This Author published in this journals
All Journal Tedc
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PEMURIDAN SEBAGAI TUGAS DOSEN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI PERGURUAN TINGGI Asmat Purba
Jurnal TEDC Vol 8 No 1 (2014): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.895 KB)

Abstract

Pengajaran PAK semestinya sebuah cara yang tepat untuk memuridkan peserta didik. Namun tidak semua dosen PAK di Perguruan Tinggi melakukan pemuridan, masih ada dosen yang hanya melaksanakan tugas mengajar. Menurut Kitab Injil,Tuhan Yesus adalah Guru Agung yang memuridkan dan menjadi model yang harus diteladani oleh dosen PAK. Jika dosen PAK di Perguruan Tinggi memiliki pemahaman yang benar tentang pemuridan, maka pembelajaran di kelas tidak hanya menyampaikan pengetahuan Alkitab tetapi pengajaran yang disampaikan akan membawa peserta didik bertumbuh, berakar dan berbuah dalam pengenalan yang benar akan Tuhan Yesus. Permasalahan utama yang diteliti penulis ialah bagaimana pemahaman dosen PAK terhadap PAK yang diajarkannya, apakah melaksanakan pemuridan atau hanya mengajar PAK. Penulis menggunakan metode penelitian yang bersifat deskriptif-analisis, yang memaparkan data atau hasil penelitian berdasarkan analisis secara mendalam dan sistematis. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif empiris. Pengambilan data di lapangan dilakukan dengan wawancara etnografi dan mengumpulkan dokumen berupa silabus PAK di Perguruan Tinggi. Sumber wawancara ialah dosen-dosen PAK di Perguruan Tinggi, antara lain : dosen berinisial “AP”, dosen berinisial “AN”, dosen berinisial “PA”, dosen berinisial “BN”, dosen berinisial “MPBT”, dosen berinisial “FD”, dosen berinisial “MB”, dosen berinisial “ST”, dosen berinisial “IP”, dosen berinisial “JMN” , dosen berinisial “MS”, dosen berinisial “SK” , dosen berinisial “SS”, dosen berinisial “TS”, dan dosen berinisial “TG”. Lima belas dosen PAK ini sudah mencakup dan mewakili jumlah dosen PAK di Bandung. Ada beberapa dosen PAK yang mengajar di dua sampai tiga Perguruan Tinggi. Setiap dosen PAK selalu mengajar di semua fakultas dalam satu Perguruan Tinggi. Maka jumlah ini dapat disebut valid, reliable dan obyektif. Kemudian, Penulis juga mengadakan studi literatur terkait (studi kepustakaan termasuk Alkitab), sebagai sumber-sumber penting untuk menunjang penelitian ini lebih seksama. Usulan studi ini adalah: dosen PAK di Perguruan Tinggi dapat melaksanakan pemuridan melalui pengajaran PAK dengan cara menyusun Kurikulum Berbasis Pemuridan. Kurikulum Dikti perlu ditambah dan diubah berdasarkan kebutuhan pemuridan. Hal inilah yang perlu dipelajari dan dikembangkan oleh dosen PAK di Perguruan Tinggi Bandung. Hal ini pada dasarnya dapat dipelajari seperti yang diusulkan dalam penelitian ini. Kata kunci : Pemuridan, Tugas Dosen Pendidikan Agama Kristen, Murid Yesus.
KURIKULUM PEMURIDAN DI PERGURUAN TINGG Asmat Purba
Jurnal TEDC Vol 9 No 3 (2015): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.426 KB)

