Dudi Firmansyah
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK-IPB Univerity, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

TURBIN ANGIN MINI SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER ENERGI LISTRIK UNTUK LAMPU NAVIGASI PADA KAPAL PENANGKAP IKAN Dudi Firmansyah; Fis Purwangka; Budhi Hascaryo Iskandar
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 4 No. 2 (2020): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.4.2.149-158

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu (siang dan malam) terhadap besarnya kecepatan angin (km/jam) di daerah penelitian, mengetahui tipe angin berdasarkan kecepatan angin (km/jam) rata-rata di daerah penelitian menurut tabel skala Beaufort, mengetahui pengaruh jumlah 3 sudu dan 6 sudu pada turbin angin terhadap kecepatan putaran per menit (rpm) alternator, mengetahui perbandingan lama waktu pengisian baterai oleh turbin angin dengan 3 sudu dan 6 sudu, mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk menghidupkan rangkaian lampu LED. Penelitian ini dilakukan dengan metode percobaan, yaitu melakukan uji coba turbin angin dengan 3 sudu dan 6 sudu. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat dan analisis lanjut. Waktu (siang dan malam) memberikan pengaruh terhadap besarnya kecepatan angin. Turbin angin dengan 6 sudu menghasilkan kecepatan (rpm) alternator lebih besar dibandingkan dengan 3 sudu. Lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi ampere baterai sampai penuh dengan 3 sudu yaitu 1 jam 45 menit, sedangkan dengan 6 sudu waktu yang dibutuhkan hanya 1 jam 30 menit. Energi yang dihasilkan turbin angin mini dengan 6 sudu mampu untuk menghidupkan tiga buah rangkaian lampu LED (putih, merah, dan hijau) selama 125,6 jam atau sama dengan ± 5 hari. Kata kunci: turbin angin mini
Mini Wind Turbine as An Alternative of Electrical Energy Resources for Navigation Lamps on Fishing Vessel Dudi Firmansyah; Fis Purwangka; Budhi Hascaryo Iskandar
Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jisa.v6i1.3529

Abstract

This study aimed to determine the effect of time (day and night) on the amount of wind speed (km / h) in the study area, to know the type of wind based on average wind speed (km / h) in the study area according to Beaufort scale table, 3 blades and 6 blades on the wind turbine to rotation speed per minute (rpm) of the alternator, knowing the ratio of the battery charging time by wind turbines with 3 blades and 6 blades, knowing the time required to turn on the LED light circuit. This research was conducted by experimental method, which is conducting trials of wind turbine with 3 blades and 6 blades. Data analysis used was univariate, bivariate and advanced analysis. Time (day and night) gives influence to the amount of wind speed. Wind turbine with 6 blades produces a higher alternator (rpm) speed compared to 3 blades. The length of time required to charge the battery ampere to full with 3 blades is 1 hour 45 minutes, while with 6 blades it takes only 1 hour 30 minutes. The energy produced by a mini wind turbine with 6 blades is able to turn on three LED lights (white, red, and green) for 125.6 hours or equal to ± 5 days. Keyword: mini wind turbine
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK TANIN ASAL CHESNUT PADA SISTEM KEKEBALAN DARAH TIKUS (Rattus norvegicus): Effect of Addification Tannin Extract from Chesnut in Rat (Rattus norvegicus) Blood Imunity Tekad Urip Pambudi Sujarnoko; Dudi Firmansyah
Jurnal Sains Terapan : Wahana Informasi dan Alih Teknologi Pertanian Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Sains Terapan : Wahana Informasi dan Alih Teknologi Pertanian, Volume 1
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jstsv.12.1.66-73

