Susana Nurtanti, Susana
Unknown Affiliation

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

GAMBARAN DUKUNGAN KELUARGA PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI DESA GUMIWANG KECAMATAN WURYANTORO Nurtanti, Susana
Jurnal AKPER GSH Vol 8, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The background of this research is the importance of family support for elementary school age children because with family support the children can control their behavior. Of the 200 abandoned children studied in Surabaya, it was found that only 3.5% of respondents admitted that their parents or their families had never been mistreated. Almost all neglected children admit to having been the object of violence in the family (96.5%), and even 61% of them admit to being treated harshly. Of the 200 abandoned children, 70% admitted that they were often victims of beatings at home, 66% admitted that they were abused. The purpose of this study was to determine family support for elementary school aged children. The design of this research is descriptive, the number of samples is 50 respondents with purposive sampling technique. The results showed family support for elementary school age children in Gumiwang Village, Wuryantoro District, indicated by the results of statistical data processing that the frequency distribution of family support with a good score was 35 (70.0%), while the frequency distribution of family support with a bad score was 15 (30.0%).
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEMANDIRIAN LANSIA DALAM PEMENUHAN AKTIVITAS SEHARI-HARI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SELOGIRI, KABUPATEN WONOGIRI Ratnasari, Nita Yunianti; Nurtanti, Susana
Jurnal AKPER GSH Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lansia merupakan seseorang yang berusia 60 tahun keatas atau lebih. Lansia mengalami perubahan berupa penurunan fungsi organ tubuh sehingga lansia mengalami kesulitan dalam memenuhi aktivitas sehari-hari. Kemandirian lansia dalam aktivitas sehari-hari dapat diukur dengan Katz Indeks. Di era globalisasi ini keluarga disibukkan oleh pekerjaan mereka masing-masing sehingga kurang memperhatikan atau memberi dukungan kepada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian lansia. Penelitian ini dengan pendekatan crosssectional. Sampel dipilih dengan purposive sampling dengan jumlah sampel 142 lansia dan keluarga lansia. Variabel dalam penelitian ini dukungan keluarga dan kemandirian lansia. Data yang terkumpul dianalisa dengan rumus chi square dan didapatkan hasil 11.272 yang lebih besar dari x2 hitung dengan df=3.851. hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian lansia dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari di wilayah kerja puskesmas Selogiri, Wonogiri. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu jenis dukungan keluarga yang terbanyak adalah dukungan penghargaan. Lansia sebagian besar yaitu sebanyak 64.1 % adalah mandiri dalam pemenuhan aktivitas sehari – hari. Ada hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian lansia dalam pemenuhan aktivitas sehari–hari di wilayah kerja puskesmas Selogiri, Wonogiri. Saran hendaknya keluarga selalu meningkatkan dukungan penghargaan pada lansia. Petugas kesehatan diharapkan lebih meningkatkan kerjasama dengan kader lansia karena dukungan keluarga akan meningkatkan kemandirian pada lansia.  Kata kunci: Dukungan keluarga, Lansia, Aktivitas Sehari-hari
GAMBARAN FUNGSI INTELEKTUAL LANSIA DI POSYANDU LANSIA KELURAHAN KALIANCAR KECAMATAN SELOGIRI, KABUPATEN WONOGIRI Ratnasari, Nita Yunianti; Nurtanti, Susana
Jurnal AKPER GSH Vol 4, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bertambahnya usia, tubuh mengalami proses penuaan, termasuk otak. Otak akan mengalami perubahan fungsi, termasuk fungsi intelektual berupa sulit mengingat kembali, berkurangnya kemampuan dalam mengambil keputusan dan bertindak (lebih lamban). Fungsi memori merupakan salah satu komponen intelektual yang paling utama, karena sangat berkaitan dengan kualitas hidup. Banyak warga usia lanjut mengeluh kemunduran daya ingat yang disebut sebagai mudah lupa. Lansia dengan demensia sering lupa makan dan minum, atau makan dan minum di luar jam makan, serta kurang memperhatikan kualitas makanannya (misalnya makanan yang sudah berjamur). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi intelektual pada kelompok usia lanjut di Posyandu Lansia Kelurahan Kaliancar, Selogiri, Wonogiri. Desain penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena. Dalam hal ini peneliti hanya ingin mengetahui hal – hal yang berhubungan dengan keadaan sesuatu (Arikunto S, 1998). Pada penelitian ini peneliti ingin menggambarkan tentang fungsi intelektual lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Kaliancar kecamatan Selogiri, kabupaten Wonogiri. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Oktober 2014 di Kelurahan Kaliancar Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Hasil penelitian diperoleh hasil sedikit responden yang daya ingatnya masih baik (18,8%),  sebagian besar responden mengalami gangguan daya ingat ringan (55,3%). Sebagian dari responden mengalami gangguan daya ingat sedang (15,3%) dan responden yang mengalami gangguan daya ingat berat sangat sedikit (10,6%). Kesimpulan bahwa Kemampuan Daya Ingat Lansia Di Posyandu Lansia Kalurahan Kaliancar, Selogiri, Wonogiri tergolong sedikit lansia yang daya ingatnya masih baik (18,8%), lansia yang mengalami gangguan daya ingat ringan sangat sedikit (55,3%), sebagian mengalami gangguan daya ingat sedang (15,3%), saran hendaknya dalam proses pembelajaran orang lanjut usia, perawat lansia sebisa mungkin memberikan teknik untuk meningkatkan daya ingat, mendorong penggunaan intelegensia secara kontinyu Kata Kunci : Gambaran fungsi intelektual, lansia, 
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG CUCI TANGAN ENAM LANGKAH TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN CUCI TANGAN ENAM LANGKAH PADA ANAK USIA SEKOLAH (6-12 TAHUN) DI DESA DONOHARJO, KECAMATAN WONOGIRI Nurtanti, Susana; Ardani, Ulin
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 12 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v12i2.92

