Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KANTOR GUBERNUR SUMATERA SELATAN Desti Rahmiati; Bambang Setioko; Gagoek Hardiman
IMAJI Vol 1, No 2 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1510.8 KB)

Abstract

Kota Palembang dalam 5 tahun terakhir ini mengalami kemajuan yang begitu pesat, terlihatnya dari maraknya pertumbuhan infrastruktur, sarana dan prasarana kota, dan roda perekonomian yang terus menggeliat. Berdasarkan fenomena tersebut, potensi kota Palembang untuk berkembang sangat besar. Hal inilah yang mendasari penetapan suatu visi strategis, yaitu Palembang sebagai kota bertaraf internasional. Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemerintah provinsi Sumatera Selatan berencana untuk merelokasi Kantor Gubernur Sumatera Selatan sebagai salah satu program pengembangan kawasan Jakabaring sebagai kawasan strategis pertumbuhan ekonomi kota Palembang.Kajian diawali dengan penelusuran mengenai gedung pemerintahan, filosofi struktur pemerintahan provinsi, standar-standar dan kebijakan mengenai tata ruang dalam kantor Gubernur, studi banding beberapa Kantor Gubernur di Provinsi Jawa. Dilakukan juga tinjauan mengenai lokasi kantor Gubernur Sumatera Selatan dan pembahasan konsep perancangan dengan penekanan desain Arsitektur Neo-Vernakular. Tapak yang digunakan adalah lahan kosong yang diperuntukkan sebagai zona pemerintahan. Selain itu, dibahas pula mengenai massa dan tata ruang, penampilan bangunan, struktur serta utilitas yang diterapkan dalam perancangan “Kantor Gubernur Sumatera Selatan”.Konsep perancangan ditekankan pada desain Arsitektur Neo-Vernakular, yaitu langgam arsitektur yang memunculkan kembali unsur tradisional setempat kedalam bangunan modern. Penekanan desain arsitektur neo-vernakular diharapkan dapat menghasilkan suatu rancangan kantor pemerintah provinsi yang sesuai standar, yang juga mampu mencerminkan eksistensi dari berdirinya lembaga pemerintahan daerah dan sebagai lambang kebanggaan daerah. Untuk bangunan kantor Gubernur Sumatera Selatan, dirancang dengan konsep denah berbentuk simetris yang mengesankan kesan megah pada bangunan.
BEKASI CYCLING CENTER YUUSHIINA DINI HAPSARI; Gagoek Hardiman; R. Siti Rukayah
IMAJI Vol 4, No 1 (2015): IMAJI Jurnal Desain Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1694.71 KB)

Abstract

Fenomena bersepeda yang telah terjadi di kota besar sekarang ini merupakan kegiatan yang telah menjadi rutinitas dan gaya hidup di kota besar. Tidak hanya peralatan dan orang-orang yang membentuk perkumpulan namun juga telah menjadi gerakan yang menumbuhkan tempat-tempat atau wadah yang dimanfaatkan khalayak umum. Tingkat polusi, pemanasan global dan kemacetan yang semakin tinggi membuat masyarakat kota mencari berbagai alternatif transportasi, salah satunya adalah sepeda. Karena selain baik untuk kesehatan, sepeda juga baik untuk kenyamanan kota, kenyamanan global dan pemeliharaan lingkungan. Sepeda tidak menghasilkan gas karbon monoksida maupun karbon dioksida, tidak mencemari udara maupun lingkungan serta tidak menyebabkan kemacetan lalu lintas. Karena sepeda dioperasikan oleh otot tubuh manusia, maka tidak diperlukan konsumsi bahan bakar. Sepeda telah memberikan kenaikan perhatian terhadap isu-isu global lingkungan hidup, sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan dan paling cocok untuk kota besar. Tak heran bila kemudian sepeda mulai dipilih dan digunakan sebagai alternatif di luar penggunaan mobil. Menyikapi fenomena yang terjadi, gerakan ini juga diharapkan dapat berdampak pada penurunan angka penggunaan kendaraan bermotor sehingga mengurangi polusi, efisiensi energi, menuju kota yang lebih bersih, meningkatkan kesehatan manusia maupun lingkungan dan sebagainya. Dari sisi implementasi kebijakan, target awal adalah mengajak warga masyarakat untuk mulai menggunakan alat transportasi sepeda baik untuk sekolah, bekerja maupun kegiatan lainnya yang berjarak dekat. Dan disinilah salah satu tujuan lain dari fasilitas  pengadaan velodrome dengan konsep one stop service sebagai cycling center di Kota Bekasi.
KAMPUS II PONDOK PESANTREN MODERN FUTUHIYYAH DI MRANGGEN matien islami; titien woro; gagoek hardiman
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.043 KB)

