Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Potensi Pemanenan Air Hujan Sebagai Upaya Pemenuhan Air Baku Bagi Warga Desa (Studi Kasus: Desa Cikalong, Kabupaten Bandung Barat) Tati Artiningrum; Citra Artifiani Havianto
GEOPLANART Vol 3, No 1 (2020): EDISI NOVEMBER
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.538 KB) | DOI: 10.35138/gp.v3i1.225

Abstract

Pertumbuhan penduduk menyebabkan air sebagai sumber kebutuhan utama ikut meningkat sementara kemampuan air tetap. Tidak terkecuali masyarakat yang berada di Desa Cikalong, Kecamatan Cikalongwetan yang pada saat ini suplai air masyarakat Desa Cikalong, mayoritas diperoleh dari sumur bor dan air tanah yang berasal dari sumur gali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pemanenan air hujan di Desa Cikalong. Dengan teknik pemanenan air hujan diharapkan sebagai alternatif penyelesaian permasalahan air Desa Cikalong terutama RW 18 pada masa musim kemarau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Untuk menghitung potensi pemanenan air hujan dilakukan dengan melakukan perkalian antara curah hujan, luas atap bangunan, dan koefisien runoff. Berdasarkan analisis tersebut, potensi pemanenan air hujan di Desa Cikalong menunjukan sebesar 175.552 m3 /tahun. Dengan rata-rata potensi pemanenan untuk setiap rumah sebesar 52 m3 / tahun. Hasil dari pengolahan data berdasarkan survei yang telah dilakukan menunjukkan bahwa potensi pemanenan air hujan setiap harinya secara keseluruhan mampu  mencukupi kebutuhan air baku rumah tangga.  Kata kunci : air baku, pemanenan air hujan, konservasi air
POTENSI EMISI GRK DARI SEKTOR PETERNAKAN DESA CIKALONG,KAB. BANDUNG BARAT TAHUN 2016-2021 Tati Artiningrum; Citra Artifiani Havianto
GEOPLANART Vol 3, No 2 (2021): EDISI MEI
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.536 KB) | DOI: 10.35138/gp.v3i2.355

Abstract

Salah satu sektor yang berkontribusi dalam peningkatan pemanasan global adalah limbah peternakan yang diantaranya berasal dari kotoran hewan. Sumbangan emsinya diantaranya berasal dari gas metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), karbon dioksida (CO2), dan amonia yang dapat menimbulkan hujan asam. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sumbangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari sektor peternakan tahun 2016 sampai 2021 pada tempat penampungan hewan berupa penggemukan sapi perah dan sapi potong di Desa Kecamatan, Cikalong Wetan, Kabupaten Barat. Penelitian ini mengunakan metodenya survei lapangan dan study literatur untuk memperoleh data primer serta data sekunder berupa populasi ternak dan pengelolaan limbahnya. Data diolah dengan mengunakan metoda Tier I dari IPCC. Hasil penelitian menujukkan bahwa Tahun 2016 Desa Cikalong memberikan sumbangan emisi sebesar 2610,55 ton CO2- eq/tahun meningkat hingga 3632,16 ton CO2-eq/tahun pada Tahun 2019 yang didominasi oleh CH4 dari fermentasi enterik
POTENSI EMISI METANA ( CH4 ) DARI TIMBULAN SAMPAH KOTA BANDUNG Tati Artiningrum
GEOPLANART Vol 1, No 1 (2017): Edisi Mei
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.227 KB) | DOI: 10.35138/gp.v1i1.143

Abstract

Sampah atau limbah padat sering dinyatakan sebagai bahan yang terbuang atau buangan dari suatu sumber, dapat berupa hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi. Peningkatan jumlah timbulan sampah yang tidak diantisipasi dengan pengelolaan  yang tepat , akan berdampak pada pencemaran lingkungan, seperti timbulnya genangan karena tersumbatnya saluran drainase, banjir yang disebabkan karena bertumpuknya sampah dialiran sungai, maupun dampak langsung pada kesehatan masyarakat seperti gangguan pernafasan ,dll. Timbunan di lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) akan menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK)  seperti emisi gas karbondioksida (CO2) dan gas metana atau metan (CH4). Emisi metan ke atmosfer yang dapat menyebabkan terjadinya penipisan lapisan ozon.karena  merupakan kontributor utama GRK dari TPA dan 21 kali lebih berbahaya dibandingkan emisi gas karbondioksida (CO2) . Emisi yang dihasilkan dihitung dengan pendekatan IPCC (Intergoverment Panel on Climate Change) dalam satuan emisi  Gg/tahun atau ton/tahun. Hasil perhitungan estimasi emisi gas metana yang dihasilkan dari timbulan sampah Kota Bandung Tahun 2018 sampai memperlihatkan peningkatan dari 2665,02 sampai 2730,26  ton/tahun.
MENINGKATKAN PERAN ENERGI BERSIH LEWAT PEMANFAATAN SINAR MATAHARI Tati Artiningrum; Jonny Havianto
GEOPLANART Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.018 KB) | DOI: 10.35138/gp.v2i2.185

