Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : FIKkeS

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU MENGKONSUMSI MAKAN MAKANAN MANIS DAN PERILAKU MENGGOSOK GIGI DENGAN KEJADIAN KARIES GIGI PADA ANAK TK PERTIWI 37 GUNUNG PATI Ernawati -; Arwani -; Amin Samiasih
FIKkeS Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.503 KB)

Abstract

Penyakit gigi dan mulut adalah suatu penyakit yang tidak kalah pentingnya dengan penyakit lain. Karies gigi dan gangguan gigi berlubang merupakan gangguan kesehatan gigi yang paling umum dan tersebar luas di sebagian penduduk dunia. Tingginya angka karies gigi dapat dipengaruhi berbagai faktor.Karies gigi dapat disebabkan oleh faktor distribusi penduduk, lingkungan, perilaku dan faktor pelayanan kesehatan gigi. Pada anak prasekolah, karies gigi banyak disebabkan karena adanya kebiasaan yang kurang baik. Pada umumnya anak usia prasekolah tersebut mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan yang manis atau yang mengandung gula murni seperti permen, cokelat, dan donat.Di lain pihak anak prasekolah memiliki kebiasaan menggosok gigi hanya dua kali sehari yaitupada waktu pagi hari dan sore hari. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif korelasi, Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cros sectional (belah lintang). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu siswa di TK Pertiwi 37 Gunung berjumlah 47 siswa. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi square.Dari hasil penelitian didapatkan bahwa Sebagian besar anak pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang sering mengkonsumsi makanan manis. Sebagian besar anak pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang, melakukan gosok gigi dengan buruk. Sebagian besar anak pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang, mengalami karies gigi. Ada hubungan antara perilaku konsumsi makanan manis dengan kejadian karies gigi pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang (p = 0,007).Ada hubungan antara perilaku menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang (p = 0,001).Saran yang diberikan kepada ibu-ibu yang memiliki anak sebaiknya mengurangi konsumsi makanan manis-manis pada anak-anak dengan cara memberikan bekal makanan ke sekolah sehingga akan mengurangi konsumsi makanan jajanan yang manis-manis sehingga karies gigi dapat terkurangi.Kata kunci : Perilaku konsumsi makanan manis, perilaku gosok gigi, kejadian karies gigi
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PENCEGAHAN HIV/AIDSMAHASISWA S-1 KEPERAWATAN SEMESTER VIII UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG Ahmad Faizin; Edy Soesanto; Ernawati -
FIKkeS Vol 6, No 2 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.814 KB)

Abstract

Prevalensi HIV/AIDS bagaikan gunung es, kasus yang nampak hanya permukaan belaka, namun kejadian yang sesungguhnya terjadi jauh lebih besar dari pada kasus yang nampak. Mahasiswa Keperawatan merupakan calon tenaga kesehatan yang akan bekerja di sarana kesehatan. Setiap tenaga kesehatan harus mempunyai pengetahuan tentang pencegahan HIV/AIDS. Pengetahuan pencegahan HIV/AIDS dalam pelayanan kesehatan salah satunya yaitu Universal Precaution.Tujuan penelitian ini yaituUntuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang pencegahan HIV/AIDS Mahasiswa S-1 Keperawatan semester VIII Universitas Muhammadiyah Semarang.Jenis penelitian adalah Deskriptif. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menggunakan Kuesioner. Jumlah populasi 123 responden. Sampel penelitian menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi dan responden yang mengikuti penelitian ini sebanyak 122 responden. Uji statistik yang digunakan meliputi tendensi sentral.Hasil penelitian menunjukan responden yang mempunyai tingkat pengetahuan Sangat baik meliputi penggunaan baju pelindung, pengelolaan kain, peralatan layanan pasien, pembersihan lingkungan, resusitasi pasien, penempatan pasien. Sedangkan pada tingkat pengetahuan baik tentang pencegahan HIV/AIDS, meliputi mencuci tangan. Tingkat Cukup meliputi penggunaan sarung tangan, kaca mata, masker muka, dan masker wajah. Dan tingkat pengetahuan kurang dalam penggunaan instrument tajam. Usia responden terdiri dari usia 20-24 tahun, dengan usia paling banyak adalah 22 tahun (50.4%). Jenis kelamin responden terbanyak yaitu perempuan (65.57%). Sebagian besar responden mendapatkan informasi mengenai pencegahan HIV/AIDS dari perkuliahan (90.2%).Berdasarkan hasil penelitian tersebut sebaiknya institusi pendidikan dapat lebih meningkatkan pengetahuan Universal Precaution terhadap Mahasiswa keperawatan tentang pencegahan HIV/AIDS.Kata Kunci: Pengetahuan, HIV/AIDS, Pencegahan HIV/AIDS.Kepustakaan: 47 (1980-2012)
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN LAMA KERJA PERAWAT DENGAN PENERAPAN PRINSIP "ENAM TEPAT" DALAM PEMBERIAN OBAT DI RUANG RAWAT INAP RS Dr. KARIADI SEMARANG Yunie Armiyati; Ernawati -; Riwayati -
FIKkeS Vol 1, No 1 (2007): Jurnal Keperawatan
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11650.07 KB)

