Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Bakteri Coliform di Perairan Teluk Doreri, Manokwari Aspek Pencemaran Laut dan Identikasi Species Tresia Tururaja; Rina Mogea
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.341 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.1.47-52

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisa kualitas perairan Teluk Doreri berdasarkan kandungan bakteri pencemar golongan enterobakteriaceae dan menganalisa faktor lingkungan abiotik yang mempengaruhinya. Pengambilan contoh air dilakukan di perairan Teluk Doreri (pantai Pasir Putih, muara Sungai Sanggeng, Sungai Wosi, dan Sungai Andai). Penghitungan jumlah total E.coli dan coliform menggunakan metode Most Probable Number (MPN) sedangkan uji biokimia bakteri menggunakan media emba agar. Jenis bakteri yang ditemukan pada seluruh lokasi penelitian yaitu Escherichia coli, E. freundii, dan E. aerogenes. Berdasarkan jumlah total E. coli (460-2400 MPN/100 ml) dan coliform (2400 MPN/100 ml) menunjukkan bahwa perairan Teluk Doreri telah tercemar oleh fecal coli. Kata kunci :  bakteri pencemar, Teluk Doreri, Escherichia coli, E. freundii, E. aerogenes    The present study aims to analized the quality of water in Doreri Bay during by indentifying contaminat bacteria group enterobakteriaceae and several affecting environmental factors. Water samples were taken from several sites (i.e. Pasir Putih water, mouth of Sanggeng River, mouth of Wosi River and mouth of Andai River). Total number count of E. Coli and coliform by using Most Probable Number (MPN) method. Biochemical test for bacteria was conducted by using emba agar media. The results of the study showed that bacteria, Escherichia coli, E. freundii, and E. aerogenes were found in all samples from all sites. Based on total number of E.coli was 460-2400 MPN/100 ml and coliform was 2400 MPN/100 ml, in which these suggested that the Doreri Bay has been polluted. Key words :  contaminant bacteria, Doreri Bay, Escherichia coli, E. freundii, E. aerogenes
Diversifikasi Abon Ikan Tuna Madurasa Manokwari dalam Program PPPUD Tresia Sonya Tururaja; Mudjirahayu Mudjirahayu; Roni Bawole; Sarah Usman; Marthin Matulessy
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 12, No 2 (2021): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v12i2.6907

Abstract

Kabupaten Manokwari memiliki hasil perikanan yang sangat baik dimana jumlah tangkapan ikan tuna/ekor kuning (Thunnus albacares) mencapai 11.220 ton/tahun dengan nelayan tangkap 1561 orang. Ikan tuna adalah jenis tangkapan tertinggi dibandingkan dengan spesies ikan lainnya. Jumlah tangkapan ikan tuna di Kota Manokwari yang tinggi mendorong perusahaan CV. Madurasa (mitra Program Pengembangan Produk Unggul Daerah) untuk memproduksi abon ikan tuna. Adapun permasalahan yang dihadapi oleh mitra antara lain kurangnya informasi pasar, kapasitas produksi yang belum maksimal, perlunya inovasi IPTEKS berupa diversifikasi produk dan peningkatkan promosi untuk produk yang dihasilkan. Berdasarkan berbagai permasalahan yang timbul maka diinisasi untuk diadakan perbaikan melalui kegiatan Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD). Program ini bertujuan untuk diversifikasi produk berupa membuat produk abon ikan dengan 3 level kepedasan, penggantian kemasan, peningkatan jumlah produksi, pengembangan pasar ke beberapa kabupaten, peningkatan promosi secara langsung ataupun online. Metode pendekatan yang digunakan untuk mendukung realisasi program PPPUD adalah metode studi kasus. Sasaran kegiatan pelatihan dan pendampingan yaitu pemilik dan seluruh pegawai perusahaan CV Madurasa berjumlah 10 orang selama 4 bulan. Hasil yang diperoleh berupa diversifikasi abon tuna Madurasa telah dilaksanakan berupa produk abon ikan tuna dengan 3 level kepedasan yang berbeda. Kemasan produk juga dipakai lebih ekonomis, berukuran kecil dan berbentuk standing pouch. Pengembangan jangkuan pasar terbuka ke 3 kabupaten yaitu Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Pegunungan Arfak dan Kabupaten Teluk Bintuni. Peningkatan promosi secara langsung ataupun online telah dilaksanakan oleh tim PPPUD bersama mitra. Untuk kedepannya, diharapkan adanya pendampingan yang berkelanjutan terhadap mitra khususnya dalam pemasaran produk abon ikan tuna.
Sizing and scarring of whale shark (Rhincodon typus Smith, 1828) in the Cenderawasih Bay National Park Yusup A Jentewo; Roni Bawole; Tresia S Tururaja; Mudjirahayu Mudjirahayu; Zeth Parinding; Hendrikus R Siga; Muhammad Dailami; Abdul Hamid A Toha
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 21 No 3 (2021): October 2021
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v21i3.587

