This Author published in this journals
All Journal e-GIGI
Wulan G. Parengkuan, Wulan G.
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

GAMBARAN STATUS KARIES PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SLB YPAC MANADO Tulangow, Gita J.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10485

Abstract

Abstract: Dental caries is the most commonly oral disease found in all layers of society, including children with special needs. Some researchers mentioned that high rates of dental caries in children with special needs such as hearing impairment, physical impairment, and mental impairment were caused by their limitation in doing their daily activities. This study aimed to determine the status of dental caries in children with special needs. The index commonly used to access the status of caries is DMF-T. Samples were children with special needs aged 12-17 years old in SLB YPAC Manado. There were 36 children as samples obtained by using the total sampling method. The results showed that the caries status of children with special needs in SLB YPAC Manado with an average DMF-T index 4.4 was in middle category.Keywords:caries status, children with special needs, DMF-TAbstrak: Karies gigi merupakan penyakit gigi dan mulut yang sering ditemukan di seluruh lapisan masyarakat termasuk pada anak berkebutuhan khusus. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa tingginya angka karies gigi pada anak berkebutuhan khusus seperti tunarungu, tunadaksa dan tunagrahita, disebabkan karena mereka memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran status karies gigi pada anak berkebutuhan khusus. Indeks yang umum digunakan untuk menilai status karies ialah indeks DMF-T. Penelitian ini dilakukan pada anak berkebutuhan khusus umur 12-17 tahun di SLB YPAC Manado dengan jumlah sampel sebanyak 36 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampel. Hasil penelitian menunjukkan status karies gigi pada anak berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado dengan indeks DMF-T sebesar 4,4 termasuk kategori sedang.Kata kunci: status karies, anak berkebutuhan khusus, DMF-T
TINDAKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI PADA PERAWATAN PERIODONSIA DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PSPDG FK UNSRAT Ramadhani, Wahyuni R.; Kepel, Billy J.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9636

Abstract

Abstract: Dental health practitioners and clinical students are vulnerable groups to transmission of infection since they have a tendency to contact with saliva and blood in every treatments. The risk of these infections requires attention to implement universal precautions and infection control. This study aimed to describe the universal precautions and infection control in periodontia treatment at dental hospital PSPDG FK Unsrat. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. This study was conducted at dental hospital of PSPDG FK Unsrat in Juni-July 2015. There were 30 samples who underwent scaling obtained by using consecutive sampling. Data were obtained by using a checklist instrument. The results showed that 43.7% had implemented self universal precautions and infection control; 66.7% had implemented patients’ universal precautions and infection control; and 40% had handled dentistry tools and instruments. Conclusion: The overview universal precautions and infection control in periodontia treatment at dental hospital of PSPDG FK Unsrat were accomplished as much as 50.1%.Keywords: universal precautions, infection control, clinical student, periodontiaAbstrak: Tenaga kesehatan gigi merupakan kelompok yang rentan terhadap penularan infeksi karena dalam tindakan perawatan mereka berkontak dengan saliva (air liur) dan darah. Risiko infeksi mengharuskan tenaga kesehatan gigi termasuk mahasiswa kepaniteraan klinik memperhatikan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi pada perawatan periodonsia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut PSPDG FK Unsrat. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan desain penelitian cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut PSPDG FK Unsrat antara bulan Juni-Juli 2015 dengan jumlah sampel yaitu 30 kunjungan scaling, menggunakan consecutive sampling. Data diperoleh dengan menggunakan checklist. Hasil penelitian memperlihatkan 43,7% yang menerapkan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi terhadap mahasiswa kepaniteraan klinik, 66,7% yang menerapkan terhadap pasien, dan 40% yang melakukan tindakan penanganan instrumen dan alat pelayanan kedokteran. Simpulan: Tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi pada perawatan periodonsia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut PSPDG FK Unsrat yang terlaksana yaitu 50,1%.Kata kunci: pencegahan dan pengendalian infeksi, mahasiswa kepaniteraan klinik, periodonsia
Pengaruh nilai intelligence quotient (IQ) terhadap status karies gigi siswa di SMA Binsus Manado Kukus, Jessica B. K.; Ticoalu, Shane H. R.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.11061

