p-Index From 2021 - 2026
1.836
P-Index
This Author published in this journals
All Journal TEKNO
Steve Ch. N. Palenewen
Universitas Sam Ratulangi

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Studi Uji Laik Fungsi Jalan (ULFJ) Untuk Ruas Jalan Nasional Tumpaan – Worotican Dengan Nomor Ruas 009 003 K Gilbert I. Polii; Theo K. Sendow; Steve Ch. N. Palenewen
TEKNO Vol. 20 No. 82 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruas Jalan Tumpaan – Worotican merupakan jalan arteri primer dan salah satu prasarana transportasi yang memegang peran penting dalam hal mendukung pertumbuhan guna meningkatkan kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya. pada ruas jalan Tumpaan – Worotican untuk STA 0+000 – STA 16+67 dan telah disetujui oleh dosen pemimbing bisa dikecilkan menjadi STA 0+000 – STA 10+167 ruas jalan Tumpaan-Kawangkoan. Jadi tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kelayakan fungsi jalan serta perbaikan yang diperlukan agar jalan menjadi laik menurut Uji Laik Fungsi Jalan (ULFJ) berdasarkan Peraturan Menteri PU Nomor 11/PRT/M/2010. Uji laik fungsi jalan adalah kondisi suatu ruas jalan yang memenuhi persyaratan teknis kelaikan jalan untuk memberikan keselamatan bagi penggunanya, dan persyaratan administratif yang memberikan kepastian hukum bagi penyelenggara jalan dan pengguna jalan, sehingga jalan tersebut dapat dioperasikan untuk umum. Analisis uji laik fungsi teknis jalan dilakukan dengan mengevaluasi dan monitoring kondisi lapangan secara visual terhadap standar teknis untuk setiap komponen teknis, meliputi: teknis geometrik jalan, teknis struktur perkerasan jalan, teknis struktur bangunan pelengkap jalan, teknis pemanfaatan ruang bagian-bagian jalan, teknis penyelenggaraan manajemen dan rekayasa lalu lintas, dan teknis perlengkapan jalan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada ruas jalan Tumpaan-kawangkoan bawah dan dikategorikan Laik Fungsi Bersyarat (LS), yang artinya jalan tersebut memenuhi sebagian persyaratan teknis laik fungsi jalan namun masih mampu memberikan keselamatan bagi pengguna jalan sehingga laik dioperasikan untuk umum dengan syarat harus dilakukan Perbaikan teknis pada ruas jalan tersebut, seperti perbaikan serta pemeliharaan rutin terhadap setiap komponen pengujian yang dikategorikan Laik Fungsi Bersyarat (LS). Kata kunci - laik fungsi, standar teknis, ruas jalan, perbaikan
Perbandingan Analisa Tebal Perkerasan Lentur (Flexible Pavement) dan Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) Terhadap Rencana Anggaran Biaya Timoti F. Assa; Steve Ch. N. Palenewen; Joice E. Waani
TEKNO Vol. 20 No. 82 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan tebal perkerasan jalan Manado Outer Ringroad 3 menggunakan perkerasan lentur dan perkerasan kaku dan membandingkan anggaran biaya konstruksi dari kedua jenis perkerasan tersebut. Metedologi yang digunakan adalah perencanaan dengan menggunakan Metode Manual Desain Perkerasan Jalan 2017 yang di mana metode yang ditetapkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum, Direktorat Jendral Bina marga. Perencanaan tebal perkerasan lentur dan kaku menggunakan data yang sama yaitu LHR, dan CBR tanah dasar. Hasil perhitungan tebal perkerasan lentur menggunakan campuran aspal beton (AC) addalah AC-WC 40 mm; AC-BC 60 mm; AC-Base 210 mm, lapis Pondasi Agregat kelas A 300 mm, sedangkan Tebal perkerasan kaku yang diperoleh adalah lapis Beton kurus 300 mm, lapis Drainase 100 mm, dan plat Perkerasan kaku bersambung dengan tulangan (Jointed Reinforced Concrete Pavement) 295 mm. Anggaran biaya konstruksi perkerasan lentur lebih muran Rp 4,318,044,623.61 dari pada perkerasan kaku, yakni sebesar Rp11,167,030,473,42 untuk Konstruksi perkerasan lentur sedangkan Anggaran biaya Konstruksi perkerasan kaku sebesar Rp15,485,075,097.03. Namun Jika ditinjau dari perbedaan besarnya variabel umur rencana dan angka pertumbuhan lalu-lintas yang digunakan dalam perhitungan maka dapat disimoulkan bahwa biaya konstruksi perkerasan kaku jauh lebih murah dari pada biaya konstruksi perkerasan lentur. Kata kunci – perkerasan lentur, perkerasan kaku, Rencana Anggaran Biaya, MDP 2017
