Basito Basito, Basito
Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian UNS

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

KAJIAN KARAKTERISTIK SENSORIS FISIK DAN KIMIA KERUPUK FORTIFIKASI DAGING LIDAH BUAYA (Aloe vera) DENGAN METODE PEMANGGANGAN MENGGUNAKAN MICROWAVE Rosiani, Nurwachidah; Basito, Basito; Widowati, Esti
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.416 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.12896

Abstract

PENGARUH VARIETAS DAN PERBANDINGAN PELARUT PADA EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI JAHE (Zingiber officinale Roscoe) Basito, Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.924 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13618

Abstract

Jahe (Zingiber officinale Roscoe) termasuk komoditas pertanian berupa tanaman rempah yang mempunyai nilaisosial dan nilai ekonomis cukup tinggi. Produk jahe telah dijadikan salah satu komoditas ekspor, bahkantermasuk dalam sembilan besar rempah-rempah yang diperdagangkan di dunia. Kelebihan pengunaan minyakatsiri jahe dibanding jahe adalah pengunaan yang lebih sedikit sehingga akan semakin tidak mempengaruhiwarna, mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi dan mempunyai umur simpan lebih lama serta lebih praktisRancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok. Sebagai kelompok adalah varietasjahe meliputi, varietas jahe emprit, jahe sunti dan jahe gajah. Sebagai perlakuan adalah perbandingan jahe danair dalam ekstraksi yang terdiri dari 4 level yaitu perbandingan bahan dan air 1: 10, 1: 15, 1: 20, 1: 25.Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa varietas jahe berpengaruh terhadap penurunan kadar cineol, indeksbias dan rendemen tetapi tidak berpengaruh terhadap penurunan berat jenis minyak atsiri jahe yang dihasilkan.Perbandingan jahe:air yang semakin besar akan mempengaruhi kenaikkan indeks bias dan rendemen, namuntidak akan mempengaruhi kenaikan kadar cineol dan berat jenis minyak atsiri jahe yang dihasilkan. Dariparameter kimia dan fisik ekstraksi yang paling optimal terjadi dengan varietas jahe emprit denganperbandingan air dan jahe 1:20 dan minyak atsiri jahe yang dihasilkan mempunyai kadar air 64,08 %, beratjenis 0.929, indeks bias 1.47 dan rendemen 2,12 %.
KAJIAN KARAKTERISTIK ALAT PENGURANGAN KADAR AIR MADU DENGAN SISTEM VAKUM YANG BERKONDENSOR Amanto, Bambang Sigit; Parnanto, Nur Her Riyadi; Basito, Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.298 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13532

Abstract

Madu mengandung bahan gizi yang sangat essensial. Madu bukan hanya merupakan bahan pemanis, ataupenyedap makanan, tetapi sering pula digunakan untuk obat-obatan. Madu dihasilkan oleh lebah madu denganmemanfaatkan bunga tanaman. Madu memiliki warna, aroma dan rasa yang berbeda-beda, tergantung padanektar jenis tanaman. Madu Indonesia pada umumnya mengandung kadar air yang tinggi sehingga rentanterhadap fermentasi. Salah satu cara pencegahannya adalah menurunkan kadar air madu. Pada penelitian ini,penurunan kadar air madu dengan menggunakan vakum evaporator. Proses penurunan kadar air dengan vakumevaporator akan mempertahankan kandungan nutrisi dalam madu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikarakteristik alat, sifat fisikokimia dan sifat organoleptik madu yang dikentalkan dengan sistem vakumevaporator berkondensat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaituvariasi suhu (40oC, 50oC, dan 60oC). Pengujian sifat organoleptik madu dengan metode Multiple ComparationTest. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan kadar air madu dengan sistem vakum evaporator dapatmempertahan kandungan gizi dalam madu. Efisiensi penguapan kadar air berturut-turut adalah 31,6 %, 33,89 %dan 39,6 %. Penurunan kadar air dengan variasi suhu 40oC, 50oC, dan 60oC membutuhkan waktu berturut-turut12 jam, 7 jam, dan 4 jam. Viskositas madu yang telah dikentalkan mengalami peningkatan yaitu 0,1937 Ns/m2menjadi kisaran 1,7114-1,7388 Ns/m2. Kadar gula reduksi total (glukosa dan fruktosa) tidak terdapat perbedaanyang nyata. Kadar gula reduksi madu kontrol 84,0622%, sedangkan madu yang telah dikentalkan denganmasing-masing variasi suhu berkisar 84,8716 85,1806%. Kadar abu dan mineral (kalsium dan magnesium) jugatidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Kadar abu madu kontrol dan yang telah dikentalkan berkisar 0,111-0,116%, kadar kalsium berkisar 15,9824-16,3007 mg/100g, dan kadar magnesium berkisar 10,2367-11,7633mg/100g. Penilaian panelis terhadap madu yang telah dikentalkan dengan berbagai variasi suhu evaporasi secarasifat organoleptik tidak berbeda nyata. Penilaian dari panelis dari segi warna, rasa dan overall madu yang telahdikentalkan dengan masing-masing variasi suhu evaporasi dapat diterima oleh panelis dan sedikit lebih baik darimadu kontrol.
SIFAT FISIK, KIMIA, DAN ORGANOLEPTIK PADA PEMBUATAN DODOL YANG DISUBSTITUSI DENGAN WORTEL (Daucus carota, Linn) Basito, Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.927 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13588

