Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

OPTIMALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH MELALUI PENGEMBANGAN BUDAYA RELIGIUS (Studi pada SMK Darul Ulum Bungbungan Bluto Sumenep) Laisa, Emna
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v3i1.949

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan upaya SMK Darul Ulum dalam mengembangkan budaya religius di sekolah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kasus, diketahui bahwa  pengembangan budaya religius dilakukan di sekolah, di luar sekolah bersama warga, dan terhadap lingkungan/alam. Strategi pengembangan budaya religius dilakukan dengan cara merekrut guru lokal, menyemarakkan kegiatan keagamaan di luar kegiatan rutin sekolah, pelibatan guru untuk mengawasi praktik budaya religius, menjadikan kegiatan keagamaan sebagai kegiatan wajib, menggunakan metode pembelajaran yang menarik, pemberlakuan absensi siswa, dan penggunaan simbol-simbol budaya sebagai penguat. Faktor pendukung dalam pengembangan budaya religius adalah dukungan dari warga sekolah, orang tua, dan tokoh masyarakat. Sedangkan faktor penghambatnya adalah lingkungan sosial yang tidak kondusif dan pengaruh negatif iptek. Dampak positif budaya religius bagi siswa di SMK Darul Ulum, yaitu memupuk sikap istiqamah dalam beribadah, membentuk generasi Islam yang berjiwa pemimpin, menjadi wadah pengembangan bakat, serta meminimalisasi berbagai bentuk kenakalan re
ISLAM DAN RADIKALISME Laisa, Emna
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v1i1.554

Abstract

Indonesia sebagai negara yang menganut paham bhinnekatunggal ika ternyata belum mampu menunjukkan ketangguhannyauntuk meminimalisir sikap-sikap radikal dan ekstrim darisebagian pemeluk agamanya. Pendangkalan terhadap agama danfanatisme mengakibatkan rasa superioritas atas pemeluk agamalain. Radikalisme agama menyebabkan tindakan penuh kekerasandisebabkan pemaknaan yang parsial terhadap konsep jihad dalamIslam, konsekuensi logis dari interpretasi ini adalah penyandinganterorisme sebagai buah dari radikalisme. Hipotesa ini adalahsesuatu yang wajar, mengingat berbagai aktifitas teror di berbagaibelahan dunia senantiasa mengatasnamakan jihad yang dilakukanumat Islam sebagai bentuk ketaatan pada firman Sang Khalik. Halini menimbulkan berbagai gejolak yang tanpa disadari tidak hanyaberimplikasi pada menurunnya stabilitas nasional, tapi bahkanmenyulut respon negatif dari berbagai belahan dunia. Oleh karenaitu diperlukan adanya pemahaman inklusif terhadap agama sehinggapemeluk agama menyadari bahwa pluralitas adalah sebuahkeniscayaan.
KUTTAB SEBAGAI PUSAT ILMU PENGETAHUAN PENDIDIKAN ISLAM Emna Laisa
Rabbani: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 1 No. 2 (2020): September
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/rjpai.v1i2.4110

Abstract

ABSTRACTKuttab has a strategic role in shaping the youth of Islam in the classical era. It is not only excelled in the religious and moral aspects, but also plays a role in the increased intellectual and life skills. Kuttab development from the Prophet era until the Abbasid Daula characterized in each period, in terms of the development of course materials, teaching methods, to community participation. In the midst political conflict, the existence kuttab always in a dynamic conditions. This is evident shows since kuttab just a personal waqf institution to become a major educational institution who participated managed by the government. Kuttab not only sparkling in the golden age, but kuttab inspire the implementation of the Full Day School in Indonesian Islamic educational institutions. It lies the urgency of term al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah, that the classical Islamic education system is able to be a reference to answer the problems of education in the contemporary era. ABSTRAKKuttab memiliki peran strategis dalam upaya pembentukan generasi muda Islam di era klasik. Kuttab tidak hanya unggul dalam aspek keagamaan dan moral, namun juga berperan dalam peningkatan intelektualitas dan kecakapan hidup. Perkembangan kuttab dari masa Rasulullah hingga Daulah Abbasiyah memiliki ciri khas dalam setiap periodesasinya, baik ditinjau dari pengembangan materi pelajaran, metode pembelajaran, hingga peran serta masyarakat. Di tengah suasana konflik politik yang berkecamuk, eksistensi kuttab senantiasa berada dalam kondisi dinamis.Hal ini tampak sejak kuttab hanya berupa institusi wakaf pribadi hingga menjadi institusi pendidikan besar yang turut serta dikelola pemerintah. Kuttab tidak hanya bersinar di masa keemasannya, tetapi telah menginspirasi pemberlakuan Full Day School di lembaga pendidikan Islam, khususnya di Indonesia. Di sinilah letak urgensi al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah, bahwa sistem pendidikan Islam klasik mampu dijadikan rujukan untuk menjawab masalah pendidikan di era kekinian.
ISLAM DAN RADIKALISME Emna Laisa
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2014)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v1i1.554

