Gerardus B. Duka
STIPAS Keuskupan Agung Kupang

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Makna Kreot Naitelunen (Sarung Tiga Lirang) Dalam Tradisi Perkawinan Suku Langawujo Di Desa Labalimut Kabupaten Lembata Marieta Ofelia Hekur; Gerardus B. Duka; Viktor Doddy Sau Sasi
Jurnal Media Informatika Vol. 7 No. 4 (2026): Edisi Juli - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jumin.v7i4.9278

Abstract

Perkawinan pada masyarakat Suku Langawujo berada di persimpangan bernilai penting antara hukum adat dan hukum agama. Secara adat, perkawinan disahkan melalui ritus materi kreot naitelunen atau Sarung Tiga Lirang. Sebagai umat Katolik, mereka juga wajib memenuhi aspek sakramental gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses Sarung Tiga Lirang sebagai pengikat perkawinan yang sah, memetakan relevansinya dengan perkawinan Katolik, serta menganalisis nilai-nilai budaya lokal yang sejalan dengan iman Katolik.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam bersama sepuluh informan utama dan dua informan pendukung dari kalangan tetua adat dan tokoh masyarakat. Data yang diperoleh kemudian direduksi untuk menyaring informasi yang relevan dan urgen dalam menjawabi tujuan penelitian. Setelah reduksi, data dianalisis secara tajam melaui kategorisasi tema, lalu ditarik kesimpulan akhir.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan berbasis Sarung Tiga Lirang merupakan proses budaya yang ketat melalui tahapan musyawarah adat, penentuan belis, hingga penyerahan fisik sarung sebagai simbol penghargaan tertinggi atas eksistensi perempuan dan persatuan keluarga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perkawinan adat berbasis kreot naitelunen memiliki keselarasan teologis-antropologis yang fundamental dengan model perkawinan Katolik. Keduanya memiliki konsep dasar yang sama mengenai kesatuan, kesetiaan, kemanunggalan yang harmonis, dan sifat perkawinan yang tidak terceraikan. Nilai-nilai luhur ini berhasil terintegrasi dan terinternalisasi dengan baik dalam kehidupan beriman masyarakat Suku Langawujo melalui pola pendidikan karakter dalam keluarga dan keteladanan sosial di tengah masyarakat umum.
Peran Keluarga Dalam Keputusan Perkawinan Pada Remaja Di Stasi Santo Matius Wologai Paroki Santo Yohanes Maria Vianey Pemo Yasinta; Gerardus B. Duka; Graciana Amanda Bele
Jurnal Media Informatika Vol. 7 No. 4 (2026): Edisi Juli - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkawinan usia remaja masih marak terjadi dan menimbulkan dilema kompleks akibat benturan antara ego remaja, otoritas orang tua, dan regulasi Gereja Katolik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam dinamika peran keluarga dan faktor lingkungan dalam pengambilan keputusan perkawinan pada remaja di Stasi Santo Matius Wologai, Paroki Pemo. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, peneliti bertindak sebagai instrumen utama dalam mengumpulkan data melalui wawancara mendalam terhadap 6 informan yang terdiri dari Pastor Paroki, orang tua, remaja, dan seksi keluarga stasi. Data yang diperoleh kemudian direduksi, dianalisis, dan divalidasi menggunakan literatur serta teori yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga memegang peran sentral sebagai pembentuk pola pikir dan penanam nilai moral-religius melalui bimbingan serta dukungan (moral, doa, nasihat, emosional, ekonomi, dan sosial). Faktor pendukung keputusan menikah meliputi kedekatan emosional pasangan, dorongan lingkungan sosial, dan kesiapan bekerja secara personal. Sebaliknya, faktor penghambat utama terdiri atas ketidaksiapan ekonomi, pendidikan yang belum tuntas, serta tuntutan adat berupa mahar (belis) yang membutuhkan biaya besar. Upaya pembinaan oleh keluarga dilakukan melalui komunikasi harian dan penanaman nilai iman serta adat, meskipun sering terhambat oleh keterbatasan waktu orang tua, pengaruh media sosial, dan sikap keras kepala remaja. Kesimpulannya, keputusan perkawinan remaja merupakan produk negosiasi yang rumit antara kesiapan internal keluarga, tekanan sosial lingkungan, dan hambatan kultural-religius. Penelitian ini berkontribusi dalam merancang peta resolusi pendampingan remaja yang lebih adaptif bagi pihak Paroki dan masyarakat adat setempat.
Mengkaji Makna Ritual Weda Rewa Tuke Mbaru dalam Hubungannya dengan Sakramen Perkawinan di Stasi Santo Fransiskus Xaverius Maras Dionisius Ombot; Gerardus B. Duka; Petrus Tamelab
Berkat : Jurnal Pendidikan Agama dan Katolik Vol. 3 No. 3 (2026): Agustus : Berkat: Jurnal Pendidikan Agama dan Katolik
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/berkat.v3i3.2301

