Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

DIMENSI KEILAHIAN SUNDA WIWITAN DALAM UPACARA SEREN TAUN DI CIGUGUR Willfridus Demetrius Siga; Kurniasih . .; Alfonsus . Sutarno; Bartolomeus . Samho; Valerianus Beatae Jehanu
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 2 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 2, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i2.20994

Abstract

Local religions in Indonesia are generally perceived as culture, not religion. The local religious tradition that existed before the world religion was seen as something with a profane dimension, not sacred. As a result, the divine dimension of local religion is denied. This ethnographic research aims to reveal the divinity dimension of local religion by taking a case study of the local religion of Sunda Wiwitan in Cigugur, Kuningan, West Java. The divine dimension of Sunda Wiwitan can be found in a special way in the entire series of Seren Taun ceremonies, namely the thanksgiving ceremony for the harvest as well as the Sunda Wiwitan religious holiday. In prayers, sacred places and times, ritual materials, music, songs and mantras, ceremonial clothing, performers, and sacred figures all manifest the existence of a supernatural figure (God). The dimension of divinity depicted in the local Sunda Wiwitan religion is very relevant and significant for developing an inclusive and appreciative attitude towards the diversity of religious traditions in Indonesia. With it, the promotion of peace and inter-religious harmony is also possible to construct.
Suara Feminis Muslim pada Akun Instagram Kalis Mardiasih: Sebuah Analisis Feminisme Pascakolonial Kurniasih Kurniasih
Seminar Nasional Penelitian dan Abdimas Vol 2 No 1 (2024): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/senapas.v2i1.9266

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi digital telah melahirkan diskusi panjang mengenai aktivisme digital, terutama berkaitan dengan politik di Indonesia. Tak terkecuali gerakan feminis Indonesia turut masuk kedalam ruang-ruang digital untuk memperluas penyebaran kesadaran akan kesetaraan gender. Namun demikian, diskusi mengenai fenomena aktivisme feminis Islam di ruang digital atau pada situs jejaring masih terbatas. Padahal meluasnya penggunaan teknologi digital yang berbasiskan pada media sosial telah merambah ke berbagai pelosok daerah, budaya serta agama. Konten atau materi yang disajikan secara spesisik di media sosial tidak lantas berwajah positif saja tetapi berbagai kasus yang membahayakan jiwa perempuan pun ikut masuk di dalamnya. Eksploitasi yang mengarah pada kekerasan seksual seperti KDRT, perdagangan perempuan, pelecehan seksual berbasis gambar dan video dan sejumlah kasus lainnya hadir melalui akun-akun yang menggunakan platform media sosia. Kasus-kasus kekerasan seksual berbasis media digital berbeda dengan yang terjadi secara langsung yang tanpa melibatkan teknologi. Atas dasar kebutuhan pertolongan dan edukasi kesetaraan gender yang semakin kompleks juga telah mendorong para aktivis feminis, lintas generasi, lintas agama dan lintasdaerah untuk ikut terlibat di dalamnya. Dengan menggunakan metode penelitian observasi konten posting, penelitian ini akan menyoroti konten akun aktivis kesetaraan gender muslim di media sosial yaitu Instagram yang dikelola oleh feminis muslim, Kalis Mardiasih.
Pelatihan Pengembangan Media Ajar Berbasis Multimodal kepada Guru-Guru SD Santa Melania, Bandung, Jawa Barat Asnita Sirait; Kristining Seva; Maria Widyarini; JH. Fandi Gilar Saputro Saputro; Kurniasih Kurniasih
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5 No 4 (2025): JPMI - Agustus 2025
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.3687

Abstract

Penggunaan media ajar dapat meningkatkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Namun, tidak semua media ajar tersedia atau tidak mengikuti perkembangan materi. Dari hasil analisis kebutuhan yang dilakukan sebelum pengabdian di sekolah mitra, SD Santa Melania, Bandung, Jawa Barat, mitra mengalami keterbatasan media ajar dan kurangnya pendampingan dalam pengembangan media yang sesuai dengan perkembangan teknlogi. Tujuan Abdimas ini adalah untuk memberikan pendampingan kepada guru-guru SD Santa Melania dalam pengembangan media ajar berbasis multimodal untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui interaksi, motivasi, dan kreativitas siswa dan guru. Pelatihan media berbasis multimodal mengaplikasikan teori Kress dan Lewin (2001) yang merujuk pada cara orang berkomunikasi menggunakan modes yang berbeda pada saat bersamaan. Pelatihan menggunakan pendekatan partisipasi aktif, orientasi kegiatan, pendekatan program, dan pendekatan kemandirian.  Pelatihan dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu (1) identifikasi karakter pelajar (sebagai acuan pengembangan media), (2) pengantar multimodal semiosis (eksposur pendekatan mutakhir yang bisa diterapkan dalam kelas), (3) pelatihan multimodal melalui pendekatan teknik mengajar, (4) brainstorming media melalui observasi kebutuhan siswa di kelas, (5) pelatihan STEAM, (6) pelatihan kreativitas multimodal, perancangan dan desain media.  Hasil dari pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman guru dalam kombinasi media multimodal seperti audio dan visual dalam pembelajaran dan peningkatan kreativitas guru dalam mendesain media ajar seperti flashcards dan poster.
Honour Atau Horor: Representasi Tubuh Perempuan Dalam Sinema Indonesia Alfonsus Sutarno; Kurniasih Kurniasih; Topik Mulyana
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 01 (2025): 2025 JUNI
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i01.9565

Abstract

Artikel ini mengkaji representasi tubuh perempuan dalam tiga sinema horor Indonesia karya Joko Anwar, yaitu Pengabdi Setan (2017), Perempuan Tanah Jahanam (2019), dan Ratu Ilmu Hitam (2019) yang menempatkan tubuh perempuan dalam dimensi honour (pesona) dan horor (teror). Dalam perspektif fenomenologi agama (Eliade, Otto), teori monstrous feminine (Creed), dan maternal horror (Winda), artikel ini mendeskripsikan bagaimana tubuh perempuan berperan sebagai hierofani yang memunculkan mysterium tremendum et fascinans, simbol pengorbanan, manifestasi kekuatan gaib, dan representasi ambivalensi dalam kosmologi Jawa. Kajian tekstual dan sinematografi mengungkapkan dialektika antara patriarki, trauma kolektif, dan resistensi. Relevansi kajian ini terletak pada kontribusinya pada studi gender dan kultur di Indonesia, di mana narasi horor dalam sinema Indonesia merefleksikan dan membentuk persepsi publik mengenai jati diri perempuan. Tubuh perempuan ditarik dalam dua kutub paradoksal, antara yang sakral dan profan; antara honour dan horor.