Abstract

Abstract: Health is the most important thing for human, as well as the oral health. Intelligence Quotient (IQ) is the ability to think in an abstract way, solving problems using verbal symbols and the ability to learn and adjust oneself with daily experience. Knowledge is so related to education where is expected that a person with high education where it is expected that a person with high education has wide scope of knowledge. This research was a descriptive research with cross sectional observational study. Sample were collected using purposive random sampling method with 82 from 455 students as samples. The results showed the average of DMF-T on students at SMA Binsus Manado was 2,91 and in the middle category according to WHO criteria. From this, the result of the Spearmen analysis shows that the relationship between IQ score and caries has a p value of 0,141. Hence, there is no relationship or influence of IQ score to the caries status in SMA Binsus Manado.Keywords: intelligence quotient, status cariesAbstrak: Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap manusia. Demikian juga halnya dengan kesehatan gigi dan mulut. Intelligence Quotient (IQ) merupakan kemampuan berpikir secara abstrak, memecahkan masalah dengan menggunakan simbol-simbol verbal dan kemampuan untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Penelitian ini berupa penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive random sampling dengan jumlah subyek penelitian 82 dari 455 siswa. Hasil penelitian ini menujukkan rerata indeks DMF-T siswa SMA Binsus Manado sebesar 2,91 dan berdasarkan kriteria WHO berada pada kategori sedang. Dari hasil penelitian menunjukkan hasil analisis Spearmen tentang pengaruh nilai Intellegence Quotient (IQ) dengan status karies didapatkan p value 0, 141 (p<0,05). Jadi, tidak terdapat pengaruh nilai IQ terhadap status karies di SMA Binsus Manado.Kata kunci: intelligence quotient, status karies
GAMBARAN KECEMASAN PASIEN MENGGUNAKAN TERAPI MUSIK KLASIK PADA PROSEDUR EKSTRAKSI GIGI DI RSGM PSPDG-FK UNSRAT Mantiri, Meliana A.; Opod, Hendri; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10483

Abstract

Abstract: Tooth extraction is a complicated procedure, especially if there are additional treatment considerations due to the high risk patients. Anxiety can make the patient cannot cooperate thus inhibit the performance of dentists during dental extraction procedures. Anxiety can be reduced by using distraction techniques such as classical music. This study aimed to obtain an overview of the patient's anxiety using classical music therapy during a tooth extraction procedure in RSGM PSPDG-FK Unsrat. This was a descriptive study with a cross sectional design using the total sampling method. Samples were 40 adults aged 17-65 years consisting of 21 people who had undergone dental extraction and 19 people who had not undergone dental extraction. Physical examination and Visual Analogue Scale (VAS) were performed before and after the classical music therapy. Based on physical examination decreased anxiety was found in 36.83% of the group who had never undergone a tooth extraction and 11.11% of the group who had undergone a tooth extraction. Based on VAS, of the group who had never undergone a tooth extraction 26.32% patients looked slight anxious, 5.26% looked unpleasant; no patients belonged to the sad category. Of the group who had undergone tooth extraction 9.52% of patients looked slight anxious. Conclusion: Anxiety of patients who were undergoing dental extraction decreased after classical music therapy performed.Keywords: tooth extraction, anxiety, visual analogue scale, classical music therapyAbstrak: Prosedur ekstraksi gigi merupakan prosedur yang rumit, terlebih lagi bila ada pertimbangan perawatan tambahan karena adanya pasien dengan resiko tinggi. Kecemasan dapat membuat pasien tidak bisa bekerjasama sehingga menghambat kinerja dokter gigi dalam melakukan prosedur ekstraksi gigi. Kecemasan dapat dikurangi melalui teknik distraksi yang efektif seperti musik klasik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kecemasan pasien menggunakan terapi musik klasik pada prosedur ekstraksi gigi di RSGM PSPDG-FK Unsrat. Jenis penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang menggunakan metode pengambilan sampel total. Jumlah sampel 40 orang dewasa berusia 17-65 tahun terdiri dari 21 orang pernah dan 19 orang belum pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sebelumnya. Data diambil berdasarkan pemeriksaan fisik dan Visual Analogue Scale (VAS) sebelum dan sesudah mendapat terapi musik klasik. Berdasarkan pemeriksaan fisik pada kelompok yang belum pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi terjadi penurunan kecemasan sejumlah 36,83% pasien dan yang sudah pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sejumlah 11,11% pasien. Berdasarkan VAS pada pasien yang belum pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sejumlah 26,32% pasien kategori sedikit cemas, 5,26% pasien kategori tidak menyenangkan, dan tidak ada pasien pada kategori menyedihkan. Pada yang pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sejumlah 9,52% pasien kategori sedikit cemas. Simpulan: Kecemasan pasien yang akan menjalani ekstraksi gigi mengalami penurunan setelah mendapat terapi musik klasik.Kata kunci: ekstraksi gigi, kecemasan, visual analogue scale, terapi musik klasik
Perbedaan efektivitas jus tomat (Lucopersicon esculentum Mill.) dan jus apel (Mallus sylvestris Mill.) sebagai bahan alami pemutih gigi Lumuhu, Enny F. S.; Kaseke, Martha M.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13488