Abstract

This study was motivated by a shift in public understanding of the *weda rewa tuke mbaru* ritual, which is often regarded as the complete validation of marriage, leading some couples to live together before receiving the Catholic Sacrament of Marriage. This study aims to examine the meaning of the *weda rewa tuke mbaru* ritual, identify the factors causing misconceptions about it, and analyze its relevance to Christian values and Catholic family life. A qualitative method with a descriptive approach was employed. Data were collected through structured interviews and documentation involving 11 informants, including a priest, traditional elders, the station leader, the Basic Ecclesial Community (KUB) leader, married couples, and a catechist at St. Francis Xavier Station, Maras. The findings indicate that the *weda rewa tuke mbaru* ritual symbolizes respect for women and their families, serves as formal recognition of the relationship between the bride and groom, and functions as a social and moral bond within the Manggarai customary marriage tradition. The ritual also reflects the values of fidelity, responsibility, and togetherness, which are consistent with the teachings of the Catholic Sacrament of Marriage. However, misconceptions remain, as some people consider the ritual sufficient justification for cohabitation without receiving the sacrament. These misconceptions are influenced by limited religious understanding, modernization, and inadequate pastoral guidance. The study concludes that the ritual remains relevant when understood as a customary tradition that supports, rather than replaces, the Catholic Sacrament of Marriage.
Peranan Komunikasi Sosial Menurut Inter Mirifica dalam Kehidupan Orang Muda Katolik di Kub Sta Maria dari Gunung Karmel Paroki Sta Maria Assumpta Susana Li; Gerardus B. Duka; Florens Maxi Un Bria
Berkat : Jurnal Pendidikan Agama dan Katolik Vol. 3 No. 3 (2026): Agustus : Berkat: Jurnal Pendidikan Agama dan Katolik
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/berkat.v3i3.2320

Abstract

This study aims to examine the role of social communication based on the Inter Mirifica document in the lives of Catholic Youth (OMK) at the Sta. Maria of Mount Carmel Parish, Sta. Maria Assumpta Kupang. The rapid development of digital communication media has significantly influenced the faith, social relationships, and pastoral participation of Catholic youth, creating both opportunities and challenges for the Church. This study employed a descriptive qualitative method. Data were collected through interviews, observation, and documentation involving Catholic Youth members, the Head of OMK, the Head of KUB, and the Parish Priest. The data were analyzed through data collection, reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that social media platforms, including WhatsApp, Instagram, Facebook, and YouTube, play an important role in facilitating communication, disseminating information about church activities, strengthening faith formation, and fostering relationships among community members. However, excessive use of social media may expose young people to content inconsistent with Christian values, reduce direct interpersonal communication, and weaken spiritual life. Therefore, the Church should strengthen pastoral guidance, digital literacy, and responsible social communication to help Catholic youth use digital media wisely, critically, and in accordance with Christian values.
Efektivitas Pastoral Keluarga dalam Menangani KDRT Akibat Alkoholisme di Stasi St. Petrus Nangarawa Patrisius Jani; Gerardus B. Duka; Aloysius E. Monteiro
Berkat : Jurnal Pendidikan Agama dan Katolik Vol. 3 No. 3 (2026): Agustus : Berkat: Jurnal Pendidikan Agama dan Katolik
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/berkat.v3i3.2492

Abstract

Domestic violence resulting from alcolism is a serious issue that impact the physical, psychological, social and spiritual well-being of families, while also threatning the integrity of the household. In this context, the Church plays a strategic role through family pastoral care in providing holistic support to famailies in crisis. This study aims to analyze the effectiveness of family pastoral care in addressing domestic violence caused by alcoholism, identify supporting and inhibiting factors, and formulate contextual pastoral recommendations. A qualitative approach was employed, with data collected through interviews, observation and documentation within of the Chapel of ease St. Peter Nangarawa (part of St. Joseph Kisol Parish, Diocese of Ruteng). The findings indicate that family pastoral care is reasonably effective in faciliting the recovery of victims through spiritual support, counseling and community involment, despite facing challenges such as limited resources, social stigma and a lack of awareness among perpetrators. The study underscores the importance of srenghtening the capacity of pastoral workers, fostering collaboration with various stakeholders and developing pastoral models that are more responsive and contextual in efforts to prevent and address domestic violence within the Church community.