Abstract

Dalam 10 tahun terakhir antara tahun 2004 sampai 2013 pemanfaatan energy surya sebagai tenaga listrik meningkat pesat dari  3,7 GW menjadi 139 GW. Hal tersebut disebabkan adanya tuntutan dari Protocol Kyoto yang mewajibkan negara-negara maju untuk mengurangi emisi karbon. Sehingga energi surya yang bersifat renewable dan ramah lingkungan menjadi pilihan disamping energy angin. Di Indonesia kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)  belum bersifat komersil. Salah satu PLTS yang dikembangkan sebagai pilot proyek untuk pengembangan PLTS di Indonesia adalah PLTS Cirata berkapasitas 1 MW.  Untuk mengestimasi potensi tenaga surya yang berlimpahnya sebagai sumber energi, dilakukan penelitian  menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan studi literatur, analisis database PLTS, diskusi terfokus dan analisis deskriptif. Diharapkan dengan pengalaman dari PLTS Cirata dapat menjadi dukungan untuk pembangunan PLTS lain secara komersil. Untuk itu diperlukan dukungan pemerintah berupa pengukuran potensi tenaga surya di berbagai tempat, pengembangan industri fotovoltaic, serta feed-in tariff yang menarik bagi pengembang PLTS.
ESTIMASI EMISI C02 DARI AKTIVITAS RUMAH TANGGA DI DESA CIKALONG, KAB. BANDUNG BARAT Tati Artiningrum; Citra Artifiani Havianto
GEOPLANART Vol 4, No 1 (2021): EDISI NOVEMBER
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35138/geoplanart.v4i1.457

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas sehari-harinya yang menggunakan energi, berpengaruh pada peningkatan salah satu Gas Rumah Kaca (GRK) yaitu Karbon dioksida(CO2). Dalam kehidupan sehari-hari, energi memegang peranan yang sangat penting karena hampir semua sektor kehidupan seperti industri, transportasi, jasa, rumah tangga dan lain sebagainya menggunakan energi. Pada sektor rumah tangga penggunaan energi meliputi penerangan dan memasak  yang konsumsi energi tersebut menyebabkan emisi gas CO2. Total Emisi CO2  dari aktivitas rumah tangga dapat dibagi menjadi emisi langsung dan emisi tidak langsung. Pada penelitian yang dilaksanakan di Desa Cikalong, Kabupaten Bandung Barat ini,digunakan metode IPPC 2006 untuk meneliti besarnya emisi gas CO2 yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga meliputi penggunaan bahan bakar yg digunakan rumah tangga untuk memasak baik bahan bakar fosil maupun terbarukan dan konsumsi listrik. Hasil penelitian menunjukkan besarnya total emisi CO2 yang dihasilkan adalah 2308,19 ton CO2e/tahun yang terdiri dari  emisi langsung 651,321 ton CO2e/tahun dan emisi tidak langsung1656,870 ton CO2e/tahun.
Pemanfaatan Media Sosial sebagai Sarana Promosi Objek Wisata Bumi Almira Citra Artifiani Havianto; Tati Artiningrum
GEOPLANART Vol 4, No 2 (2022): EDISI MEI 2022
Publisher : Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35138/geoplanart.v4i2.534

