Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MERESTORASI PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN IMAN DI PAROKI ST. PETRUS PARITI – SULAMU KEUSKUPAN AGUNG KUPANG Maria Hendritha Lidya Ngongo; Emilia Dolorosa Taek; Graciana Amanda Bele
Jurnal Abdimas Ilmiah Citra Bakti Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jailcb.v5i1.2725

Abstract

Pendidikan merupakan hal mendasar bagi setiap manusia. Setiap orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam pendidikan anak.Saat ini, banyak orang tua yang lebih sibuk bekerja untuk pemenuhan kebutuhan keluarga dan sering mengesampingkan tugas utama mereka sebagai pendidik iman dalam keluarga. Kebiasaan beribadah bersama dalam keluarga sudah jarang dilakukan akibat perkembangan IPTEK. Hal ini yang mendasar utama kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di wilayah Paroki St. Petrus Pariti – Sulamu Keuskupan Agung Kupang. Pemilihan mitra ini berdasarkan analisis situasi yang dilakukan oleh tim sebelum pengabdian dilaksanakan. Lokasi mitra ini pun masih termasuk dalam jangkauan wilayah Keuskupan Agung Kupang, sehingga sebagai lembaga yang menghasilkan profil lulusan pendidik dan Pembina iman umat, maka pendampingan kelompok kategorial khususnya keluarga-keluarga katolik juga menjadi tanggung jawab dari lembaga pendidikan STIPAS Keuskupan Agung Kupang.Tujuan kegiatan ini adalah untuk merevitalisasi peran dari orang tua dalam mendidik anak-anaknya, khususnya dalam hal pendidikan iman. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah gabungan antara pendidikan masyarakat dan SCP (Shared Christian Praxis) yang lebih menekankan pada pendekatan dialogal dan partisipatif, yang terdiri dari 3 tahapan yaitu tahap persiapan, pemaparan materi dan tahap evaluasi. Peserta yang mengikuti kegiatan tersebut terdiri dari orang tua, orang muda katolik dan anak-anak SEKAMI. Hasil dari kegiatan ini adalah peserta khususnya orang tua yang mengikuti kegiatanmenjadi paham akan tugas mereka sebaai pendidik pertama dan utama serta semakin termotivasi untuk mendampingi perkembangan iman anak-anak mereka.Pendampingan secara kontinyu, spiritualitas dan pastoral keluarga menjadi sangat penting dalam proses pendampingan dan penguatan para keluarga katolik di Paroki St. Petrus Pariti – Sulamu
Peran Keluarga Dalam Keputusan Perkawinan Pada Remaja Di Stasi Santo Matius Wologai Paroki Santo Yohanes Maria Vianey Pemo Yasinta; Gerardus B. Duka; Graciana Amanda Bele
Jurnal Media Informatika Vol. 7 No. 4 (2026): Edisi Juli - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkawinan usia remaja masih marak terjadi dan menimbulkan dilema kompleks akibat benturan antara ego remaja, otoritas orang tua, dan regulasi Gereja Katolik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam dinamika peran keluarga dan faktor lingkungan dalam pengambilan keputusan perkawinan pada remaja di Stasi Santo Matius Wologai, Paroki Pemo. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, peneliti bertindak sebagai instrumen utama dalam mengumpulkan data melalui wawancara mendalam terhadap 6 informan yang terdiri dari Pastor Paroki, orang tua, remaja, dan seksi keluarga stasi. Data yang diperoleh kemudian direduksi, dianalisis, dan divalidasi menggunakan literatur serta teori yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga memegang peran sentral sebagai pembentuk pola pikir dan penanam nilai moral-religius melalui bimbingan serta dukungan (moral, doa, nasihat, emosional, ekonomi, dan sosial). Faktor pendukung keputusan menikah meliputi kedekatan emosional pasangan, dorongan lingkungan sosial, dan kesiapan bekerja secara personal. Sebaliknya, faktor penghambat utama terdiri atas ketidaksiapan ekonomi, pendidikan yang belum tuntas, serta tuntutan adat berupa mahar (belis) yang membutuhkan biaya besar. Upaya pembinaan oleh keluarga dilakukan melalui komunikasi harian dan penanaman nilai iman serta adat, meskipun sering terhambat oleh keterbatasan waktu orang tua, pengaruh media sosial, dan sikap keras kepala remaja. Kesimpulannya, keputusan perkawinan remaja merupakan produk negosiasi yang rumit antara kesiapan internal keluarga, tekanan sosial lingkungan, dan hambatan kultural-religius. Penelitian ini berkontribusi dalam merancang peta resolusi pendampingan remaja yang lebih adaptif bagi pihak Paroki dan masyarakat adat setempat.
PERILAKU OVERPROTEKTIF ORANG TUA DAN PENYESUAIAN DIRI REMAJA: STUDI KUALITATIF DALAM PERSPEKTIF HUKUM KEEMPAT DEKALOG Leonardus Sina Werang Leonardus; Gerardus Bernardus Duka; Graciana Amanda Bele
IN VERITATE LUX Vol 9 No 2 (2026): IN VERITATE LUX: Jurnal Ilmu Kateketik Pastoral Teologi, Pendidikan, Antropologi,
Publisher : STP St. Bonaventura Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63037/ivl.v9i2.197

Abstract

Adolescent adjustment is a critical aspect of psychosocial development that is strongly influenced by parenting practices. One parenting style that may hinder this developmental process is overprotective parenting, which restricts adolescents' opportunities to develop independence and autonomy. This study aims to explore students' experiences of parental overprotective behavior, examine its implications for adolescent adjustment, and interpret these experiences from the perspective of the Fourth Commandment. A qualitative case study design was employed involving students of SMA Negeri 1 Nubatukan, NTT. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis and were analyzed thematically using source and method triangulation to enhance the credibility of the findings. The analysis identified five major themes: excessive parental control, limited opportunities for developing independence, increased anxiety and low self-confidence, difficulties in social adjustment, and the importance of religious values in fostering balanced family relationships. The findings indicate that excessive parental protection, although motivated by parental care and concern, may impede adolescents' autonomy and adjustment. From the perspective of the Fourth Commandment, the parent–child relationship is understood as a moral responsibility that requires a balance between honoring parents, providing loving guidance, and allowing adolescents sufficient freedom to mature into responsible and independent individuals.