Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perbedaan Skor Nasional dan Internasional dalam Mendiagnosis Pasien dengan Apendisitis Akut di RSUD Ulin Banjarmasin Ovimillia Anindia Tasya; Agung Ary Wibowo; Ida Yuliana; Winardi Budiwinata; Mashuri Mashuri
Homeostasis Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.002 KB)

Abstract

Abstract: Appendicitis is a disease caused by a blockage in the appendix. In 2009 it was found that at least 596,132 people in Indonesia had acute appendicitis. The diagnosis of appendicitis can be seen based on clinical manifestations, physical examination, and supporting examinations. Scoring is the fastest tool for predicting the diagnosis of acute appendicitis. This study will show whether there are differences in Alvarado scores, modified Alvarado scores, and Kalesaran scores in diagnosing acute appendicitis patients. With an analytical observational study, 66 samples from purposive sampling were processed through a retrospective cross-sectional approach. The inclusion criteria determined were patients aged 18-65 years and patients with physical examination of fever, epigastric diffuse pain, anorexia, nausea and vomiting, lower right tenderness, loose tenderness, Rovsing Sign, Psoas Sign, cough sign, leukocytosis, and displacement neutrophils to the left. With the exclusion criteria of patients with other infections and patients with incomplete data in the morning report. 44% were patients aged 18-25, and 9% were 56-65 years. 63% experienced by men and 38% by women. The most common manifestation was tenderness in the right lower quadrant while the least was fever with a total of 24 people. Data analysis using logistic regression showed P > 0.05 with the conclusion that there was no significant difference between Alvarado, modified Alvarado, and Kalesaran scores in diagnosing acute appendicitis patients. Keywords: acute appendicitis, Alvarado score, modified Alvarado score, Kalesaran Abstrak: Apendisitis merupakan  penyakit yang disebabkan oleh sumbatan pada apendiks. Pada 2009 didapatkan setidaknya 596.132 orang di Indonesia mengalami apendisitis akut. Diagnosis apendisitis dapat dilihat berdasarkan  manifestasi klinis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Skoring menjadi alat paling cepat untuk memprediksi diagnosis apendisitis akut. Penelitian ini akan menunjukkan apakah terdapat perbedaan skor Alvarado, skor Alvarado termodifikasi, dan Skor Kalesaran dalam mendiagnosis pasien apendisitis akut. Dengan penelitian observasional analitik, 66 sampel dari purposive sampling diolah melalui pendekatan retrospective cross-sectional. Kriteria inklusi yang ditentukan adalah pasien dengan umur 18-65 tahun dan pasien dengan pemeriksaan fisik demam, nyeri baur epigaster, anoreksia, mual muntah, nyeri tekan kanan bawah, nyeri tekan lepas, Rovsing Sign, Psoas Sign, cough sign, leukositosis, serta perpindahan neutrofil ke kiri. Dengan kriteria eksklusi pasien yang mengalami infeksi lain serta pasien dengan data tidak lengkap pada morning report. 44% merupakan pasien dengan umur 18-25, dan 9% pada 56-65 tahun. 63% dialami oleh laki-laki dan 38% oleh perempuan.manifestasi paling banyak ditemukan adalah nyeri tekan pada kuadran kanan bawah sedangkan paling sedikit adalah demam dengan jumlah 24 orang. Analisis data menggunakan regresi logistik menunjukkan P > 0,05 dengan kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor Alvarado, Alvarado termodifikasi, dan Kalesaran dalam mendiagnosis pasien apendisitis akut. Kata-kata kunci: apendisitis akut, skor Alvarado, skor Alvarado termodifikasi, Kalesaran
Profil Pasien Karsinoma Hepatoseluler yang Menjalani Terapi Transarterial Chemoembolization (TACE) di RSUD Ulin Banjarmasin Periode 2016-2018 Muhammad Abdullah Mujahid Fadillah; Mashuri Mashuri; Triawanti Triawanti; Nina Mulyani; Azma Rosida
Homeostasis Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.329 KB)

