Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Wakaf Tunai dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Said, Salmah; Amiruddin, Andi Muhammad Ali
Al-Mashrafiyah (Jurnal Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Syariah) Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.771 KB) | DOI: 10.24252/al-mashrafiyah.v3i1.7739

Abstract

Waqf is one of muamalah activities that has spiritual, social and economic dimensions. Traditionally, waqf has only been interpreted as giving in the form of immovable property such as land and buildings whose designation is limited to the construction of houses of worship and education (schools). However, in fact movable endowments such as cash waqf (money) has long been practiced by Muslims such as in the Umayyad and Abbasid dynasties, only not as popular as land or building endowments. At present, along with the development of public understanding of the practice of Islamic philanthropy, endowments, especially cash waqf, are directed towards the development and empowerment of the economy, for the sake of fulfilling society economic welfare.Keywords: Cash Waqf, Muamalah Activities, Society Economic Welfare.Wakaf merupakan salah satu kegiatan muamalah yang memiliki dimensi spiritual, sosial, dan ekonomi. Secara tradisional, selama ini wakaf hanya dimaknai sebagai pemberian dalam bentuk barang tidak bergerak seperti tanah dan bangunan yang peruntukannya terbatas pada pembangunan rumah ibadah dan pendidikan. Namun, sebenarnya wakaf barang bergerak seperti wakaf tunai (uang) telah lama dipraktikkan oleh umat Islam seperti di masa dinasti Umayah dan Abbasiyah, hanya tidak sepopuler wakaf tanah ataupun bangunan. Saat ini, seiring perkembangan pemahaman masyarakat tentang praktik filantropi Islam, wakaf terutama wakaf tunai diarahkan bagi pengembangan dan pemberdayaan ekonomi, untuk sebesar-besarnya peningkatan kesejahteraan ekonomi umat.Kata Kunci: Wakaf Tunai, Kegiatan Muamalah, Kesejahteraan Ekonomi Umat
Kecenderungan Kajian Hadith di UIN Alauddin Makassar (Tracer Study terhadap Skripsi Mahasiswa Tahun 1994-2013) Arifuddin Ahmad; Andi Muhammad Ali Amiruddin; Abdul Gaffar
JOURNAL OF QUR'AN AND HADITH STUDIES Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Qur'an and Hadith Academic Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.909 KB) | DOI: 10.15408/quhas.v4i2.2395

Abstract

Fokus tulisan ini adalah bagaimana kecenderungan kajian hadith di UIN Alauddin Makassar sejak tahun 1994 hingga 2013. Untuk menjawab permasalahan tersebut sumber utama tulisan ini adalah karya-karya skripsi alumni Tafsir Hadis IAIN/UIN Alauddin Makassar. Berdasarkan penelusuran dan analisis dokumentasi disimpulkan bahwa dari tahun 1994 hingga 2013, jumlah skripsi yang dapat ditemukan adalah 97 buah, dengan rincian 12 skripsi yang menfokuskan kajiannya pada Ilmu Musthalah Hadith, 50 skripsi yang merupakan hasil penelitian (naqd) hadith, 21 skripsi mengkaji pemahaman (fiqh) hadith, 7 skripsi yang memfokuskan pada kajian kitab hadith dan 7 skripsi yang menelusuri pemikiran atau tokoh hadith. Kecenderungan model kajian umumnya penelitian hadith (naqd al-hadith), baik sanad maupun matan (51, 5%). Faktor utama terjadinya kecenderungan tersebut adalah makin kuatnya metodologi penelitian hadith secara umum di Indonesia dan secara khusus di UIN Alauddin Makassar dengan munculnya karya-karya dari tokoh-tokoh Ilmu Hadis di Makassar seperti M. Syuhudi Ismail di awal tahun 1990-an dan murid-muridnya.
Literasi Keuangan Islam di Perdidikan Tinggi Islam: Kajian Empiris di UIN Alauddin Makassar Salmah Said; Andi Muhammad Ali Amiruddin
Al-Ulum Vol. 17 No. 1 (2017): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1306.58 KB) | DOI: 10.30603/au.v17i1.29

Abstract

Literacy is related to one’s competence or knowledge of particular or specific disciplines/areas. Financial literacy is one's knowledge of finance and his ability to make effective financial decisions. Thus, Islamic financial literacy represents one’s level of knowledge about Islamic financial comprehensively. The aim of this study is to examine the level of Islamic financial literacy of civitas academica (lecturers, students, and employees) of State Islamic University (UIN) of Alauddin Makassar. The study reveals that, in general, the Islamic financial literacy of civitas academica of UIN Alauddin Makassar is still low. Furthermore, financial literacy on Islamic banking is still dominated compare to other Islamic financial institutions. Finally, this study also shows that financial literacy level of female respondents is higher than their male counterparts.
Kajian Sanad Muhammad Ali
AL-Fikr Vol 15 No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sanad (the cain) which had been used by the prophet’s companions was the established narrative system of the prophet tradition (hadis). Even though, many muslim or non-muslim scholar feel uncertain of its reliability as a scientific methodology. So the motivating problem being discussed in this article is what are the factors that should be fulfilled in a sanad to be concepted as a part of methodological construction? By using the historical and the science of hadis, this article discovered that in the time before islam, the resource of sanad was provided by Judaism as in their book, Mishnah. Like Judaism, in the time of pre-islamic history (jahiliah), people used the sanad way to narrate their poems. After Islamic era. Sanad of hadis became more methodological than it of pre-islamic history, especially in its reliability and consistency. This theses was pointed by hadis’ researcher as “sanad is the part of the din (islam).
Air dalam Perspektif Hadis Andi Muhammad Ali Amiruddin
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 6 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1554.268 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v6i1.7139