Abstract

ABSTRACT Background : Hand washing is an act of cleaning hands from dirt and dust using soap and running water for approximately 40-60 seconds to prevent the entry of germs or bacteria so as not to contract diseases such as diarrhea. Hand washing is the most important basic technique in the prevention and transmission of infections, 80% of common infectious diseases and 45% of serious infectious diseases. Objective: This study aims to determine the effect of health education on six steps of hand washing on the level of knowledge of six steps of hand washing in children. Method: The method used in this research is a descriptive case study which is one type of strategy in qualitative research with a case study research approach. The population in this study were all children in Donoharjo Village, Wonogiri District. The sample is 5 respondents, children lack knowledge about hand washing. The instrument uses an extension program unit (SAP), leaflets, and questionnaire sheets. Result : The action taken is health education about hand washing in children. This health education is carried out once for 15 minutes. The five respondents experienced an increase in knowledge as evidenced by the ability to answer questionnaires before and after being given health education, from the less-enough category (35%-45%) to the fairly-good category (85%-95%). Conclusion : There is a significant effect of providing health education about six steps of hand washing to children in Donoharjo Village, Wonogiri District. From the case study it was found that the respondent's level of knowledge increased as evidenced by the ability to answer questionnaires before and after being given health education, from the less-enough category (35%-45%) to the moderate-good category (85%-95%). This increase in the level of knowledge is influenced by age, education, information, and experience in obtaining previous health education. ABSTRAK Latar Belakang : Mencuci tangan adalah salah satu tindakan membersihkan tangan dari kotoran dan debu menggunakan sabun dan air mengalir kurang lebih 40-60 detik untuk mencegah masuknya kuman/bakteri supaya tidak terjangkit penyakit seperti diare. Mencuci tangan merupakan teknik dasar paling penting dalam pencegahan dan penularan infeksi, 80% penyakit menular umum dan 45% penyakit menular serius. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang cuci tangan enam langkap terhadap tingkat pengetahuan cuci tangan enam langkah pada anak. Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus deskriptif yang merupakan salah satu jenis strategi dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan case study research (studi kasus). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak di Desa Donoharjo Kecamatan Wonogiri. Sampel sebanyak 5 responden anak kurang pengetahuan tentang cuci tangan. Instrumen menggunakan satuan acara penyuluhan (SAP), leaflet dan lembar kuisioner. Hasil : Tindakan yang diambil adalah pendidikan kesehatan tentang cuci tangan pada anak. Pendidikan kesehatan ini dilakukan satu kali selama 15 menit. Kelima responden mengalami peningkatan pengetahuan yang dibuktikan dengan kemampuan menjawab kuesioner sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan, dari kategori kurang-cukup (35% - 45%) ke kategori cukup-baik (85%-95%). Kesimpulan : Ada pengaruh yang signifikan pemberian pendidikan kesehatan tentang cuci tangan enam langkah terhadap peningkatan pengetahuan cuci tangan enam langkah pada anak di Desa Donoharjo, Kecamatan Wonogiri. Dari studi kasus ditemukan bahwa tingkat pengetahuan responden meningkat yang dibuktikan dengan kemampuan menjawab kuesioner sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan, dari kategori kurang-cukup (35%-45%) ke kategori cukup-baik (85-95%). Peningkatan tingkat pengetahuan ini dipengaruhi oleh usia, pendidikan, informasi, dan pengalaman memperoleh pendidikan kesehatan sebelumnya.
ANALISIS TINGKAT ANSIETAS DAN STRES SAAT MENGHADAPI PENILAIAN AKHIR SEMESTER PADA MAHASISWA AKPER GIRI SATRIA HUSADA WONOGIRI nurtanti, susana
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 13 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v13i1.103