Abstract

Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan dalam pengajaran. Kurikulum pendidikan agama Kristen yang berbasis Pemuridan akan menghasilkan murid-murid Tuhan Yesus Kristus yang taat membaca, menggali dan merenungkan firman Tuhan serta melakukannya setiap hari dalam kehidupan mereka, sehingga karakter mereka semakin serupa dengan Kristus. Seperti firman Tuhan mengatakan: “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu”. (Mazmur 119: 9). Oleh sebab itu kurikulum agama Kristen berbasis pemuridan di Perguruan Tinggi perlu disusun selama enam (6) semester untuk Diploma tiga (III) dan delapan (8) semester untuk diploma empat (IV), sehingga mahasiswa senior yang terdidik dengan baik akan menjadi pendidik Firman Tuhan bagi adik kelas mereka. Mengapa kurikulum pemuridan harus disusun demikian lama? Karena kehidupan beriman/beragama berlangsung seumur hidup. Kurikulum Dikti tahun 2005 hanya untuk dua (2) Sks yang disampaikan di semester ganjil sedangkan kebutuhan hidup kerohanian berlangsung setiap hari, minggu dan bulan. Itulah sebabnya kurikulum mesti didesain untuk jangka pendek dan jangka panjang, sehingga pemuridan dapat berlangsung selama mahasiswa berada di Perguruan Tinggi. Tujuan tulisan ini ialah supaya Pendidikan Agama Kristen di Perguruan Tinggi memampukan mahasiswa menjadi pembelajar Firman Tuhan yang berhasil dan berkelanjutan hingga akhir hayatnya, sehingga mereka menjadi murid-murid Tuhan Yesus Kristus seumur hidup. Bagaimana menjadikan pendidikan agama yang singkat itu menjadi awal belajar agama yang kemudian mereka belajar agama sepanjang hidup? Dibutuhkan kurikulum pendidikan agama Kristen mulai dari perkuliahan formal, informal dan non formal, supaya tidak hanya dibatasi oleh ruang kelas, melainkan di seluruh arena kehidupannya dapat dijadikan sebagai suasana belajar keagamaan. Yang paling dibutuhkan adalah kurikulum, hiden kurikulum dan strategi mengajarnya. Kata kunci : Kurikulum, Pemuridan dan Perguruan Tinggi
KURIKULUM PEMURIDAN DI PERGURUAN TINGGI Asmat Purba
Jurnal TEDC Vol 12 No 3 (2018): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.426 KB)

Abstract

Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan dalam pengajaran. Kurikulum pendidikan agama Kristen yang berbasis Pemuridan akan menghasilkan murid-murid Tuhan Yesus Kristus yang taat membaca, menggali dan merenungkan firman Tuhan serta melakukannya setiap hari dalam kehidupan mereka, sehingga karakter mereka semakin serupa dengan Kristus. Seperti firman Tuhan mengatakan: “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu”. (Mazmur 119: 9). Oleh sebab itu kurikulum agama Kristen berbasis pemuridan di Perguruan Tinggi perlu disusun selama enam (6) semester untuk Diploma tiga (III) dan delapan (8) semester untuk diploma empat (IV), sehingga mahasiswa senior yang terdidik dengan baik akan menjadi pendidik Firman Tuhan bagi adik kelas mereka. Mengapa kurikulum pemuridan harus disusun demikian lama? Karena kehidupan beriman/beragama berlangsung seumur hidup. Kurikulum Dikti tahun 2005 hanya untuk dua (2) Sks yang disampaikan di semester ganjil sedangkan kebutuhan hidup kerohanian berlangsung setiap hari, minggu dan bulan. Itulah sebabnya kurikulum mesti didesain untuk jangka pendek dan jangka panjang, sehingga pemuridan dapat berlangsung selama mahasiswa berada di Perguruan Tinggi. Tujuan tulisan ini ialah supaya Pendidikan Agama Kristen di Perguruan Tinggi memampukan mahasiswa menjadi pembelajar Firman Tuhan yang berhasil dan berkelanjutan hingga akhir hayatnya, sehingga mereka menjadi murid-murid Tuhan Yesus Kristus seumur hidup. Bagaimana menjadikan pendidikan agama yang singkat itu menjadi awal belajar agama yang kemudian mereka belajar agama sepanjang hidup? Dibutuhkan kurikulum pendidikan agama Kristen mulai dari perkuliahan formal, informal dan non formal, supaya tidak hanya dibatasi oleh ruang kelas, melainkan di seluruh arena kehidupannya dapat dijadikan sebagai suasana belajar keagamaan. Yang paling dibutuhkan adalah kurikulum, hiden kurikulum dan strategi mengajarnya.Kata kunci : Kurikulum, Pemuridan dan Perguruan Tinggi
KREATIFITAS YESUS DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN INTERPERSONAL DENGAN MURID-MURIDNYA DAN IMPLEMENTASINYA BAGI DOSEN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Asmat Purba
Jurnal TEDC Vol 9 No 1 (2015): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.636 KB)

