Ichwansyah Tampubolon, Ichwansyah
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Padangsidimpuan

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

ETIKA KELUARGA ISLAM: HAK DAN KEWAJIBAN ORANG TUA/ANAK DALAM PERSPEKTIF METAETIKA Studi Terhadap Kitâb Al-Adab dalam Al-Jâmi` Şahĭh Al-Bukhârĭ Tampubolon, Ichwansyah
Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial & Keislaman Vol 8, No 1 (2023): Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial & Keislaman
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/muaddib.v8i1.174-187

Abstract

Artikel ini mengkaji hak dan kewajiban orangtua/anak sebagaimana terdapat dalam Kitâb al-Adab Al-Jâmi` Şahĭh Al-Bukhârĭ ditinjau dari perspektif metaetika dengan menggunakan metode kebahasaan dan logika agama. Secara kebahasaan, terdapat sejumlah kata/istilah etis yang kerap kali digunakan untuk akhlak baik, meliputi: rahmah (kasih sayang), mihnah ahl (memenuhi kebutuhan hidup), du’a (mendoakan), yusammi al-ibn (memberi nama yang baik), birr (kebaikan yang banyak), hasan (baik), memohon izin (ist’dzan), dan silaturrahim (interaksi kekeluargaan). Sedangkan, berkaitan dengan akhlak tercela, meliputi: yaqtul (membunuh) memberi gelar yang tidak pantas (tasmiyah bikunniyah rasul); `uquq (durhaka),  yul`in (melaknat), dan yasubb (caci-maki). Berbagai istilah tentang akhlak yang baik berada dalam medan makna yang sama sebagai hak dan kewajiban orangtua dan anak. Sebaliknya, berbagai istilah tentang akhlak yang buruk berada dalam medan makna yang relatif berdekatan yaitu sama-sama tidak termasuk dalam kategori hak dan kewajiban orangtua maupun anak. Hak dan kewajiban orangtua/anak itu lebih banyak disusun dalam kalimat berjenis deklaratif daripada dalam bentuk imperatif sebagai jawaban atas berbagai pertanyaan etis. Secara logika keagamaan, hal ini menunjukkan bahwa eksistensi hak dan kewajiban orangtua/anak ada secara kognitif-empirik sebagaimana yang dikonfirmasi oleh wahyu (hadis Nabi) dan hal ini juga sekaligus menunjukkan bahwa perbuatan etis sejatinya dilakukan atas kesadaran nurani dan iman tidak mesti atas perintah, paksaan, dan bahkan ancaman
STATUS ONTOLOGIS OBJEK/SUBJEK KAJIAN STUDI KEISLAMAN Tampubolon, Ichwansyah
Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial & Keislaman Vol 7, No 1 (2022): Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/muaddib.v7i1.51-63

Abstract

Studi Keislaman sebagai sebuah disiplin ilmu tentu memiliki objek/subjek kajian tertentu. Sebagai bagian dari Disiplin Studi-Studi Keagamaan (Discipline of Religious Studies ), Studi Keislaman (Islamic Studies) memfokuskan kajiannya pada aspek-aspek keislaman yang terdiri dari dimensi normativitas kewahyuan dan historisitas keberislaman. Secara filosofis, kedua dimensi itu memiliki keunikan dan status ontologisnya masing-masing. Jika dimensi normativitas kewahyuan lebih bercorak realitas spiritual etik, maka dimensi historisitas keberislaman bercorak lebih bercorak realitas rasional-empirik. Namun, dalam pengkajiannya secara komprehensif, kedua dimensi itu sering saling berjalin kelindan. Artinya, realitas normativitas spiritual etik tidak jarang pengkajiannya dikaitkan dengan latar belakang sejarah turunnya wahyu (asbâb al-nuzûl/asbâb al-wurûd), sementara pengkajian aspek realitas rasional-empirik juga tidak terlepas dari latar pemahaman umat Islam terhadap ajaran/doktrin kewahyuan atau prinsip-prinsip ijtihad.  Jadi, secara ontologis, objek/subjek kajian Studi Keislaman itu bercorak komprehensif-multidimensional.  
Freedom of Speech and Religious Expression on Social Media Reviewed from the Perspective of Ethics and Islamic Law Tampubolon, Ichwansyah; Kholidah, Kholidah
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 23 No. 002 (2024): Pena Justisia (Special Issue)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v23i3.5333

Abstract

This article aims to describe freedom of speech and religious expression on social media from the perspective of Islamic ethics and law with a normative and descriptive approach. This study is in the form of a literature review using social media accounts, such as Facebook, Youtube, websites, and other references/lliterature as data sources. Theoretically, the state guarantees freedom of speech and religious expression for everyone on social media. However, freedom of speech and expression on social media must still take into account Islamic ethical values and obey the principles of applicable legal provisions. Preachers on social media continue to maintain and respect the right to freedom, both from speech/expression, words chosen, methods, attitudes, and behavior of delivery. This is intended so that the rights of others, freedom, and sanctity of religious symbols are not disturbed so that the welfare of the people in religious life is maintained.
Deforestasi dan Pemberdayaan Masyarakat Tani Hutan Ditinjau dari Perspektif Etika dan Hukum Islam TAMPUBOLON, ICHWANSYAH; Nasution, Kholidah
Jurnal at-Taghyir: Jurnal Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Desa Vol 8, No 1 (2025): Jurnal at-Taghyir: Jurnal Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Desa
Publisher : Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/taghyir.v8i1.18069

Abstract

Artikel ini membahas masalah deforestasi (pengundulan hutan/izâlah al-ghâbât) dalam kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat tani hutan. Persoalan ini menjadi salah satu isu utama yang sangat krusial dan sekaligus kontroversial secara nasional maupun internasional. Di satu sisi, deforestasi dipandang efektif dan ekonomis untuk meningkatkan taraf perekonomian dan kesejahteraan hidup, namun, di sisi lain, deforestasi juga berdampak negatif bagi keharmonisan dan keberlangsungan hidup ekosistem. Persoalan ini dikaji secara kepustakaan dari perspektif Etika dan Hukum Islam dengan metode analisis tematik-normatif. Hasilnya, hutan sebagai sumber daya alam, pada prinsipnya, boleh (mubah) dimanfaatkan secara patut, maslahat, darurat, dan tidak berlebihan/tidak merusak secara massif. Namun, aktivitas deforestasi yang sengaja dilakukan atas dasar keuntungan bisnis semata tanpa ada upaya sunggug-sungguh dan berkelanjutan untuk memperbaikinya, merupakan tindakan buruk alias kejahatan terhadap lingkungan hidup dan perbuatan itu adalah haram serta pihak-pihak yang terlibat di dalamnya wajib mendapat sanksi dan hukuman sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Dalam pada itu, aktivitas pemanfaatan lahan hutan itu harus memperhatikan upaya-upaya pemeliharaan, reboisasi, dan mitigasi yang dapat memberdayakan kehidupan masyarakat tani hutan secara berkeadilan dan bermartabat.