Abstract

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan dan keagaman Islam tertua di Indonesia. Pondok pesantren termasuk pendidikan khas Indonesia yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dari dulu hingga sekarang. Pada awal berdirinya, bentuk pondok pesantren masih sangat sederhana, dimana kegiatannya hanya diselenggarakan dalam masjid dengan beberapa orang santri. Pada selanjutnya, dibangun pondok-pondok/ asrama disekitar masjid tersebut sebagai tempat tinggal. Berdasarkan Data Statistik Departemen Agama Tahun 2012/2013 jumlah Pondok Pesantren di seluruh Indonesia mencapai 27.230 pondok pesantren (Sumber: pendis.kemenag.go.id). Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat mengingat banyaknya alumni pesantren yang kemudian memprakarsai berdirinya pondok pesantren baru. Kabupaten Demak yang dikenal sebagai kota wali dirasakan sangat kental aroma kereligiusan di dalam setiap masyarakatnya. Demak juga merupakan wilayah yang sesuai untuk mengembangkan pondok pesantren. Sebagai salah satu pondok pesantren yang terletak di Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak, Pondok Pesantren Futuhiyyah didirikan oleh KH. Abdurrahman bin Qosidil Haq bin Abdullah Muhajir pada Tahun 1901. (Sumber: www.futuhiyyah.org)
ASRAMA MAHASISWA DI SEMARANG DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR TROPIS muhammad amanda; titien woro; gagoek hardiman
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2895.727 KB)

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk yang pesat merupakan hal yang selalu mendasari munculnya tuntutan kebutuhan akan tempat tinggal di kota-kota besar. Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk Kota Semarang pada tahun 2011 mencapai 1.544.358 jiwa. Tentu saja jumlah tersebut belum termasuk jumlah perpindahan penduduk dari luar kota ke Semarang. Adanya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang sedang berkembang pesat seperti Universitas Diponegoro (UNDIP) di daerah Tembalang (bagian tenggara Kota Semarang) menjadikan banyaknya jumlah pendatang lebih didominasi oleh kalangan pelajar. Seiring dengan meningkatnya jumlah peminat PTN ini, jumlah migrasi mahasiswa pendatang ke kawasan kampus UNDIP Tembalang-pun dari tahun ke tahun semakin meningkat, sehingga BPS mencatat pada tahun 2011 kecamatan ini sebagai penyumbang jumlah pendatang terbesar di Semarang. Perkembangan yang pesat membuat pembangunan cenderung tidak beraturan di sekitar lingkungan kampus, sehingga lahan yang tersedia tidak mampu dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Harga tanahpun semakin melonjak dan langka. Fenomena ini tentu mendorong minat investasi perusahaan pengembang untuk membuat hunian vertikal baru sekelas apartemen yang saat ini menjadi solusi praktis dari masalah yang ada, serta lebih banyak diminati oleh kalangan mahasiswa di kota-kota besar. Untuk itu diperlukan sebuah kajian yang meninjau lebih dalam mengenai pengertian hunian vertikal untuk mahasiswa, dalam hal ini dinamakan ‘asrama mahasiswa’ untuk kelas menengah keatas yang memiliki fasilitas sekelas apartemen. Dilakukan juga beberapa studi banding mengenai hunian vertikal untuk mahasiswa di beberapa kota besar lain, untuk kemudian disesuaikan dan diterapkan berdasarkan kondisi di kecamatan Tembalang, Semarang. Pendekatan perancangan dilakukan dengan penekanan desain arsitektur tropis menyesuaikan iklim setempat, dengan mempertimbangkan aspek fungsional, kinerja, teknis dan kontekstual bangunan setipe.