Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Perancangan Alat Ukur Kadar Karbon Monoksida (CO), Karbon Dioksida (CO2) dan Hidro Karbon (HC) Pada Gas Buang Kendaraan Bermotor Victor V. Kosegeran; Elia Kendekallo; Sherwin R.U.A. Sompie; Bahrun Bahrun
Jurnal Teknik Elektro dan Komputer Vol. 2 No. 3 (2013): Jurnal Teknik Elektro dan Komputer
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jtek.v2i3.2146

Abstract

Abstrak - Kendaraan bermotor berbahan bakar bensin menghasilkan emisi gas buang yang mengandung gas-gas polutan dapat merusak lingkungan sekitar, juga mengganggu kesehatan manusia. Dibutuhkan pengukuran kadar polutan gas CO, CO2, dan HC yang dikeluarkan kendaraan bermotor untuk mengendalikan polutan dari pembakaran bahan bakar kendaraan. Kosentrasi gas diukur dari banyaknya partikel unsur dalam kumpulan gas buang kendaraan. Untuk penanganan dan pengontrolan kadar emisi kendaraan bermotor bensin, dibuatlah alat yang mengukur kadar emisi gas buang kendaraan bermotor gas CO dan HC menggunakan sensor gas TGS-2201, dan untuk gas CO­2 menggunakan sensor gas MG-811. Kit minimum system ATMega 8535 dipakai sebagai prosesor pengendali alat ukur ini. Alat ukur ditera menggunakan standar alat ukur milik Dinas Perhubungan Manado. Kadar emisi mesin kendaraan 2 tak lebih tinggi dibandingkan kadar emisi mesin kendaraan 4 tak. Kadar tertinggi emisi terukur CO sebesar 0,11%, CO2 sebesar 5,32%, dan HC sebesar 99ppm. Pengukuran gas-gas polutan CO, CO2, dan HC cukup cepat sehingga membantu efisiensi waktu operator dalam pengukuran kadar emisi kendaraan. Kata kunci:         gas buang kendaraan bermotor, gas CO, gas CO2, gas HC ,sensor gas MG-811, sensor gas TGS-2201. Abstract - gasoline-fueled vehicles produce exhaust emissions gases containing pollutants that damage the environment, as well as health problems in humans. Measurement of gaseous pollutants CO, CO2, and HC in the exhaust of motor vehicles needed to do for control pollutants from fuel combustion vehicles. Gas concentration was measured from the number of element particles in the exhaust gas vehicles. For controling and handling exhaust emissions of gasoline-fueled vehicle, was invented a tool that can measure the levels of vehicle exhaust emissions for gas CO and HC with gas sensor TGS-2201, and for emission gas CO2 with gas sensor MG-811. Minimum system kit ATMega 8535using for proccessor controling this invated tool. Measuring tool was build by standart of Transport Department Manado measuring tool of exhaust emissions gases. Emissions of 2 stoke vehicles was higher than emission of 4 stoke vehicles. The higher emission was measured for CO is 0,11%, CO2 is 5,32%, and HC is 99ppm. Measuring of gaseous pollutants CO, CO2, and HC quick enough to do than efficiency time of operator help to measurement vehicles emissions levels. Key words:          exhaust vehicle, gas CO, gas CO2, gas HC , gas sensor MG-811, gas sensor TGS-2201.
KAJIAN PRAKTIK-PRAKTIK TERBAIK PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DALAM RANGKA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 Bahrun Bahrun
Jurnal Suloh Vol 1, No 1 (2016): SULOH Desember 2016
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/suloh.v1i1.8308

Abstract

Penelitian ini penting dilakukan untuk tujuan mengindentifikasi, menganalisis dan memetakan wujud praktik terbaik pendidikan karakter dalam lingkungan sekolah. Telah dipilih tiga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Banda Aceh sebagai situs penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, mengkaji secara intens praktik terbaik pendidikan karakter, mengindentifikasi, menganalisis dan mengkomperasikan praktik-praktik itu secara terpola sehingga menghasilkan sebuah taxonomi pendidikan karakter di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada prinsipnya banyak kesamaan praktik pengembangan  pendidikan di tiga sekolah yang dikaji, di samping juga ada praktik-praktik khusus yang berbeda. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa ada faktor filosofis, sosiologis, psikologis, dan manajemen yang mempengaruhi sukses atau tidaknya implementasi Kurikulum 2013 terutama dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah. Kata kunci: karakter, pendidikan karakter, implementasi kurikulum.
Principal communication management in improving teacher performance in Senior High School Maulidin Maulidin; Nasir Usman; Bahrun Bahrun
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 14, No 4 (2022): AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v14i4.2358

Abstract

The purpose of this study is to describe how the principal's communication management in improving teacher performance at SMA Banda Aceh. This study uses a descriptive qualitative approach. This research was conducted at SMA Negeri Banda Aceh, namely SMAN 4 which is located in Kuta Alam District, Banda Aceh City. The sample in this study consisted of the Principal, Deputy Principal and Teachers. Data collection techniques using observation, interviews. The standard of data validity in qualitative research refers to the standards of credibility, transferability, dependability, and confirmability. The data analysis technique used is descriptive qualitative analysis with data reduction techniques, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study concluded that the pattern of communication between the principal and the teacher council in improving teacher performance. The pattern of communication carried out by the principal has been going well by creating a harmonious family atmosphere in the form of interpersonal communication in the form of primary and secondary and linear communication patterns in improving teacher performance, increasing teacher performance at Banda Aceh High School. Implementation of communication between the head of school and the teacher council in improving teacher performance. The obstacles that occur in communication between the principal and the teacher council are technical communication barriers, and semantic barriers.