p-Index From 2021 - 2026
1.006
P-Index
This Author published in this journals
All Journal TEKNO
Isri R. Mangangka
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Desain IPAL Komunal Subsurface Constructed Wetland Sebagai Pengolahan Air Limbah Domestik Di Kelurahan Karame Kota Manado Moh. Ghifary A. Modeong; Isri R. Mangangka; Roski R. I. Legrans
TEKNO Vol. 20 No. 81 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak hubungan antara jumlah penduduk dan pengelolaan lingkungan yaitu meningkatnya daerah kumuh dan padat penduduk. Kelurahan Karame saat ini merupakan daerah padat penduduk (208,5 orang/Ha) yang belum memiliki IPAL komunal serta sanitasi yang buruk, beberapa hal tersebut menjadi tujuan penelitian untuk merencanakan adanya desain IPAL secara komunal pada Kelurahan Karame Lingkungan IV dan V untuk IPAL tipe subsurface constructed wetland.Metode penelitian yang digunakan yaitu berupa perencanaan kuantitatif dengan lokasi penelitian berada di Lingkungan IV dan Lingkungan V, Menggunakan sampling kualitas air serta perencanan desain Detail Engineering Design. Data primer yang diambil adalah Jumlah Kartu Keluarga, Parameter kualitas air limbah, luas lahan rencana serta debit air limbah. Data sekunder adalah peta lokasi dan baku mutu. Dimensi pengolahan Bak ekualisasi-Reaktor-Bak penampung. Kondisi lingkungan IV & V masih memiliki sistem drainase yang buruk, sampling air diperoleh dari 3 titik sampling pipa effluent yang diambil pada pukul 09.30-11.00 dengan hasil uji BOD 82,55, COD 400 serta TSS 86,11 (mg/L). Dengan baku mutu masing-masing 30,100 dan 30 (mg/L). KK diambil 43 KK dan disurvei. Debit rencana Qpeak Lingk IV dan V yaitu 0,0022 m3/s dan 0,0027 m3/s.Hasil dimensi unit bak pengumpul semua ling adalah 2 m x 1 m. Dimensi reaktor subsurface constructed wetland Ling IV 65 m x 10 m, Ling V adalah 78 m x 10 m. Bak kontrol setiap ling adalah 2,46 m x 1,23 m. Perkiraan efisiensi penurunan pencemar sebesar 76% dengan baku mutu yang ada. Perawatan dan Operasional dapat dilihat pada panduan yang disusun. Kata kunci – IPAL Komunal, constructed wetland, Kelurahan Karame, air limbah domestik.
Perencanaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Di Kecamatan Amurang Raya Johana S. Sumarab; Isri R. Mangangka; Cindy J. Supit
TEKNO Vol. 20 No. 81 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampah menjadi permasalahan umum yang dihadapi oleh setiap daerah di Indonesia, termasuk di kabupaten Minahasa Selatan. Permasalahan persampahan adalah masalah yang memerlukan perhatian, produksi sampah yang dihasilkan di tiap – tiap daerah di Kabupaten Minahasa Selatan hampir seluruhnya dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa melewati pengolahan terlebih dahulu. Tempat Pengolahan Sementara berbasis reduce, reuse, recycle (TPS 3R) adalah salah satu cara pengolahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA setiap harinya, TPS 3R adalah tempat pengolahan yang berbasis reduce, reuse dan recycle, sehingga bukan saja mengurangi jumlah sampah yang dibawa ke TPA tetapi juga memberikan keuntungan lainnya. Kecamatan Amurang Raya adalah salah gabungan kecamatan yang terdiri dari Kecamatan Amurang Kecamatan Amurang Timur, dan Kecamatan Amurang Barat, memiliki luas wilayah yang besar di kabupaten Minahasa Selatan. Dengan adanya TPS 3R di kecamatan Amurang Raya, seluruh sampah yang dihasilkan dalam sehari tidak sepenuhnya akan dibuang ke TPA dengan menggunakan pengolahan 3R, sesuai dengan buku Petunjuk Teknis TPS 3R tahun 2017, sebuah TPS 3R dapat mengolah hingga 6 m3 sampah per harinya. TPS 3R ini direncanakan dapat mengolah 3 jenis sampah, yaitu sampah organik, sampah anorganik dan sampah plastik. Luas lahan yang dibutuhkan dalam perencanaan ini adalah seluas 215,8 m2. Kata kunci – TPS 3R, pengolahan, sampah, TPA
