Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ANALYSIS OF INFILTRATION WELLS AS PRO-CONSERVATION DRAINAGE (Case Study of Kalongan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta) Lilik Hendro Widaryanto
Journal of Green Science and Technology Vol 6, No 2 (2022): JOURNAL OF GREEN SCIENCE AND TECHNOLOGY VOL.6 NO.2 SEPTEMBER 2022
Publisher : FAKULTAS TEKNNIK UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jgst.v6i2.6946

Abstract

Indonesia has two seasons, namely the dry season and the rainy season where the rainfall in the two seasons has a very large difference. Rainfall in the rainy season will be a source of groundwater reserves, because in the dry season there tends to be no rain. Efforts to increase groundwater reserves are carried out, among others, to use environmentally friendly drainage, namely by using infiltration wells and water will be infiltrated so as to reduce runoff.This research will begin by mapping the land covered by buildings in Kalongan and then calculating the area of land covered by the buildings. Rainfall data used is data at the Maguwoharjo rain station which is close to Kalongan with a span of 10 years. The number of infiltration wells currently available is 8 and by analyzing the needs of infiltration wells it will be known how many infiltration wells are needed so that as much water can be infiltrated to reduce runoff and increase groundwater reserves.The results of the frequency analysis for rainfall with a maximum return period of 5 years as a basis for planning infiltration wells. This large runoff during the rainy season can be reduced by having sufficient infiltration wells, so that rainwater entering the infiltration well will become a source of groundwater reserves. The total requirement for infiltration wells is 464 pieces with a diameter of 80 cm and a depth of 3 m. There are 8 infiltration wells so it is necessary to make 456 infiltration wells to reduce runoff.Keyword: groundwater, infiltration, runoff
Perancangan Bangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Tahu (Studi Kasus Industri Tahu di Dusun Janten, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul) Azis Fatkhurrohman; Dewi Sulistyorini; Lilik Hendro Widaryanto; Ahmad Mashadi; Yacobus Sunaryo
Surya Beton : Jurnal Ilmu Teknik Sipil Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri tahu merupakan industri UMKM yang banyak tersebar di beberapa Kapanewon di Bantul dan juga menjadi industri rumah tangga. Sebagian besar industri tahu di Kabupaten Bantul tidak memiliki unit pengelolaan limbah sehingga limbah yang dihasilkan dari rumah produksi langsung dibuang ke saluran air dan menyebabkan pencemaran air. Air limbah yang berasal dari limbah industri tahu merupakan salah satu sumber pencemaran air yang menjadi permasalahan di masyarakat. Hal ini disebabkan karena air limbah industri tahu akan mempengaruhi sifat fisik, kimia air yang berpengaruh pada kelangsungan hidup organisme perairan dan bau limbah tahu mengganggu lingkungan setempat. Perancangan ini bertujuan untuk memberikan rancangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Tahu di Dusun Janten, Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul. IPAL dirancang secara batch dengan sistem ekualisasi, pengendap awal, anaerobic baffle reactor (ABR), anaerobik filter dan pengendap akhir. Tahap perancangan IPAL meliputi perhitungan dimensi masing-masing unit IPAL, merancang gambar tiap unit. Terdapat beberapa unit pada perancangan IPAL dengan limbah cair sebanyak 16.500 L/hari yaitu: Bak ekualisasi (panjang = 1,75 m, lebar = 1,00 m, tinggi = 2,55 m), Bak pengendap awal (panjang = 2,13 m, lebar = 1,00 m, tinggi = 2,55 m, jumlah kompartemen = 4 ruang), Bak anaerobic baffle reactor (panjang = 3,67 m, lebar = 1,50 m, tinggi = 2,55 m, jumlah kompartemen = 3 ruang), Bak anaerobik filter (panjang = 3,67 m, lebar = 1,50 m, tinggi = 2,55 m, jumlah kompartemen = 3 ruang), Bak pengendap akhir (panjang = 2,13 m, lebar = 1,00 m, tinggi = 2,55 m, jumlah kompartemen = 4 ruang).
ANALYSIS OF INFILTRATION WELLS AS PRO-CONSERVATION DRAINAGE (Case Study of Kalongan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta) Lilik Hendro Widaryanto
Journal of Green Science and Technology Vol 6 No 2 (2022): JOURNAL OF GREEN SCIENCE AND TECHNOLOGY VOL.6 NO.2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jgst.v6i2.6946