Abstract

This study aimed to observe effect of tannin from chestnut extract on the immune system of rats. Tannin in chestnut easily hydrolyzed into sugar and phenol groups, this is very different with largely tannin from other plants which are more condensed. The phenol group in chestnut tannins increased the rat immune, because it is capable of being an antioxidant and antibacterial in the digestive and blood metabolism of rats. In this observation used 8 male adult rats with age more than 90 days. The first treatment is rat feeder without chesnut extract and the second treatment is rat feeder with 0.25% chestnut extract from dry matter of feed. This research was being tested with independent T-test method with 4 replication. The results of the study that the addition of 0.25% chestnut extract from dry matter had no effect on consumption and increased body weight, increased cell capacity of rats p<0.05, there was an increase in active cells p<0.01, and increased bacterial mortality of Salmonella pullorum in the blood test. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengamati pengaruh pemberian tanin dari ekstrak chesnut terhadap daya tahan tubuh tikus. Tanin pada chesnut merupakan senyawa yang mudah terhidrolisis menjadi gugus gula dan fenol, hal ini sangat berbeda dengan tanin pada beberapa tumbuhan yang lebih bersifat terkondensasi. Gugus fenol pada tanin chesnut diperkirakan dapat meningkatkan daya tahan tubuh tikus, karena mampu menjadi antioksidan dan antibakteri di dalam metabolisme pencernaan dan darah tikus. Pengamatan pada penelitian ini dilakukan pada 8 ekor tikus dewasa dengan umur lebih dari 90 hari yang diberi perlakuan berbeda. Perlakuan pertama adalah pemberian pakan tanpa ekstrak tanin chesnut dan perlakuan kedua adalah tikus dengan pakan yang ditambah ekstrak tanin chesnut sebanyak 0,25% dari bahan kering pakan. Rancangan analisis pada penelitian ini menggunakan uji T independent dengan 4 ulangan pada setiap perlakuan. Hasil penelitian penambahan 0,25% ekstrak chesnut dari bahan kering tidak berpengaruh terhadap konsumsi dan peningkatan bobot ternak, kapasitas sel tikus meningkat p<0,05, terjadi penambahan sel aktif p<0,01, dan meningkatnya kematian baketri Salmonella pullorum pada uji darah tikus yang dilakukan uji tantang.
INCOME OVER FEED COST (IOFC) PENGGEMUKAN SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) BERBASIS LIMBAH KEDELAI: Income Over Feed Cost (IOFC) Fatting of Peranakan Ongole (PO) Based on Soybeans Waste Dudi Firmansyah; Rudy Priyanto; Asnath M Fuah; I Komang Gede Wiryawan
Jurnal Sains Terapan : Wahana Informasi dan Alih Teknologi Pertanian Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Sains Terapan : Wahana Informasi dan Alih Teknologi Pertanian, Volume 1
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jstsv.12.1.74-80

Abstract

The use of soy bean waste is an alternative roughage feed for local cattle fattening based on concentrate, particularly in the dry season. This study aimed to examine the productivity and income over feed cost of PO cattle fattened using ration containing soybeans pod for 100 days. Twelve male PO cattle with an average age of 18 months and an initial live weight of 160,11±19,1 kg were used in this study. They were allotted to four different ration treatments, including R1 (30% native grass +70% concentrate ration), R2 (15% native grass + 15% soybean pod + 70% concentrate ration), R3 (30% soybean pod + 70% concentrate ration) and R4 (30% soybean pod silage + 70% concentrate ration). The observed parameters comprised feed cost, cattle revenue, and IOFC. The results showed that the PO cattle fattening on 70% concentrate + 30% soybean pod silage (R4) gave the highest IOFC since they had the highest productivity during fattening. ABSTRAKAmpas kedelai dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif penggemukan sapi lokal berbasis konsentrat terutama pada musim kemarau. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui produktivitas dan nilai pendapatan berdasarkan biaya pakan atau IOFC sapi PO yang digemukan menggunakan ransum yang mengandung polong kedelai selama 100 hari. Dua belas ekor sapi PO jenis kelamin jantan dengan umur 18 bulan dan bobot hidup bakalan awal 160,11±19,1 kg digunakan dalam penelitian ini. Sapi PO ini diberikan empat perlakuan ransum yang berbeda, antara lain R1 (30% rumput +70% ransum konsentrat), R2 (15% rumput + 15% polong kedelai + 70% konsentrat ransum), R3 (30% polong kedelai + 70% ransum konsentrat) dan R4 (30% silase polong kedelai + 70% konsentrat ransum). Peubah yang diamati pada penelitian ini meliputi biaya pakan, pendapatan ternak dan IOFC. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini bahwa penggemukan sapi PO pada perlakuan penggunaan konsentrat 70% + silase polong kedelai (R4) 30% memberikan IOFC tertinggi karena memiliki produktivitas tertinggi selama penggemukan.