Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analysis of the Discovery Learning Model in Social Studies Instruction for Eighth-Grade Students at SMPN 30 Padang Lovely Andika Santoso; Sri Rahayu; Yanti Sri Wahyuni
Jurnal Kiprah Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2025): Jurnal Kiprah Pendidikan | Oktober 2025
Publisher : Program Studi Pendididikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/kpd.v4i4.p649-659

Abstract

This study aims to examine the implementation of the Discovery Learning model in Social Studies (IPS) learning for eighth-grade students at SMP Negeri 30 Padang. The background of this research stems from the need to apply innovative learning strategies that can enhance students’ active participation and understanding during the learning process. This research employed a qualitative approach with a descriptive method. The subjects consisted of Social Studies teachers and eighth-grade students, selected through purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the implementation of Discovery Learning was carried out through six stages: stimulation, problem formulation, information gathering, data processing, verification, and drawing conclusions. The application of this model encouraged students to think critically, actively ask questions, and discover the concepts of the learning material independently. The teacher’s role was primarily as a facilitator guiding students through the discovery process. Overall, the use of the Discovery Learning model had a positive impact on the quality of Social Studies learning, particularly in fostering students’ independence and active learning.
Makna Tradisi Baparang Bagi Masyarakat dalam Kelahiran Anak Kembar Sepasang Laki-Laki Perempuan di Nagari Padang Panjang Dua Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan Meli Permata Sari; Nilda Elfemi; Yanti Sri Wahyuni
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 1 No. 1 (2022): March 2022
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v1i1.75

Abstract

AbstrakKebudayaan keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaannya karena hanya sedikit tindakan manusia dalam kehidupan masyarakat yang tidak perlu di biasakan dengan belajar. Persiapan acara induk sudah dimusyawarakan oleh induak bako sebelum induak bako dbako atang kerumah keluarga anak kembar dan telah disepakati oleh keluarga sianak. Setelah disepakati hari acaranya, induak bako mulai mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan perlengkapan yang akan deperlukan untuk acara baparang tersebut dan anak kembar yang akan diparangkan berkisar berusia 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahunnya. Persiapan dari pihak keluarga si anak hanya mempersiapkan makanan untuk para pihak induak bako. Proses acara baparang dilakukan dengan bentuk pelemparan, bahan yang digunakan bserupa: telur, buah-buahan, pisang yang sudah direbus, dan lainnya. Sambil dalam pelemparan bahan makanan tersebut beriringan dengan melontarkan berupa kata-kata yang mengandung arti atau makna tersendiri bagi dirinya. Dilihat dari masa dulu dengan masa sekarang tradisi baparang telah mengalami perubahan yang sangat jauh, karena masyarakat menyadari dari tindakan yang dilakukan selama ini kurang baik, seperti mengeluarkan kata-kata kotor yang tidak sepantasnya didengar oleh masyarakat, tetapi sekarang tidak lagi. Dengan adanya perubahan dalam tradisi baparang ini yang semulanya tindakan atau sikap yang ditunjukkan oleh induak bako dari sang anak kurang diterima oleh masyarakat tetapi sekarang sudah dapat dinikmati oleh semua masyarakat 1) Deskripsi Tradisi Baparang, 2) Persiapan Acara Tradisi Baparang 3) Sejarah Tradisi Baparang Tradisi merupakan kesamaan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun masih ada hingga kini dan belum di hancurkan atau dirusak. Tradisi dapat diartikan sebagai warisan yang benar atau warisan masa laluKata kunci: Makna, Tradisi, Baparang AbstractCulture is the whole system of ideas, actions and human works in the life of society that are made into human beings by learning. This means that almost all human actions are cultural because only a few human actions in people's lives do not need to be accustomed to learning. Preparations for the main event have been discussed by the bako parent before the bako master dbako atang is at the house of the twins' family and has been agreed upon by the sianak's family. After the agreed date for the event, the bako mother begins to prepare everything related to the equipment that will be needed for the baparang event and the twins who will be paraded are around 1 (one) year old or 2 (two) years old. Preparations from the child's family only prepare food for the parents of bako. The process of the baparang event is carried out in the form of throwing, the materials used are similar: eggs, fruits, boiled bananas, and others. While throwing the food ingredients in tandem with throwing in the form of words that contain its own meaning or meaning for him. Judging from the past to the present, the baparang tradition has undergone very far changes, because people are aware of the actions taken so far that are not good, such as issuing dirty words that are not appropriate for the public to hear, but not anymore. With this change in the baparang tradition, initially the actions or attitudes shown by the mother of the bako from the child were not accepted by the community but now it can be enjoyed by all people 1) Description of the Ayahrang Tradition, 2) Preparation of the Papang-Bako Tradition 3) History of the Ayahrang Tradition Tradition is the similarity of material objects and ideas that originate from the past but still exist today and have not been destroyed or damaged. Tradition can be interpreted as true inheritance or legacy of the past.Keywords: Meaning, Tradition, Parang
PERAN BADAN KERJA SAMA ANTAR DESA (BKAD) DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA DI KECAMATAN RIMBO ULU KAB. TEBO, PROVINSI JAMBI Zumrotut Taqiyah; Isnaini; Yanti Sri Wahyuni
Jurnal Sosiologi UPR Vol. 6 No. 2 (2023): FENOMENA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59700/js.v14i2.8306

