Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Fungsi Afektif Keluarga Dengan Perilaku Kenakalan Remaja Di SMA Negeri 15 Konawe Selatan Nurfantri Nurfantri
TERAPEUTIK JURNAL : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas Vol 3 No 02 (2017): Terapeutik Jurnal : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Kedokteran Komunitas
Publisher : LPPM STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa remaja adalah masa peralihan, yang bukan hanya dalam arti psikologis, tetapi juga fisiknya. Peralihan dari anak ke dewasa ini meliputi semua aspek perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fungsi afektif keluarga dengan perilaku kenakalan remaja di SMA Negeri 15 Konawe Selatan. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan cross sectionaldengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi adalah seluruh siswa (i) yang terdaftar sebagai pelajar di SMA Negeri 15 Konawe Selatan kelas II yang berjumlah 120 orang. Pemilihan sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan cara simple random sampling. Uji statistik yang digunakan uji fixher exact test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remaja yang melakukan kenakalan remaja sebanyak 21 responden (38,2%) dan tidak melakukan kenakalan remaja sebanyak 34 responden (61,8%).Fungsi afektif keluarga baik sebanyak 19 responden (34,4%) dan kurang baik sebanyak 36 responden (65,6%).Terdapat hubungan antara fungsi afektif keluarga dengan perilaku kenakalan remaja di SMA Negeri 15 Konawe Selatan (p=0,001). Simpulan penelitian ini adalah orangtua yang memiliki anak (usia) remaja sebaiknya lebih meningkatkan daya kontrol terhadap perkembangan anak terlebih khusus dalam hal pergaulan anak, serta lebih memperhatikan lagi aktivitas dan intensitas komunikasi keluarga yang terjalin di dalam keluarga, karena kedua faktor itu sangat penting dalam mencegah terjadinya kenakalan remaja. The transition from child to adult covers all aspects of development experienced as a preparation for adulthood. This study aims to determine the relationship of affective function of families with behavior of juvenile delinquency in SMA Negeri 15 Konawe Selatan. This research was conducted with cross sectional design using quantitative approach. The population is all students (i) registered as students in SMA Negeri 15 Konawe Selatan class II which amounts to 120 people. The sample selection in this research is determined by simple random sampling. Statistical test used test fixher test. The result of this research shows that teenagers who do juvenile delinquency are 21 respondents (38,2%) and do not do juvenile delinquency as many as 34 respondents (61,8%) Good affective family function as much 19 respondents (34,4%) and less good as many as 36 respondents (65.6%) There is relationship between affective function of family with behavior of juvenile delinquency in SMA Negeri 15 Konawe Selatan (p = 0,001). The conclusion of this study is that parents who have children (age) adolescents should further increase the control of the child's development especially special in terms of intercourse of children, and more attention to the activity and intensity of family communication in the family, because both factors are very important in preventing the happening of juvenile delinquency.
Edukasi Teknik Penyelaman yang Sehat Sebagai Upaya Pencegahan Gangguan Pembuluh Darah dan Jantung pada Penyelam Tradisional di Desa Bajo Indah Kec. Soropia Nurfantri Nurfantri; Muhaimin Saranani; Dali Dali; Rundu Rundu
Karya Kesehatan Journal of Community Engagement Vol 7 No 1 (2026): Karya Kesehatan Journal of Community Engangement
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/k2jce.v7i1.1714

Abstract

Aktivitas penyelaman tradisional merupakan mata pencaharian utama bagi masyarakat pesisir, namun praktik yang tidak sesuai standar keselamatan berisiko tinggi menyebabkan gangguan pembuluh darah dan jantung, seperti penyakit dekompresi dan barotrauma. Minimnya pengetahuan tentang teknik penyelaman yang aman serta terbatasnya akses pelayanan kesehatan di daerah pesisir memperburuk kondisi ini. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan penyelam tradisional tentang teknik penyelaman yang sehat sebagai upaya pencegahan gangguan pembuluh darah dan jantung di Desa Bajo Indah, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Metode yang digunakan meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan penutup (post-test dan evaluasi). Peserta berjumlah 30 orang nelayan tradisional yang melakukan penyelaman aktif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta setelah diberikan penyuluhan. Sebelum penyuluhan, sebagian besar peserta memiliki pengetahuan kurang (63%), namun setelah penyuluhan terjadi peningkatan jumlah peserta yang memiliki pengetahuan cukup (40% ) dan baik (50%). Peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi selama sesi tanya jawab dan aktif berbagi pengalaman terkait keluhan dekompresi yang sering dialami serta metode tradisional yang mereka lakukan. Simpulan terjadinya peningkatan pengetahuan tentang teknik penyelaman yang sehat setelah diberikan penyuluhan. Disarankan perlunya tindak lanjut berupa kerja sama lintas program dengan puskesmas serta lintas sektor untuk fasilitasi metode penangkapan yang lebih aman.
Skrining, Edukasi Dan Manajemen Gangguan Menstruasi Pada Remaja Putri di Desa Pangan Jaya Dwi Purnama; Reni devianti; Nurfantri Nurfantri; Lilin Rosyanti
Karya Kesehatan Journal of Community Engagement Vol 7 No 1 (2026): Karya Kesehatan Journal of Community Engangement
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/k2jce.v7i1.1718

Abstract

Gangguan menstruasi, khususnya dismenore (nyeri haid), merupakan keluhan kesehatani yang paling sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas harian serta konsentrasi belajar. Kurangnya informasi ilmiah membuat banyak remaja belum mampu melakukan penanganan mandiri secara tepat. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pengabmas) ini bertujuan untuk mendeteksi keluhan reproduksi dini, meningkatkan pengetahuan, serta melatih keterampilan remaja putri dalam mengelola gangguan menstruasi secara mandiri non-farmakologis. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Desa Pangan Jaya dengan sasaran remaja putri. Pendekatan intervensi melalui skrining menstruasi dan edukasi mestruasi, gangguan mentruasi serta manajemen nyeri mentruasi melalui penyuluhan interaktif. Evaluasi peningkatan pengetahuan diukur menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Hasil: Hasil skrining menunjukkan sebagian besar remaja putri mengalami dismenore primer derajat ringan yaitu 40% hingga sedang yaitu 35%. Pasca-intervensi, terjadi peningkatan berarti pada skor pengetahuan remaja putri dari pengetahuan kurang yaitu 75% menjadi pengetahuan baik yaitu 60% Kesimpulan: Kegiatan skrining, edukasi, dan manajemen ini terbukti efektif meningkatkan kesiapan dan kapasitas remaja putri di Desa Pangan Jaya dalam menghadapi gangguan menstruasi secara mandiri. Pemerintah desa dan kader disarankan untuk mengintegrasikan kegiatan ini ke dalam program Posyandu Remaja secara berkelanjutan.