Thomas Eko Purwata
Department Of Neurology, Faculty Of Medicine, Universitas Udayana/ Sanglah General Hospital

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Medicina

Terapi insulin menurunkan kejadian nyeri neuropati diabetik dibandingkan dengan oral anti-diabetes pada penderita diabetes melitus tipe 2 Lestari, Luh Kadek Trisna; Purwata, Thomas Eko; Putra, IGN Purna
Medicina Vol 47 No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.431 KB)

Abstract

Nyeri neuropati diabetik (NND) merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pada penderita diabetes melitus (DM) tipe 2. Insulin merupakan salah satu terapi DM tipe 2. Insulin memperbaiki status metabolik dengan cepat terutama kadar glukosa darah sehingga kerusakan sel saraf dapat dicegah termasuk kejadian NND. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terapi insulin dapat menurunkan kejadian NND pada pasien DM tipe II dibandingkan dengan oral anti-diabetes (OAD). Subjek penelitian adalah 80 orang penderita DM tipe 2 yang menjalani pengobatan ke Poliklinik Endokrin dan Poliklinik Saraf RSUP Sanglah selama bulan Januari-Maret 2015. Subjek terdiri dari kelompok kasus 40 orang DM dengan NND dan kelompok kontrol 40 orang DM tanpa NND. Adanya NND ditentukan dengan alat bantu douleur neuropathique en 4 questions (DN4). Uji hipotesis menggunakan Chi-square, dan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan P<0,05. Hasil penelitian mendapatkan bahwa terapi insulin pada penderita DM tipe 2 menurunkan risiko NND dibanding terapi OAD dengan RO=0,07 (IK95% 0,02 sampai 0,26), P<0,0001. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terapi insulin pada penderita DM tipe 2 dapat menurunkan kejadian NND. Painful diabetic neuropathy (PDN) is one of the most common complications that often occur in diabetes mellitus (DM) patient. Insulin is one of the DM treatment can quickly improve metabolic status, especially blood glucose levels, so prevent damage to nerve cells include NND. The purpose of this study was to determine whether insulin therapy can reduce the risk of NND in patients with type II DM compared to oral anti-diabetic (OAD). Subject of study was 80 samples with type 2-DM underwent treatment to Endocrine and Neurology Outpatient Clinic at Sanglah Hospital from January until March 2015. Subjects consist of 40 subjects in case group with PDN and 40 subjects in control group without PDN. The existence of PDN was determined by douleur neuropathique en 4 questions (DN4) tools. This study found that insulin therapy reduce incidence of PDN on type 2-DM patients compared to OAD therapy with OR=0.07 (95%CI 0.02 to 0.26), P<0.0001. It was concluded that insulin therapy can reduce incidence of PDN in type 2-DM patient.
HIPERTERMI DALAM 72 JAM AWITAN SEBAGAI PREDIKTOR PERBURUKAN KLINIS PENDERITA STROKE ISKEMIK AKUT SELAMA PERAWATAN Adja, Yuliana Monika Imelda Wea Ora; Nuartha, Anak Agung Bagus Ngurah; Purwata, Thomas Eko
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.718 KB)

