Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

GAMBARAN FAKTOR PROGNOSIS PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM Eka Putri Widyarti; Sherly Limantara; Husnul Khatimah
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.328 KB)

Abstract

Abstract: Schizophrenia is a severe mental disorder. This study aims to describe the prognostic factors in schizophrenic patients at Sambang Lihum Mental Hospital. The method used is descriptive. The number of samples is 103 people using purposive sampling technique. Data were obtained from medical records, interviews, DAI-10 questionnaires, and patient assessment response to family support questionnaires. Data analysis using frequency distribution. The result showed that majority of respondents were men (76%), elementary education (43%), unemployed (72%), unmarried (83%), age of onset in early adults (33%), hadn’t family history (83%), duration of untreated psychosis less than 1 month (41%), had trigger factors (52%), duration of illness for 1-4 years (37%), moderate family support (54 %),  relapse (66%), adhered to treatment (87%), didn’t have a prepsychotic personality (83%), and undifferentiated schizophrenia (47%). The conclusion of this study is that most schizophrenic patients at Sambang Lihum Mental Hospital have a poor prognosis factor (62%). Keywords: schizophrenia, prognostic factors Abstrak: Skizofrenia termasuk dalam gangguan mental yang berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor prognosis pada pasien skizofrenia di RSJ Sambang Lihum. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Jumlah sampel sebanyak 103 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data didapat dari rekam medis, wawancara, kuesioner DAI-10, dan kuesioner respon penilaian pasien terhadap dukungan keluarga. Analisis data dilakukan dengan menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden adalah laki-laki (76%), pendidikan SD (43%), tidak bekerja (72%), tidak menikah (83%), usia onset pada dewasa awal (33%), tidak memiliki riwayat keluarga (83%), durasi psikosis yang tidak diobati kurang dari 1 bulan (41%), memiliki faktor pencetus (52%), durasi sakit 1-4 tahun (37%), dukungan keluarga sedang (54%), pernah relaps (66%), patuh terhadap pengobatan (87%), tidak memiliki kepribadian prepsikotik (83%), dan tipe skizofrenia tak terinci (47%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar pasien skizofrenia di RSJ Sambang Lihum memiliki faktor prognosis yang buruk (62%). Kata-kata kunci: skizofrenia, faktor prognosis.
GAMBARAN FAKTOR EKSTERNAL KEJADIAN RELAPS PADA PASIEN PENYALAHGUNAAN NAPZA DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM Raudhatun Naimah; Sherly Limantara; Husnul Khatimah
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.495 KB)

