Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PELAKSANAAN ULTRASOUND DAN TERAPI LATIHAN PADA KASUS TRINGGER FINGER Miftahul Jannah; Lisa Agustina; Fauziah Fauziah
Jurnal Real Riset Vol 4, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Jurnal Real Riset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of ultrasound on reducing pain in the trigger finger and to determine the benefits of exercise therapy with free active exercise and resisted exercise on increasing muscle strength, increasing joint range of motion, increasing activity daily living (ADL) and functional ability of the hand on the trigger finger. This research is a qualitative research with a case study design. The subject of this study is one person, namely the patient who has a disorder. Data were obtained by conducting interviews and performing ultrasound actions. The results showed that after performing physiotherapy intervention with ultrasound modalities and exercise therapy in reducing pain, and increasing the range of motion of the joints 6 times, the results of the assessment of silent pain were T1: 2 to T6: 0, tenderness T1: 5 became T6: 2, motion pain T1: 4 to T6: 2. So it can be concluded that the administration of ultrasound modalities and exercise therapy can reduce pain, and increase the range of motion of the joints. There are several factors that drive the healing, namely: 1. It must be done in good condition so that it can provide a therapeutic effect as expected, 2. High motivation to recover from the patient.Keywords: ultrasound, exercise therapy, trigger finger
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Stress Terhadap Beban Kerja Dosen di Universitas Muhammadiyah Aceh Sri Alna Mutia; Nila Kusma; Lisa Agustina; Nisrina Hanum
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.50971

Abstract

Stres kerja merupakan kondisi yang dapat memengaruhi produktivitas dan kinerja dosen di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada dosen Universitas Muhammadiyah Aceh. Penelitian menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional terhadap 155 dosen yang telah mengisi kuesioner menggunakan google form. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik dosen (umur, jenis kelamin, pendidikan, masa kerja) dan kondisi pekerjaan (jumlah SKS, beban kerja, gaji), sedangkan stres kerja diukur menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan signifikan dengan stres kerja adalah jenis kelamin (p=0,008; OR=2,50; 95% CI: 1,27–4,92), masa kerja (p=0,040; OR=0,47; 95% CI: 0,23–0,96), jumlah SKS (p=0,012; OR=2,28; 95% CI: 1,20–4,31), dan beban kerja (p=0,001; OR=3,33; 95% CI: 1,65–6,71), sedangkan umur, pendidikan, dan gaji tidak berhubungan signifikan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa beban kerja merupakan faktor paling dominan terhadap stres kerja dosen (OR = 3,87; 95%CI = 1,81 – 8,25; p-value = 0,000). Disimpulkan bahwa dosen dengan beban kerja tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami stres kerja, sehingga diperlukan strategi manajemen beban kerja dan dukungan kelembagaan untuk mengurangi dampak stres pada dosen.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Cerebral Palsyspastik Kuadriplegi Lisa Agustina; Amelia Fadlina; Farizal Ismi; Nila Kusma
Science: Indonesian Journal of Science Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/science.v1i3.95

Abstract

Cerebral palsy atau sering juga disebut dengan (CP) adalah kondisi kelumpuhan otak yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Problematika yang sering dialami yakni kelemahan atau gangguan seperti kelemahan pada otot, hypertonus, adanya gangguan pada gerakan motorik kasar, adanya gangguan pada fungsional aktivitas kehidupan sehari-hari dan keterlambatan tahapan tumbuh kembang motorik, gangguan komunikasi psikosialisasi dan adaptasi terhadap lingkungan sekitarnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Cerebral Palsy Spastik Kuadriplegi. Metode penelitian ini studi kasus, mengangkat kasus pasien mengumpulkan data melalui proses Fisioterapi. Modalitas yang diberikan berupa latihan Bobath Exercise. Hasil setelah dilakukan terapi sebanyak empat kali didapatkan hasil adanya penurunan spastisitas otot, serta tidak adanya perubahan pada kemampuan fungsional pada sibayi. Saran penelitian: agar kedepannya selalu menggunakan program latihan bobath exercise untuk menurnkan spastisitas otot pada penderita cerebral palsy.    
Penatalaksanaan Fisoterapi pada Post Open Reduction Internal Fixation (ORIF) Fraktur Tibia Nila Kusma nila; Lisa Agustina; Alifah Aliana
Science: Indonesian Journal of Science Vol. 1 No. 5 (2025)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/science.v1i5.195

