Noh Ruku
Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PRINSIP PENGUTUSAN GEREJA ANTIOKHIA MENURUT KISAH PARA RASUL Noh Ruku
Jurnal Arrabona Vol. 1 No. 1 (2018): Agustus
Publisher : Departemen Literatur dan Media, Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.62 KB) | DOI: 10.57058/juar.v1i1.2

Abstract

This research describes the principles of sending done by the church of Antioch in Acts and their relevance to the church nowadays The principles of sending executed by the church of Antioch in Acts can be traced in eight principles as follow: (1) HS as the Initiator, (2) solid leadership, (3) dynamic spirituality, (4) awareness of the guidance of the HS, (5) giving the best workers, (6) sending by regeneration of spiritual leaders, (7) partnership, (8) responsibility As writer, I recommend sending-church, missionaries and the support partners to use these principles for the continuity of sending missionaries until parousia.
ISU KONTEMPORER: GEREJA DAN PEKERJAAN BAIK Noh Ruku
Jurnal Arrabona Vol. 2 No. 1 (2019): Agustus
Publisher : Departemen Literatur dan Media, Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.98 KB) | DOI: 10.57058/juar.v2i1.20

Abstract

The church as a fellowship of people who believe in Jesus Christ as Lord and Savior in the midst of this world, can be an example of good deeds so that they can have a positive impact in accordance with God's Word.
MODEL EVALUASI RESPONSIF: PROGRAM PEMBINAAN JEMAAT DI GEREJA POUK ICHTHUS BUMI DIRGANTARA PERMAI Noh Ruku; Anre Rasi
Jurnal Arrabona Vol. 3 No. 1 (2020): Agustus
Publisher : Departemen Literatur dan Media, Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.026 KB) | DOI: 10.57058/juar.v3i1.38

Abstract

Artikel ini memaparkan hasil riset melalui evaluasi responsif dalam program pembinaan jemaat di Gereja POUK Ichthus Bumi Dirgantara Permai sebagai tanggung jawab gereja membina iman Jemaat.
MEMPERTAHANKAN DAN MEMPERTANGGUNGJAWABKAN DOKTRIN TRINITAS DALAM KONTEKS ASIA Noh Ruku
Jurnal Arrabona Vol. 3 No. 2 (2021): Februari
Publisher : Departemen Literatur dan Media, Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (828.347 KB) | DOI: 10.57058/juar.v3i2.41

Abstract

Penulisan yang memaparkan pandangan beberapa agama yang ada di Asia tentang Trinitas dan bagaimana gereja mempertahankan dan mempertanggungjawabkan doktrin tersebut dalam konteks Asia. Allah adalah “Satu dalam hakekat,dibedakan dalam tiga persona” (Mia ousia, tres hypostates). Doktrin Tritunggal sangat vital bagi teologi dan juga bagi pengalaman dan hidup Kristen. Allah Tritunggal adalah keutuhan dan kepenuhan hidup, berada dalam hubungan yg kekal, dan dalam persekutuan yg tak pernah putus atau berhenti. Hal ini membuat penyataan dan pengungkapan diri Allah dapat dimengerti. Persekutuan yang mengikat Trinitas, menjadi dasar bagi persekutuan lingkungan umat manusia, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan secara istimewa dalam lingkungan gereja, karena di situ Roh Kudus menjadi Pengantara persekutuan itu. Rekomendasi dari penulis adalah untuk gereja dan jemaatnya agar mempertahankan dan mempertanggungjawabkan doktrin Trinitas dalam konteks Asia, khususnya dalam konteks masyarakat yang ada di sekitarnya.
KREDIBILITAS UTUSAN LINTAS BUDAYA Noh Ruku
Jurnal Arrabona Vol. 1 No. 2 (2019): Februari
Publisher : Departemen Literatur dan Media, Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.353 KB) | DOI: 10.57058/juar.v1i2.51