Analisis Kinerja Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat III Manado Lafenia Rawis; Isri R. Mangangka; Roski R. I. Legrans
TEKNO Vol. 20 No. 81 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melalui hasil observasi dilapangan diketahui RS. Bhayangkara Tk. III Manado telah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), meskipun demikian limbah yang dihasilkan dikhawatirkan masih mengandung bahan berbahaya yang memiliki potensi yang berdampak penting terhadap penurunan kualitas lingkungan dan secara langsung memiliki potensi bahaya kesehatan bagi penduduk sekitar rumah sakit. Hal ini terlihat dari adanya septic tank pada setiap bangunan unit-unit kesehatan dan perawatan pasien yang dilengkapi dengan bak kontrol untuk mengolah air limbah terutama dari toilet sehingga proses anaerobik dapat terjadi untuk meminimalisasi parameter pencemar terutama COD dan BOD sebelum diolah di IPAL. Untuk limbah non-WC seperti air cucian dari westafel atau keran-keran pada setiap unit kesehatan langsung dialirkan ke IPAL. Analisis data primer meliputi pengambilan sampel air limbah dan analisis di laboratorium menggunakan parameter yaitu pH, COD, BOD, TSS, Minyak dan Lemak, Amoniak. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa IPAL yang dimiliki RS. Bhayangkara Tk. III Manado termasuk dalam kategori cukup efisien. Cukup efisien kinerja IPAL tersebut dapat dilihat dari penurunan kandungan BOD dari 76 mg/l menjadi 1 mg/l dengan efisiensi 98,68%, kandungan COD dari 79 mg/l menjadi <1,44 mg/l dengan efisiensi >98,18%, kandungan TSS dari 28 mg/l menjadi 1 mg/l dengan efisiensi 96,43%, kandungan Minyak dan Lemak dari 1,4 mg/l menajdi 1,0 mg/l dengan efisiensi 28,57%, dan Amoniak dari 72 mg/l menjadi 4 mg/l dengan efisiensi 94,44%. Jenis IPAL yang digunakan adalah IPAL Biofilter Anaerobic Aerobic dengan merk produk Biofive. Kiranya penelitian ini bisa Memberikan kontribusi ilmiah terhadap peningkatan kinerja sistem IPAL RS. Bhayangkara Tk. III Manado agar efluen yang dihasilkan sesuai dengan baku mutu.Kata kunci – IPAL, RS Bhayangkara Tk. III Manado, parameter Limbah Cair
Optimalisasi Pengelolaan Limbah Padat Medis Dan Non-Medis Di Rumah Sakit Umum Daerah Noongan Esther J. Malonda; Isri R. Mangangka; Roski R. I. Legrans
TEKNO Vol. 20 No. 81 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melalui hasil observasi dan juga wawancara tentang Pengelolaan limbah padat medis dan non-medis RSUD Noongan untuk pengelolaan dari limbah padat medis adalah reduksi limbah, pengemasan limbah, penyimpanan limbah, pengumpulan limbah, pengangkutan limbah, pemanfaatan kembali limbah, pengelolaan dan penibunan limbah dan untuk pengelolaan yang dilakukan di RSUD Noongan menggunakan insenerator. Untuk bagian pengoptimalan reduksi limbah, pengemasan limbah, pengangkutan limbah, pengelolaan dan penibunan limbah.  Untuk pengelolaan limbah padat non-medis terdiri dari pengurangan sampah, pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan dan pemrosesan akhir. Untuk pengelolaan limbah padat non-medis RSUD Noongan telah bekerja sama dengan Dinas lingkungan Hidup dan juga TPA Tondano untuk setiap limbah yang ada di proses di TPA Tondano. Dan untuk pengoptimalisasian pengurangan sampah, pemilahan, pengelolaan dan pemrosesan akhir. Kata kunci – pengelolaan, limbah padat medis, limbah padat non-medis
Perencanaan Sistem Penyediaan Air Minum Di Kelurahan Folarora Kota Tidore Kepulauan Wahyuni M. Nur; Isri R. Mangangka; Roski R. I. Legrans