Abstract

This study aims to determine the total length and scar condition of the body of whale sharks (Rhincodon typus) in Cendrawasih Bay National Park (TNTC), Papua-Indonesia. Photo-identification was used to identify individuals of the whale shark R. typus based on spot patterns behind the last gill slit of each individual. Photo-identification was also used to determine the scar of the whale shark. The total length of whale sharks were estimated based on the length of a snorkeller (assumed to be 1.6 m) swimming alongside the whale shark. We identified 21 individuals of R. typus. Of these 21 individuals, 14 were new sightings and seven were re-sightings that have been recorded in the previous photo collection database. R. typus ranged in size from 2 to 5 m total length (average 3.78 m, ±0,86, N= 21). Based on their size, all individuals of whale shark were categorized as juvenile. 52% of R. typus identified had scars and 38 % were not and 10% were unknown. The majority of whale sharks had amputation (12 individuals) and abrasion (7 individuals) scars. Scars occurred most often on the caudal fin and dorsal fin, five and four individuals respectively. This information is useful for understanding potential threats and designing better management programmes for R. typus conservation in TNTC. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis panjang total dan kondisi luka hiu paus (Rhincodon typus) di Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC), Papua-Indonesia. Identifikasi foto digunakan untuk menentukan identitas individu hiu paus berdasarkan pola bintik di balik celah insang terakhir masing-masing individu. Identifikasi juga menggunakan foto berdasarkan luka hiu paus. Panjang tubuh total hiu paus diperkirakan berdasarkan panjang seorang perenang snorkel (diasumsikan 1,6 m) yang berenang bersama hiu paus. Kami mengidentifikasi 21 individu hiu paus, 14 individu diantaranya adalah hiu paus baru, sedangkan tujuh individu lainnya merupakan hiu paus yang pernah tercatat dalam database koleksi foto sebelumnya. Hiu paus berukuran panjang total 2 sampai 5 m (rata-rata 3,78 m, ± 0,86, N = 21). Berdasarkan ukurannya, semua individu hiu paus termasuk dalam kategori yuwana. Sebanyak 52% dari hiu paus yang diidentifikasi memiliki luka, 38% tidak memiliki luka dan 10% tidak teridentifikasi. Mayoritas hiu paus memiliki bekas luka potong (12 individu) dan luka lecet (tujuh individu). Lokasi luka paling sering terjadi pada sirip ekor dan sirip punggung, masing-masing lima dan empat individu. Informasi ini berguna untuk memahami potensi ancaman dan untuk merancang program pengelolaan yang lebih baik untuk konservasi R. typus di TNTC.
Zooplankton di Perairan Teluk Doreri, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat Alfret Roni Marani; Alianto Alianto; Vera Sabariah; Marhan Manaf; Tresia Sonya Tururaja; Safar Dody
Jurnal Kelautan Vol 15, No 2: Agustus (2022)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v15i2.14134