Abstract

Terkait dengan peran kolaborasi, perawat tidak bisa lepas dari kegiatan pemberian obat pada pasien. Pemberian obat pada pasien seharusnya menggunakan prinsip enam tepat agar terhindar dari kesalahan. Enam tepat pemberian obat meliputi tepat pasien (right client), tepat obat (right drug), tepat dosis (right dosis), tepat waktu (right time), tepat cara (right route) dan tepat dokumentasi (right documentation). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan prinsip enam tepat dalam pemberian obat diruangan rawat inap RS Dr Kariadi Semarang danmengetahui hubungan tingkat pendidikan dan lama kerja perawat dengan penerapan prinsip enam tepat dalam pemberian obat diruang rawat inap RS Dr Kariadi Semarang. Desain yang digunakan adalah deskriptif analitik menggunakan pendekafan cross sectional. Responden adalah perawat yang terlibat dengan kegiatan pemberian obat di ruang rawat inap RSUP Dr. Kariadi Semarang sejumlah 70 orang. Data dikumpulkan sebanyk dua kali untuk masing-masing responden dengan melakukan observasi perilaku perawat terkait dengan penerapan prinsip "enam tepat" dalam memberikan obat dengan panduan observasi. Data juga dikumpulkan dengan kuesioner terkait dengan karakteristik perawat. Hasil penelitian ini secara umum menunjukkan bahwa semua perawat belum menerapkan prinsip penerapan "enam tepat" dalam pemberian obat secara keseluruhan dengan urutan ketepatan adalah sebagai berikut: (1) tepat dosis, (2) tepat waktu, (3) tepat pasien, (4) tepat pendokumentasian, (5) tepat cara dan terakhir adalah (6) tepat obat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara tingkat pendidikan dan lama keria perawat dengan prinsip "enam tepat" dalam pemberian obat. Masih banyak faktor lain yang tampaknya dapat mempengaruhi penerapan prinsip "enam tepat" dalam pemberian obat oleh perawat. Upaya mempertahakan dan meningkatkan penerapan prinsip "enam tepat" dilakukan dengan pelatihan dan pendidikan perawat berkelanjutan.Kata kunci: prinsip enam tepat pemberian obat, tingkat pendidikan perawat, lama kerja perawat
PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU DALAM MENGHADAPI SINDROM KLIMAKTERIUM DI DESA PRAMBATAN KIDUL KECAMATAN KALIWUNGU KABUPATEN KUDUS Dwi Endah Ayu Ermawati; Shobirun -; Ernawati -
FIKkeS Vol 4, No 1 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.57 KB)

