Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Acara Makan dalam Kultur Masa Kini dan Ekaristi Fandi Gilar Saputro
Studia Philosophica et Theologica Vol 21 No 2 (2021)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v21i2.346

Abstract

Peristiwa makan adalah moment berharga bagi manusia. Makan bukan hanya peristiwa memasukkan makanan ke dalam mulut namun lebih dari itu peristiwa makan memiliki makna yang mendalam antara lain sebagai interaksi sosial dan identitas kultural. Makan adalah kegiatan sehari-hari yang selalu dilakukan manusia. Untuk bertahan hidup manusia harus makan. Seiring berjalannya waktu peristiwa makan bukan sekadar untuk mengenyangkan perut tapi juga suatu simbol untuk merayakan peristiwa penting. Bahkan dalam Kitab Suci banyak peristiwa iman yang ditandai dengan peristiwa makan. Peristiwa makan ini dimaknai sebagai moment perjumpaan kehidupan. Dalam tradisi Kristiani kita juga menemukan tradisi perjamuan ilahi yakni Ekaristi. Inti dari perayaan Ekaristi adalah ‘makan’ Tubuh dan Darah Kristus yakni yang disebut dengan Hosti dan Anggur. Segala bentuk aktivitas makan dalam kehidupan manusia dapat berdaya guna dan dapat membantu manusia memakani hidupnya dengan lebih mendalam. Untuk itu buah pemikiran dari teologi makan sangat dibutuhkan agar proses pencarian makna terdalam dari peristiwa makan pada kultur masa kini dan Ekaristi dapat ditemukan. The occasion of eating is considered a precious moment for all people. Eating is not just a regime of putting food into the mouth, but rather than that, it is of deeper significance. Eating has means of social interaction and also of cultural identity. It is a day to day regular everyone committed to. In order to survive, humans are obliged to eat. As history went by, eating is not just an act of satiating the gut, but also marking significant events. In the Bible, numerous events of faith are celebrated through eating. To eat is to attend a life encounter. In Christian traditions, we understand that the Eucharist is a divine form of eating. The core of the Eucharist is to 'eat' the Corpus and Blood of Christ which is present in the Host and Wine. Any kinds of eating there is, shall give empowerment to help humans understand their lives more deeply. Thus, the fruit of the idea of the theology of eating is required to seek deepest eloquence from the occasion of eating in present culture and the Eucharist, shall be found.
Implementasi Kemampuan Berpikir Kritis dan Pemahaman Inklusi Sosial dalam Konteks Kebhinekaan di Sekolah Siga, Willfridus Demetrius; Seva, Kristining; Saputro, Jh. Fandi Gilar
TEMALI : Jurnal Pembangunan Sosial Vol. 6 No. 2 (2023): Temali: Jurnal Pembangunan Sosial
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jt.v6i2.29437

Abstract

Program Sekolah Penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter. Tulisan berdasarkan pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk mendorong para siswa memiliki kemampuan berpikir kritis dan pemahaman tentang inklusi sosial yang relevan. Kegiatan di SMA Santa Maria 1 Bandung ini berniat  untuk membentuk masyarakat yang siap menerima perbedaan hingga pada level pola pikir, memiliki kemampuan berdialog, dan memiliki kemampuan bertukar pikiran secara terbuka. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini meliputi tahap binding, bonding dan bridging (3B). Para penulis yang berperan sebagai fasilitator dan pendamping bersama para guru membuat rancangan modul yang mendukung pembangunan perdamaian, memperkuat hubungan yang adil dan mempromosikan kohesi sosial, sebagai bentuk komitmen dan aksi nyata dalam membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan berkelanjutan. Modul yang dikembangkan, juga sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang memberi penekanan pada perwujudan Profil Pelajar Pancasila, yakni Berkebhinekaan Global, Bernalar Kritis, dan Kreatif. Para siswa diharapkan mejadi duta perdamaian dan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat mulai dari kemampuan mengenal diri sebagai orang muda yang memiliki kekuatan, menyadari diri sebagai bagian dari komunitas sosial, kemampuan mengidentifikasi isu-isu sosial, merencanakan aksi sebagai agen perdamaian, dan aksi untuk memperkuat kohesi sosial. Modul pendampingan yang dihasilkan tidak hanya berdampak bagi siswa SMA Santa Maria 1 tetapi juga dapat diimplementasikan kepada semua SMA di bawah naungan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) di Jawa Barat dan direplikasi atau menjadi rujukan sekolah lain.
Membaca Pemikiran Victor Frankl Dalam Konflik Timor Leste Saputro, JH Fandi Gilar; Rahayu, Tri
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 01 (2025)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i01.9578

Abstract

Tulisan ini berupaya menggali relevansi pemikiran Viktor E. Frankl, khususnya logoterapi dan pencarian makna dalam penderitaan, terhadap konflik dan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Timor Leste. Dengan pendekatan filosofis-eksistensial, penelitian ini membaca ulang pengalaman kolektif masyarakat Timor Leste, baik dalam masa pendudukan maupun pasca-kemerdekaan, melalui pemikiran Frankl, yang menekankan bahwa manusia tetap memiliki kebebasan batin untuk memberi makna pada penderitaannya. Konflik Timor Leste tidak hanya menyisakan luka sejarah, tetapi juga menyimpan potensi untuk penemuan makna eksistensial di tengah keterpurukan. Dengan merujuk pada prinsip-prinsip logoterapi, tulisan ini menunjukkan bagaimana individu dan komunitas di Timor Leste dapat mengubah penderitaan menjadi kekuatan batin, dan trauma menjadi kekuatan transformatif dalam membangun rekonsiliasi dan kemanusiaan. Studi ini berkontribusi pada pemahaman lintas-disiplin antara psikologi eksistensial dan studi konflik, serta menawarkan pendekatan spiritual-humanistik dalam merawat luka bangsa.
Pelatihan Pengembangan Media Ajar Berbasis Multimodal kepada Guru-Guru SD Santa Melania, Bandung, Jawa Barat Asnita Sirait; Kristining Seva; Maria Widyarini; JH. Fandi Gilar Saputro Saputro; Kurniasih Kurniasih
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5 No 4 (2025): JPMI - Agustus 2025
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.3687