Abstract

Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia yang membutuhkan pengobatandan perawatan jangka panjang. Stroke iskemik akut dengan defisit neurologi yang berat terjadikurang lebih 2-10% dan berhubungan dengan prognosis buruk baik jangka pendek ataupun jangkapanjang. Banyak faktor yang mempengaruhi luaran dan tingkatan perbaikan setelah mengalamistroke iskemik di antaranya peningkatan suhu tubuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui hipertermidalam 72 jam awitan yang dihubungkan dengan prediktor perburukan klinis penderita stroke iskemikakut selama perawatan.Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangankohort prospektif. Prediktor perburukan digolongkan atas dua kelompok yaitu prediktor perburukanklinis dan prediktor perbaikan klinis melalui nilai NIHSS pada saat awal dan hari ke tujuh perawatan,dan juga di lakukan pengukuran suhu aurikula dalam 72 jam awitan stroke.Selama periode Januarisampai Maret 2015 didapatkan 88 penderita yang memenuhi kriteria eligibilitas. Data dianalisismenggunakan SPSS 20 for windows dengan menampilkan berbagai karakteristik subyek penelitianmeliputi usia, jenis kelamin, awitan stroke, jenis stroke iskemik, skor NIHSS awal, skor NIHSS harike-7, dan derajat hemiparesis. Hubungan antara hipertermi dengan perburukan klinis penderita diujidengan Chi-square, didapatkan hasil yang bermakna secara statistik (RR= 8,01;IK 95% 3,02 sampai21,25; P <0,0001). Dapat disimpulkan bahwa hipertermi merupakan prediktor perburukan klinispenderita stroke iskemik akut selama perawatan yang diukur dengan skala NIHSS. [MEDICINA2015;46:104-11].Stroke is a leading cause of death and disability in worldwide which need a long term care and treatment.Acute ischemic stroke reveal a severe neurological deficits occur approximately 2-10% in population. Itis associated with poor short and long term prognosis. Many factors influence outcomes and degree ofrepairing after ischemic stroke, in which increasing of body temperature is one of it. This study aim todetermine whether a hyperthermia occur in 72 hours is associated with predictor of clinical deteriorationof ischemic stroke patients during treatment.This was an analytic observational prospective cohortstudy design. Predictors of clinical deterioration measures with NIHSS score at baseline and seventhday of treatment and auricular temperature measured in 72 hours of stroke onset.There was 88 patientswith ischemic stroke during January to March 2015 met the eligibility criteria. Data were analyzedusing SPSS 20 for windows to display the various characteristics of the study subjects including age,sex, stroke onset, type of ischemic stroke, first and seventh day NIHSS score, and the degree ofhemiparesis. The relationship between hyperthermia and clinical deterioration tested with Chi-squaretest. The results obtained were statistically significant (RR= 8.01; 95%CI= 3.02 to 21.25; P<0.0001).Itwas concluded a 72-hour hyperthermia as a predictor of clinical deterioration of acute ischemic strokepatients during treatment measured with NIHSS. [MEDICINA 2015;46:104-11].
THORACIC OUTLET SYNDROME Widiastuti, Priska; Purwata, Thomas Eko
Medicina Vol 46 No 3 (2015): September 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.794 KB)

Abstract

Thoracic outlet syndrome (TOS) adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh penekanan strukturneurovaskular ekstremitas atas saat berjalan di antara kosta pertama dan klavikula menuju keaksila. Penekanan dapat disebabkan oleh kelainan tulang atau jaringan lunak di sekitarnya. GejalaTOS dapat berupa gejala neurologi seperti nyeri lengan atas dan bawah, kesemutan, hilangnya rasaraba, kelemahan motorik, dan gejala vaskular seperti klaudikasio ekstremitas atas selama aktifitas,pucat, dingin, kelainan suplai darah perifer, mikroemboli, dan perubahan warna kulit. Pemeriksaanfoto rontgen, elektromiografi dan arteriografi/venografi dapat digunakan untuk mendukung diagnosisTOS. Terapi TOS berupa terapi konservatif dengan mengontrol nyeri dan udem, memperbaiki posturtubuh, modifikasi gaya hidup, dan terapi pembedahan melalui pendekatan supraklavikular anterior,transaksila, dan subskapular posterior. [MEDICINA 2015;46:174-7].Thoracic outlet syndrome (TOS) is a constellation of symptoms caused by compression ofneurovascular structure of the upper limb as they pass between first rib and clavicle en route to theaxilla. Compression can be caused by bony or soft tissue abnormalities. The symptoms can beneurological symptoms including arm and forearm pain, paresthesia, sensation loss, motor weakness,and vascular symptoms including upper limb claudication during exercise, pallor, coldness, impairedperipheral blood supply, microembolization, and skin colour changes. Rontgen photo, electromyographyand arteriography/venography can be used to diagnose TOS. Thoracic outlet syndrome can be treatedconservatively with pain and edema control, proper posture, life style modification, and surgical therapywith anterior supraclavicular, transaxillary, and posterior subscapular approaches. [MEDICINA2015;46:174-7].
PENURUNAN JUMLAH LEUKOSIT SEBAGAI PREDIKTOR PERBAIKAN KLINIS PENDERITA STROKE HEMORAGIK SELAMA PERAWATAN Harkitasari, Saktivi; Nuartha, Anak Agung Bagus Ngurah; Purwata, Thomas Eko
Medicina Vol 46 No 2 (2015): Mei 2015
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.154 KB)