Abstract

Wanita dengan klimakterium akan terjadi perubahan-perubahan tertentu yang dapat menyebabkan gangguan-gangguan ringan sampai berat. Perubahan dan gangguan itu sifatnya berbeda-beda. Gangguan-gangguan baik fisik maupun psikologis dapat menyebabkan kecemasan pada wanita. Kecemasan pada sindrom klimakterium akan muncul apabila dilatarbelakangi pengetahuan yang rendah. Hal ini juga terjadi pada sebagian wanita yang tinggal di Desa Prambatan Kidul Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi sindrom klimakterium di Desa Prambatan Kidul Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus. Jenis penelitian ini deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu usia klimakterik yaitu kelompok usia 40-50 tahun yang tinggal di Desa Prambatan Kidul Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus yang berjumlah 93 orang. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan proporsional random sampling dengan jumlah 76 orang. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar pengetahuan ibu tentang klimakterium adalah rendah yaitu 55,3%, dan tingkat kecemasan wanita usia klimakterium sebagian besar adalah berat yaitu 65,8%. Hasil uji korelasi Spearman rho didapatkan koefisien korelasi sebesar -0,682 dengan nilai p sebesar 0,000 (P< 0,05), hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negative yang signifikan antara pengetahuan dengan tingkat kecemasan dalam menghadapi sindrom klimakterium di Desa Prambatan Kidul Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus. Artinya jika pengetahuan wanita tinggi maka tingkat kecemasannya akan menurun dan sebaliknya.Berdasarkan hal tersebut di atas diharapkan kepada para ibu terutama pada usia klimakterium untuk mencari dan memperluas pengetahuan mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan sindrom klimakterium terutama gejala-gejala yang timbul pada masa ini. Sehingga dengan pengetahuan yang baik akan mengurangi tingkat kecemasan ibu mengenai sindrom klimakterium ini.Kata Kunci : Sindrom klimakterium, Tingkat kecemasan
HUBUNGAN PERSEPSI PENDERITA TENTANGDUKUNGAN KELUARGA DENGAN KETERATURAN PERAWATAN DAN PENGOBATAN PADA PENDERITA KUSTA DI KECAMATAN BANJARHARJO KABUPATEN BREBES Andry Firmansyah; Edy Seosanto; Ernawati -
FIKkeS Vol 6, No 2 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.83 KB)

Abstract

Dukungan keluarga dalam penanganan pengobatan penyakit kusta sangat dibutuhkan untuk memberikan pendampingan dalam proses pengobatan, walaupun peranan para petugas juga sangat besar. Hal utama yang menjadi upaya dalam pendampingan proses pengobatan penyakit kusta bagi keluarga adalah untuk memperkecil kemungkinan kejadian yang tidak diharapkan, seperti tidak mau minum obat, tidak mau mengurus diri sendiri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan persepsi penderita kusta tentang dukungan keluarga dengan keteraturan perawatan dan pengobatan pada penderita kusta di Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes. Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif korelasi dengan metode pendekatan crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita penyakit kusta PB dan MB di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarharjo dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode total samplingyaitu berjumlah 58 orang yang terdiri dari penderita kusta PB (12 orang) dan MB (46 orang). Variabel yang dikaji dalam penelitian ini adalah persepsi penderita kusta tentang dukungan keluaga dan keteraturan perawatan dan pengobatan pada penderita kusta. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis statistik Fisher Exact. Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh sebagian besar persepsi penderita kusta tentang dukungan keluarga sebagian besar adalah buruk yaitu sebanyak 33 orang (56,9%), keteraturan penderita kusta dalam perawatan dan pengobatan kusta sebagian besar adalah tidak teratur yaitu sebanyak 56 orang (96,6%). Tidak ada hubungan yang signifikan antara persepsi penderita kusta tentangdukungan keluarga dengan keteraturan perawatan dan pengobatan pada penderita kusta di Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes, dengan nilaip-value 0,181 > ? (0,05). Berdasarkan hasil analisis statistik tersebut maka diharapkan masyarakat dapat meningkatkan dukungan penghargaan dan dukungan emosional kepada anggota keluarga yang menderita penyakit kusta, yaitu dengan memberikan motivasi dan penghargaan kepada penderita kusta untuk melakukan aktivitas fisik serta dengan memberikan suasana rumah yang nyaman bagi penderita kusta.Kata kunci:dukungan keluarga, keteraturan perawatan dan pengobatan, kusta
HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI RSUD KRATON KABUPATEN PEKALONGAN Evi Yusnita; Siti Aisah; Ernawati -
FIKkeS Vol 5, No 1 (2012): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.855 KB)

