Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Antara Efikasi Diri Dan Stres Kerja Pada Guru SLB Daerah Tapanuli Bagian Selatan Bunga Faramita Siregar; Ayudia Popy Sesilia
JURNAL ISLAMIKA GRANADA Vol 3, No 1 (2022): ISLAMIKA GRANADA SEPTEMBER
Publisher : Granada El-Fath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/ig.v3i1.99

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara efikasi diri dan stres kerja pada guru SLB daerah Tapanuli Bagian Selatan di 3 daerah berbeda yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padangsidimpuan, dan Kabupaten Padang Lawas Utara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, subjek penelitian adalah guru di SLB Angkola Timur, SLB Padangsidimpuan, SLB Padang Lawas Utara. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 56 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan nonprobability sampling dengan menggunakan teknik total sampling. Analisis dalam penelitian program komputer IBM SPSS 24. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan mtode survey. Nilai reliabilitas dari skala efikasi diri sebesar 0,800 dan skala stres kerja sebesar 0,684. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan negatif antara efikasi diri dan stres kerja pada guru SLB daerah Tapanuli Bagian Selatan dengan (r) sebesar -0,608 dan p = 0,001 (p0,05).
Literasi Keuangan Sebagai Wadah Self Control Kelompok Tani Desa Jati Kesuma Rana Fathinah Ananda; Ayudia Popy Sesilia; Yusnaini
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 3 No. 2.2 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara
Publisher : Cv. Utility Project Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.266 KB)

Abstract

Literasi keuangan merupakan suatu pengetahuan mengenai keputusan keuangan dalam rangka memperoleh kesejahateraan yang penting dipelajari oleh individu atau kelompok untuk meningkatkan self control. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berlokasi di Desa Jati Kesuma. Umumnya masyarakat disana berprofesi sebagai petani dan peternak yang masih kurang dalam memahami pelaporan keuangan unit usaha bagi para petani dan peternak sehingga mengalami kesulitan dalam menganalisis usaha mereka sendiri dan kurang mampu melakukan self control keuangan unit usahanya. Sehingga perlu dilakukan kegiatan dalam rangka meningkatnya pengetahuan, kesadaran, dan motivasi masyarakat terkait bagaimana membuat laporan keuangan sederhana dan mengelola self control untuk keberlangsungan usaha mereka masing-masing. Dalam hal ini, metode pendekatan yang dilakukan dalam program kegiatan pengabdian ini adalah model pemberdayaan dan pendampingan, yang dimulai dari tahap persiapan, assesment, perencanaan program atau kegiatan, pemformulasian rencana aksi, dan pelaksanaan (implementasi) program atau kegiatan. Dari hasil kegiatan, maka solusi yang diberikan yaitu media belajar berupa contoh format laporan keuangan sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan unit usaha di bidang pertanian dan peternakan masyarakat Desa Jati Kesuma.
USING LEAST TO MOST PROMPTING TECHNIQUES TO DECREASE NON-COMPLIANCE BEHAVIOR IN EARLY CHILDHOOD Adelin Australiati Saragih; Ayudia Popy Sesilia
Jurnal Scientia Vol. 12 No. 01 (2023): Education, Sosial science and Planning technique
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was based on an early childhood who showed non-compliance behavior when participating in learning activities at school. The child often avoids instructions or rules given by the teacher and chooses to do activities that are different from the activities in which he is supposed to participate. The child preferred to play alone instead of doing the tasks that the teacher gives. The inconsistency of the application of regulations at school and home makes child confused and uncomfortable so this can form behavior that does not comply with the rules. This research is an experimental study using a single-subject design with reference to pre-test and post-test measurements of the interventions provided. The interventions given to child use a behavioral approach, namely by using the least to most prompting. Based on the results of the study, it was found that there were changes in behavior shown by child before and after carrying out the least to most prompting procedures. The child have begun to follow the instructions given by the teacher and follow learning activities consistently after being given interventions in the form of least to most prompting.
SELF EFFICACY AND WORK STRESS IN SPECIAL EDUCATION TEACHER Ayudia Popy Sesilia; Adelin Australiati Saragih
Jurnal Scientia Vol. 12 No. 01 (2023): Education, Sosial science and Planning technique
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Special teachers face various kinds of children with special needs, such as down syndrome, autism, and other emotional disabilities, causing teachers to experience chronic fatigue and stress. Teachers who teaching students with emotional disorders showed higher fatigue than those teaching students with intellectual disorders. The causes of educator stress in general are problems related to personal and classroom environment such as high workload and poor teaching conditions which trigger to low self-efficacy. Teachers with low self-efficacy show a greater tendency to leave work than teachers with higher self-efficacy. Educators with low self-efficacy influence enhance work stress level. This research aims ti study the effect of self efficacy on work stres in special education teacher. This research used quantitative approach with survey collecting data. The participants in this study were 84 special teachers from three special need schools. 87% female and 13% male teachers. The average age of teachers is 31 years old. Range of the tenure from 1- 27 years with an average of 21 years. The researcher collected data twice, work stress and self-efficacy scale in different time. Data analysis used regression analysis. The results showed a negative and significant effect of self-efficacy on job stress (b = -.39; p <.01) thus research hypotheses is accepted. Self-efficacy is important because it plays a role in how individuals understand themselves and believe in something that may and may not be achieved in their life.
Workload and Burnout Among Urban Delivery Couriers: Evidence from the Indonesian Logistics Sector Doli Maulana Gama Samudera Lubis; Sairah Sairah; Ayudia Popy Sesilia
About the Journal Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26201