Abstract

Water and related issues around its management and treatment, and behaviour of human beings towards water has been discussed in several disciplines including Islamic studies. Water has been playing a key role in Islam, whether for cleaning, bathing or ablution to prepare Muslims before doing religious rituals, such as praying and reading the Quran. Such an important role of water in Islam, however, has been payed less attention, particularly on its social and environmental treatment among Muslims. In order to raise awareness on this issue, this paper will particularly explore water treatment from the perspective of hadith or prophetic tradition. The main question to answer is how the prophetic hadiths respond towards water treatment, particularly on the issue of water pollution and how the Prophet was providing advice on this issue. This paper traces all water related hadiths and classifies them into several categories. The result shows that hadiths on water and how Muslims should behave towards water treatment has indeed been found in many canonical books of hadiths and they in turn should be referred by Muslims for better water management and treatment.
ASBAB WURUD AL-HADITS Muhammad Ali
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 6 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.851 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v6i1.7143

Abstract

Artikel ini membahas mengenai asbab wurud al-hadits. Sebagai salah satu disiplin ilmu dalam studi hadis, asbab al-wurud mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam rangka memahami maksud suatu hadis secara lebih baik. Pemahaman yang mengabaikan asbab al-wurud, cenderung dapat terjebak kepada arti tekstual saja dan bahkan dapat membawa pemahaman yang keliru. Melalui metode analisis isi penulis menarik kesimpulan bahwa dari beberapa definisi asbab al-wurud yang telah dikemukakan oleh para ulama dapat disimpulkan bahwa pengertian asbab al-wurud tersebut lebih mengacu pada asbab al-wurud al-khash (asbab al-wurud mikro). Di antara fungsi dari mengetahui asbab al-wurud adalah untuk menentukan ada tidaknya takhsish dalam suatu hadis yang umum, membatasi kemutlakan suatu hadis, merinci yang masih global, menentukan ada tidaknya nasikh-mansukh dalam hadis, mejelaskan ‘illat ditetapkannya suatu hukum, dan menjelaskan hadis yang sulit dipahami (musykil).
KAJIAN SANAD Muhammad Ali
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 6 No 2 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.698 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v6i2.7177

Abstract

Pada tradisi awal Islam Sanad  hadis sudah dipergunakan sejak  para dan merupakan tradisi ilmiah dan sistem periwayatan yang dapat dipertahankan dan dipertanggung jawabkan. Unsur-unsur sanad dalam periwayatan hadis adalah  bagian yang sangat penting baik dalam menentukan kualitas hadis maupun dari segi kuantitasnya. Metodode yang digunakan pada karya ilmiah ini adalah analisis teori. Pada tinjauan historis, sanad digunakan oleh agama Yahudi atau terdapat dalam kitab yahudi, Mishnah, termasuk  masyarakat Jahiliyah dalam menuturkan silsila dan syair-syair mereka juga menggunakan metode sanad meskipun  tidak jelas sejauh mana metode itu diperlukan. Para ulama hadis Sanad hadis merupakan bagian dari agama. 
SEJARAH DAN KEDUDUKAN SANAD DALAM HADIS NABI Muhammad Ali
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 7 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.152 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v7i1.7191

Abstract

Sanad hadis dipergunakan sejak para Sahabat Nabi merupakan suatu tradisi ilmiah dan sistem periwayatan yang dapat dipertahankan dan dipertanggung jawabkan. Unsur-unsur sanad dalam periwayatan hadis adalah bagian yang sangat penting baik dalam menentukan kualitas hadis maupun dari segi kuantitasnya. Dalam tinjauan sejarah, sebelum Islam sanad telah digunakan oleh agama Yahudi atau terdapat dalam kitab Yahudi, Mishnah, termasuk masyarakat Jahiliyah dalam menuturkan silsila dan syair-syair mereka juga menggunakan metode sanad. Namun setelah Islam datang sanad dalam hadis jauh lebih metodologis dalam penggunaan periwayatan hadis. Pernyataan ini telah di tahqiq oleh para ulama hadis “Sanad hadis merupakan bagian dari agama”
TEORI KLASIFIKASI KITAB HADIS Muhammad Ali
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 8 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.807 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v8i2.7226

Abstract

Para Muhadditsin telah menulis berbagai jenis kitab hadis dalam berbagai bidang bahasannya. Hal ini merupakan suatu khazanah ilmu hadis yang dapat menjawab semua masalah yang dijumpai oleh para ulama dan peneliti berbagai kitab. Terdapat teori atau metode yang yang dilakukan oleh para ulama dalam mengklasifikasikan kitab hadis, seperti Manna’ al-Qattan, Ajjaj al-Khatibi, M. Syhudi Ismail, dan Imam al-Nawawiy.
WAWASAN HADIS TENTANG ETOS KERJA Muhammad Ali
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 9 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.969 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v9i1.7523

Abstract

Terdapat 6 hadis tentang etos kerja yaitu; 1) hadis tentang niat, 2) hadis tentang bekerja dengan mencari kayu bakar, 3) hadis tentang tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawa, 4) hadis tentang do’a meminta perlindungan dari kefakiran, 5) hadis tentang makanan yang paling baik adalah hasil dari kerja keras dan 6) hadis tentang menanam pohon sekalipun hari kiamat telah terjadi. Hadis-hadis tentang etos kerja tersebut terbagi ke dalam 3 aspek; 1) etos kerja dari aspek akidah, 2) etos kerja dari aspek ibadah dan 3) etos kerja dari aspek akhlak. Selanjutnya aplikasi hadis-hadis etos kerja pada masa kini ialah orang mukmin dalam bekerja harus memiliki niat yang kuat, jujur, istiqamah, amanah, tekun, kemampuan bekerja kerasa dan bertanggungjawab.