Abstract

Komunikasi terapeutik yang baik diharapkan dapat memberikan informasi yang baik dan dapat membina hubungan saling percaya terhadap pasien sehingga pasien akan merasa puas dengan pelayanan yang diterimanya. Apabila kemampuan perawat tidak mencakup dan tidak dapat memelihara hubungan interpersonal yang baik maka pasienpun tidak akan puas dengan pelayanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan komunikasi terapeutik dengan tingkat kepuasan pasien di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan. Desain penelitian ini menggunakan korelasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan proporsional random sampling sebanyak 91 orang.Instrumen penelitian menggunakan chek list dan kuesioner.Analisa data menggunakan uji sperman rank.Hasil uji sperman rank diperoleh ? value sebesar 0,001 < 0,05 berarti ada hubungan yang signifikan antara hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kepuasan pasien di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan. Perawat sebaiknya dalam melakukan komunikasi terapeutik sesuai dengan protab yang telah ditentukan oleh pihak rumah sakit, dan melakukan komunikasi terapeutik sesuai dengan tahap-tahap yang telah ditentukan sehingga dapat memberikan komunikasi terapeutik secara optimal.Kata kunci : Komunikasi Terapeutik, Kepuasan Pasien
GAMBARAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) DI PUSKESMAS GENUK DAN BANGETAYU SEMARANG Haqi Maulana Mochammad; Siti Aisah; Ernawati -
FIKkeS Vol 5, No 2 (2012): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.674 KB)

Abstract

Pengawas menelan obat (PMO) pada penderita tuberkulosis paru harus dikenal, dipercaya, dan disetujui oleh petugas kesehatan maupun penderita tuberkulosis paru (Depkes RI, 2007). Untuk mendukung tugas dan fungsinya PMO harus memiliki karakteristik yang handal meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan kemampuan komunikasi dengan penderita, dan memahami peran dan tugasnya. Jenis kelamin PMO ikut berperan dalam penentuan tingkat keberhasilan dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Perbedaan jatidiri antara pria dan wanita mempengaruhi produktivitas kerja individu. Jati diri seorang pria ditentukan oleh kemampuannya. Pria akan membanggakan diri atas kemampuan memecahkan masalah atau menyelesaikan sebuah pekerjaan, sedangkan wanita lebih mementingkan rasa kepedulian, integritas dan nilai-nilai yang lebih personal dan kepedulian untuk melayani. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran Pengawas Menelan Obat (PMO) pada penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Genuk dan Bangetayu Semarang. Penelitian ini menggunakan penelitian studi diskriptif sederhana. Variabel gambaran Pengawas Menelan Obat (PMO) pada penderita tuberkulosis paru di wilayah kerja puskesmas Genuk dan Bangetayu Semarang yang terdiri dari jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, kemampuan komunikasi dan peran. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Pengawas Menelan Obat (PMO) pada penderita tuberkulosis paru di Puskesmas Genuk dan Bangetayu Semarang sebanyak 37 orang. Penelitian menggunakan teknik total Sampling sebanyak 37 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin responden sebagian besar perempuan yaitu sebanyak 21 orang (56,8%), umur responden sebagian besar tergolong pada umur dewasa dini yaitu sebanyak 22 orang (59,5%), pendidikan responden sebagian besar berpendidikan dasar yaitu sebanyak 19 orang (51,4%), pekerjaan responden sebagian besar bekerja sebagai pegawai swasta dan wiraswasta masing-masing sebanyak 13 orang (35,1%), PMO sebagian besar adalah keluarga pasien yakni sebanyak 36 orang (97,3%), pengetahuan responden sebagian besar Baik yakni sebanyak 19 orang (51,4%), kemampuan komunikasi responden termasuk dalam kategori cukup yaitu sebanyak 24 orang (64,9%), peran PMO sebagian besar Baik yakni sebanyak 26 orang (70,3%). Hasil penelitian ini dharapkan dapat dijadikan rekomendasi kepada masyarakat khususnya penderita tuberkulosis paru tentang arti pentingnya kehadiran PMO disamping penderita untuk menjamin kepatuhan menelan obat.Kata Kunci : Pengawas Menelan Obat (PMO)Pustaka : 23 (1994 - 2010)