Meilanny Budiarti Santoso
Pusat Studi CSR, Kewirausahaan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, Universitas Padjadjaran

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Share : Social Work Journal

GENERASI SANDWICH: KONFLIK PERAN DALAM MENCAPAI KEBERFUNGSIAN SOSIAL Raihan Akbar Khalil; Meilanny Budiarti Santoso
Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i1.39637

Abstract

Konflik peran dimaknai sebagai dua peran atau lebih yang harus dijalankan secara bersamaan, namun di sisi lain individu yang bersangkutan tidak dapat menjalankan kedua peran yang ada secara maksimal. Konflik peran yang terjadi pada individu rawan berdampak negatif pada kehidupan diri dan pencapaian keberfungsian sosial. Setiap individu mengalami konflik peran, terutama pada generasi sandwich. Generasi sandwich menjalankan berbagai peran atau mengalami konflik peran, yang tentunya dapat berimplikasi pada kehidupan mereka, salah satunya dalam mencapai kebefungsian sosial. Penelitian ini membahas mengenai konflik peran yang dihadapi oleh generasi sandwich dalam mencapai keberfungsian sosial, dampak yang ditimbulkan serta mengungkap alternatif solusi bagi generasi sandwich dalam mencapai keberfungsian sosial mereka. Dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik peran yang dijalankan oleh generasi sandwich menyebabkan tidak dapat terpenuhinya keberfungsian sosial. Diperlukan adanya intervensi untuk memulihkan keberfungsian sosial generasi sandwich melalui pekerja sosial dengan berbagai praktik yang dapat digunakan pada level individu, keluarga, dan lingkungan kerja.
MAS KLIMIS (MASYARAKAT PEDULI IKLIM YANG HARMONIS) KENDARAAN PT PJB UP GRESIK DALAM MEWUJUDKAN TUJUAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) Dewi Luqmania; Anjumiz Sunani; Afifah Septiani; Febi Agus Dwi Riyanto; Meilanny Budiarti Santoso; Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v12i1.41877

Abstract

Isu lingkungan menjadi persoalan serius di berbagai negara di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Penanganan lingkungan tidak dapat hanya ditangani oleh satu pihak, baik hanya pemerintah saja, atau masyarakat sendiri. Upaya mengatasi isu lingkungan perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan, tidak terkecuali pihak industri atau perusahaan melalui tanggung sosial perusahaan. Beberapa pihak yang dapat dilibatkan menangani persoalan lingkungan adalah pemerintah, perusahaan atau swasta, perguruan tinggi, media, dan masyarakat. Proses penanganan dapat dilakukan melalui membangun kesadaran bersama, melakukan kajian serta aksi bersama, serta melakukan monitoring dan evaluasi bersama. Keikutsertaan dan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam proses penanganan isu lingkungan menjadi hal penting. Proses partisipasi tersebut akan membangun karakter berdaya masyarakat sehingga pada akhirnya akan membangun kemandirian dan kesinambungan pengelolaan, dimana hal tersebut akan terwujud melalui manfaat ekonomi, sosial, dan ekologi bagi masyarakat sekitar dan keseluruhan pemangku kepentingan. Pemeliharaan kemandirian merupakan tantangan tersendiri, bahkan merupakan sesuatu yang harus dipertahankan. Environmental issues are a serious problem in various countries in the world, including Indonesia. Environmental management cannot only be handled by one party, either only the government, or the community itself. Efforts to overcome environmental issues need to involve various stakeholders, including the industry or companies through corporate social responsibility (CSR). Several stakeholders who can be involved in dealing with environmental issues are the government, companies or the private sector, academics, the media, and the community. The treatment process can be carried out through building mutual awareness, conducting joint studies and actions, and conducting joint monitoring and evaluation. The participation and involvement of stakeholders in the process of handling environmental issues is important. The participation process will build the empowered character of the community so that in the end it will build independence and sustainable management, where this will be realized through economic, social, and ecological benefits for the surrounding community and all stakeholders. Maintaining independence is a challenge in itself, even something that must be maintained.
KONTRIBUSI KELUARGA TERHADAP MUNCULNYA PERILAKU KENAKALAN PADA REMAJA Ghea Cantika Noorsyarifa; Meilanny Budiarti Santoso
Share : Social Work Journal Vol 13, No 1 (2023): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v13i1.45814

Abstract

Keluarga merupakan bagian atau unsur terkecil dari suatu masyarakat. Salah satu fungsi dasar keluarga yakni fungsi afektif. Fungsi afektif memiliki keterkaitan dengan fungsi internal keluarga yakni upaya perlindungan dan dukungan dalam hal psikososial bagi para anggota keluarga. Permasalahan yang terjadi dalam kehidupan keluarga berpotensi menyebabkan berkurangnya kualitas dari fungsi afektif yang diterapkan di dalam suatu hubungan keluarga. Komunikasi yang dijalankan oleh seorang anak terutama di usia remaja dengan orang tuanya tidaklah selalu berjalan dengan baik. Terjadinya suatu persoalan antara anak dan orang tua dapat memungkinkan timbulnya permasalahan, salah satunya berupa perilaku kenakalan remaja. Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa, masa remaja dapat dikatakan merupakan masa yang penting dan menjadi titik kritis dalam fase tumbuh kembang seorang anak menuju usia dewasa, karena pada masa remaja seseorang didorong untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dalam menghadapi suatu permasalahan yang dihadapinya. Artikel ini membahas mengenai keluarga dan dinamika yang terjadi didalam kehidupan keluarga, sehingga menjadi penyebab terjadinya perilaku kenakalan remaja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan. Hasil studi menunjukkan bahwa kurangnya peran orang tua dalam memberikan perhatian dalam menjalin hubungan komunikasi terhadap anak menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja, maka untuk mengatasi kasus tersebut orang tua harus menjalin hubungan dan komunikasi yang baik bagi anak serta menjadi teladan yang baik bagi seorang anak.