Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KAJIAN MOTIF BATIK PADA FASADE BANGUNAN MODERN Studi Kasus Beberapa Bangunan dengan Fasade Motif Batik di Jakarta Dwi Susilastuti
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 17 No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.415 KB) | DOI: 10.25105/dim.v17i1.7848

Abstract

Abstract Batik motifs are used as facades on several buildings, indicating an attempt to characterize a local identity through the building. This is in line with the international recognition of batik as the work of the Indonesian nation. This research will look at the potential of batik motifs to represent and unite the diverse tribal and ethnic cultures in Indenosia and other values, in their function as building facades. To find out the visual message of the batik motif, a phenomenological approach is used, where through emotions, history and symbols, it is used to determine whether the facade used is recognized by the community as a batik motif and the relationship between the meaning of the motif with the function and philosophy of the building. The values of the facade with batik motifsin other functions such as aesthetics, climate protection, capital investment, behavior modifier, are seen through the architectural science approach. Fasades with batik motifs have the potential to become landmarks that give value to their environment, become tourism assets, help shape the character and behavior of people to love culture morethrough its architecture.  AbstrakPenggunaan motif batik sebagai fasade pada beberapa bangunan, menunjukkan adanya usaha memberi ciri untuk mencitrakan identitas lokal melalui bangunannya. Hal ini sejalan dengan pengakuan batik secara internasional sebagai karya bangsa Indonesia. Penelitian ini akan melihat potensi motif batik dapat dianggap mewakili dan menyatukan beragamnya budaya suku dan etnik di Indenosia dan nilai-nilai lainnya, dalam fungsinya sebagai fasade bangunan. Untuk mengetahui pesan visual dari motif batik, digunakan pendekatan fenomenology, dimana melalui emosi, histori dan symbol, digunakan untuk mengetahui apakah fasade yang digunakan dikenali masyarakat sebagai motifbatik dan adakah kaitannya antara pemilihan makna motif dengan fungsidan filosofi bangunannya. Nilai-nilai fasade dengan motif batik dalam fungsi fungsi lain seperti estetika, pelindung iklim, capital investment, pembentuk perilaku, dilihat melalui pendekatan ilmu arsitektur. Fasade dengan motif batik berpotensi sebagai landmark yang memberi nilai pada lingkungannya, menjadi aset kepariwisataan, membantu pembentukan watak dan perilaku masyarakat untuk lebih mencintai budaya melalui arsitekturnya.
EDUKASI MENCIPTAKAN LINGKUNGAN SEHAT BAGI PENYANDANG DISABILITAS MELALUI KEGIATAN DESAIN DAN KREATIF Zulia Suriastuti, Mira; Maun Harahap, Rachmita; Edwar, Edha; Susilastuti, Dwi; Roro Chandrarezky Permatasari, Raden; Dwi Astuti, Anggi
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 7 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i7.2920-2925

Abstract

Kegiatan edukasi ini bertujuan untukmeningkatkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya menciptakan lingkungan yang sehat dan inklusif bagi penyandang disabilitas. Melalui pendekatan edukatif berbasis desain dan aktivitas kreatif, program ini memberikan ruang kolaboratif bagi peserta untuk belajar, berkreasi dan mengimplementasikan solusi yang ramah disabilitas dalam lingkungan sehari-hari. Kegiatan ini mencakup lokakarya desain partisipatif, pelatihan pembuatan dengan alat bantu sederhana, serta simulasi interaktif. Dengan melibatkan siswa penyandang disabilitas tuna rungu, guru dan pelaku desain, diharapkan tercipta kesadaran kolektif dan inovasi yang berkelanjutan dalam mendukung terciptanya lingkungan sehat yang inkusif. Hasil dari kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas, tetapi juga memperkuat nilai empati dan partisipasi sosial dalam proses menciptakan lingkungan yang sehat.
Implementasi Filosofi Warna Budaya Jawa dan Kalimantan Pada Interior (Studi Kasus Interior Dengan Thema the Soul of Java dan the Voyage of Borneo) Dwi Susilastuti
Artika Vol. 9 No. 2 (2025): November 2025
Publisher : Center for Research and Community Service, Institut Informatika Indonesia (IKADO) Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34148/artika.v9i2.1425

Abstract

Kurikulum pendidikan desain di Indonesia masih dominan menggunakan sistematika warna Barat, sehingga pemahaman warna lokal relatif terbatas. Perlu dikaji warna khas suku dalam upaya memberi ciri budaya pada ruang interior. Penelitian ini bertujuan menggali cara pandang dan nilai-nilai yang membangun konsep warna budaya Jawa dan Kalimantan. Mengkaji sejauh mana pengetahuan warna nusantara dikenal dan diimplementasikan pada rancangan desainer interior. Metode  deskriptif analitis, dengan pendekatan etnografi, melalui analisa 9 rancangan interior yang mengusung thema budaya the soul of Java dan the Voyage of Borneo dalam membentuk karakter lokal. Kajian menggunakan teori warna Brewsters dan konsep warna Jawa dan Kalimantan. Hasil penelitian, Jawa dan Kalimantan memiliki warna primer yang sama. Warna paralel dengan filosofi hidup, melambangkan kesadaran memposisikan diri sebagai bagian dari makrokosmos dan metakosmos. Teori warna Brewster digunakan secara paralel untuk membaca harmoni, kontras, dan keseimbangan dalam penerapan warna budaya, dengan menambah artefak mampu memperkuat karakter ruang. Tidak semua warna primer budaya dapat diimplementasikan dalam satu ruang karena pertimbangan psikologis, fungsi, dan cita rasa pengguna. Thema The Soul of Java, memilih dominasi hijau dengan aksen kuning emas, mengacu pada arsitektur Keraton Yogyakarta. Thema The Voyage of Borneo menggunakan dominasi hitam-putih dengan aksen merah, kuning, dan hijau, diperkuat material kayu, sesuai karakter geografis dan iklim tropis.  Warna budaya memiliki potensi dikembangkan sebagai citra identitas nusantara.