TEKNO Vol. 20 No. 82 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelurahan Folarora adalah salah satu daerah yang terletak di Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan yang saat ini belum tersedia sistem penyediaan air minum oleh PDAM. Hal ini disebabkan letak Kelurahan Folarora yang berada pada dataran tinggi yang secara teknis sangat sulit untuk dijangkau oleh pelayanan air minum. Untuk memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari masyarakat menggunakan sistem penampungan air hujan, sehingga harus adanya sistem jaringan air minum yang baru agar distribusi air minum dapat terlayani. Sistem penyediaan air minum ini direncanakan untuk dapat memenuhi kebutuhan air minum hingga 10 tahun yang akan datang di wilayah studi, perbandingan jumlah penduduk yaitu pada tahun 2011 mencapai 730 jiwa dan pada tahun 2020 mencapai 749 jiwa. Proyeksi pertumbuhan peduduk dihitung menggunakan 3 metode rekresi dimana metode regresi eksponensial adalah metode yang paling baik dalam perhitungan, sehingga diperoleh sebanyak 770 jiwa di tahun 2030. Sumber air yang akan dimanfaatkan yaitu sumber air milik PDAM yang berada di daerah dataran rendah. Perencanaan sistem penyediaan air minum direncanakan berdasarkan debit jam puncak. Dengan kebutuhan jam puncaknya 2,430 liter/detik pada tahun 2030. Awalnya, air akan ditampung pada bak penampung 1, kemudian di pompa melalui pipa transmisi ke bak penampung 2, dan akan dipompa lagi ke reservoir yang berada pada wilayah studi, dan dengan menggunakan pipa distribusi air dialirkan secara gravitasi menuju hidran umum. Hal ini menunjukan bahwa kebutuhan air total di Kelurahan Folarora mencapai 1,389 liter/detik pada tahun 2030. Debit mata air yang tersedia sebesar 4,5 liter/detik. Dengan merbandingkan kebutuhan dan ketersediaan air yang ada maka sumber air milik PDAM mampu mencukupi kebutuhan air minum masyarakat Kelurahan Folarora hingga tahun 2030. Ukuran bak penampung (broncaptering) 5 m x 4,5 m x 2 m dan ukuran reservoir 3 m x 4,5 m x 3 m dengan tipe ground reservoir. Sistem distribusi menggunakan sistem kombinasi antara sistem gravitasi dan pemompaan, dengan hasil perhitungan yaitu diameter pipa transmisi adalah 7,62 mm dan menggunakan tipe PVC dan diameter pipa distribusi bervariasi antara 16 mm – 25 mm dengan tipe Galvanis. Kata kunci – air minum, perencanaan sistem air minum
Penataan Sistem Pengolahan Sampah Untuk Keberlanjutan Kawasan Lingkungan Pesisir Pantai Bitung Karangria Kota Manado Felincia Momongan; Isri R. Mangangka; Teddy Takaendengan
TEKNO Vol. 22 No. 88 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i88.56678

Abstract

Penataan keberlanjutan lingkungan pengolahan sampah bahwa pesisir pantai saat ini sangat penting untuk mencegah kerusakan lingkungan. Apalagi pesisir Pantai Karangria, saat ini menjadi obyek wisata baru bagi masyarakat dan wisatawan. Salah satu permasalahan yang timbul akibat adanya fasilitas tersebut adalah meningkatnya timbulan sampah. Sampah yang dihasilkan oleh aktivitas penunjung yang membuang sampah sembarangan di Kawasan Pantai Bitung Karangria. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, timbulan sampah yang dihasilkan pada Pantai Bitung Karangria sebesar 30,685 kg/haridengan komposisi sampah yang terdiri atas sampah plastic 59%, daun 33% dan kayu atau ranting 8%. Untuk menrencankan sistem pengelolaan sampah di Pantai Bitung Karangria yaitu pewadahan, pengumpulan, tempat penampungan sementara (TPS), dan pengangkutan. Dari komposisi sampah yang dihasilkan oleh Pantai Bitung Karangria berupa plastic, daun dan kayu, akan diolah menggunakan 3R (reduce, reuse dan recycle). Kata kunci: pesisir pantai, pantai Bitung Karangria, pengolahan sampah