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD) dalam pemberdayaan pemberdayaan masyarakat desa di Kecamatan Rimbo Ulu, Kabupaten. Tebo, Provinsi Jambi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktural fungsional dari Talcott Parsons yang menganalisis terkait struktur fungsional suatu sistem berdasarkan status dan perannya dengan menggunakan 4 skema yakni A-G-I-L. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Pemilihan informan dalam penelitian menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah informan 12 orang. Jenis data berupa data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahap yakni observasi, wawancara dan juga studi dokumen. Unit analisis adalah kelompok yakni anggota lembaga Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD). Analisis data menggunakan analisis data interaktif dari Milles & Huberman yang terdiri dari 4 tahap yakni reduksi Pengumpulan data, reduksi data, Penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa 1) sebagai koordinasi pelaksanaan program kegiatan, BKAD melakukan koordinasi berupa menyelenggarakan pertemuan, menyiapkan sarana dan prasarana pendukung kegiatan, dan menjaga keberlanjutan perencanaan dan pelaksanaan program. 2) melakukan pembinaan terhadap masyarakat yakni dengan SPP dan kegiatan sosial dan pelatihan. 3) Mengelola keuangan dan membuat laporan secara berkala dan terstruktur.
Pengaruh Strategi Reciprocal Teaching Terhadap Budaya Literasi Siswa Pada Mata Pelajaran Sosiologi Kelas X Fase E SMAN 1 Suliki Nurgia Ananda; Erningsih erningsih; Yanti Sri Wahyuni
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 9, No 4 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v9i4.2025.2437-2447

Abstract

Budaya literasi merupakan keterampilan penting yang perlu dimiliki siswa di era informasi. Berdasarkan observasi di SMAN 1 Suliki, ditemukan bahwa budaya literasi siswa masih rendah, terlihat dari rendahnya minat membaca, lemahnya pemahaman membaca, dan rendahnya partisipasi diskusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi Reciprocal Teaching terhadap budaya literasi siswa pada mata pelajaran Sosiologi kelas X Fase E SMAN 1 Suliki. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori konstruktivisme Vygotsky. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan kuasi eksperimen dan desain kelompok kontrol pretes-postes. Sampel terdiri dari dua kelas yang dipilih secara purposif: satu kelas eksperimen menggunakan Reciprocal Teaching dan satu kelas kontrol menggunakan metode konvensional. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner budaya literasi dan dokumentasi hasil belajar. Hasil uji hipotesis dengan Uji Sampel Independen menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol (sig. 0,00 0,05), dengan selisih skor rata-rata sebesar 41,54. Hal ini menunjukkan bahwa strategi Pengajaran Resiprokal secara signifikan meningkatkan budaya literasi siswa