Abstract

Fraktur atau patah tulang merupakan suatu kondisi terputusnya kontinuitas yang normal dari suatu jaringan tulang. Fraktur atau patah tulang dapat disebabkan oleh kecelakaan, baik itu kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas, trauma/ruda paksa atau tenaga fisik, dan sebagainya yang ditentukan oleh jenis dan luasnya fraktur. Tujuan penelitian untuk mengetahui manfaat static contraction dalam meningkatkan kekuatan otot, manfaat passive exercise dalam meningkatkan lingkup gerak sendi, manfaat partial weight bearing dalam meningkatkan kemampuan fungsional, mengetahui manfaat penyusunan rencana tindakan fisioterapi, mampu memberikan dan mengevaluasi tindakan fisioterapi pada kasus fraktur tibia distal. Instrument penelitian pengukuran nyeri menggunakan Visual Analog Scale (VAS). Pengukuran kekuatan otot menggunakan Muscle Manual Testing (MMT) dan pengukuran lingkup gerak sendi menggunakan Goniometer. Metode Penelitian ini bersifat studi kasus, mengangkat kasus pasien dan mengumpulkan data melalui proses fisioterapi. Intervensi yang dilakukan pada kasus ini yaitu terapi latihan berupa static contraction, passive movement dan latihan berjalan menggunakan kruk. Hasil penelitian setelah dilakukan fisioterapi sebanyak enam kali didapatkan hasil adanya pengurangan rasa nyeri, peningkatan kekuatan otot dan peningkatan lingkup gerak sendi. Terapi latihan berupa static contraction, passive movement dan latihan berjalan partial weight bearing menggunakan kruk yang diberikan pada pasien dapat mengurangi rasa nyeri, meningkatan kekuatan otot dan meningkatkan lingkup gerak sendi. Saran diharapkan pada pasien agar mengulangi latihan yang disarankan fisioterapi untuk dilakukan dirumah.
Pelaksanaan Fisioterapi Pada Pasien Coronary Artery Disease (CAD) Post Percutaneous Coronary Intervention (PCI) Amelia Fadlina; Lisa Agustina; Furqan Mulana
Science: Indonesian Journal of Science Vol. 1 No. 5 (2025)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/science.v1i5.197

Abstract

Coronary Artery Disease (CAD) merupakan suatu gangguan fungsi jantung yang disebabkan karena otot miokard kekurangan suplai darah akibat adanya penyempitan arteri koroner dan tersumbatnya pembuluh darah jantung. PCI merupakan tindakan minimal invasif dengan melakukan pelebaran dari pembuluh darah koroner yang menyempit dengan balon dan dilanjutkan dengan pemasangan stent (gorong-gorong) agar pembuluh darah tersebut tetap terbuka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Penatalaksanaan Fisioterapi pada Pasien Coronary Artery Disease (CAD) Post Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dengan menggunakan modalitas fisioterapi, Static Cycle Exercise dan Latihan treadmill exercise. Metode Penelitian sini bersifat studi kasus pasien mengumpulkan data melalui proses Fisioterapi. Modalitas yang diberikan pada pasien berupa Static Cycle Exercise yang dilakukan 3 kali dan Treadmill Exercise yang dilakukan 3 kali terapi. Hasil Evaluasi: Setelah dilakukan terapi sebanyak 3 kali didapatkan adanya hasil penurunan nyeri menggunakan Vas dan evaluasi sesak napas menggunakan Skala Borg.