahar; Mans Lumiu Mananohas; Chriestie Montolalu
d\'Cartesian: Jurnal Matematika dan Aplikasi Vol. 7 No. 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/dc.7.1.2018.19549

Abstract

Antrian merupakan suatu keadaan di mana seorang harus menunggu gilirannya untuk mendapatkan pelayanan. Antrian disebabkan oleh sekelompok orang yang membutuhkan jasa pelayanan pada waktu bersamaan. Suatu proses kedatangan dalam suatu sistem antrian artinya menentukan distribusi probabilitas  jumlah kedatangan untuk suatu periode waktu. Dalam hal ini, distribusi probabilitas Poisson menyediakan deskripsi yang cukup baik untuk suatu pola kedatangan. Sedangkan untuk Pola pelayanan ditentukan oleh waktu pelayanan yaitu waktu yang dibutuhkan untuk melayani pelanggan pada fasilitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan sistem antrian dan mengurangi waktu tunggu di Satuan penyelenggaraan Adminstrasi SIM Resort Kepolisian Manado. Penelitian ini dilakukan di Satuan penyelenggaraan Adminstrasi SIM Resort Kepolisian Manado. Metode analisis yang digunakan adalah menggunakan pola kedatangan dan pola pelayanan. Dari hasil pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa sistem antrian pada SATPAS POLRESTA Manado memiliki tingkat kedatangan pemohon SIM sebesar 0.014 orang per menit. Waktu pelayanan pemohon SIM di loket I 1.979 menit rata-rata pemohon SIM dilayani, dan waktu pelayanan pemohon SIM di loket II 1.665 menit rata-rata pemohon SIM dilayani, namun waktu pelayanan pemohon SIM di loket III 0.368 menit rata-rata pemohon SIM dilayani.Kata Kunci :  Pola kedatangan, Pola pelayanan, Sistem Antrian, SATPAS Manado
ENSEMBLE SOFT VOTING DARI MODEL HYBRID CNN-TRANSFER LEARNING UNTUK KLASIFIKASI PENYAKIT PARU-PARU (STUDI KASUS RSUD MARIA WALANDA MARAMIS) Mahardika Inra Takaendengan; Dodisutarma Lapihu; Mans Lumiu Mananohas; Ketaren, Eliasta; Shalom Putri Maharani Taringanen; Dwika Taufan Takaendengan; Thesalonika Putri Millenia Parera
Jurnal TIMES Vol 14 No 2 (2025): Jurnal TIMES
Publisher : STMIK TIME

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit paru-paru seperti tuberkulosis, bronkitis, dan pneumonia masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia dengan angka kematian yang tinggi. Di Sulawesi Utara, RSUD Maria Walanda Maramis menghadapi tantangan dalam diagnosis dini karena keterbatasan tenaga medis spesialis dan beban kerja yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model ensemble soft voting dari hybrid Convolutional Neural Network (CNN) dan transfer learning untuk meningkatkan akurasi klasifikasi penyakit paru-paru menggunakan citra X-ray dada. Metode yang diusulkan menggabungkan tiga model berbeda yaitu VGG16, MobileNetV2, dan CNN custom melalui teknik soft voting ensemble. Dataset terdiri dari 589 citra X-ray pasien RSUD Maria Walanda Maramis yang telah diberi label oleh ahli radiologi. Evaluasi menggunakan 5-fold cross validation menunjukkan bahwa model ensemble mencapai akurasi 75.44%, precision 75.12%, recall 75.44%, dan F1-score 74.88%, lebih tinggi dibandingkan model individual terbaik (MobileNetV2 dengan akurasi 71.93%). Analisis statistik menggunakan uji McNemar membuktikan perbedaan signifikan secara statistik antara model ensemble dan model individual. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi sistem berbasis kecerdasan buatan sebagai alat bantu diagnosis untuk mendukung tenaga medis dalam meningkatkan ketepatan dan kecepatan diagnosis penyakit paru-paru di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas.
Analisis Perbandingan BLAKE2S dan SHA3-512 dalam Pengujian Ketahanan terhadap Serangan Bruteforce Mokolanot, Rizky Akbar; Eliasta Ketaren; Mans Lumiu Mananohas
Jurnal Sistem Komputer dan Informatika (JSON) Vol. 7 No. 3 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Budi Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30865/json.v7i3.9667

Abstract

Perkembangan teknologi komputasi modern, seperti high-performance computing, cloud computing, dan GPU, telah meningkatkan kemampuan penyerang dalam melakukan serangan brute force terhadap sistem kriptografi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan ketahanan dua algoritma hash modern, yaitu BLAKE2s dan SHA3-512, terhadap serangan brute force dalam konteks pengamanan data berbasis steganografi video. Metode penelitian dilakukan melalui pengujian empiris dengan mengukur waktu cracking, hash rate, serta jumlah percobaan yang dibutuhkan untuk menemukan nilai hash. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SHA3-512 memiliki ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan BLAKE2s, dengan waktu cracking sebesar 511.479 detik, sementara BLAKE2s hanya membutuhkan 216.156 detik. Perbedaan ini dipengaruhi oleh hash rate BLAKE2s yang lebih tinggi, yaitu 1.350.846 H/s, dibandingkan SHA3-512 sebesar 570.881 H/s, sehingga mempercepat proses brute force. Meskipun demikian, waktu embedding kedua algoritma relatif sama, dengan selisih yang tidak signifikan. Jumlah percobaan brute force pada kedua algoritma juga identik, yaitu 291.993.781 percobaan, yang menunjukkan bahwa perbedaan ketahanan lebih dipengaruhi oleh efisiensi komputasi daripada kompleksitas ruang pencarian. Dengan demikian, SHA3-512 direkomendasikan sebagai algoritma hash yang lebih aman untuk melindungi data rahasia terhadap serangan brute force, meskipun memiliki performa yang lebih rendah dibandingkan BLAKE2s