Dede Hidayatullah
Badan Riset dan Inovasi Nasional

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kearifan Orang Banjar dalam Cerita Rakyat Kalimantan Selatan “Mencari Ilmu Berumah Tangga” Nidya Triastuti Patricia; Dede Hidayatullah
UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra Vol 18, No 2 (2022): UNDAS
Publisher : Balai Bahasa Kalimatan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/und.v18i2.5358

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana kearifan orang Banjar dalam berumah tangga yang tergambar dalam cerita rakyat Kalimantan Selatan “Mencari Ilmu Berumah Tangga”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Sumber data primer penelitian ini adalah cerita rakyat Banjar yang berjudul “Mencari Ilmu Berumah Tangga” yang diperoleh dari buku Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Selatan hasil penelitian Drs. Abdurrahman Ismail, dkk. yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan cara teknik dibaca dan dicatat, yaitu dengan mencatat dan mengkalsfikasi kearifan lokal yang terdapat dalam cerita rakyat “Mencari Ilmu Berumah Tangga”. Hasil penelitian menunjukkan adanya karifan lokal seperti budaya menuntut ilmu, kesetaraan jender dalam menuntut ilmu, mau bermodal dalam menuntut ilmu, tidak pelit membagi ilmu, tidak memperjualbelikan ilmu dengan cara yang buruk, dan mengaplikasikan ilmu yang berhubungan dengan rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Banjar mengutamakan ilmu dalam setiap sisi kehidupan. Kata kunci: kearifan lokal, cerita rakyat, ilmu, dan rumah tangga Abstract: This study aims to describe how the wisdom of the Banjarese in the household is depicted in the South Kalimantan folklore “Mencari Ilmu Berumah Tangga”. The method used in this study is the descriptive method. The primary source of data for this study is Banjar folklore entitled “Mencari Ilmu Berumah Tangga” which was obtained from the South Kalimantan Regional Folklore book researched by Drs. Abdurrahman Ismail, et al. published by the Ministry of Education and Culture. Data collection techniques are used by reading and recording techniques, The results showed that there are local wisdom such as the culture of studying, gender equality in studying, being willing to be capitalized in studying, not being stingy in sharing knowledge, not selling knowledge in a bad way, and applying knowledge related to the household. This shows that Banjarese prioritizes knowledge in every side of life.Keywords: local wisdom, folklore, knowledge, household
Tuturan Bermakna Budaya sebagai Pembelajaran Kearifan Lokal Masyarakat Banjar: Studi Etnopedagogi Rissari Yayuk; Derri Riss Riana; Jahdiah Jahdiah; Eka Suryatin; Dede Hidayatullah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5196