Abstract

Abstract: Hepatocellular Carcinoma (HCC) is a malignant tumor attacks hepatocytes. 5.4% of all malignancies in the world caused by HCC. Transarterial chemoembolization (TACE) has been shown to be effective in controlling tumor development and prolonging survival time. This study aims to determine the profile of HCC  patients who were given TACE action at Ulin Hospital Banjarmasin for the 2016-2018 period. descriptive research method using medical record data. The results of the study obtained 29 HCC patients, 62% were aged >50 years; 65,5% gender male; 79,3% Child-Pugh B classification; 62% had liver cirrhosis as a predisposition; 65,5% abdominal pain was the most frequent complaint; 86.2% had radiological imaging; 79,3% ECOG performance value was 2, and 93.1% of patients had no thrombus in the portal vein. Conclusion: HCC patients who were given TACE therapy were the most at the age of >50 years and male gender, Child-Pugh B was the most, the most predisposition to liver disease was liver cirrhosis, the most frequent complaint the feeling is abdominal pain, most radiology imaging there is a typical imaging, the highest ECOG performance value is 2, and most patients do not have a thrombus in the portal vein or inferior vena cava. Keywords: Hepatocellular Carcinoma, TACE, liver cirrhosis Abstrak: Karsinoma Hepatoseluler (KHS) merupakan tumor ganas yang menyerang hepatosit. KHS menyebabkan 5,4% dari keganasan di dunia. Transarterial chemoembolization (TACE) efektif mengendalikan perkembangan tumor dan memperpanjang waktu hidup pada KHS. Penelitian bertujuan mengetahui profil pasien KHS yang mendapat TACE di RSUD Ulin Banjarmasin periode 2016-2018. Metode penelitian deskriptif, menggunakan data rekam medik. Hasil didapatkan 29 pasien KHS, 62% berumur >50 tahun; 65,5% laki-laki; 79,3% klasifikasi child-pugh B ; 62% memiliki sirosis hati sebagai predisposisi; 65,5% nyeri perut menjadi keluhan tersering; 86,2% memiliki gambaran khas radiologi; 79,3% nilai ECOG performance 2, dan 93,1% pasien tidak terdapat trombus pada vena porta. Kesimpulan: pasien KHS yang diberi terapi TACE adalah usia >50 tahun dan laki-laki paling banyak, klasifikasi child-pugh B terbanyak, predisposisi penyakit hati tersering sirosis hati, keluhan tersering nyeri perut, gambaran radiologi terbanyak terdapat gambaran khas, terbanyak nilai ECOG performance 2, dan kebanyakan pasien tidak terdapat trombus di vena porta/vena cava inferior. Kata Kunci: karsinoma hepatoseluler, TACE, sirosis hati
Edukasi pola hidup sehat dan pelatihan penyusunan nutrisi berimbang pada siswa SMK Telkom Banjarbaru dalam menunjang pendidikan karakter berkelanjutan Eko Suhartono; Iskandar Iskandar; Noor Muthmainah; Mashuri Mashuri; Yosef Dwi Cahyadi Salan; Gusti Muhammad Perdana Putera; Hapsari Lintang Sekartaji
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38722

Abstract

Abstrak Ketidakseimbangan nutrisi dan kualitas tidur yang buruk, masih sering ditemukan pada siswa SMK. Hal ini berdampak langsung terhadap kesehatan fisik, mental, serta pembentukan karakter. Survei internal pada 176 siswa SMK Telkom Banjarbaru menunjukkan tingginya angka depresi dan gangguan mood, yang mengindikasikan perlunya intervensi edukatif untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pola hidup sehat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memahami kesehatan mental, membangun karakter disiplin berkelanjutan, serta menyusun menu nutrisi seimbang sesuai prinsip “Isi Piringku”. Mitra kegiatan adalah SMK Telkom Banjarbaru dengan jumlah peserta sebanyak 182 siswa kelas X. Metode pelaksanaan meliputi ceramah, diskusi, simulasi praktik penyusunan menu, serta evaluasi pretest dan posttest. Hari pertama difokuskan pada edukasi mengenai kesehatan mental, karakter, dan hubungan nutrisi dengan kondisi psikologis, sedangkan hari kedua berisi pelatihan penyusunan menu sehat dan jurnal pola makan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa pada seluruh materi, yang ditunjukkan melalui  perbandingan skor  pretest  dan  posttest.  Kegiatan  ini  juga  mendorong siswa  lebih  aktif berdiskusi dan reflektif terhadap kebiasaan hidup mereka. Secara keseluruhan, program edukasi dan pelatihan ini dapat meningkatkan pengetahuan siswa mengenai pola hidup sehat serta keterampilan menyusun nutrisi seimbang sebagai bagian dari pembentukan karakter yang berkelanjutan. Kata kunci: edukasi; hidup sehat; kesehatan mental; nutrisi; pendidikan karakter. Abstract Nutritional imbalances and poor sleep quality are still commonly found among vocational school students. This has a direct impact on their physical and mental health, as well as character building. An internal survey of 176 students at Telkom Banjarbaru Vocational School showed high rates of depression and  mood  disorders, indicating the  need  for  educational intervention to  raise  awareness of  the importance of a healthy lifestyle. This community service activity aims to improve students' knowledge and skills in understanding mental health, building sustainable discipline, and preparing balanced nutrition menus in accordance with the “My Plate” principle. The partner for this activity is Telkom Banjarbaru Vocational School  with  182  participants from  grade  X.  The  implementation methods included  lectures,  discussions,  practical  menu  planning  simulations,  and  pretest  and  posttest evaluations. The first day focused on education about mental health, character, and the relationshipbetween nutrition and psychological conditions, while the second day consisted of training in healthy menu planning and food  journaling. The results of  the  activity showed an increase in  students' knowledge of all the material, as demonstrated by a comparison of pretest and posttest scores. This activity also encouraged students to be more active in discussing and reflecting on their lifestyle habits. Overall, this education and training program can improve students' knowledge of healthy lifestyles and skills in preparing balanced nutrition as part of ongoing character building. Keywords: education; healthy living; mental health; nutrition; character education