Abstract

Prognosis penderita stroke hemoragik dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah jumlahleukosit. Berbagai penelitian menyatakan bahwa peningkatan jumlah leukosit sebagai prediktorperburukan klinis dan kematian pada penderita stroke hemoragik, tetapi sampai saat ini masihbelum jelas apakah penurunan jumlah leukosit setelah terjadi leukositosis dapat sebagai prediktorperbaikan klinis penderita stroke hemoragik. Penelitian ini menggunakan rancangan kohort prospektif.Subjek penelitian adalah penderita stroke hemoragik dengan awitan datang d”24 jam denganleukositosis saat masuk rumah sakit yang dirawat di Sanglah Denpasar. Kelompok yang mengalamipenurunan jumlah leukosit dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengalami peningkatan atautanpa perubahan jumlah leukosit. Penilaian luaran klinis menggunakan perubahan skor NIHSS yangdinilai pada hari ketujuh. Total sebanyak 44 subjek dimasukkan dalam penelitian, 19 subjekmeunjukkan perbaikan skor NIHSS. Penurunan jumlah leukosit memiliki hubungan yang signifikandengan perbaikan klinis (RR=5,33; IK95%: 1,81 sampai 15,74; P<0,0001). Hasil penelitianmenunjukkan hanya penurunan jumlah leukosit memiliki hubungan yang independent dengan perbaikanskor NIHSS. Disimpulkan bahwa pada penderita stroke hemorgaik dengan leukositosis, penurunanjumlah leukosit dapat menjadi prediktor perbaikan klinis selama perawatan yang diukur denganskala NIHSS. [MEDICINA 2015;46:92-8].The prognosis of hemorrhagic stroke patients is associated with many factors, leucocyte count is one ofthem. Many studies indicated that elevated leucocyte count is a predictor for bad clinical outcome anddeath in patients with hemorrhagic stroke, however, there is remain unclear whether leucocyte reductionafter leucocytosis could be a predictor for better clinical outcome of patients with hemorrhagic stroke.Thisis a prospective cohort study. Subject were hemorrhagic stroke patients who were arrival time d”24hours onset with leucocytosis admitted in Sanglah hospital Denpasar. Group with leucocyte countreduction were compared with group leucocyte count elevation or without changing. Clinical outcomewere measured with NIHSS score changing at day 7.A total of 44 subjects were recruited, 19 of themhad better NIHSS score. Leucocyte count reduction was significantly associated with better clinicaloutcome (RR=5,33; 95%CI: 1,81 to 15,74; P<0,0001). Leucocyte count reduction was the onlyindependently associated with better NIHSS score. It was concluded that in hemorrhagic stroke patientswith leucocytosis, leucocyte count reduction could be a predictor for better clinical outcome duringhospitalization measured with NIHSS.[MEDICINA 2015;46:92-8].
NYERI KEPALA PADA PERDARAHAN SUBARAKNOID Purwata, Thomas Eko
Medicina Vol 45 No 3 (2014): September 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.668 KB)

Abstract

Perdarahan subaraknoid (PSA) merupakan keadaan darurat medik neurologi dengan morbiditas danmortalitas yang sangat tinggi. Penyebab tersering non-traumatik PSA adalah pecahnya berry (saccular)aneurysms. Gejala  klasik   PSA    adalah nyeri  kepala  akut    yang  sangat hebat  seringkali  disertaidengan penurunan kesadaran. Nyeri kepala ini digambarkan pasien sebagai nyeri yang sangat hebatyang tidak pernah dirasakan sebelumnya, seringkali disertai mual, muntah, dan kejang. Patofisiologinyeri kepala pada PSA diduga karena pecahnya pembuluh darah menyebabkan ekstravasasi darah kedalam ruang subaraknoid dengan  tekanan yang  tinggi yang mengakibatkan peningkatan  tekananintrakranial, kerusakan langsung pada jaringan lokal dan  adanya efek toksik oksi-hemoglobin dapatmenimbulkan iritasi meningen, vasospasme, dan perubahan kesadaran. Luaran PSA dapat diperbaikisecara dramatis dengan penanganan dini yang agresif, tepat dan professional. Manajemen PSA denganpemberian obat-obatan dan tindakan pembedahan. Pencegahan PSA dengan mengendalikan faktorrisiko dan komplikasi lain yang sering menyertai PSA. [MEDICINA 2014;45:165-170].