Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Strategi Pemanfaatan Technopreneurship melalui E-Commerce untuk Meningkatkan Omzet Tenun Samarinda Riyo Riyadi; Ilham Abu; Nasib Subagio; Reza Reza
Bubungan Tinggi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/btjpm.v4i4.6092

Abstract

Potensi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) perlu dikembangkan agar dapat mendorong perekonomian masyarakat dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut. Selama ini pemasaran yang dilakukan oleh sebagian besar UMKM di Samarinda salah satunya usaha tenun masih secara konvensional. Produksi kain tenun tidak diimbangi dengan progres penjualan yang bagus, kondisi ini membuat kurangnya omzet yang di dapat. Berdasarkan kondisi dan situasi yang dialami penenun di Kelurahan Tenun Samarinda maka dirasa perlu melakukan kegiatan pengenalan technopreneurship memperluas cakupan pemasaran dan dapat meningkatkan omzet. Kegiatan ini dilakukan dengan cara melaksanakan pelatihan dan pendampingan membuat sistem e-commerce berbasis web. Pelatihan dan pendampinan ini bertujuan untuk dapat meningkatkan omzet penjualan dari para penenun yang ada di Kelurahan Tenun Samarinda. Metode yang dilakukan dengan memberikan pelatihan dan pendampingan pembuatan aplikasi e-commerce hingga evaluasi. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada bulan september 2021. Semua rangkaian kegiatan berjalan dengan baik dan lancar serta mendapat respon yang baik oleh para peserta kegiatan. Hasil kegiatan ada 5 usaha tenun yang memiliki akun e-commerce yang siap digunakan dengan harapan bisa meningkatkan kesejahteraan para penenun. The potential of Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) needs to be developed to encourage the community's economy and increase the welfare of the community. So far, the marketing carried out by most MSMEs in Samarinda, one of which is the weaving business, is still conventional. The production of woven fabrics needs to be balanced with good sales progress, and this condition makes the lack of turnover obtained. Based on the conditions experienced by weavers in Samarinda Weaving Village, it is necessary to carry out technopreneurship introduction activities to expand marketing coverage and can increase turnover. This activity is carried out by training and assistance in creating a web-based e-commerce system. This training and decommissioning aim to increase the sales turnover of the weavers in the Samarinda Weaving Village. The method provides training and assistance in making e-commerce applications for evaluation. The implementation of the activity was in September 2021. All activities went well and smoothly, and we received a good response from the participants. As a result of the activity, five weaving businesses have e-commerce accounts that are ready to be used to improve the welfare of weavers. 
The Influence of The Cooperative Learning Model with Type of Talking Stick on Students Learning Outcomes in Economic Subjects Class X Social Sciences Sman 1 Rantau Pulung Muh. Fiqri Nurrahmatullah; Reza Reza; Riyo Riyadi
Educational Studies: Conference Series Vol 1 No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/escs.v1i1.863

Abstract

This study aims to determine: (1) The use of cooperative learning model type talking stick in economics subjects class X social science SMAN 1 Rantau Pulung; (2) The achievement of economic learning outcomes from the cooperative learning model of the type talking stick in students of class X social science SMAN 1 Rantau Pulung; (3) The Use of cooperative learning model type talking stick effect of the on economic learning outcomes in students of class X social science SMAN 1 Rantau Pulung. This research is a quantitative research type of quasi-experimental research or quasi-experimental, research with research subjects namely students of class X Social Sciences SMA Negeri 1 Rantau Pulung with class X social science 2 as many as 23 people as experimental class and class X social science 3 as many as 26 people as control class. Data collection is done by using the test technique. Based on the results of the descriptive analysis, the average for the experimental class increased by 12.54% while the average value for the control class experienced a slight decrease of 0.44%. Through the results of hypothesis testing, the sig value is obtained. (2-tailed) t-test for Equality of Means is 0.005 so that the significance value is <0.05, which means that H0 is rejected or Ha is accepted. So, it can be concluded that there is a significant effect of the talking stick type cooperative learning model on the economic learning outcomes of class X social studies students at SMA Negeri 1 Rantau Pulung.
THE IDENTIFICATION OF INDIGENOUS KNOWLEDGE IN KUTAI KARTANEGARA AS SOCIAL STUDIES LEARNING RESOURCE BASED ON GREEN ECONOMY Reza Reza; Vitria Rahayu; Christie Stephanie Piar
Educational Studies: Conference Series Vol 1 No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/escs.v1i1.883

Abstract

This research aimed to identify the forms of indigenous knowledge and the use of indigenous knowledge (indigenous knowledge) in Kutai as a learning resource-based IPS green economy. The study was conducted using qualitative descriptive data analysis. The object of the research is to find junior high social studies teachers in Kutai who teach as many as 10 people. Collecting data using triangulation techniques which combine several research techniques together, namely: a) observation field (b) documentation (c) unstructured interviews (d) literature and (e) Focused Group Discussion (FGD). The results showed Kutai Kartanegara had various forms of indigenous knowledge which influenced their culture and were relevant to the concept of the Green Economy. Religion and beliefs are classified as 1) knowledge systems, 2) knowledge systems, 3) livelihood systems, 4) attitudes, 5) traditional technology, and 6) arts.The utilization of indigenous knowledge through social studies learning with a contextual approach has an important role in the implementation of the green economy concept.
Analisis Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat (Studi Kasus di Kelurahan Pelita Kecamatan Samarinda Ilir Kota Samarinda) Irdiansyah Irdiansyah; Sutrisno Sutrisno; Vitria Puri Rahayu; Reza Reza
JEKPEND: Jurnal Ekonomi dan Pendidikan Vol 9, No 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jekpend.v9i1.71314

Abstract

Probebaya merupakan program pemerintah daerah Kota Samarinda untuk melaksanakan kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan yang berbasis di wilayah RT sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat (probebaya) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kelurahan Pelita Kecamatan Samarinda Ilir Kota Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan wawancara kepada 9 Informan di Kelurahan Pelita. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat atau Probebaya telah berperan optimal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kelurahan Pelita Kecamatan Samarinda Ilir Kota Samarinda melalui beberapa aspek. Pertama, membantu memenuhi kebutuhan dasar dengan mengadakan bantuan sembako dan pemberian makan tambahan (PMT). Kedua, meningkatkan kualitas lingkungan dengan pengembangan infrastruktur dan fasilitas umum serta peningkatan keamanan lingkungan. Ketiga, mengembangkan kemampuan masyarakat dengan penyediaan pelatihan keterampilan atau skill dan peluang kerja. Keempat, meningkatkan partisipasi dalam kehidupan sosial dengan mengadakan rembuk warga dan kerja bakti atau gotong royong. Kelima, menyediakan akses terhadap layanan sosial dasar berupa bantuan operasional posyandu, bantuan pembayaran BPJS dan bantuan perlengkapan anak sekolah.