Abstract

Dodol merupakan makanan semi basah yang pembuatannya dari tepung beras ketan, santan kelapa, dangula dengan atau tanpa penambahan bahan makanan dan bahan tambahan makanan lain yang diijinkan. Untukmemperbaiki nilai gizi pada dodol dapat dilakukan dengan menambah bahan – bahan lain sebagai sumbervitamin salah satunya adalah wortel. Umbi wortel mengandung karoten dalam jumlah yang tinggi, sehinggaberpotensi sebagai sumber vitamin A. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi worteldalam pembuatan dodol terhadap sifat kimia, fisik dan organoleptik dodol.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 3 kali ulangan. Ada 2 variabeldalam rancangan penelitian ini yaitu variabel tetap dan variabel tidak tetap. Variabel tetap dalam penelitian iniadalah variasi bentuk penambahan wortel (bubur wortel dan tepung wortel) dan variasi konsentrasi wortel dantepung beras ketan (40:60, 30:70, 20:80, dan 0:100 (kontrol)). Sedangkan variabel tidak tetap yang diamatiadalah sifat kimia meliputi: kadar air, karoten dan sifat fisik meliputi: tekstur, serta sifat organoleptik (warna,aroma, rasa, tekstur, dan keseluruhan). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Metode Univariatekemudian dilanjutkan dengan menggunakan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikasi 5%.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa substitusi wortel dalam bentuk bubur maupun tepungwortel pada pembuatan dodol dengan variasi konsentrasi wortel dan tepung ketan berpengaruh terhadap kadarair, karoten dan tekstur dodol yang dihasilkan. Pada uji organoleptik menunjukkan bahwa dodol yang disukaiadalah dodol dengan penambahan wortel dalam bentuk bubur wortel dengan konsentrasi bubur wortel dantepung ketan 30:70. Dodol tersebut mengandung air 17,57%, karoten 9,26 µg/g, dan memiliki tingkat kekerasan2,24 N serta tingkat elastisitas 6,16 mm.
SIFAT FISIK, KIMIA, DAN ORGANOLEPTIK PADA PEMBUATAN DODOL YANG DISUBSTITUSI DENGAN WORTEL (Daucus carota, Linn) Basito 1 Basito, Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 2, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.269 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.12882

Abstract

Dodol merupakan makanan semi basah yang pembuatannya dari tepung beras ketan, santan kelapa, dan gula dengan atau tanpa penambahan bahan makanan dan bahan tambahan makanan lain yang diijinkan. Untuk memperbaiki nilai gizi pada dodol dapat dilakukan dengan menambah bahan – bahan lain sebagai sumber vitamin salah satunya adalah wortel. Umbi wortel mengandung karoten dalam jumlah yang tinggi, sehingga berpotensi sebagai sumber vitamin A. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi worteldalam pembuatan dodol terhadap sifat kimia, fisik dan organoleptik dodol. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 3 kali ulangan. Ada 2 variabel dalam rancangan penelitian ini yaitu variabel tetap dan variabel tidak tetap. Variabel tetap dalam penelitian ini adalah variasi bentuk penambahan wortel (bubur wortel dan tepung wortel) dan variasi konsentrasi wortel dan tepung beras ketan (40:60, 30:70, 20:80, dan 0:100 (kontrol)). Sedangkan variabel tidak tetap yang diamati adalah sifat kimia meliputi: kadar air, karoten dan sifat fisik meliputi: tekstur, serta sifat organoleptik (warna,aroma, rasa, tekstur, dan keseluruhan). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Metode Univariate kemudian dilanjutkan dengan menggunakan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikasi 5%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa substitusi wortel dalam bentuk bubur maupun tepungwortel pada pembuatan dodol dengan variasi konsentrasi wortel dan tepung ketan berpengaruh terhadap kadar air, karoten dan tekstur dodol yang dihasilkan. Pada uji organoleptik menunjukkan bahwa dodol yang disukai adalah dodol dengan penambahan wortel dalam bentuk bubur wortel dengan konsentrasi bubur wortel dan tepung ketan 30:70. Dodol tersebut mengandung air 17,57%, karoten 9,26 µg/g, dan memiliki tingkat kekerasan 2,24 N serta tingkat elastisitas 6,16 mm. Kata kunci: dodol, wortel, sifat kimia, sifat fisik, sifat organoleptik
KAJIAN KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI BERAS ORGANIK MENTIK SUSU DAN IR64; PECAH KULIT DAN GILING SELAMA PENYIMPANAN Basito, Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.877 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13636