Abstract

Kehadiran media sosial sangat menguntungkan bagi industri pariwisata karena dapat memudahkan penyampaian informasi pariwisata secara lebih efektif dan efisien. Kemudahan ini tentunya berdampak dalam peningkatan jumlah wisatawan yang semakin bertambah. Beberapa objek wisata di Kabupaten Bandung Barat sebagian besar sudah memanfaatkan media sosial dalam upaya pemasaran, salah satunya adalah Objek Wisata Bumi Almira. Dalam penelitian ini akan dikaji bagaimana pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi objek wisata. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif, dimana peneliti ingin mencari fakta-fakta yang ada pada pemanfaatan media sosial oleh pengelola objek wisata. Metode  pengumpulan data  yang  digunakan  adalah Penyebaran kuesioner terhadap responden yaitu wisatawan di objek wisata Bumi Almira dan wawancara kepada pihak pengelola. Berdasarkan data dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa media sosial memiliki peranan penting dalam pencarian informasi mengenai destinasi wisata. Instagram merupakan media sosial yang paling banyak digunakan untuk pencarian informasi mengenai wisata. Selain dimanfaatkan untuk pencarian informasi, media sosial kerap digunakan untuk membagikan foto dan video yang menarik disertai ulasan mengenai pengalaman berwisata mereka. Objek Wisata Bumi Almira juga sudah memanfaatkan Instagram untuk kepentingan promosi, informasi dan hiburan.
Effectiveness of Poly Aluminum Chloride Coagulant On The Performance of IPAM Badaksinga, Bandung City Tati Artiningrum; Mahesa Filiceldi
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Journal Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.743 KB) | DOI: 10.59188/eduvest.v3i1.725

Abstract

The Badaksinga Drinking Water Processing Installation is an installation owned by Perumda Tirtawening Drinking Water, Bandung City, has 2 of these installations, the first of which is a design from Degremont - France, built around 1954 with a capacity of 1000 liters/second. The second installation is an IWACO-Dutch design with a flow rate of 800 liters/second. The raw water for the two installations comes from the Cisangkuy River and the Cikapundung River. To purify the raw water, PAC (Poly Aluminum Chloride) is used as a coagulant which is a complex inorganic compound with a clear to yellowish color. The coagulant addition process must be carried out efficiently because this coagulation process is a chemical process that requires a large amount of money for the water treatment process apart from chlorination. Excessive addition of coagulant doses will cause the cost of using coagulant chemicals to swell so that it will have an impact on overall operational costs. The purpose of this study was to determine the effectiveness of using PAC in reducing turbidity, in the form of the optimum dose of coagulant, turbidity and pH. The method used is the Jar Test which is a tool to test the ability of coagulants to determine the optimum dose in a water treatment process. From the samples, the raw water turbidity varied from 17.1 to 281 NTU, fluctuating due to geographical location and environmental conditions around each and the degree of acidity or an average pH of 7.13. After the Jar Test was carried out, the optimum dose was produced at a coagulant concentration of 30 mg/l resulting in turbidity in the range of 1.1 to 5.0 NTU and an average turbidity reduction efficiency of 94.5%, the pH of raw water, after coagulation and flocculation with the Jar Test simulation tool, there was a decrease of 4.1% to an average of 6.99. This result is in accordance with Minister of Health Regulation No 492/MENKES/PER/10/2010 April 19 2020, namely turbidity of no more than 5 NTU and a pH of 6.5 – 8.5
Determination of Cikapundung River Water Quality Index Using IKA-INA Method and Pollution Index Tati Artiningrum; Nadia Syarah Saeful
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 3 No. 6 (2023): Journal Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v3i6.843

Abstract

The Cikapundung River which crosses the city of Bandung is widely used for various purposes including as a drainage, tourist attraction and raw material for drinking water. In fact, the Cikapundung River is inseparable from environmental pollution, both from domestic waste around the river flow and industrial waste which ultimately has an impact on decreasing water quality. This research aims to to get an overview of the water quality condi-tions of the Cikapundung river which were assessed using Index IKA-INA method. To see how big the impact is on water quality in the Cikapundung River, a water quality index is used, which is a method for assessing the condition of a body of water based on selected parameters. Sampling was carried out at 3 sites during the dry and rainy seasons. Then the water quality criteria are determined using the National Sanitation's Foundation (NSF-WQI) method which has been modified to become the IKA-INA method and Pollution Index (IP) based on Minister of Environment Regulation No. 115 of 2003 concerning guidelines for determining water quality status. The results of the analysis using the IKA-INA method, the water quality of the Cikapundung River is generally in the "moderate" category, only one site is included in the "good enough" category, while the determination of water quality status using the Pollution Index method is included in the "fair" category. Moderately Polluted” for all sites both during the dry and rainy seasons with IP values ​​ranging from 1.36 to 4.38.