Wahyu Widodo
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pemkab Purworejo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Organizational Justice dan Welfare Terhadap Empathy pada Perawat dalam Pelayanan Syariah Wahyu Widodo; Basirun Basirun
Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Vol. 5 No. 2 (2019)
Publisher : Akademi Keperawatan Karya Bhakti Nusantara, Magelang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.064 KB)

Abstract

Latar belakang : Fokus kajian dalam penelitian ini adalah karyawan perawat rawat inap berkaitan dengan masalah empati (empathy) keadilan organisasi (organizational justice) dan kesejahteraan (welfare). Kajian ini akan melihat dengan pandangan teori pertukaran sosial (social exchange theory). Beberapa alasan dalam penelitian ini adalah pertama, empati merupakan salah satu sikap penting dalam asuhan keperawatan yang berfokus kepada pasien karena empati memungkinkan individu untuk memahami maksud orang lain, memprediksi perilaku mereka dan mengalami emosi yang dipicu oleh emosi mereka. Empati merupakan ciri khas profesional perawatan kesehatan dan komunikasi pasien untuk mencapai hasil penyembuhan yang diinginkan. Empati memungkinkan para profesional perawatan kesehatan dan pasien untuk bekerja. Keadilan organisasional berkorelasi secara signifikan dengan psikologis. Tekanan moral (moral distress) berpengaruh terhadap faktor psikologis. Selanjutnya faktor kesejahteraan (welfare), kesejahteraan merupakan kebahagiaan yang mengacu pada perasaan positif seperti sukacita, kepuasan, dan ketenangan. Tujuannya : Menguji dan menganalisa pengaruh organizational justice terhadap empathy dan Menguji dan menganalisa pengaruh welfare terhadap empathy. Metoda adalah survey dengan penyebaran kuisioner pada perawat pelaksana di Ruang rawat inap dalam Rumah sakit PKU Muhammadiyah Lamongan Jawa Timur dan menggunakan analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan SEM Amos 22.00. Hasil : Hasil karya ilmiah ini dijelaskan secara beruurutan untuk setiap uji hipotesis, pengujian hipotesis dengan menggunakan standar nilai t-Value dengan tingkat signifikansi 0,05 dan nilai t-value Critical Ratio (CR) = ≥ 1.967 pada regression Weights dari fit full model dalam program Amos 22.00. Kesimpulan : organizational justice tidak berpengaruh terhadap empathy, welfare tidak berpengaruh terhadap empathy, dan empati perawat tidak dipengaruhi oleh faktor keadilan pimpinan dan juga tidak dipengaruhi oleh kesejahteraan yang diberikan atau dalam pengertian lain sikap empati perawat akan selalu muncul dan para perawat tidak memperdulikan masalah keadilan dan kesejahteraan.
Terapi Relaksasi Nafas Dalam dan Genggam Jari pada Klien Post Hernioraphy dengan Nyeri Akut Wahyu Widodo; Meylinda Trisetya
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 4 No 4 (2022): November 2022, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v4i4.1242

Abstract

Hernia merupakan kondisi keluarnya sebagian usus dari rongga perut hingga membentuk tonjolan yang dapat terlihat dan teraba dari luar. Prevalensi pasien hernia sebanyak 425 orang dan diperkirakan terjadi peningkatan menjadi lebih dari 500 orang. Pengobatan hernia salah satunya yaitu dengan tindakan bedah hernioraphy. Sayatan pada waktu hernioraphy menyebabkan timbulnya rasa nyeri pasca operasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami post hernioraphy dengan nyeri akut di RSUD Dr. Soedirman Kebumen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan studi kasus. Subjek kasus dalam penelitian ini adalah 2 orang klien yang mengalami masalah keperawatan yang sama yaitu nyeri akut sedangkan tindakan keperawatan yang dilakukan adalah menerapkan terapi relaksasi nafas dalam dan genggam jari. Hasil studi kasus pada klien post hernioraphy yang diberikan terapi relaksasi nafas dalam dan genggam jari diperoleh data yaitu, pada klien I yang semula memiliki skala nyeri 6 setelah diberikan teknik relaksasi nafas dalam dan genggam jari berkurang menjadi skala 1. Sedangkan klien II awalnya memiliki skala nyeri 6 menurun menjadi skala 2. Kesimpulan yang didapat adalah terapi relaksasi nafas dalam dan genggam jari mampu menurunkan intensitas nyeri pada klien post hernioraphy.
Mengontrol Perilaku Kekerasan dengan Prinsip 5 Benar Minum Obat Bayu Seto Rindi Atmojo; Wahyu Widodo; Woro Haryanti; Citra Ajeng Norma; Andi Arsyad
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 11, No 4 (2023): November 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.11.4.2023.903-908

Abstract

Risiko perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan seorang pasien yang memiliki resiko melakukan tindakan kerugian yang dapat dilakukan pada dirinya sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam bentuk kekerasan verbal, fisik, serta paksaan terhadap diri sendiri lingkungan dan orang lain. Masalah perilaku kekerasan dapat berakibat pada fisik ataupun psikologis. Data laporan diklat di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang tahun 2022 hingga tahun 2023 menunjukkan yang mengalami halusinasi sebanyak 92,3%, pasien dengan risiko perilaku kekerasan sebesar 91,5%, pasie dengan isolasi sosial sebanyak 72,2%, pasien dengan defisit perawatan diri 68%, dan pasien dengan waham 54,2%. Dari data tersebut menunjukkan jumlah pasien yang mengalami risiko perilaku kekerasan menduduki tingkat kedua setelah halusinasi. Pada penelitian bertujuan melakukan analisa asuhan keperawatan dalam mengontrol perilaku kekerasan dengan prinsip 5 benar minum obat di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian didapatkan pasien Tn. G telah mampu mengontrol perilaku kekerasan dengan obat menggunakan prinsip lima benar obat dan dapat melanjutkan latihan mengontrol perilaku kekerasan dengan cara berikutnya. Sedangkan pada pasien Tn. A belum mampu mengontrol perilaku kekerasan dengan obat menggunakan prinsip lima benar obat. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terapi obat dapat membantu pasien dalam upaya mengontrol perilaku kekerasan secara bertahap.