Abstract

Beras merupakan salah satu makanan pokok. Beras organik ditinjau dari segi kesehatan sangat aman dansehat untuk dikonsumsi. Beras organik merupakan beras yang ditanam dengan menggunakan teknik pertanianorganik, yaitu suatu teknik pertanian yang tidak menggunakan pupuk dan obat-obatan yang mengandung bahankimia berbahaya. Kerusakan beras dapat terjadi selama penanganan, pengolahan, dan penyimpanan.Penyimpanan beras yang kurang tepat dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada beras baik mutufisikokimia maupun sensori. Jenis beras organik yang digunakan adalah mentik susu dan IR64, dengan perlakuanpecah kulit dan giling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik kimia (kadar air dan kadaramilosa), sifat fisik (daya serap air), sifat biologi yaitu adanya hama gudang, dan sifat sensori pada beras organikmentik susu dan IR64 (giling dan pecah kulit). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan AcakLengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkannilai kadar air, kadar amilosa, daya serap air dan pengamatan hama gudang semakin meningkat selamapenyimpanan. Uji sensoris secara keseluruhan menempatkan beras organik mentik susu giling sebagai nasi yanglebih disukai oleh panelis, karena memiliki (warna, rasa, aroma dan tekstur) yang lebih disukai oleh panelis. Jikadilihat dari kadar air, daya serap air, pengamatan jumlah kutu dan sensoris (keseluruhan) maka beras organikmentik susu giling merupakan beras organik terbaik. Jika dilihat dari kadar amilosa, beras organik pecah kulitIR64 terbaik secara fungsional karena memiliki kadar amilosa yang paling tinggi.
KAJIAN PENGGUNAAN HIGH FRUCTOSE SYRUP (HFS) SEBAGAI PENGGANTI GULA SUKROSA TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN KIMIA BISKUIT BERBASIS TEPUNG JAGUNG (Zea mays) DAN TEPUNG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) Qonitah, Salma Hanin; Affandi, Dian Rachmawanti; Basito, Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 9, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.326 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v9i2.17458

Abstract

The aim of this study were to determine the best formula of HFS biscuit made from corn flour and kidneybean flour based on the sensory characteristics; physical and chemical characteristics of the formulation HFSbiscuit based on corn flour and kidney bean flour based the best biscuit by organoleptic test and compared withIndonesian biscuit’s standard in 2011. The experimental design in this study was completely randomized design(CRD) with one factor which was the concentration of high fructose syrup with 3 weight variations that F1 (19grams), F2 (28.5 grams), and F3 (38 grams). The result of sensory analysis showed that F2 biscuit (28.5 gramsHFS) was the best biscuit. HFS biscuit had 3.85% moisture content, 2.06% ash content, 26.41% fat content,7.89% protein content, and 59.72% carbohydrate content. Calories values of biscuit was 571.91 kcal/100 gramshigher than wheat biscuit. HFS biscuit had maximum force 14.66 N, swelling ratio 16.48% and lighter colorthan control biscuit which had 71.68° Hue. HFS biscuit had qualified to Indonesian biscuit’s standard in 2011(SNI 2973:2011).
EFEKTIVITAS PENAMBAHAN ETANOL 95% DENGAN VARIASI ASAM DALAM PROSES EKSTRAKSI PIGMEN ANTOSIANIN KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.) Basito, Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1190.011 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13570

