Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Neurogenic Bladder Management in Spinal Medula Trauma: A Literature Review Aditya Nur Rahman; Iwan Setiawan; Dodik Nursanto; S Sulistyani
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 15th University Research Colloquium 2022: Mahasiswa (Student Paper Presentation) A
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.521 KB)

Abstract

Background : Neurogenic bladder is a condition in which the urinary sphincter is unable to increase or decrease its pressure in response to pressure on the bladder. This occurs due to damage to the central, peripheral, or autonomic nervous systems. Neurogenic bladder in spinal cord trauma patients is a condition that can pose a significant risk to the patient. Many medical and intervention approaches are available today. The goals of treatment for neurogenic bladder are to stop urine leakage due to overactivity of the detrusor muscle during bladder filling, to reduce intravesical pressure and vesicoureteral reflux, and to treat and prevent complications such as urinary tract infections. Purpose : Knowing the various neurogenic bladder management in spinal cord trauma patients. Method : This research is a literature review type. Literature review data was collected by browsing published articles on Pub Med, Science Direct, and Google Scholar databases. Outcome : There were 3 articles discussing the use of Clean Intermitten Catheterization (CIC), 4 articles discussing electrical stimulation, and 2 articles discussing Botox. Electrical stimulation can increase bladder capacity and suppress detrusor activity. The use of CIC makes it easier for the patient to submit urine. Botox will inhibit involuntary detrusor contractions. Conclusion : There are various treatments for neurogenic bladder in spinal cord trauma patients, such as the use of intermitten catheters, Botox injections, and electrical stimulation.
Pendekatan Dokter Keluarga pada TB Paru Aditya Nur Rahman; Nur Alfi Khoirul Fajriati; Restiana Nugraheni Kusumastuti; Raden Roro Nadya Maureen; Burhannudin Ichsan; Kunari Mahanani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit kronik menular yang menyerang pada bagian saluran pernafasan tubuh manusia dan disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kelompok kuman Mycobacterium biasa disebut sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA)(Maharani et al., 2018). Manifestasi klinis TB menurut kemenkes yaitu ; Batuk ≥ 2 minggu, batuk berdahak, batuk berdahak dapat bercampur darah, dapat disertai nyeri dada, sesak napas. Dengan gejala lain meliputi: Malaise, penurunan berat badan, menurunnya nafsu makan, menggigil, demam, berkeringat di malam hari (Kemenkes, 2019). Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2020 yang diterbitkan oleh WHO, diperkirakan pada tahun 2019 terdapat insidens kasus sebesar 8,9 sampai 11 juta jiwa (PDPI, 2021). Indonesia merupakan negara dengan peringkat ketiga setelah India dan Cina dalam kasus TBC paru. Prevalensi TBC paru di Indonesia terbagi menjadi tiga wilayah, diantaranya Sumatera 33%, Jawa dan Bali 23%, dan Indonesia bagian timur 44% (Hamidah et al, 2020). Kabupaten Sukoharjo merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah dengan angka penemuan kasus (CDR) yang masih sangat jauh dari target nasional sebesar 70%. CNR untuk seluruh kasus TB tahun 2014 sebesar 52,05 per 100.000 penduduk, tahun 2015 53,83 per 100.000 penduduk dan tahun 2016 sebanyak 50,79 per 100.000 penduduk (Putri et al, 2018). Berdasarkan data dan permasalahan di atas, penulis tertarik melakukan upaya pendekatan kedokteran keluarga terhadap pasien dengan TB Paru untuk membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh baik secara klinis personal, dan psikososial keluarga sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
HIV pada Anak Aditya Nur Rahman; Hamid Pramusyahid; Faradhila Miftafiani
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Apgar)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah RNA retrovirus yang menyebabkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), di mana terjadi kegagalan sistem imun progresif. Virus ini ditransmisikan melalui hubungan seksual, darah, produk yang terkontaminasi darah dan transmisi dari ibu ke bayi baik intrapartum, perinatal, atau ASI. Pada 2006, ada kurang lebih 2,3 juta anak terinfeksi HIV di seluruh dunia. Jumlah ini diduga tetap akan meningkat dalam waktu dekat karena beberapa alasan. Saat ini, kurang dari 10% ibu hamil yang terinfeksi HIV di negara berkembang menerima profilaksis antiretroviral (ARV) untuk pencegahan penularan HIV dari ibu-ke-bayi. Infeksi HIV pada anak yang tidak diobati juga mengakibatkan pertumbuhan yang tertunda dan keterbelakangan mental yang tidak dapat disembuhkan oleh ARV. Oleh karena itu penting untuk mendiagnosis bayi yang terpajan HIV sedini mungkin untuk mencegah kematian, penyakit dan penundaan pertumbuhan dan pengembangan mental.