Abstract

Penggunaan media ajar dapat meningkatkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Namun, tidak semua media ajar tersedia atau tidak mengikuti perkembangan materi. Dari hasil analisis kebutuhan yang dilakukan sebelum pengabdian di sekolah mitra, SD Santa Melania, Bandung, Jawa Barat, mitra mengalami keterbatasan media ajar dan kurangnya pendampingan dalam pengembangan media yang sesuai dengan perkembangan teknlogi. Tujuan Abdimas ini adalah untuk memberikan pendampingan kepada guru-guru SD Santa Melania dalam pengembangan media ajar berbasis multimodal untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui interaksi, motivasi, dan kreativitas siswa dan guru. Pelatihan media berbasis multimodal mengaplikasikan teori Kress dan Lewin (2001) yang merujuk pada cara orang berkomunikasi menggunakan modes yang berbeda pada saat bersamaan. Pelatihan menggunakan pendekatan partisipasi aktif, orientasi kegiatan, pendekatan program, dan pendekatan kemandirian.  Pelatihan dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu (1) identifikasi karakter pelajar (sebagai acuan pengembangan media), (2) pengantar multimodal semiosis (eksposur pendekatan mutakhir yang bisa diterapkan dalam kelas), (3) pelatihan multimodal melalui pendekatan teknik mengajar, (4) brainstorming media melalui observasi kebutuhan siswa di kelas, (5) pelatihan STEAM, (6) pelatihan kreativitas multimodal, perancangan dan desain media.  Hasil dari pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman guru dalam kombinasi media multimodal seperti audio dan visual dalam pembelajaran dan peningkatan kreativitas guru dalam mendesain media ajar seperti flashcards dan poster.
Karl Marx’s Eco-Socialism and Vision of Post-Capitalist Society Edy Syahputra Sihombing; Jh Fandi Gilar Saputro; Yusuf Siswantara
Jurnal Ledalero Vol 25, No 1 (2026): June 2026 Issue
Publisher : Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology (IFTK Ledalero), Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31385/jl.v25i1.741.32-52

Abstract

Environmental degradation and climate change are serious global issues that threaten human life both today and in the future. In response to these crises, Kohei Saito seeks to investigate the idea of Marx’s eco socialism as a potential alternative. Marx’s ecological thinking is rooted in a critique of the capitalist mode of production, as the fundamental cause of environmental destruction. His criticism of capitalism centers on the idea of a "metabolic rift" between humans and nature. For Marx, the universal metabolism between humanity and the natural world takes place through the labour process. Through labour, humans strive to fulfil their needs by extracting natural materials. However, under capitalism, labour has been reengineered and monopolized solely to serve the purposes of increased production and the commodification of goods for profit. Kohei Saito undertakes a comprehensive investigation into Marx’s ecological ideas as a concrete response to environmental crises and the injustices rooted in capitalism. For Saito, the degradation of the environment can no longer be addressed merely through well-intentioned ecological attitudes or "green" ecological efforts that often conceal new forms of commodification and continue to uphold production processes even in the face of environmental decline. Through his reading of Marx’s ecological critique, Saito uncovers the vision of a post-capitalist society grounded in the concept of degrowth communism. Degrowth communism is Kohei Saito's interpretation of Karl Marx's ecological vision, namely a sustainable social order grounded in the principle of the metabolic relationship between human beings and nature. He argues that such a society represents a crucial and timely alternative one that is capable of responding meaningfully to the challenges of climate change and environmental degradation.
Membaca Pemikiran Victor Frankl Dalam Konflik Timor Leste JH Fandi Gilar Saputro; Tri Rahayu
Sapientia Humana: Jurnal Sosial Humaniora Vol 5 No 01 (2025): 2025 JUNI
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jsh.v5i01.9578

Abstract

Tulisan ini berupaya menggali relevansi pemikiran Viktor E. Frankl, khususnya logoterapi dan pencarian makna dalam penderitaan, terhadap konflik dan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Timor Leste. Dengan pendekatan filosofis-eksistensial, penelitian ini membaca ulang pengalaman kolektif masyarakat Timor Leste, baik dalam masa pendudukan maupun pasca-kemerdekaan, melalui pemikiran Frankl, yang menekankan bahwa manusia tetap memiliki kebebasan batin untuk memberi makna pada penderitaannya. Konflik Timor Leste tidak hanya menyisakan luka sejarah, tetapi juga menyimpan potensi untuk penemuan makna eksistensial di tengah keterpurukan. Dengan merujuk pada prinsip-prinsip logoterapi, tulisan ini menunjukkan bagaimana individu dan komunitas di Timor Leste dapat mengubah penderitaan menjadi kekuatan batin, dan trauma menjadi kekuatan transformatif dalam membangun rekonsiliasi dan kemanusiaan. Studi ini berkontribusi pada pemahaman lintas-disiplin antara psikologi eksistensial dan studi konflik, serta menawarkan pendekatan spiritual-humanistik dalam merawat luka bangsa.