Abstract

Kulit buah manggis dapat dimanfaatkan sebagai pewarna makanan dan antioksidan karenamengandung antosianin. Pada ekstraksi pigmen antosianin pada kulit buah manggis selama ini belum banyakditeliti tentang penggunaan pelarut yang divariasi dengan penambahan asam. Oleh karena itu dapat diteliti lebihlanjut apakah penggunaan jenis asam yang ditambahkan dalam ekstraksi pigmen kulit buah manggis denganmenggunakan pelarut etanol 95% dapat meningkatkan karakteristik ekstrak pigmen. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh penggunaan jenis asam (asam klorida, asam sitrat dan asam asetat) yangditambahkan dalam ekstraksi pigmen kulit buah manggis dengan menggunakan pelarut etanol 95% terhadaprendemen, kadar air, pH, intensitas warna, kadar antosianin, aktivitas antioksidan dan kadar total fenol pigmentersebut. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktoryaitu variasi asam. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA untuk mengetahui adatidaknya perbedaan perlakuan pa dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test(DMRT) Hasil pekatan pigmen dengan karakteristik terbaik dihasilkan pada perlakuanetanol 95% yang divariasi dengan penambahan asam klorida dengan karakteristik kadar air 20.05% (b/b),rendemen 6.12% (b/b), pH 3.55, intensitas warna 6.75, antosianin 0.13mg/100gram, total fenol 5.56% ekivalenGAE dan aktivitas antioksidan 83.97%. Asam klorida merupakan salah satu asam kuat.
STUDI KARAKTERISTIK FISIK DAN MEKANIK EDIBLE FILM PATI UBI JALAR UNGU DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN Ekariski, Dhita; Basito, Basito; Yudhistira, Bara
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 10, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.652 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v10i2.29080

Abstract

Edible film is one of alternative packaging which can consume and still protect product from losing nutrition, appearance, flavor, dehydrate and deteriorate at storage and isn’t damage environment. More research using local starch from sweet potato (Ipomea batatas L. poir) was studied. But, characteristic from sweet potato starch shows poor in quality. So, mixing starch with chitosan studied to make characteristic of edible film more useable for wide area. This research to know how is characteristic of edible film starchchitosan. One edible film use 0,8 mL glycerol or 20% (v/w) and chitosan’s soluble 1% acetate acid. One factor uses in this research is amount of chitosan with 3 level 0,5 gram; 1,0 gram; and 1,5 gram. Then, edible film analyzed physical (thickness, solubility and permeability) and mechanic (tensile strength and elongation). Result of research show more chitosan add significantly increased thickness and tensile strength of edible film and significantly decrease solubility and elongation of edible film. But, edible film show no significantly decrease of permeability. Adding more chitosan in edible film starch-glycerol increase edible film thickness to 0,13 –1,90 mm and decrease solubility to 66,87–58,20%. Tensile strength show increase to 1,27–6,90 MPa and elongation decrease to 79,71–46,98%. And for permeability of edible film decrease to 12,40–9,97 (g/ hour m2).
KAJIAN PENGGUNAAN PEMANIS SORBITOL SEBAGAI PENGGANTI SUKROSA TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN KIMIA BISKUIT BERBASIS TEPUNG JAGUNG (Zea mays) DAN TEPUNG KACANG MERAH (Phaseoulus vulgaris L.) Aini, Fatiyan Yuwinda; Affandi, Dian Rachmawanti; Basito, Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 9, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.979 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v9i2.17460

Abstract

The aimed of the study was to know the effect of the use of sorbitol in sensory characteristics, chemical characteristic, physical characteristics, and also caloric value of biscuits. The experiments was performed using a Completely Randomized Design (CRD) with one factor,that is subtitusion of sorbitol. There is three formulas: F1 (10% sorbitol); F2 (17% sorbitol); F3 (24% sorbitol). All three formulas were analyzed with preference test to get the best formula. Best formula was analyzed physical and chemical. The result of analysis was compared with control biscuits (sucrosa biscuits). The results of sensory analysis showed that was the most preferred biscuit is F3. Sorbitol biscuits had higher moisture content than the control biscuits. Caloric value of sorbitol biscuits lower than bicuits control. Subtitution of sorbitol on biscuits, could be decreased caloric value up to 2.6%. Spread ratio of sorbitol biscuits greater than the control biscuits. The colors of sorbitol biscuits brighter than bicuits control.