Abstract

ABSTRACTThis study aims to determine the abundance and composition of zooplankton in the waters of Doreri Bay. Water samples were taken at a depth of 5 meters and 10 meters at 2 research stations. Identification of zooplankton was carried out using the sweep method. The results obtained that the average abundance of zooplankton at station 1 at a depth of 5 and 10 meters respectively was 54 ind/L in the morning and 33 ind/L in the afternoon and 33 ind/L in the morning and 30 ind/L in the afternoon. On the other hand, the average abundance of zooplankton at station 2 at a depth of 5 meters and 10 meters consecutively was 61 ind/L in the morning and 67 ind/L in the afternoon and 81 ind/L in the morning and 66 ind/L in the afternoon. The number of zooplankton genera is 29 genera with a percentage of 32.41% in 1 genera (Nauplius sp.), 20.99% in 1 genera (Calanus sp.), 5-9% in 2 genera (Epiplocylis sp., and Euntintinnus sp.), 3-.5% in 3 genera (Arcelia sp., Rhabdonella sp., and Salpingella sp.), and 0-3% in 22 genera (Abarenicola sp., Amphorellopsis sp., Ascomorpha sp., Balanus sp., Codonellopsis sp., Cornutella sp., Cyphoderia sp., Evadne sp., Lecane sp.,  Lithotrobus sp., Notholca sp., Oikopleura sp., Paravafella sp., Penaeus sp., Pinctada sp., Pleuraspis sp., Protorhabdonella sp., Spiophanes sp., Tintinnidium sp., Tintinnopsis sp.,Trichocerca sp., and Undella sp.). Keywords: Abundance, compositon, zooplankton, Doreri Bay Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan komposisi zooplankton di perairan Teluk Doreri. Sampel air diambil pada kdalaman 5 meter dan 10 meter pada 2 stasiun penelitian. Identifikasi zooplankton dilakukan dengan menggunakan metode penyapuan. Hasil yang diperoleh rata-rata kelimpahan zooplankton di stasiun 1 pada kedalaman 5 dan 10 meter secara berturut-turut sebesar 54 ind/L pada pagi hari dan 33 ind/L di sore hari serta 33 ind/L di pagi hari dan 30  ind/L di sore hari. Rata-rata kelimpahan zooplankton di stasiun 2 pada kedalaman 5 meter dan 10 meter secara berturut-turut sebesar 61 ind/L di pagi hari dan 67 ind/L di sore hari serta 81 ind/L di pagi hari dan 66 ind/L di sore hari. Jumlah genera zooplankton adalah 29 genera dengan persentase 32,41% sebanyak 1 genera (Nauplius sp.),  20,99% sebanyak 1 genera (Calanus sp.), 5-9% sebanyak 2 genera (Epiplocylis sp., dan Euntintinnus sp.),  3-5% sebanyak 3 genera (Arcelia sp., Rhabdonella sp., dan Salpingella sp.), dan 0-3% sebanyak 22 genera (Abarenicola sp., Amphorellopsis sp., Ascomorpha sp., Balanus sp., Codonellopsis sp., Cornutella sp., Cyphoderia sp., Evadne sp., Lecane sp.,  Lithotrobus sp., Notholca sp., Oikopleura sp., Paravafella sp., Penaeus sp., Pinctada sp., Pleuraspis sp., Protorhabdonella sp., Spiophanes sp., Tintinnidium sp., Tintinnopsis sp.,Trichocerca sp., dan Undella sp.).Kata kunci: Kelimpahan, komposisi, zooplankton, Teluk Doreri
Komunitas Spons (Porifera) pada Ekosistem Terumbu Karang di Manokwari, Indonesia Nelly Sayori; Tresia S. Tururaja; Duaitd Kolibongso
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.14098