Abstract

Abstract: Teeth appearance plays an important role in human interaction. One of its problems is tooth discoloration which can affect personal self confidence and appearance. Chemicals for whitening the teeth can cause negative effects such as decreased enamel hardness and gingival iritaion. An alternative material that can be used for that purpose is natural substance inter alia tomato juice (Lucopersicon esculentum Mill.) which contains hydrogen peroxide and apple juice (Mallus sylvestris Mill.) which contains malic acid. This study aimed to determine the difference in effectiveness of tomato juice and apple juice as natural bleaching agents. This was a true experimental study with a pretest postest only control group design. There were 30 samples of post-extraction anterior teeth soaked in coffee for 12 days and were further divided into 3 groups, each of 10 samples. Group 1 was immersed in tomato juice; group 2 was immersed in apple juice; and group 3 as the positive control was immersed in carbamide peroxide 10%. Each group was observed after 1 day, 3 days, and 5 days. The color change was measured by using CIEL*a*b method. The results showed that tomato juice, apple juice, and carbamide peroxide 10% could whiten the teeth. However, tomato juice was more effective compared to apple juice and carbamide peroxide 10%. Apple juice and carbamide peroxide 10% did not show any significant difference in color change. Keywords: tomato juice, apple juice, carbamide peroxide 10%, tooth discolorationAbstrak: Penampilan gigi berperan dalam interaksi manusia. Masalah dalam penampilan gigi salah satunya ialah perubahan warna gigi yang dapat memengaruhi kepercayaan diri dan keindahan penampilan seseorang. Penggunaan bahan kimia untuk memutihkan gigi dapat berdampak negatif seperti penurunan kekerasan email dan iritasi gingiva. Bahan alternatif yang dapat digunakan untuk memutihkan gigi yaitu dengan bahan alami antara lain jus tomat (Lucopersicon esculentum Mill.) yang mengandung hidrogen peroksida dan jus apel (Mallus sylvestris Mill.) yang mengandung asam malat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas jus tomat dan jus apel sebagai bahan alami pemutih gigi. Terdapat 30 sampel gigi anterior pasca ekstraksi yang direndam kopi selama 12 hari. Sampel dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing terdiri dari 10 sampel. Kelompok 1 direndam dalam jus tomat; kelompok 2 direndam dalam jus apel; dan kelompok 3 sebagai kontrol positif menggunakan karbamid peroksida 10%. Setiap kelompok dilakukan pengamatan 1 hari, 3 hari dan 5 hari. Perubahan warna diukur menggunakan metode CIEL*a*b. Hasil penelitian mendapatkan jus tomat, jus apel, dan karbamid peroksida 10% dapat memutihkan gigi. Jus tomat lebih efektif memutihkan gigi dibandingkan jus apel dan karbamid peroksida 10%. Jus apel dan karbamid peroksida 10% tidak memiliki perbedaan memutihkan gigi yang signifikan.Kata kunci: jus tomat, jus apel, karbamid peroksida 10%, perubahan warna gigi
Gambaran Status Gizi dan Kejadian Karies pada Anak Usia 24-59 Bulan di Puskesmas Tinumbala Pesisir Kota Bitung Mongi, Pebrian B.; Mintjelungan, Christy N.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.65758

Abstract

Abstract: Age of 24–59 months is a critical early stage in an individual's growth and development. Dental caries in children can cause pain, difficulty in eating, sleep disturbance, and ultimately affect their nutritional status due to disrupted food intake. Children with abnormal nutritional status are at higher risk of health problems, including infectious diseases, growth disorders, and oral health issues such as dental caries. This study aimed to obtain the description of nutritional status and dental caries incidence among children aged 24-59 months. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional approach, using purposive sampling on children attending the posyandu (integrated health post) organized by Puskesmas Tinumbala. A total of 87 children were selected based on inclusion and exclusion criteria. The results showed that 34.48% (n=30) of the children were categorized as stunted based on height-for-age (H/A) assessment, and 58.62% (n=51) had dental caries. Of the 30 children with stunted nutritional status, 50% experienced dental caries, and of the 51 children who had dental caries, 29.4% were also classified as stunted. Several factors influenced these conditions, including exclusive breastfeeding, birth weight, parental education and economic level, toothbrushing behavior, and the number of children in the family. In conclusion, half of the children aged 24-59 months experience dental caries, and  a part of the children  that experience dental caries are categorized as stunted. Keywords: nutritional status, caries incidence, children    Abstrak: Masa anak usia 24-59 bulan merupakan tahap awal yang krusial dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Karies gigi pada anak dapat menyebabkan rasa nyeri, kesulitan makan, gangguan tidur, dan pada akhirnya memengaruhi status gizi anak karena asupan makanan terganggu. Anak dengan status gizi tidak normal memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan, termasuk penyakit infeksi, gangguan pertumbuhan, dan masalah kesehatan gigi dan mulut seperti karies. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran status gizi dan kejadian karies pada anak. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling pada anak 24-59 bulan yang menghadiri posyandu yang dilaksanakan oleh Puskesmas Tinumbala. Sampel penelitian berjumlah 87 anak, diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 34,48% (n=30) anak tergolong dalam kategori stunting berdasarkan penilaian status tinggi badan menurut umur (TB/U) dan sebanyak 58,62% (n=51) anak mengalami karies. Dari 30 anak dengan status gizi stunting, sebanyak 50% mengalami karies gigi, dan dari 51 anak yang mengalami karies gigi, sebanyak 29,4% juga tergolong dalam status gizi stunting. Beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut antara lain pemberian ASI-Eksklusif, berat badan lahir, tingkat pendidikan dan ekonomi orang tua, perilaku menyikat gigi, serta jumlah anak dalam keluarga. Simpulan penelitian ini ialah setengah dari anak usia 24-59 bulan dengan status gizi stunting mengalami karies gigi, dan sebagian anak yang mengalami karies gigi tergolong dalam status gizi stunting. Kata kunci: status gizi; kejadian karies; anak usia 24-59 bulan