Abstract

Kredibilitas Utusan Lintas Budaya merupakan sebuah studi biblika dan praktika (misiologi), dengan pendekatan induktif yang akan mempelajari ketahanan seorang utusan lintas budaya dalam menghadapi berbagai situasi di ladang misi, memahami dan menegaskan tentang pentingnya unsur pengetahuan (teologi) dan pengalaman (pelayanan) untuk mempersiapkan dan mengutus utusan lintas budaya yang memiliki kredibilitas tinggi. Rasul Paulus menjadi role model seorang utusan lintas budaya yang memiliki kredibilitas tinggi. Prinsip-prinsip Alkitabiah diletakan sebagai dasar kredibilitas utusan lintas budaya dan bagaimana menerapkannya masa kini. Para utusan lintas budaya memiliki kredibilitas karena mengalami pertobatan yang sejati, menangkap panggilan Tuhan secara jelas, bersedia diperlengkapi dengan belajar Firman Tuhan dan diutus untuk memenuhi panggilan misi di ladang lintas budaya. Kredibilitas Utusan Lintas Budaya menjadi teruji ketika berada di ladang, karena ia mampu mengidentifikasikan masalah baik dari segi pengajaran maupun pelayanan, memikirkan solusi alkitabiah dan bahkan menjadi efektif karena kehadirannya berdampak, melalui orang-orang lokal yang bertobat dan bertumbuh melalui pemuridan, melayani dan mengambil bagian dalam pelayanan misi. Kesuksesan utusan lintas budaya dalam pelayanan di ladang dapat dinilai melalui kredibilitasnya sampai akhir hidup/masa tugasnya. Rekomendasi dari peneliti adalah untuk gereja atau lembaga pengutus dalam mepersiapkan tenaga utusannya di ladang pelayanan lintas budaya, untuk para utusan agar mempersiapkan diri menjadi tenaga utusan yang kredibel, serta para mitra pendukung agar menjadi mitra yang baik demi efektivitas pelayanan misi lintas budaya.
Multiplikasi Murid Kristus Berdasarkan 2 Timotius 2:2 Di Gereja POUK Ichthus Bumi Dirgantara Permai Di Bekasi Noh Ruku; Ucok Trosmada
Jurnal Arrabona Vol. 5 No. 1 (2022): Agustus
Publisher : Departemen Literatur dan Media, Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.792 KB) | DOI: 10.57058/juar.v5i1.70

Abstract

Artikel ini memuat tentang sebuah penelitian yang dilakukan untuk menemukan Multiplikasi Murid Kristus dalam 2 Timotius 2:2 di Gereja POUK Ichthus Bumi Dirgantara Permai, dengan mengunakan paradigma naturalistis atau paradigma alamiah berdasarkan filsafat fenomologis dan metode penelitian kualitatif. Tema-tema yang ditemukan adalah bahwa: Amanat Agung ditujukan bagi semua murid Yesus yaitu menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus; Proses ini tidak hanya berhenti ketika seseorang telah menjadi murid, tetapi seorang murid yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan murid lain agar dapat memuridkan lagi. Dengan cara ini maka akan terjadi multiplikasi murid Kristus. Dalam 2 Timotius 2:2, Rasul Paulus menunjukkan suatu model yang ideal agar terjadi multiplikasi, Paulus (generasi pertama) meminta muridnya yaitu Timotius (generasi kedua) agar mempersiapkan orang-orang yang dapat dipercayai (generari ketiga) untuk mengajar orang lain (generasi keempat). Tesis ini direkomendasikan kepada gembala jemaat, rohaniwan dan pelayan dengan latar belakang teologi, majelis, pengerja, pengurus gereja serta jemaat yang terlibat dalam penjangkauan dan pemuridan.
Pertumbuhan Iman di Era Modern Menurut Markus 4 : 1 – 20 : Kunci dari Pemahaman , Refleksi , dan Dukungan Komunitas Obehetan, Yeheskiel; Ruku, Noh; Nababan, Eva
Jurnal Arrabona Vol. 7 No. 2 (2025): February
Publisher : Departemen Literatur dan Media, Sekolah Tinggi Teologi Arrabona Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57058/juar.v7i2.128

Abstract

This article discusses the parable of the sower taught by Jesus Christ in the Gospel of Mark 4:1-20 and its implications for faith growth in the modern era. The parable illustrates how the seed of God’s word is sown on different types of soil or human hearts, which affects its growth outcome. This study analyzes various types of soil: the path, rocky ground, thorns, and good soil, and how each type influences growth results. The article also explores the relevance of these changes in the contemporary context, focusing on modern challenges such as technological advancements, cultural shifts, and social factors that can impact individual spirituality. Additionally, the article offers practical approaches for implementing the teachings of the parable into daily life through the development of spiritual habits to support faith growth and strategies for overcoming obstacles in the modern world. In conclusion, the article emphasizes that although social contexts have changed, the principles of the parable of the sower remain relevant in helping individuals grow in strong and fruitful faith in today’s modern era.
Dari Usaha ke Anugerah: Memahami Jalan Keselamatan melalui Pembenaran oleh Iman Berdasarkan Roma 3:21-31 Obehetan, Yeheskiel; Fufu, Eni Marisa; Ruku, Noh; Pandandari, Galuh
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i1.408