Abstract

The rapid expansion of the logistics industry has intensified job demands for courier workers, increasing their vulnerability to burnout. This study examines the relationship between workload and burnout among couriers at PT. JNE Express Main Branch in Medan, Indonesia. A quantitative correlational design was employed using total sampling, involving 93 couriers. Data were collected using a 29-item Workload Scale and a 32-item Burnout Scale based on Maslach’s framework. Reliability analysis indicated high internal consistency (α = .888 for workload; α = .928 for burnout). Pearson product–moment correlation analysis revealed a strong positive relationship between workload and burnout (r = .733, p < .001), with workload explaining 53.8% of the variance in burnout (r² = .538). Although descriptive findings indicated that both workload and burnout were at relatively low levels, the strong correlation suggests that even small variations within these low levels are associated with substantial increases in burnout, indicating a structurally sensitive relationship between job demands and employee well-being. This study contributes to the literature by demonstrating that workload operates as a dominant and multidimensional predictor of burnout within the underexplored courier sector, particularly in a developing country context. These findings extend the applicability of the Job Demands–Resources (JD-R) model by highlighting the sensitivity of burnout risk even under moderate demand conditions. Practically, the results underscore the importance of proactive workload management, as incremental increases in job demands may significantly elevate psychological risk.Pesatnya perkembangan industri logistik telah meningkatkan tuntutan kerja bagi kurir, yang berpotensi meningkatkan risiko burnout. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara beban kerja dan burnout pada kurir di PT. JNE Express Cabang Utama Medan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan teknik total sampling yang melibatkan 93 kurir. Data dikumpulkan menggunakan Skala Beban Kerja sebanyak 29 item dan Skala Burnout sebanyak 32 item yang diadaptasi dari kerangka Maslach. Hasil uji reliabilitas menunjukkan konsistensi internal yang tinggi (α = 0,888 untuk beban kerja; α = 0,928 untuk burnout). Analisis korelasi product moment Pearson menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat antara beban kerja dan burnout (r = 0,733, p < 0,001), dengan beban kerja menjelaskan 53,8% varians burnout (r² = 0,538). Meskipun hasil deskriptif menunjukkan bahwa beban kerja dan burnout berada pada kategori relatif rendah, kekuatan korelasi tersebut mengindikasikan bahwa variasi kecil dalam tingkat beban kerja tetap berkaitan dengan peningkatan burnout yang signifikan, sehingga mencerminkan hubungan yang sensitif secara struktural antara tuntutan kerja dan kesejahteraan psikologis karyawan. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menunjukkan bahwa beban kerja merupakan prediktor dominan dan multidimensional terhadap burnout pada sektor kurir yang masih relatif kurang diteliti, khususnya dalam konteks negara berkembang. Temuan ini memperluas penerapan model Job Demands–Resources (JD-R) dengan menekankan sensitivitas risiko burnout bahkan pada kondisi tuntutan kerja yang moderat. Secara praktis, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan beban kerja secara proaktif, karena peningkatan kecil dalam tuntutan kerja dapat secara signifikan meningkatkan risiko psikologis.