Abstract

Indonesia sebagai negara yang menganut paham bhinnekatunggal ika ternyata belum mampu menunjukkan ketangguhannyauntuk meminimalisir sikap-sikap radikal dan ekstrim darisebagian pemeluk agamanya. Pendangkalan terhadap agama danfanatisme mengakibatkan rasa superioritas atas pemeluk agamalain. Radikalisme agama menyebabkan tindakan penuh kekerasandisebabkan pemaknaan yang parsial terhadap konsep jihad dalamIslam, konsekuensi logis dari interpretasi ini adalah penyandinganterorisme sebagai buah dari radikalisme. Hipotesa ini adalahsesuatu yang wajar, mengingat berbagai aktifitas teror di berbagaibelahan dunia senantiasa mengatasnamakan jihad yang dilakukanumat Islam sebagai bentuk ketaatan pada firman Sang Khalik. Halini menimbulkan berbagai gejolak yang tanpa disadari tidak hanyaberimplikasi pada menurunnya stabilitas nasional, tapi bahkanmenyulut respon negatif dari berbagai belahan dunia. Oleh karenaitu diperlukan adanya pemahaman inklusif terhadap agama sehinggapemeluk agama menyadari bahwa pluralitas adalah sebuahkeniscayaan.
OPTIMALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH MELALUI PENGEMBANGAN BUDAYA RELIGIUS (Studi pada SMK Darul Ulum Bungbungan Bluto Sumenep) Emna Laisa
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2016)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v3i1.949

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan upaya SMK Darul Ulum dalam mengembangkan budaya religius di sekolah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kasus, diketahui bahwa  pengembangan budaya religius dilakukan di sekolah, di luar sekolah bersama warga, dan terhadap lingkungan/alam. Strategi pengembangan budaya religius dilakukan dengan cara merekrut guru lokal, menyemarakkan kegiatan keagamaan di luar kegiatan rutin sekolah, pelibatan guru untuk mengawasi praktik budaya religius, menjadikan kegiatan keagamaan sebagai kegiatan wajib, menggunakan metode pembelajaran yang menarik, pemberlakuan absensi siswa, dan penggunaan simbol-simbol budaya sebagai penguat. Faktor pendukung dalam pengembangan budaya religius adalah dukungan dari warga sekolah, orang tua, dan tokoh masyarakat. Sedangkan faktor penghambatnya adalah lingkungan sosial yang tidak kondusif dan pengaruh negatif iptek. Dampak positif budaya religius bagi siswa di SMK Darul Ulum, yaitu memupuk sikap istiqamah dalam beribadah, membentuk generasi Islam yang berjiwa pemimpin, menjadi wadah pengembangan bakat, serta meminimalisasi berbagai bentuk kenakalan re
ESSÉR JEMMU’: An Ecological Adaptation Ritual in a House Construction in Madura Emna Laisa; Indah Husnul Khotimah
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 8 No. 1 (2021)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v8i1.4365

Abstract

For the people of Bungbungan, it is imperative that they build a new house, especially when they have a daughter. This is based on the concept of tanéyan lanjhâng which adheres to auxorilocality and matrilocality. The purpose of this study is to describe the essence of a house for the Bungbungan community, various important guidelines in the preparation of building a new house, various ritual offerings, and ritual practice of essér jemmu’. This study is an ethnographic study based on Pierre Bourdieu’s habitus theory to describe the pattern of relations between Islam in the context of pesantren and of the villagers in addressing the ritual of essér jemmu’ as an ecological adaptation ritual in a house construction. The result of this study shows that the house could be a symbol of social status as well as a sign that girls should not be brought to their husband’s house. The process of building a new house begins with various rituals influenced by myths including to determine the direction and layout of the house which are based on the pancabara and babukon. Various offerings are put into a polo’ then planted in the yard. The practice of essér jemmu’ ritual consists of prayers and ritual practices led by a kiai from pesantren or from the village, in which it shows a pattern of domination-subordination relationship of Islam of the pesantren to village Islam. [Bagi masyarakat Bungbungan, membangun rumah baru merupakan sebuah keharusan, terutama jika memiliki anak perempuan. Hal ini berdasarkan konsep tanéyan lanjhâng yang menganut uksorilokalitas dan matrilokalitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hakikat rumah bagi masyarakat Bungbungan, berbagai pedoman penting dalam persiapan pembuatan rumah, ragam sesaji ritual, dan praktik ritual essér jemmu’. Penelitian ini merupakan penelitian etnografi yang berdasarkan teori habitus Pierre Bourdieu untuk mendeskripsikan pola relasi antara Islam pesantren dan Islam kampung dalam menyikapi praktik ritual essér jemmu’ sebagai ritual adaptasi ekologis dalam pembangunan rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah merupakan penanda status sosial sekaligus isyarat bahwa anak perempuan tidak boleh diboyong ke rumah suami. Proses pembangunan rumah diawali dengan berbagai ritual yang dipengaruhi oleh mitos yang meliputi penentuan arah dan tata letak rumah berdasarkan pancabara dan babukon. Ragam sesaji dimasukkan ke dalam polo’ kemudian ditanam di pekarangan. Praktik ritual essér jemmu’ berisi doa-doa dan laku ritual yang dipimpin kiai pesantren atau kiai kampung yang menunjukkan pola relasi dominasi-subordinasi Islam pesantren terhadap Islam kampung]
Pendidikan Ramah Anak: Upaya Reposisi Wacana Kemanusiaan dalam Potret Pendidikan Indonesia Emna Laisa
Maharot : Journal of Islamic Education Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/maharot.v5i2.543

