Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Evaluasi Jembatan Petaunan di Ruas Jalan Jajag-Wisata Pulau Merah Kabupaten Banyuwangi Mirza Ghulam R; M. Shofi’ul Amin; Erna Suryani
Potensi: Jurnal Sipil Politeknik Vol 19 No 2 (2017): Potensi: Jurnal Sipil Politeknik
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1185.773 KB) | DOI: 10.35313/potensi.v19i2.951

Abstract

Daerah Selatan Kabupaten Banyuwangi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat akhir-akhir ini. Perkembangan tersebut dikarenakan daerah Selatan merupakan penghasil komoditi pertanian unggulan, pertambangan emas dan terdapat destinasi wisata unggulan yaitu kawasan wisata pulau merah, Pantai Lampon, Pantai Rajekwesi, Teluk Hijau, Sarongan dan Pantai Sukamade. Perkembangan tersebut mengakibatkan terjadinya peningkatan volume kendaraan penumpang dan kendaraan barang pada ruas jalan Jajag menuju Pulau Merah. Salah satu yang perlu diperhatikan yaitu kendaraan berat yang akan melintas sepanjang jalan Jajag–lokasi tambang. Kondisi tersebut mengakibatkan perlu dilakukannya evaluasi terhadap kondisi jembatan yang ada. Jembatan Petaunan merupakan salah satu jembatan yang berada pada ruas jalan Jajag menuju kawasan wisata Pulau Merah. Rute ini dilintasi kendaraan barang dan penumpang. Jembatan tersebut berada pada jalur jalan kelas 3B dengan Muatan Sumbu Terberat (MST) 8 ton, lebar kendaraan kurang dari 2,50 m dan panjang kendaraan kurang dari 12 m. Perkembangan daerah Selatan mengakibatkan kendaraan dengan beban MST di atas 8 ton melintasi jembatan Petaunan setiap hari. Pelaksanaan pemeriksaan dan evaluasi jembatan dilakukan dengan menggunakan metode visual dengan cara mengumpulkan, mengklasifikasikan dan menganalisis data-data yang diperoleh dari lapangan. Metode pemeriksaan dilakukan berdasar Panduan Pemeriksaan Jembatan Bridge Management System (BMS) 1993. Pemeriksaan Khusus jembatan dilakukan dengan menggunakan Non Destructive Test berupa Schmidt Hammer Test. Dari hasil pemeriksaan didapatkan kerusakan yang terjadi yaitu spalling, retak, bugshole, korosi, tulangan terekspose, honeycomb, retak dan drumminess. Keseragaman mutu elemen struktur termasuk baik dengan nilai konversi kuat tekan 488,76 kg/cm2 pada gelagar dan pelat lantai jembatan. Nilai koefisien variasi menurut ACI 214R-11 menunjukkan tingkat keseragaman mutu yang sempurna dengan nilai variasi 5,46%. Kondisi jembatan Petaunan berada pada Nilai Kondisi 3 menurut BMS 1993, Menurut Visual Catalog of Reinforced Concrete Bridge Damage California Department of Transportation (CDOT) kerusakan pada jembatan Petaunan dikategorikan pada Level III
Kajian Kuat Tekan Beton di Lingkungan Laut Tropis Banyuwangi Syarifah Khirunnisa; Mirza Ghulam Rifqi; M. Shofi’ul Amin
Potensi: Jurnal Sipil Politeknik Vol 21 No 2 (2019): Potensi: Jurnal Sipil Politeknik
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1167.55 KB) | DOI: 10.35313/potensi.v21i2.1583

Abstract

Sebagai negara kepulauan dengan wilayah perairan yang lebih luas dibandingkan dengan daratan, pembangunan struktur di daerah laut adalah hal yang tidak dapat dihindarkan di Indonesia. Mempertimbangkan kondisi yang harus dihadapi, maka diperlukan material yang tahan terhadap lingkungan laut. Beton dipilih sebagai bahan bangunan di wilayah laut karena sifatnya yang lebih tahan korosi dibandingkan baja. Akan tetapi tidak dapat diabaikan bahwa beton dapat mengalami kerusakan karena pengaruh lingkungan laut. P. K. Mehta (2003) membagi perusakan beton akibat air laut menjadi tiga zona, yakni atmospheric zone, tidal zone, dan submerged zone. Penelitian ini membahas tentang kuat tekan beton umur 7, 14, dan 28 hari yang diletakkan di lingkungan laut tropis Banyuwangi. Terbagi dalam tiga jenis peletakan sesuai pembagian yang dilakukan oleh P. K. Mehta. Menggunakan benda uji silinder beton berukuran 15 cm x 30 cm, tipe semen PCC, FAS 0.45 dan kuat tekan rencana 35 MPa. Meski kuat tekan beton di lingkungan laut tidak mencapai kuat tekan rencana, namun di setiap umur pengujian kuat tekan beton masih mengalami peningkatan. Semakin besar kontak yang terjadi antara beton dengan air laut maka semakin besar pula penurunan kuat tekan beton yang terjadi. Kuat tekan terendah 28 hari terjadi pada beton submerged zone sebesar 27.16 MPa.
Pengaruh Penggunaan Silica Fume Terhadap Kuat Tekan dan Resapan Air Mortar Pracetak Ferosemen Yulita Dwi Shinta binti Sayono; Ahmad Utanaka; Dadang Dwi Pranowo; Mirza Ghulam Rifqi; M. Shofi'ul Amin
Jurnal TESLINK : Teknik Sipil dan Lingkungan Vol 5 No 2 (2023): Next Issue on, September 2023
Publisher : Universitas Nusa Putra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52005/teslink.v5i2.299

Abstract

Kerusakan irigasi secara visual terdapat tanda-tanda korosi pada tulangan beton, seperti karat dan lapisan korosi. Dalam bidang pembangunan irigasi, teknologi ferosemen menjadi hal yang penting. Komposisi utamanya, yang terdiri dari semen, pasir, air, dan tulangan, dapat ditingkatkan dengan bahan alternatif tambahan seperti silica fume untuk meningkatkan ketahanan terhadap korosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh silica fume dengan berbagai persentase (0%, 6%, dan 9% dari berat semen) terhadap karakteristik mortar dalam penerapan beton pracetak ferosemen. Pengujian dilakukan melalui pengukuran kuat tekan pada berbagai umur (3, 7, 14, 21, dan 28 hari), serta pengujian resapan air dan rembesan air pada umur 28 hari setelah perawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan silica fume mengakibatkan penurunan kuat tekan pada benda uji kontrol sebesar 20,96 MPa. Hal ini disebabkan oleh reaksi antara silica fume dan semen, yang memperlambat proses pengerasan. Selain itu, penambahan silica fume mengurangi resapan air pada mortar, dengan penurunan yang lebih signifikan seiring dengan peningkatan persentase campuran. Pengujian rembesan air pada beton pracetak ferosemen menunjukkan tingkat rembesan yang rendah, dengan nilai sebesar 21% setelah 24 jam, menandakan bahwa campuran ini cocok untuk aplikasi beton pracetak ferosemen. Dengan demikian, penggunaan silica fume dapat meningkatkan kualitas dan ketahanan beton pracetak ferosemen terhadap korosi.