Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Hubungan Hitung CD4 dengan Infeksi Cryptosporidium pada Pasien HIV AIDS Atika Nurmasari Dewi; Rika Nilapsari; Julia Hartati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.730

Abstract

Abstract. Human immunodeficiency virus (HIV) is a virus that can attack CD4 lymphocytes and cause immune cell death, resulting in severe immune deficiency in infected individuals. When there is a decrease in immunity to CD4 count <200 cells/µL, it is as known Acquired Immunodeficiency Syndrome (ADIS) which can cause opportunistic infections, one of which is Cryptosporidium infection. This study aims to determine the CD4 count and analyze the relationship between CD4 count and the incidence of infection Cryptosporidium infection in HIV/AIDS patients using the Scoping Review method which was carried out by analyzing articles published in 2011-2021 in four database, namely Pub Med, Springer Link, Proquest, and Science Dircet with the types of cohort, cross-sectional, and case control studies published in the last 10 years. The articles obtained were 5212 articles and those that matched the inclusion criteria were 377 articles. After making adjustments to the exclusion criteria, and testing the feasibility using a critical analysis of the Joanna Brigs Institute checklist based on PICOS, 11 articles were found. The result of the analysis of all articles stated that there was a relationship between decreased CD4 count and Cryptosporidium infection, and it was hinger in CD4 count <200 cells/ µL .The result of a decrease in CD4 count is an opportunity for intestinal parasitic infection, especially opportunistic parasitic infections. Decreased CD4 count can cause a decrease in the defense system of the intestinal mucosa, thus facilitating microbial invasion, including Cryptosporidium infection. The conclusion of this study is that by decreasing the CD4 count, Cryptosporidium infection will increase in people with HIV/AIDS. Abstrak. Human Immunodeficiency virus (HIV) merupakan virus yang dapat menyerang limfosit CD4 dan menyebabkan kematian sel imun, sehingga dapat terjadi defisiensi imun yang parah pada individu yang terinfeksi. Pada saat terjadi penurunan imun hingga hitung CD4<200 sel/µL dinamakan sebagai Acquired immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang dapat menimbulkan infeksi oportunistik salah satunya adalah infeksi Cryptosporidium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hitung CD4 dan menganalisis hubungan hitung CD4 terhadap kejadian infeksi Cryptosporidium pada pasien HIV/AIDS dengan menggunakan metode Scoping Review yang dilakukan dengan cara menganalisis artikel yang dipublikasikan pada tahun 2011-2021 pada empat database yaitu Pub Med, Springer Link, Proquest, dan Science Direct dengan jenis penelitian cohort, cross-sectional, dan case control yang terbit 10 tahun terakhir. Artikel yang didapatkan sebanyak 5212 artikel dan yang sesuai dengan kriteria inklusi berjumlah 377 artikel. Setelah dilakukan penyesuaian dengan kriteria eksklusi, dan uji kelayakan menggunakan telaah kritis dari checklist Joanna Brigs Institute berdasarkan PICOS didaptakan 11 artikel. Hasil analisis dari seluruh artikel menyatakan terdapat hubungan antara menurunnya hitung CD4 dengan infeksi Cryptosporidium, dan lebih tinggi terjadi pada hitung CD4<200 sel/µL. Akibat dari penurunan hitung CD4 merupakan peluang terkenanya infeksi parasit intestinal, terutama infeksi parasit oportunistik. Penurunan hitung CD4 dapat menyebabkan menurunnya sistem pertahanan pada mukosa intestinal, sehingga memudahkan terjadinya invasi mikroba termasuk infeksi Cryptosporidium. Simpulan dari penelitian ini adalah dengan menurunnya hitung CD4 maka infeksi Cryptosporidium akan meningkat pada penderita HIV/AIDS.
Scoping Review: Status Selenium pada Pasien COVID-19 Malisya Desilian Triningrum; Mirasari Putri; Julia Hartati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1258