Abstract

This study discusses the form of Banjarese speech which contains a lexicon of local culture and local wisdom that can be taught behind the speech of cultural meaning. The purpose of the study is to describe the form of Banjarese speech which contains a lexicon of local culture and the form of local wisdom that can be taught behind the speech of cultural meaning. This study uses qualitative descriptive method with an ethnopedagogic approach. The research techniques are observation, documentation, and interviews. Data collection techniques are listening, recording, and getting involved in the research. The research steps are observation, data collection, data selection, presentation, analysis, and conclusions. The data source, speech that contains a lexicon with cultural meaning in the Banjar community, in Banjarmasin City, Banjar Regency, and Hulu Sungai Selatan. Data collection is from March 2021 to April 2022. Data validity is through triangulation of sources, theories, and methods. The study results that Banjarese speech that contains a lexicon of local cultural meanings include supporting parts for housing, livelihoods, literary arts, language, daily activities, and activities supporting equipment. The forms of local wisdom that can be taught behind these cultural speeches include creative, economic independence, politeness, entertainment and educative, health, hygiene, and adaptive. This finding shows that daily speech can be a source of learning local wisdom with cultural value for the Banjar community and others, both formal and non-formal, one of which is for local content material for students. AbstrakPenelitian ini membahas tentang wujud tuturan berbahasa Banjar yang memuat leksikon bermakna budaya lokal dan wujud kearifan lokal yang dapat diajarkan di balik  tuturan bermakna budaya tersebut. Tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan wujud tuturan lisan berbahasa Banjar yang memuat leksikon  bermakna budaya lokal dan wujud kearifan lokal yang dapat diajarkan di balik tuturan bermakna budaya tersebut. Metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnopedagogi. Teknik penelitian observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik pengambilan data, antara lain simak, catat, dan libat. Langkah penelitian yang dilakukan, yaitu observasi, pengambilan data, pemilihan data, penyajian, analisis, dan simpulan. Sumber data, tuturan yang memuat leksikon bermakna budaya pada masyarakat Banjar, di Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, dan Hulu Sungai Selatan. Waktu pengambilan data mulai dari bulan Maret 2021 sampai dengan April 2022. Validitas data melalui triangulasi sumber, teori, dan metode. Hasil penelitian, yaitu tuturan berbahasa Banjar yang memuat leksikon bermakna budaya lokal meliputi bagian pendukung tempat tinggal, mata pencaharian, seni sastra, bahasa, aktivitas keseharian, dan peralatan pendukung aktivitas. Adapun wujud kearifan lokal yang dapat diajarkan di balik tuturan bermakna budaya tersebut meliputi kreatif, mandiri ekonomi, kesantunan, hiburan, dan edukasi kesehatan, kebersihan, dan adaptif. Temuan ini menunjukkan bahwa tuturan sehari-hari dapat menjadi sumber pembelajaran kearifan lokal bernilai budaya bagi masyarakat Banjar dan lainnya, baik formal maupun nonformal, salah satunya untuk materi muatan lokal bagi anak didik.
CITRA WANITA DALAM SYAIR BANJAR KEN TAMBUHAN (The Image of the Woman in the Banjar Syair of Ken Tambuhan in South Kalimantan) Dede Hidayatullah; Agus Yulianto; Akhmad Haries; Ahmad Dasuki; Saefuddin Saefuddin
SAWERIGADING Vol 29, No 1 (2023): Sawerigading, Edisi Juni 2023
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v29i1.945

Abstract

The objective of this study is to describe the image of the character daughter of Ken Tambuhan. The Queen or the empress of Kuripan Kingdom, and the maids of Princess Ken Tambuhan in Ken Tabuhan's syair, which includes her physical, psychological, and social images. The problem of this research is the way the poem depicts the physical, psychological, and social images of Ken Tambuhan, the empress of Kuripan Kingdom, and the maids of Ken Tambuhan in Ken Tambuhan syair. This research uses descriptive-qualitative methods with a feminist approach. Based on the results of the analysis, it shows that: (1) Ken Tambuhan syair manuscript is an original manuscript originating from Kalimantan; the evidence is the use of the Banjar words Kulon and Kuripan, where location is in Southeast Kalimantan; namely in Amuntai City;  (2) The image of women in the syair portrays the role of women in the domestic area that do embroidery activities as a daughter of a noble family; and (3) The portrayal of unequal status for women due to their lineage. AbstrakMasalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah penggambaran citra fisis, psikis, dan sosial tokoh Ken Tambuhan, permaisuri Kerajaan Kuripan, dan dayang-dayang putri Ken Tambuhan di dalam syair Ken Tambuhan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan feminisme. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui:  (1) Syair Ken Tambuhan merupakan naskah asli yang berasal dari Kalimantan yang salah satu indikasinya karena terdapat pemakaian kata Banjar Kulon dan Kuripan yang lokasinya berada di Tenggara Kalimantan, yaitu di Kota Amuntai; (2) Citra perempuan yang terdapat dalam syair digambarkan sebagai perempuan yang hanya berada di wilayah domestik, tetapi mengerjakan pekerjaan menyulam sebagai kegiatan putri bangsawan; dan (3) Penggambaran perempuan yang masih dipandang tidak sederajat dikarenakan perbedaan status sosial seperti rakyat jelata dan bangsawan.