Abstract

Indonesia has two seasons, namely the dry season and the rainy season where the rainfall in the two seasons has a very large difference. Rainfall in the rainy season will be a source of groundwater reserves, because in the dry season there tends to be no rain. Efforts to increase groundwater reserves are carried out, among others, to use environmentally friendly drainage, namely by using infiltration wells and water will be infiltrated so as to reduce runoff.This research will begin by mapping the land covered by buildings in Kalongan and then calculating the area of land covered by the buildings. Rainfall data used is data at the Maguwoharjo rain station which is close to Kalongan with a span of 10 years. The number of infiltration wells currently available is 8 and by analyzing the needs of infiltration wells it will be known how many infiltration wells are needed so that as much water can be infiltrated to reduce runoff and increase groundwater reserves.The results of the frequency analysis for rainfall with a maximum return period of 5 years as a basis for planning infiltration wells. This large runoff during the rainy season can be reduced by having sufficient infiltration wells, so that rainwater entering the infiltration well will become a source of groundwater reserves. The total requirement for infiltration wells is 464 pieces with a diameter of 80 cm and a depth of 3 m. There are 8 infiltration wells so it is necessary to make 456 infiltration wells to reduce runoff.Keyword: groundwater, infiltration, runoff
Analisis Curah Hujan Efektif di Daerah Aliran Sungai Opak Lilik Hendro Widaryanto; Dendy Mochammad Bardan; Ahmad Mashadi
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 7 No 2 (2022): Oktober
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan wilayah dalam hal ketersediaan air untuk bercocok tanam dapat dilihat dari besaran curah hujan efektif wilayah dalam setiap tahunnya sebagai penunjang lahan irigasi teknis. Curah hujan efektif sebagai andalan wilayah untuk irigasi tanaman padi, sehingga dapat digunakan sebagai gambaran pola tanam padi-padi-palawija. Pada saat ini ketersediaan lahan irigasi teknis berkurang tiap tahunnya karena alih fungsi lahan. Selain itu adanya perubahan musim akan mempengaruhi irigasi tanaman padi pada DAS Opak. Oleh karena itu, penelitian ini untuk mengetahui apakah DAS Opak mampu untuk mengairi tanaman padi di setiap tahunnya,  sehingga kedepan dapat dilakukan pembukaan lahan baru pada daerah yang masih memungkinkan dapat dikembangkan. Curah hujan efektif ( Re ) merupakan harga 70 % dari R80 dimana curah hujan 80 % nya pasti terjadi. Curah Hujan Efektif ( Re ) adalah ketersediaan air irigasi dalam perhitungan NFR (Need Field Requirement). Harga P (perkolasi) untuk DAS Opak, diharapkan masih ada di sekitar 2 – 6 mm. Hasil analisis dapat disimpulkan bahwa DAS Opak masih mampu untuk mengairi lahan pertanian khususnya tanaman padi dengan pola tanam padi-padi-palawija, sesuai pada musim penghujan, Oktober - April. Hujan tinggi hanya terjadi pada daerah tinggi ( elevasi > 500 meter), sedangkan di daerah rendah, tinggi hujan relatif normal.
Analisis Kapasitas Parkir Sepeda Motor dan Mobil di Pasar Jelojok Kabupaten Lombok Tengah Lalu Kaspul Asror; Dimas Langga Chandra Galuh; Lilik Hendro Widaryanto
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 8 No 1 (2023): April
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/renovasi.v8i1.14432

Abstract

Pasar Jelojok dulunya merupakan pasar tradisional kini berubah menjadi pasar modern, pasar Jelojok Kopang ini berada diareal tanah seluas 3,14 Ha dan telah banyak menyerap tenaga kerja, begitu juga dengan bangunan yang di desain dengan sedemikian rupa dan dilengkapi lapak/took tempat jualan pedagang. Namun karena ketidak tahuan pihak pengelola pasar tentang kapasitas parkir yang dapat ditampung oleh tempat parkir menyebabkan banyak di temukan kendaraan yang parkir sembarangan. Dari hasil survei jumlah ruang parkir kendaraan sepeda motor yang tersedia di pasar Jelojok sebanyak 315 SRP sedangkan untuk mobil tersedia sebanyak 130 SRP. Karakteristik parkir sepeda motor dapat diketahui nilai akumulasi tertinggi adalah 664 kendaraan, indeks parkir sebesar 2,1, volume puncak sebesar 1238, dan nilai trun over parkir yaitu sebesar 3,9 kend/stall. Dan untuk hasil analisis karakteristik parkir mobil dapat diketahui nilai akumulasi tertinggi adalah 71 kendaraan, indeks parkir tertinggi sebesar 0,5 volume puncak terbesar sebanyak 93, dan nilai turn over parkir yaitu sebesar 0,7 kend/stall. Jumlah ruang parkir sepeda motor yang tersedia lebih sedikit dari kebutuhan ruang parkir yang dimana  sebanyak 315 kendaraan, artinya ruang parkir yang tersedia kurang sebanyak -349 SRP, maka perlu dilakukan perbaikan atau penambahan ruang parkir sepeda motor sedangkan ruang parkir mobil yang teredia sudah mampu mencukupi kebutuhan parkir yg dibutuhkan.
Evaluasi Kerusakan Jaringan Irigasi Menggunakan Sistem Informasi Geografis Muhamad Noer Cholik; Lilik Hendro Widaryanto; Widarto Sutrisno
RENOVASI : Rekayasa Dan Inovasi Teknik Sipil Vol 8 No 2 (2023): Oktober
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineer, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/renovasi.v8i2.15774

Abstract

Dalam pemanfaatan sumber daya air yang digunakan untuk industri, perikanan, pertanian dan usaha lain secara maksimal diperlukannya infrastruktur penunjang berupa jaringan irigasi yang berfungsi sebagai mendistribusikan air dan menjaganya agar sampai pada pintu terjauh atau pintu akhir. Di era Modern ini diperlukan sistem informasi geografis yang akurat guna menyajikan data inventarisasi fasilitas jaringan irigasi. Daerah Irigasi Gamping yang terletak di Kabupaten Sragen mempunyai lahan pertanian yang harus dilayani air seluas 175 Ha dan meliliki 120 titik jaringan dan 26 titik fasilitas jaringan irigasi permanen. Sebanyak 1785,7 m sudah dibangun fasilitas irigasi permanen dan 5691,2 m belum dibangun fasilitas jaringan irigasi permanen maupun sementara. Sebanyak 1785,7 m panjang saluran irigasi yang memiliki fasilitas irigasi dimana sebanyak 640 m (35,84%) sangat baik, selanjutnya 845,5 m (47,35%) daerah irigasi dalam kondisi baik. Sebanyak 2 m (0,11%) dalam kondisi rusak ringan, sementara 15,4 m (0,86%) mengalami kerusakan sedang dan 282,8 m (15,84%) dalam kondisi kerusakan berat bahkan membutuhkan renovasi maupun pembangunan ulang.