Abstract

Belajar adalah suatu proses interaktif dan interpersonal. Proses belajar mengajar dalam dunia pendidikandiharapkan terjadi hubungan interpersonal antara dosen dan peserta didik. Hubungan interpersonal antaradosen dan mahasiswa sama pentingnya dengan persiapan dan penyampaian materi pelajaran. Tidak mudahmenjadi dosen PAK yang kreatif dan berkualitas. Namun bisa diusahakan melalui belajar kepada pribadiYesus Sang Guru Agung dalam Kitab Injil. Dialah teladan dalam segala hal secara khusus dalam halkreatifitas-Nya dalam membangun hubungan interpersonal dengan murid-murid-Nya. Seorang dosen PAKmesti mengenali peserta didiknya dan peserta didiknya mengenal dosennya, sehingga tumbuh saling percaya(trust), sehingga pengajaran berhasil.Kata kunci: Kreatifitas, Interpersonal, Dosen Pendidikan Agama Kristen.
MEMBANGUN KEPEDULIAN SOSIAL DI TENGAH WABAH PANDEMI COVID-19 SEBUAH REFLEKSI LUKAS 10: 25 – 37 Asmat Purba
Jurnal TEDC Vol 14 No 2 (2020): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.704 KB)

Abstract

Kepedulian sosial adalah sebuah kalimat yang sering kita dengarkan bahkan kita ungkapkan ketika kita mengalami atau melihat musibah yang menimpa sesama kita. Reaksipun beragam terhadap kalimat tersebut. Hal yang sama terjadi dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang samaria yang murah hati didalam Lukas 10:25-37. Kepedulian sosial merupakan sikap dan perbuatan yang mulia. Tentu semua orang pun memiliki pemahaman demikian. Namun apakah semua orang mengerti dan mengetahui makna terdalam dari kepedulian sosial tersebut? Sebagai orang Kristen, Yesus Kristus mengajarkan agar kita belajar kepada orang Samaria yang murah hati yang memandang sesamanya sama seperti dirinya sendiri. Peristiwa yang relevan pada masa kini yang sedang kita hadapi adalah pandemi Covid-19. Peristiwa ini tidak hanya di Indonesia tetapi seluruh dunia. Dampaknyapun dirasakan oleh manusia di seluruh dunia. Pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan dengan maksud agar seluruh rakyat Indonesia tidak menderita Covid-19. Korban yang terinfeksi pun tidak sedikit, yang mengalami penularan dan menjadi korban penularan juga demikian, ada pula yang sembuh dan tidak sedikit yang meninggal dunia. Melihat kenyataan ini, tentu hati nurani tidak dapat menolak untuk membantu orang-orang yang sedang menderita, ketakutan, cemas dan kuatir akan penularan Covid-19. Oleh karena itu, kita perlu memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang kepedulian sosial sehingga dalam pelaksanaannya kita tidak keliru.
SPIRITUALITAS ORANG TUA KRISTEN SEBAGAI PENDIDIK DALAM KELUARGA Asmat Purba
Jurnal TEDC Vol 14 No 3 (2020): Jurnal TEDC
Publisher : UPPM Politeknik TEDC Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.977 KB)

Abstract

Spiritualitas orang tua sangat penting karena orang tua akan mendidik anak-anak dalam keluarga yang bertujuan untuk membangun spiritualitas mereka. Orang tua adalah imam dalam keluarga yang bertugas memimpin anak-anaknya mengenal Allah dan hidup berkenan kepada-Nya. Orang tua dituntut tidak hanya menafkahi fisik anak-anaknya saja tetapi pendidikan spiritualitas juga. Orang tua mesti memiliki spiritualitas yang baik, sehat, dewasa dan menjadi teladan, sehingga anak-anak yang dididiknya juga mengalami hal yang sama. Tujuan yang hendak dicapai melalui artikel ini ialah untuk menyadarkan para orang tua dan pemimpin Kristen khususnya gereja agar peduli kepada pembinaan spiritualitas orang tua khususnya mereka yang sedang mengasuh anak-anak dari kecil hingga dewasa. Dalam artikel ini, penulis berupaya memaparkan spiritualitas berdasarkan Alkitab dan menggunakan literatur. Spiritualitas harus dimiliki oleh orang tua dalam rangka memenuhi tugas dan panggilan sebagai pendidik dalam keluarga.