Abstract

Abstract. Selenium (Se) is a micronutrient that plays an important role in the balance of immune function and response. Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) is the cause of the COVID-19 pandemic and is the cause of the increasing mortality rate. Selenium deficiency causes oxidative stress and cytokine storms that can affect the severity and mortality risk of COVID-19. This scoping review study aims to determine selenium levels and analyze selenium status in COVID-19 patients. There were 3 databases used, that were PubMed, ScienceDirect, and ProQuest with the keywords selenium AND COVID-19. The number of articles from 2019-2021 were 2,052 articles. Through screening (PRISMA) and critical appraisal (JBI), 6 articles were obtained which were further analyzed. The analysis results on 6 articles found that the occurrence of Se deficiency in COVID-19 patients. Four articles stated that Se deficiency was associated with the severity of COVID-19 and 2 articles stated that Se deficiency was associated with the mortality risk of COVID-19. Meanwhile, one article stated that Se deficiency was not associated with severity and mortality risk however, it remains a risk factor for COVID-19. Selenium has antioxidant, anti-inflammatory, antiviral activity that can reduce oxidative stress that causes tissue damage so as to reduce the severity of COVID-19. In this study, it can be concluded that there is a deficiency Se status in COVID-19 patients. Decreased Se status is related to the severity of COVID-19. Abstrak. Selenium (Se) merupakan mikronutrien yang berperan penting dalam keseimbangan fungsi dan respon imun. Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) merupakan penyebab pandemi COVID-19 dan menjadi penyebab meningkatnya angka kematian. Defisiensi selenium menyebabkan terjadinya stres oksidatif dan badai sitokin yang dapat memengaruhi tingkat keparahan dan risiko mortalitas COVID-19. Studi scoping review ini bertujuan untuk mengetahui kadar selenium dan menganalisis status selenium pada pasien COVID-19. Database yang digunakan ada 3 yaitu PubMed, ScienceDirect, dan ProQuest dengan kata kunci selenium AND COVID-19. Jumlah artikel dari tahun 2019-2021 terdapat 2.052 artikel. Melalui skrining (PRISMA) dan critical appraisal (JBI), didapatkan 6 artikel yang dianalisis lebih lanjut. Hasil analisis pada 6 artikel didapatkan bahwa terjadinya defisiensi Se pada pasien COVID-19. Pada 4 artikel menyatakan defisiensi Se berhubungan dengan tingkat keparahan COVID-19 dan 2 artikel menyatakan defisiensi Se berhubungan dengan risiko mortalitas COVID-19. Sedangkan, satu artikel menyatakan defisiensi Se tidak berhubungan dengan tingkat keparahan dan risiko mortalitas namun, tetap menjadi faktor risiko COVID-19. Selenium memiliki aktivitas sebagai antioksidan, anti-inflamasi, dan antivirus yang dapat menurunkan stres oksidatif yang menyebabkan kerusakan jaringan sehingga dapat mengurangi tingkat keparahan COVID-19. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terjadinya penurunan status Se pada pasien COVID-19. Status Se yang mengalami penurunan berhubungan dengan tingkat keparahan COVID-19.
Gambaran Karateristik Pekerja Bordir yang Berisiko Mengalami Carpal Tunnel Syndrome di Perusahaan Garmen Al – Madani Kota Tasikmalaya 10100120122, Ratu Sophia; Alya Tursina; Julia Hartati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i2.14171

Abstract

Abstract. Tasikmalaya City is the location with the largest population of embroidery workers who have health problems related to work-related diseases related to the hands and wrists such as CTS. The female to male ratio for CTS is 3:1 with a peak high-risk age of 45-60 years, but there are 10% of CTS patients less than 31 years old. This research aims to describe the characteristics of embroidery workers and the position of the upper extremities. at the AL–Madani Garment Company, Tasikmalaya City. This research is descriptive observational with a cross sectional design. The total sample was 60 people. The position of the upper extremities was observed using the Rapid Upper Limb Assessment, while for CTS complaints using Boston carpal tunnel syndrome. The research results showed that the characteristics of embroidery workers were mostly 47 people (68%), the largest age group was 31-40 years old, namely 29 people (48%), 47 people (78%) had a high school/vocational high school education and 1 year as many as 30 people (50%). Characteristics of the position of the upper extremities when working using RULA: 38 subjects (63%) had complaints with mild severity, 16 people (26%) with moderate severity, and 4 other people (7%) with severe severity. Abstrak. Kota Tasikmalaya, merupakan lokasi terbanyak ditemukannya populasi pekerja bordir dengan memiliki gangguan kesehatan terkait penyakit akibat kerja pada yang berhubungan dengan tangan dan pergelangan tangan seperti CTS. Rasio wanita banding pria untuk CTS adalah 3:1 dengan usia puncak berisiko tinggi 45-60 tahun, akan tetapi terdapat 10% pasien CTS kurang dari 31 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran karaterisktik pekerja bordir dan posisi ekstremitas atas di Perusahaan Garmen AL–Madani Kota Tasikmalaya. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan desain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 60 orang. Posisi ekstremitas atas di observasi menggunakan Rapid Upper Limb Assesment sedangkan untuk keluhan CTS menggunakan Boston carpal tunnel syndrome. Hasil penelitian didapatkan karakteristik pekerja bordir sebagian besar perempuan 47 orang (68%), kelompok usia terbanyak pada usia 31- 40 tahun yaitu 29 orang (48%), pendidikan terakhir SMA/SMK sebanyak 47 orang, hasil bahwa sebagian pekerja bordir berpendidikan SMA/SMK yaitu sebanyak 47 pekerja setara dengan (78%) dan lama kerja terbanyak 1 tahun sebanyak 30 orang (50%). Karakteristik posisi ektermitas atas saat bekerja menggunakan RULA sebanyak 38 subjek (63%) memiliki posisi action level 2 sedangkan karakteristik keparahan keluhan CTS yang dinilai dengan menggunakan kuesioner Boston 40 orang (67%) mengalami keluhan dengan tingkat keparahan ringan, tingkat keparahan sedang 16 orang (26%), dan 4 orang lainnya (7%) tingkat keparahan berat.