Abstract

Abstract: Drug relapse means the return of abuse after being stopped. The aim of the study was to describe the external factors of relapse in drug abuse patients. The research method is descriptive with a total sampling sample obtained 25 respondents. The results showed that family support factors did not have close ties (20%), could not communicate openly (20%), there were disputes (60%), were humiliated and cornered (40%), families abused drugs (32%), divorced parents (24%), do not supervise and control activities (24%). Friend factors were found to still be reunited with abusing friends (60%), friends challenged abuse (36%), friends made it easier to get drugs (32%), obtained information about drugs (48%). Socio-economic factors obtained less salary (28%), lower education (72%), difficulty getting a job (52%), no special skills (44%). Social support factors were found to be considered rubbish (44%), considered to have a bad influence (60%). The conclusion of the most external factors is the existence of disputes in the family, still reunited with friends who abuse, low education, and are considered to have a bad influence. Keywords: drug relapse, family support, friends, socioeconomics, social support Abstrak: Relaps NAPZA artinya kembalinya menyalahgunakan setelah dihentikan. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran faktor eksternal kejadian relaps pada pasien penyalahgunaan NAPZA. Metode penelitian adalah deskriptif dengan sampel total sampling didapatkan 25 responden. Hasil penelitian didapatkan faktor dukungan keluarga diantaranya tidak memiliki ikatan yang erat (20%), tidak dapat berkomunikasi secara terbuka (20%), adanya perselisihan (60%), direndahkan dan dipojokkan (40%), keluarga menyalahgunakan NAPZA (32%), orangtua bercerai (24%), tidak mengawasi dan mengontrol kegiatan (24%). Faktor teman didapatkan masih berkumpul kembali dengan teman yang menyalahgunakan (60%), teman menantang menyalahgunakan (36%), teman mempermudah mendapatkan NAPZA (32%), memperoleh informasi tentang NAPZA (48%). Faktor sosial ekonomi didapatkan gaji kurang (28%), pendidikan rendah (72%), kesulitan mendapatkan pekerjaan (52%), tidak mempunyai keterampilan khusus (44%). Faktor dukungan sosial didapatkan dianggap sampah (44%), dianggap membawa pengaruh buruk (60%). Kesimpulan faktor eksternal paling banyak adalah adanya perselisihan dalam keluarga, masih berkumpul kembali dengan teman yang menyalahgunakan, pendidikan rendah, dan dianggap membawa pengaruh buruk. Kata-kata kunci: relaps NAPZA, dukungan keluarga, teman, sosial ekonomi, dukungan sosial
PERBEDAAN RERATA NILAI GEJALA NEGATIF SKIZOFRENIA PADA PRIA DAN WANITA DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM Muna Muna; Sherly Limantara; Husnul Khatimah
Homeostasis Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Schizophrenia is the one of serious health problems in society, causing high disability, it really needs special treatments. Negative symptoms of schizophrenia are symptoms characterized by blunted affect, emotional withdrawal, poor rapport, apathetic, difficulty in abstract thinking, lack of spontaneity and flow of conversation, and stereotyped thinking.  The purposive of this study are to know the differences of negative symptoms mean value of schizophrenia between men and women in Mental Hospital Sambang Lihum. Research methods used is observational analytic with cross sectional study. Samples are taken purposively sampling and found 30 men and 30 women. Negative symptoms is measured with negative symptoms of PANSS and then analyzed using independent t test. The result is negative symptoms mean value in men 3,381±5,241 and women 2,871±6,183. The conclusion this study shows that there is differences of negative symptoms mean value of schizophrenia between men and women. Keywords: schizophrenia, negative symptoms, gender Abstrak: Skizofrenia adalah masalah kesehatan yang serius di masyarakat, menyebabkan disabilitas yang tinggi, dan sangat membutuhkan perawatan. Gejala negatif skizofrenia adalah skizofrenia yang ditandai dengan adanya afek tumpul, penarikan emosional, kemiskinan rapport, apatis, kesulitan berpikir abstrak, kurangnya spontanitas dan arus pikir, serta pemikiran stereotipik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rerata nilai gejala negatif skizofrenia pada pria dan wanita di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum. Metode penelitian yang dilakukan yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil secara purposive sampling dan didapatkan 30 orang pria dan 30 orang wanita. Gejala negatif diukur dengan menggunakan skala negatif dari PANSS kemudian dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan.  Dari penelitian diperoleh rerata gejala negatif pada pria adalah 3,381±5,241 dan wanita 2,871±6,183. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan rerata nilai gejala negatif skizofrenia pada pria dan wanita. Kata-kata kunci: skizofrenia, gejala negatif, jenis kelamin
Pembentukan Kelas Hattra (Kesehatan Tradisional) Bagi Ibu Yang Memiliki Bayi Dan Balita Di Posyandu Desa Keliling Benteng Ulu Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Didik Dwi Sanyoto; Triawanti Triawanti; Sherly Limantara
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 3, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v3i3.10948

Abstract

Di Kalimantan Selatan prevalensi balita stunting menurut SSGI tahun 2021 yaitu 24,6 melebihi prevalensi nasional. Kabupaten Banjar memiliki prevalensi stunting 26,4%. Desa Keliling Benteng Ulu termasuk desa yang berada di zona merah kasus stunting yaitu sebesar 23,68%. Pada tahun 2022 terdapat 54 anak balita yang mengalami stunting. Desa keliling Benteng Ulu (KBU) merupakan daerah rawa pasang surut dan aliran Sungai Martapura. Untuk itu perlu dicari solusi upaya pencegahan. Salah satunya melalui upaya kesehatan tradisional (Hattra). Berdasarkan identifikasi masalah yang dilakukan bersama-sama dengan kepala desa, kader posyandu dan kader PKK diketahui di Desa KBU belum banyak ibu bayi/ balita yang memiliki pengetahuan tentang kesehatan tradisional yang dapat mendukung upaya pencegahan stunting. Kesehatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Pada kegiatan ini ditawarkan solusi kepada masyarakat yaitu untuk membentuk kelas Hattra bagi ibu-ibu yang memiliki bayi/balita. Program di kelas Hatra yaitu pelatihan tentang pijat bayi dan pengolahan temulawak menjadi permen yang disukai anak. Pemijatan pada bayi diketahui dapat merangsang tumbuh kembang bayi termasuk ebrat badan dan tinggi badan, sedangkan temulawak telah digunakan secara turun temurun sebagai peningkat nafsu makan. Hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan dalam bentuk pretest-posttest menunjukan peningkatan pemahaman dari nilai rata-rata 68,4 menjadi 80, juga terkait manfaat kegiatan ini dalam bentuk kuisioner menunjukkan sebagian besar peserta merasa manfaat yang banyak dari kegiatan ini.