Abstract

Sponges are one of the most influential benthic organisms in coral reef ecosystems. Many studies on sponge communities have been carried out globally, from the tropics to the sub-tropics. However, in Indonesia, the sponge community has not been sufficiently observed, especially its diversity and interactions with habitats. Manokwari, a developing city north of the Bird's Head Seascape region, Papua has a lack of information on benthic communities and no reports of sponges. This study is to examine the sponge community (diversity and distribution) in coral reef ecosystem. This study found that sponge richness (species and morphology) was categorized as “low”, with only 11 species with 8 morphological forms. The most common species included Niphates erecta, Stylissa carteri, and Pseudoceratina purpurea, while the most common growth forms were massive and encrusting, accounting respectively for 27.3% and 18.2% of the total number of species. The highest diversity was found on the island of Kaki (5 species) with the island of Nusmapi having an uneven distribution of sponges. The results of our study found that there was no relationship between sponge diversity and morphology. This baseline information is essential for management of marine biodiversity hotspots in taking decisions for marine life conservation.  Spons merupakan salah satu organisme bentik yang paling berpengaruh dalam ekosistem terumbu karang. Banyak penelitian tentang komunitas spons telah dilakukan secara global, dari daerah tropis hingga sub tropis. Namun di Indonesia, komunitas spons belum cukup diamati, terutama keanekaragaman dan interaksinya dengan habitat. Manokwari, kota berkembang di utara dari wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB), Papua memiliki kekurangan informasi tentang komunitas bentik dan tidak ada laporan tentang spons. Studi ini untuk mengkaji komunitas spons (keanekaragaman dan distribusi) pada ekosistem terumbu karang. Penelitian ini menemukan kekayaan spons (spesies dan morfologi) yang dikategorikan “rendah”, dengan hanya 11 spesies dengan 8 bentuk morfologi. Spesies yang paling umum termasuk Niphates erecta, Stylissa carteri, dan Pseudoceratina purpurea, sedangkan bentuk pertumbuhan yang paling umum adalah massif dan encrusting dengan menyumbang masing-masing 27,3% dan18,2% dari total jumlah spesies. Keanekaragaman tertinggi ditemukan di pulau Kaki (5 spesies) dengan pulau Nusmapi memiliki sebaran spons tidak merata. Hasil penelitian kami menemukan tidak ada hubungan antara keanekaragaman spons dengan bentuk morfologi. Informasi dasar ini sangat penting untuk pengelolaan hotspot keanekaragaman hayati dalam perumusan keputusan untuk konservasi biota laut.
Penerapan Pakan Ikan Modifikasi Berbahan Baku Ampas Sagu di Kampung Udapi Hilir Kabupaten Manokwari Darma Santi; Tresia Sonya Tururaja; Jacson Victor Morin; Markus Heryanto Langsa
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 12, No 1 (2023): Mei
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v12i1.67652

Abstract

Potensi limbah pengolahan sagu berupa ampas sagu di daerah Manokwari Provinsi Papua Barat perlu terus digali untuk memberikan nilai tambah limbah sekaligus dapat memberikan peningkatan kesejahteraan bagi warga kampung, khususnya peternak lele. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak lele tentang pemanfaatan limbah di sekitar yang berpotensi sebagai bahan baku pakan alternatif. Selain itu, (2) mengetahui nilai pertumbuhan panjang mutlak, bobot mutlak dan tingkat kelangsungan hidup ikan lele serta kualitas air kolam uji. Metode dalam pengabdian ini dilakukan melalui kolam uji sebagai percontohan penerapan pakan menggunakan ampas sagu. Selain itu, dilakukan uji kualitas air kolam uji serta pengukuran bobot, panjang dan jumlah ikan hidup untuk mengetahui perkembangan ikan. Berdasarkan hasil pengamatan dan pendampingan yang telah dilakukan dapat disimpulkan terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani lele untuk memanfaatkan ampas sagu sebagai alternatif subtituen dedak. Nilai pertumbuhan bobot mutlak sebesar 2,02 gram atau sebesar 80,48%, dan nilai pertumbuhan panjang mutlak menunjukkan sebesar 2,17 cm atau sebesar 31,36%. Tingkat kelangsungan hidup ikan lele sebesar 88%. Kualitas air kolam menunjukkan parameter temperatur dan pH pada kisaran yang sesuai untuk pertumbuhan ikan, yaitu pada 27,5-28,5°C dan pH 7,02-7,51. Data hasil riset ini menunjukkan potensi ampas sagu sebagai substituen bahan baku pakan ikan lele. Kata kunci : ampas sagu;  pakan ikan; Udapi Hilir;  Manokwari
Total Cost Dan Net Profit Margin Usaha Abon Ikan Madurasa Provinsi Papua Barat Usman, Sarah; Bawole, Roni; Rahayu, Mudji; Tururaja, Tresia; Matulessy, Marthin
Jurnal Nusantara Aplikasi Manajemen Bisnis Vol 7 No 1 (2022): j
Publisher : UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/nusamba.v7i1.16486

Abstract

The purpose of the study is to see how much the total cost and net profit margin issued by the Madurasa abon business.The results of the study obtained a total cost of Rp. 7,041,850 using 14.6% fixed cost and 85.4% variable cost. Percentage of production costs not standardized or production Based on orders. NPM is 57.68%. This means that the profits obtained have the potential in the future. However, there is still a large allocation of variable costs. Where the variable cost should have a smaller value than the fixed cost. This means that in carrying out production and cost management, there is still no good standardization in terms of time and costs incurred.