Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Stilistika

ROGGHA SANGHᾹRA BHŪMI: WABAH SEMESTA ALAM DAN SUDHA BHUMI Geria, Anak Agung Gde Alit
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 12 No. 1 (2023): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v12i1.3304

Abstract

Teks Ronggha Sanghāra Bhumi, merupakan ajaran kepemimpinan (niti) dari Bhagawan Dharma Loka, yang diterima baginda raja Majapahit hingga di Bali. Teks berisi uraian tatkala bumi dalam keadaan kali yuga (sanghāra). Ditandai dengan kembalinya para dewata menuju alam surga (Mahameru). Digantikan atau dipenuhi sifat-sifat jahat (běbhutan) merasuk pada setiap pikiran manusia, sehingga dunia menjadi tidak menentu (roggha). Konflik (perang) berkepanjangan, di antara pemimpin (raja) saling hina dan bermusuhan, penyakit (sasab mrana) tiada hentinya, kematian mendadak dilanda muntaber, dan sejenisnya. Segala upaya pengobatan tradisional (usada) dan (japa mantra) telah dicoba namun tidak berhasil, wabah penyakit mendunia. Merebaknya berbagai penyakit di seluruh penjuru dunia, adalah akibat dewata luhuring akasa murka sehingga banyak manusia mati tidak tertolong. Seorang raja (pemimpin) akan tertimpa bahaya, ditandai dengan adanya salah wtu (manakan salah), salah rupa, salah prilaku, kebenaran terabaikan, raja dilecehkan, raja berbuat sewenang-wenang hingga rakyat menjadi sakit hati, dan seterusnya, menjadikan dunia ini rusak/hancur (sanghāra). Keadaan yang mengerikan itu bisa teratasi dengan cara menepi, mengurung diri di rumah, karena běbhutan sedang bergerak (apan běbhutan sděng lumaku) merasuki manusia di jagat raya ini. Selain itu, manusia mesti senantiasa berdoa kepada Sang Pencipta, melakukan upacara yajña mamarisudha bhumi, menggelar upacara pacaruan (menetralisir dunia beserta isinya) secara menyeluruh berlandaskan rasa bakti yang tulus ikhlas mohon perlindungan-Nya. Kata Kunci: roggha, sanghara, pamarisudha, dan yajña.
ANGGRENI DUTA: PERSEMBAHAN GURU-DAKSINA KEPADA DRONA Geria, Anak Agung Gde Alit
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 1 (2024): STILISTIKA: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i1.4212

Abstract

Geguritan Dyah Anggreni merupakan hasil karya sastra lama sarat akan nilai adiluhung. Pada hakikatnya, kandungan isi yang tersirat dalam Geguritan Dyah Anggreni memiliki inti ajaran Hindu yang mencakup satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keindahan). Artinya, keharmonisan akan terwujud jika dibangun oleh sikap hidup yang seimbang, yakni hubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan semesta alam yang disebut Tri Hita Karana. Geguritan Dyah Anggreni karya I Made Jimbar yang bersumber dari cerita Adiparwa ini, selesai ditulis pada tahun Saka 1923 (2001 Masehi), terdiri dari 7 pupuh dan 196 bait. Teks beraksara Latin berbahasa Kawi-Bali ini, berisikan tentang perjalanan Dyah Anggreni sebagai duta dari suaminya (Bambang Ekalawya) untuk mempersembahkan guru-daksina kepada Mahaguru Drona di Hastinapura. Konsep guru-daksina, merupakan tradisi zaman mahabharata yakni pemberian sesuatu dari seorang sisya (murid) kepada seorang siwa (guru) sebagai ucapan terima kasih seorang murid atas segala pengetahuan yang telah diajarkan gurunya. Walaupun lewat sebuah patung berwujud Drona, diyakini sebagai guru sejati yang mampu memberi segala ilmu pepanahan (dhanurdhara) hingga meresap pada diri Ekalawya. Di perjalanan, Dyah Anggreni dihadang para begal yang akhirnya minta bantuan kepada Arjuna. Ada janji yang seakan tergesa-gesa (kadropon) dilontarkan Dyah Anggreni kepada Arjuna, demi keselamatan dirinya dan para begal dapat terbunuh. Setelah berhasil, Arjuna menuntut janji hingga Dyah Anggreni berlari hingga jatuh ke jurang. Beruntung masih bisa diselamatkan oleh Dewi Peri. Mendengar kisah tersebut, Ekalawya segera minta keadilan ke Hastinapura, hingga perang tanding melawan Arjuna. Kemudian Arjuna menuntut balas ke Nishada. Akhirnya Ekalawya terbunuh dalam perang tanding karena kesaktian berupa cincin kresnadana dan ibu jarinya diminta oleh Kresna dan Drona. Karena kesetiaannya, Ni Dyah Anggreni kemudian mati bunuh diri sebagai tanda satyeng laki hingga mereka bertemu kembali di alam surga, karena telah melaksanakan kewajiban sebagai suami-istri yang baik dan setia (satyeng alaki-rabi) di mercapadha (dunia nyata)