Abstract

Psychotic disorders, anxiety and depression can be caused by various stressors experienced by teenagers. Anxiety and stress which cause more severe conditions, namely depression, will cause mental disorders in teenagers. Anxiety and stress problems cause health problems for the nation's next generation in Indonesia and the world. This research aims to determine the prevalence level of anxiety and stress in students when facing final semester exams (UAS) at Akper Giri Satria Husada, Wonogiri Regency, Indonesia. The research uses a descriptive quantitative design with a crosssectional approach. The instrument applied in the research was the DASS42 questionnaire which has been applied in several previous studies. The population in the study were all students at Akper Giri Satria Husada Wonogiri. The sampling technique used purposive sampling. The research sample was 98 students of Akper Giri Satria Husada Wonogiri. Most of the respondents based on gender characteristics, namely women experienced mild stress, 58 (59.2%), age characteristics, experienced mild stress at the age of ≥ 18 years, 57 (58.1%), based on the class that experienced the most mild stress. there were 35 (35.7) class 2 respondents. The research results showed that the prevalence of anxiety was 63 (64.3%) and stress was 35 (35.7%).   Gangguan psikotik, cemas dan depresi dapat ditimbulkan oleh berbagai stressor yang di alami oleh remaja. Ansietas dan stres yang menyebabkan kondisi lebih berat yaitu depresi akan menimbulkan masalah gangguan jiwa pada remaja. Permasalahan ansietas dan stres menyebabkan permasalahan kesehatan bagi generasi penerus bangsa di Indonesia dan dunia. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui tingkat prevalensi ansietas dan stres pada mahasiswa saat menghadapi ujian akhir semester (UAS) di Akper Giri Satria Husada Kabupaten Wonogiri Indonesia. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Instrumen yang diaplikasikan dalam penelitian adalah kuesioner DASS42 yang telah diterapkan pada beberapa penelitian sebelumnya. Populasi pada penelitian seluruh mahasiswa di Akper Giri Satria Husada Wonogiri.Tehnik pengambilan sampling menggunakan purposive sampling. Sampel penelitian adalah mahasiswa Akper Giri Satria Husada Wonogiri sejumlah 98 orang. Sebagian besar responden berdasarkan karakteristik jenis kelamin yaitu pada perempuan mengalami stres ringan sejumlah 58 (59,2%), karakteristik usia mengalami stres ringan pada usia ≥ 18 tahun sejumlah 57 (58,1%), berdasarkan kelas yang paling banyak mengalami stres ringan adalah responden kelas 2 sejumlah 35 (35,7). Hasil penelitian prevalensi ansietas sejumlah 63 (64,3%) dan stres sejumlah 35 (35,7%).
PENGARUH SENAM OTAK TERHADAP TINGKAT TEKANAN DARAH PADA LANSIA Nurtanti, Susana
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 14 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v14i1.135

