Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBEDAAN RERATA NILAI GEJALA NEGATIF SKIZOFRENIA PADA PRIA DAN WANITA DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM Muna Muna; Sherly Limantara; Husnul Khatimah
Homeostasis Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Schizophrenia is the one of serious health problems in society, causing high disability, it really needs special treatments. Negative symptoms of schizophrenia are symptoms characterized by blunted affect, emotional withdrawal, poor rapport, apathetic, difficulty in abstract thinking, lack of spontaneity and flow of conversation, and stereotyped thinking.  The purposive of this study are to know the differences of negative symptoms mean value of schizophrenia between men and women in Mental Hospital Sambang Lihum. Research methods used is observational analytic with cross sectional study. Samples are taken purposively sampling and found 30 men and 30 women. Negative symptoms is measured with negative symptoms of PANSS and then analyzed using independent t test. The result is negative symptoms mean value in men 3,381±5,241 and women 2,871±6,183. The conclusion this study shows that there is differences of negative symptoms mean value of schizophrenia between men and women. Keywords: schizophrenia, negative symptoms, gender Abstrak: Skizofrenia adalah masalah kesehatan yang serius di masyarakat, menyebabkan disabilitas yang tinggi, dan sangat membutuhkan perawatan. Gejala negatif skizofrenia adalah skizofrenia yang ditandai dengan adanya afek tumpul, penarikan emosional, kemiskinan rapport, apatis, kesulitan berpikir abstrak, kurangnya spontanitas dan arus pikir, serta pemikiran stereotipik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rerata nilai gejala negatif skizofrenia pada pria dan wanita di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum. Metode penelitian yang dilakukan yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil secara purposive sampling dan didapatkan 30 orang pria dan 30 orang wanita. Gejala negatif diukur dengan menggunakan skala negatif dari PANSS kemudian dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan.  Dari penelitian diperoleh rerata gejala negatif pada pria adalah 3,381±5,241 dan wanita 2,871±6,183. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan rerata nilai gejala negatif skizofrenia pada pria dan wanita. Kata-kata kunci: skizofrenia, gejala negatif, jenis kelamin
Peningkatan kompetensi guru dan terapis dalam penanganan kejang pada anak berkebutuhan khusus Pagan Pambudi; Steven Steven; Meilda Sartika Dewi; Wendy Amelia Sihombing; Muna Muna; Intan Kusuma Dewi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40664

Abstract

AbstrakAnak berkebutuhan khusus (ABK) memiliki risiko mengalami serangan kejang sehingga guru dan terapis perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama yang tepat. Identifikasi awal terhadap 72 peserta menunjukkan bahwa 43 orang (59,7%) belum pernah mengikuti pelatihan khusus penanganan kejang pada ABK dan 38 orang (52,8%) belum mengetahui secara lengkap langkah pertolongan pertama saat terjadi kejang. Kondisi ini menunjukkan adanya keterbatasan pengetahuan yang mendasari perlunya pelatihan. Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi, pelatihan, simulasi, pendampingan, dan penyusunan standar operasional prosedur (SOP) penanganan kejang. Evaluasi deskriptif menunjukkan 65 peserta (90,3%) mampu menyebutkan langkah utama pertolongan pertama, 63 peserta (87,5%) mampu melakukan simulasi posisi aman, dan 67 peserta (93,1%) mampu mengidentifikasi tindakan yang tidak boleh dilakukan saat kejang. Seluruh peserta (100%) menyatakan SOP penanganan kejang diperlukan di lingkungan layanan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan penanganan kejang diperlukan untuk mendukung kesiapsiagaan guru dan terapis dalam memberikan pertolongan pertama yang aman dan tepat pada ABK. Kata kunci: anak berkebutuhan khusus; epilepsi; penanganan kejang; terapis.                          AbstractChildren with special needs are at increased risk of seizures, requiring teachers and therapists to have adequate knowledge and skills in providing appropriate first aid. Initial identification among 72 participants showed that 43 participants (59.7%) had never attended specific seizure management training for children with special needs, while 38 participants (52.8%) did not fully understand appropriate first-aid measures during seizures. These findings indicate limited knowledge and support the need for structured training. The activity was conducted through education, training, simulation, mentoring, and development of a standard operating procedure (SOP) for seizure management. Descriptive evaluation showed that 65 participants (90.3%) were able to identify the main first-aid steps, 63 participants (87.5%) correctly demonstrated the recovery position, and 67 participants (93.1%) identified inappropriate actions during seizures. All participants (100%) stated that a seizure management SOP was needed in the service setting. These findings indicate that seizure management training is necessary to support teachers' and therapists' preparedness in providing safe and appropriate first aid to children with special needs. Keywords: children with special needs; epilepsy; seizure management; therapists.