Abstract

Education is a vehicle to actualize of the student’s potential. The potential is always nurtured to be fully utilized in their life. The focus here is not to actualize in the form of exploitation, exertion and violence but it is directed to create a metamorphosis from the ordinary into the extraordinary. Yet, the word “metamorphosis” misinterpreted to another meaning as creating hard educational models for the students. It seems as cognitive educational activities which shows student’s position as adult miniature. Here, the researcher will investigate the importance of discourse humanization as the concept of humanizing education. It’s inspire to create a concept of Sekolah Ramah Anak to be applied in educational institutions so that students feel that education is appreciates their souls.
URGENSI ASBABUL WURUD DALAM HADITS (Upaya Reinterpretasi Hadits Misoginis Berdasarkan Pendekatan Historis, Sosiologis dan Antropologis) Emna Laisa; Luthfatul Qibtiyah
Reflektika Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/reflektika.v16i1.530

Abstract

Hadits merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Secara struktural ia menduduki posisi kedua setelah al-Qur’an, sedangkan secara fungsional ia merupakan bayan (penjelas) terhadap al-Qur’an. Tak dapat dipungkiri bahwa ketepatan pemaknaan dan pemahaman hadits adalah sesuatu yang vital. Namun demikian, untuk menggali kandungan makna dari suatu hadits tidak semudah membalikkan telapak tangan. Adakalanya hadits hanya dimaknai secara tekstual tanpa memperhatikan aspek historisitas dan keadaan sosio-kultural masyarakat kala hadits diturunkan. Akibatnya terjadi konflik dalam masyarakat semisal ketimpangan dalam tataran relasi laki-laki dan perempuan akibat pemahaman hadits yang parsial hingga dinilai misoginis dan mendiskriminasikan posisi perempuan. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman terhadap  asbabul wurud dan melakukan reinterpretasi hadits berdasarkan pendekatan historis, sosiologis dan antropologis.
Pendidikan Ramah Anak: Upaya Reposisi Wacana Kemanusiaan dalam Potret Pendidikan Indonesia Emna Laisa
Maharot : Journal of Islamic Education Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/maharot.v5i2.543

Abstract

Education is a vehicle to actualize of the student’s potential. The potential is always nurtured to be fully utilized in their life. The focus here is not to actualize in the form of exploitation, exertion and violence but it is directed to create a metamorphosis from the ordinary into the extraordinary. Yet, the word “metamorphosis” misinterpreted to another meaning as creating hard educational models for the students. It seems as cognitive educational activities which shows student’s position as adult miniature. Here, the researcher will investigate the importance of discourse humanization as the concept of humanizing education. It’s inspire to create a concept of Sekolah Ramah Anak to be applied in educational institutions so that students feel that education is appreciates their souls.
MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Khotimah, Indah Husnul; Laisa, Emna
Cognitive: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 2 No. 1 (2024): April
Publisher : CV. Jendela Gagasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61743/cg.v2i1.65

Abstract

Fazlur Rahman merupakan salah satu sosok pemikir pendidikan bercorak neomodernis yang menguasai keilmuan Islam pada masa klasik namun juga ia melek ilmu-ilmu modern. Pendidikan yang menaungi pemikiran neo-modernisme ini meliputi dua corak yaitu corak tradisional dan corak modern yang memiliki karakter jauh berbeda. Pembaharuan/modernisasi pendidikan Islam dalam kacamata Rahman bisa dilaksanakan dengan cara pendidikan sekuler modern diterima kemudian berupaya untuk mendalaminya dengan konsep-konsep bernafaskan Islam dengan beberapa cara, diantaranya: menghidupkan kembali ideologi muslim mengenai pentingnya menuntut ilmu serta mengembangkannya, berupaya untuk mengikis adanya dualisme dalam sistem pendidikan Islam, perlunya kesadaran tentang pentingnya bahasa dalam dunia pendidikan, melakukan pembaharuan pada bidang metode pendidikan Islam dan memberikan materi ilmu sosial khususnya filsafat di dunia pendidikan Islam. Fazlur Rahman sebagai sosok pemikir neo-modernis terlihat pada pengaplikasian pemikiran pendidikan Islam baik pada tujuan pendidikan, sistem pendidikan, konsep peserta didik, konsep pendidik dan juga sarana pendidikannya.