Abstract

Latar Belakang : Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh lansia dan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Senam otak merupakan salah satu bentuk intervensi non-farmakologis yang dapat membantu meningkatkan fungsi kognitif dan sirkulasi darah, sehingga berpotensi menurunkan tekanan darah. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam otak terhadap tingkat tekanan darah pada lansia. Metode : Penelitian ini menggunakan desain quasi-experiment dengan pendekatan pretest-posttest control group design. Sebanyak 60 lansia yang terdiagnosis hipertensi ringan hingga sedang dibagi menjadi dua kelompok : kelompok intervensi yang diberikan senam otak selama 4 minggu (3 kali seminggu, masing-masing 30 menit) dan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan intervensi. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan setelah intervensi menggunakan sphygmomanometer digital. Analisis data dilakukan dengan uji paired t-test dan independent t-test untuk melihat perubahan tekanan darah dalam dan antar kelompok. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan yang signifikan pada tekanan darah sistolik dan diastolik dalam kelompok intervensi (p < 0,05), sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat perubahan yang signifikan. Analisis independent t-test menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol setelah intervensi (p < 0,05). Kesimpulan : Senam otak terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah pada lansia. Oleh karena itu, senam otak dapat dijadikan sebagai alternatif terapi non-farmakologis dalam manajemen hipertensi pada lansia.   ABSTRACT Background : Hypertension is one of the health problems often experienced by the elderly and can increase the risk of cardiovascular disease. Brain gymnastics is a form of non-pharmacological intervention that can help improve cognitive function and blood circulation, thus potentially lowering blood pressure. Objective : This study aims to determine the effect of brain gymnastics on blood pressure levels in the elderly. Method : This study used a quasi-experimental design with a pretest-posttest control group design approach. A total of 60 elderly people diagnosed with mild to moderate hypertension were divided into two groups: the intervention group given brain gymnastics for 4 weeks (3 times a week, 30 minutes each) and the control group that did not receive intervention. Blood pressure measurements were taken before and after the intervention using a digital sphygmomanometer. Data analysis was carried out using paired t-test and independent t-test to see changes in blood pressure within and between groups. Results : The results showed that there was a significant decrease in systolic and diastolic blood pressure in the intervention group (p <0.05), while in the control group there was no significant change. Independent t-test analysis showed significant differences between the intervention and control groups after intervention (p < 0.05). Conclusion : Brain gymnastics has been proven effective in lowering blood pressure in the elderly. Therefore, brain gymnastics can be used as an alternative non-pharmacological therapy in the management of hypertension in the elderly.
EFEKTIFITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PADA WANITA PREMENOPAUSE Nurtanti, Susana
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 14 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v14i2.145

Abstract

Setiap wanita akan mengalami menopause dengan keluhan dan faktor-faktor yang akan mempengaruhinya. Berhentinya menstruasi secara berkala akan membawa masalah kesehatan baik fisik maupun psikis yang dapat menjadi akibat fatal apabila tidak ditangani secara serius. Seorang wanita menganggap menopause akan menyebabkan perasaan cemas dan gelisah. Seorang Wanita sangat penting mendapatkan pengetahuan mengenai menopause melalui pendidikan kesehatan karena memberikan efek posistif terhadap kondisi psikologis yang terjadi pada wanita tersebut. Pengetahuan yang cukup dan kondisi psikologis yang mendukung seperti kesiapan mental dalam menghadapi menopause dapat memberikan dampak positif dan tidak mengkibatkan efek negatif lainya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas pendidikan kesehatan terhadap tingkat kecemasan wanita dalam menghadapi menopause. Jenis penelitian adalah Quasi Eksperimen dengan rancangan one group pre-test dan post test desain. Sampel penelitian sebanyak 30 wanita usia premenopause (45-55 tahun). Pengambilan sampel dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan wanita premenopause sebelum diberikan pendidikan kesehatan mayoritas berada dalam kategori sedang (67%), dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan kecemasan mayoritas berada dalam kategori ringan (87%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,0001 maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang menopause. Kesimpulan : Pendidikan kesehatan efektif untuk mengurangi kecemasan pada wanita premenopause dalam menghadapi menopause. ABSTRACT Every woman will experience menopause with complaints and factors that will influence it. Periodic cessation of menstruation will bring health problems both physically and psychologically which can be fatal if not handled seriously. A woman considers menopause to cause feelings of anxiety and restlessness. It is very important for a woman to gain knowledge about menopause through health education because it has a positive effect on the psychological conditions that occur in women. Sufficient knowledge and supportive psychological conditions such as mental readiness in facing menopause can have a positive impact and not cause other negative effects. The purpose of this study was to determine the effectiveness of health education on the level of anxiety of women in facing menopause. The type of research is Quasi Experiment with a one group pre-test and post-test design. The research sample was 30 premenopausal women (45-55 years). Sampling using simple random sampling technique. The results showed that the level of anxiety of premenopausal women before being given health education was mostly in the moderate category (67%), and after being given health education, the majority of anxiety was in the mild category (87%). The statistical test results obtained a p value = 0.0001, so it can be concluded that there is a significant difference in the average level of anxiety before and after being given health education about menopause. Conclusion: Health education is effective in reducing anxiety in premenopausal women in facing menopause.