Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Estimation of Biomass, Carbon Stocks, O2 Production and Enviromental Services Value of CO2 Sequestration of Mangrove Forest in Kurau Sub-District, Tanah Laut Regency Fithria, Abdi; Ali, Syam’ani D.; Udiansyah, Udiansyah; Ruslan, Muhammad; Rezekiah, Arfa Agustina; Fahmi, Hilman; Diva, Achmad Arya; Wahyudi, Firman Pramudya Rahmat; Akbar, Pani; Shiba, Yasinta Nur
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.1075-1084

Abstract

Indonesia possesses the world’s largest mangrove forest area, which plays a vital role in global carbon regulation and coastal ecosystem services. However, these ecosystems are under increasing threat from anthropogenic pressures such as aquaculture expansion (especially shrimp farming), agricultural land conversion, and urban infrastructure development. These activities not only reduce forest cover but also compromise the ecological functions of mangroves, particularly their role as significant carbon sinks and oxygen producers. Given that mangroves have the highest carbon storage capacity per hectare compared to other forest types, their conservation is imperative in mitigating climate change. This study aims to assess the ecological and economic functions of mangrove forests in Kurau Sub-district, Tanah Laut Regency, South Kalimantan. Specifically, it quantifies aboveground biomass, carbon stocks, oxygen output, and the economic value of CO₂ sequestration. Data were collected through stratified random sampling based on vegetation density classes obtained from NDVI imagery, categorized into sparse, moderate, and dense classes. Field measurements focused on vegetation components from saplings to mature trees. Biomass was calculated using species-specific allometric equations, carbon stock was estimated by applying standard conversion factors, and oxygen production was derived using stoichiometric ratios. Economic valuation was conducted using a market-based approach, referencing global carbon pricing standards. The findings reveal that dense vegetation areas provide the greatest ecological benefit, with biomass of 54.72 tons/ha, carbon stock of 25.72 tons/ha, and oxygen production of 68.66 tons/ha. These ecological values translate into an estimated economic benefit of IDR 1.57 billion per year, indicating potential for integrating mangrove conservation with community-based development programs.
POTENSI DAN DOMINANSI TEGAKAN PADA WILAYAH BUKIT PULAI, PAMATON, DAN MANDIANGIN DI KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS HUTAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Nugroho, Vinsensius Bima; Suyanto, Suyanto; Udiansyah, Udiansyah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.9529

Abstract

Hutan memberikan manfaat yg banyak bagi manusia, maka hutan harus terus dilestarikan demi eksistensi kehidupan mahluk hidup di bumi. Untuk menyusun suatu perencanaan yang baik, maka diperlukan informasi tentang hutan yang dapat diperoleh dari data potensi hutan yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Bukit Pulai, Pamaton, dan Mandiangin masih belum banyak diketahui jenis-jenis tegakan dan manfaat di sana. Tujuan dari penelitian yaitu menganalisis potensi dan mengidentifikasi dominansi tegakan di kawasan Bukit Pulai, Pamaton, dan Mandiangin. Lokasi plot jalur berpetak ditentukan dengan metode purposive sampling yang memiliki panjang 20 m dan berjarak 1000 m antar jalurnya. Hasil dari penelitian yaitu tegakan di kawasan Bukit Pulai, Pamaton, dan Mandiangin terdiri dari 42 jenis untuk tingkat semai dengan potensi batang perhektar sebesar 219,36 m2/ha, 51 jenis untuk tingkat pancang berpotensi batang perhektar sebesar 124,24 m2/ha, 30 jenis untuk tingkat tiang memiliki 3,61 m2/ha potensi batang perhektarnya, dan 25 jenis untuk tingkat pohon berpotensi volume sebesar 0,18 m3/ha serta identifikasi dominansi tegakan tumbuhan pada tiap tingkat pertumbuhan didominasi oleh tengkook ayam (Nephelitum sp) ditingkat semai, tanaman mampat (Cratoxylon tormosum) menjadi yang paling dominan ditingkat pertumbuhan pancang, pada tingkat pertumbuhan tiang alaban (Vitex pubescens) menjadi tanaman yang paling dominan tumbuh, medang puspa (Schima wallichii) menjadi yang paling dominan ditingkat pertumbuhan pohon dimana tipe penutupan lahan di  Bukit Pulai, Pamaton, dan Mandiangin terdiri dari Hutan Lahan Kering Sekunder Kerapatan Rendah dengan potensi volume hanya sebesar 8,54 m3/ha, penutupan lahan semak belukar berpotensi volume hanya 6,67 m3/ha, penutupan lahan kebun berpotensi volume hanya sebesar 1,28 m3/ha.