Abstract

This study aims to examine the significance of Romans 3:21-31, in relation to the concept of justification by faith. This is based on the understanding of the laity that justification can be obtained from God through various human efforts, while humans are imperfect sinners so that in any effort it will not be possible for anyone to achieve justification from God. By using literature study, this study shows that the preaching of the gospel to the laity is the responsibility of believers to provide an understanding of the concept of justification by faith, the basis of justification by faith, the object of justification by faith, and the conditions of justification by faith. This study provides benefits to the church, theological colleges and believers to provide an understanding to the laity regarding the understanding of justification by faith alone. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji signifikansi Roma 3:21-31, dalam kaitannya dengan konsep pembenaran karena iman. Hal itu dilatarbelakangi oleh pemahaman kaum awam bahwa pembenaran dapat diperoleh dari Allah dengan berbagai upaya manusia, sedangkan manusia adalah umat berdosa yang tidak sempurna sehingga dalam upaya apapun tidak akan mungkin bisa dilakukan oleh seorangpun untuk mencapai pembenaran Allah. Dengan menggunakan studi literatur, penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan Injil kepada kaum awam adalah tanggung jawab orang percaya untuk memberi pemahaman tentang konsep pembenaran karena iman, dasar pembenaran karena iman, obyek pembenaran karena iman, dan syarat pembenaran karena iman. Penelitian ini memberikan manfaat kepada gereja, sekolah tinggi teologi dan kepada orang percaya untuk memberikan pemahaman kepada kaum awam berkaitan dengan pemahaman pembenaran hanya karena iman.
Misi Gereja di Era Globalisasi: Sintesis Fondasi Kristosentris Barth dan Stott dengan Kepekaan Kontekstual Knitter dan Goheen Ruku, Noh
Jurnal Teologi Injili Vol. 6 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi ATI Anjungan Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55626/jti.v6i1.225

Abstract

Globalisasi mengubah cara gereja memahami dan menjalankan misinya di tengah dunia yang plural. Situasi ini menuntut refleksi teologis agar misi tetap setia pada Injil sekaligus peka terhadap konteks. Dalam kerangka ini, Karl Barth dan John Stott memberikan fondasi kristosentris yang kuat, sementara Paul Knitter dan Michael Goheen menghadirkan kepekaan kontekstual dalam menghadapi pluralisme dan dinamika global. Penelitian ini bertujuan mensintesis pemikiran Barth dan Stott sebagai dasar teologis dengan Knitter dan Goheen sebagai mitra dialog kontekstual bagi misi gereja masa kini. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan analisis teologis terhadap karya utama keempat tokoh. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya mengintegrasikan kristologi Barth yang menekankan inisiatif Allah, serta Stott yang menghubungkan Injil dan tanggung jawab sosial, dengan pendekatan Knitter yang dialogis dalam konteks pluralisme dan Goheen yang melihat misi sebagai partisipasi dalam karya Allah di dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Barth dan Stott meneguhkan pusat misi pada karya keselamatan di dalam Kristus, sementara Knitter dan Goheen memperluas praksis misi agar lebih kontekstual dan transformatif. Kesimpulannya, sintesis keempat pemikiran ini menghasilkan kerangka misi gereja yang tetap berakar pada Kristus sekaligus relevan di tengah dunia global yang beragam.
Pemuridan dan Pengajaran Sebagai Tanda Gereja yang Bertumbuh Yeheskiel Obehetan; Noh Ruku; Galuh Pandandari
JURNAL SABDA HOLISTIK Vol. 1 No. 1 (2025): Maret
Publisher : STAK Sabda Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63218/spmv5928

Abstract

Salah satu pesan atau perintah Tuhan Yesus yang harus ditaati dilakukan oleh setiap orang percaya adalah Amanat Agung. Tidak sedikit gereja yang mengerahkan kekuatannya untuk melaksanakan pesan atau perintah Tuhan Yesus dengan berbagai cara yang kreatif. Amanat Agung ini dijalankan sebagai suatu program atau proses “pemberitaan” yang cenderung menekankan “pergi“ yang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya tetapi mengesampingkan “pemuridan”. Dalam tugas pemuridan yang ditujukan Yesus kepada murid-murid-Nya, kemudian dilanjutkan oleh para penerus yang hidup dalam sebuah komunitas iman sebagai sebuah gereja untuk mewartakan kabar baik sehingga setiap bangsa dapat menjadi bagian dari komunitas iman kepada Yesus Kristus. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan Gereja dalam pelayanan misi adalah dengan mengimplementasi pemuridan dan pengajaran.