Perbandingan Tebal Perkerasan Lentur Dengan Menggunakan Metode Bina Marga 2013 dan AASHTO 1993 (Studi Kasus: Ruas Jalan Nasional R. Martadinata Dengan Nomor Ruas 500412) Rizky R. Rantung; Theo K. Sendow; Steve Ch. N. Palenewen
TEKNO Vol. 20 No. 82 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Struktur perkerasan jalan sebagai komponen dari prasarana transportasi yang berfungsi sebagai penerima beban lalulintas yang dilimpahkan melalui roda kendaraan. Oleh karena itu, struktur perkerasan perlu memiliki stabilitas yang tinggi, kokoh selama masa pelayanan jalan dan tahan terhadap pengaruh lingkungan dan atau cuaca. Dalam Studi perencanaan ini yang akan direncanakan adalah Perkerasan Lentur (flexible pavement) pada jalan R. Martadinata. Sebagaimana suatu perkerasan lentur akan mengalami penurunan kinerja karena faktor lingkungan dan pada saat dibebani maka beban-beban tersebut akan menyebar ke lapisan-lapisan dibawahnya dalam bentuk tegangan penyebaran. Salah satu alternatif yang biasa digunakan adalah melakukan pelapisan ulang (Overlay). Dalam penelitian ini penentuan untuk pengaplikasian lapis tambah (overlay) pada perkereasan lama di ruas jalan R. Martadinata digunakan metode Bina Marga 2013 dan AASHTO 1993. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu Volume Lalu Lintas, dan data Falling Weight Deflectometer (FWD) yang diperoleh dari BPJN Sulawesi Utara. Hasil perhitungan berdasarkan metode Bina Marga 2013 untuk CESA4 = 6.505.071 dan CESA5 = 7.456.498 dan menurut AASHTO 1993 W18 = 4.439.441,569. Dari hasil perhitungan tebal lapis tambah (overlay) pada metode Bina Marga 2013 didapat nilai overlay CESA5 =8 cm, sedangkan overlay pada metode AASHTO yaitu 3,67cm. Kata Kunci - Bina Marga 2013, AASHTO 1993, tebal lapis tambah (overlay)
Pemanfaatan Limbah Plastik PET (Polyethylene Terepthalate) Sebagai Bahan Tambah Pada Aspal Pen 60/70 Dalam Campuran Aspal HRS-WC Apriliano Valen Damopolii; Lucia G. J. Lalamentik; Steve Ch. N. Palenewen
TEKNO Vol. 20 No. 82 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari adanya penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh serta manfaat dari limbah plastik PET sebagai bahan subtitusi sebagian aspal penetrasi 60/70 pada campuran perkerasan HRS-WC dengan material lansot, kema yang telah tersedia dilaboratorium. Spesifikasi umum Bina Marga 2018 menjadi acuan pada penelitian ini dengan menggunakan cara kering (dry process) sebagai metode pencampuran limbah plastik dan metode pengujian menggunakan uji karakteristik Marshal. Hasil dari pengujian karakteristik Marshall pada campuran lataston HRS-WC didapatkan nilai Stabilitas untuk kadar plastik 0% 2599.04 kg; 4% 2778.82 kg; 6% 2702.77 kg; 8% 2781.97 kg. Nilai Flow untuk kadar plastik 0% 3.21 mm; 4% 3.17 mm; 6% 3.1 mm; 8% 2.76 mm. Nilai VMA untuk kadar plastik 0% 19.76%; 4% 19.00%; 6% 19.02%; 8% 17.72% . Nilai VIM untuk kadar plastik 0% 6.49%; 4% 5.59%; 6% 5.62%; 8% 4.11%. Nilai VFB untuk kadar plastik 0% 67.16%; 4% 71.23%; 6% 70.88; 8% 76.86. Nilai Kadar aspal efektif untuk kadar plastik0%, 4%, 6%, dan 8% 6.32. Nilai Kepadatan untuk 0% 2.19 gr/cc; 4% 2.21 gr/cc; 6% 2.21 gr/cc; 8% 2.25 gr/cc. Jadi dapat di tarik kesimpulan bahwa campuran perkerasan lataston HRS-WC yang disubtitusikan dengan limbah PET pada aspal mempengaruh setiap parameter marshall yang ada, dan pada subtitusi plastik PET dengan kadar plastik 3,9 % yang yang menjadi kadar optimum pada campuran perkerasan. Kata kunci – Polyethylene Terephthalate (PET), cara kering (dry process), Lataston (HRS-WC)
Pengaruh Gradasi dan Porositas Agregat Terhadap Karakteristik Campuran AC-BC yang Menggunakan Aspal dengan Substitusi Plastik High Density Polyethylene (HDPE) Theresia Melina Kojongian; Joice E. Waani; Steve Ch. N. Palenewen
TEKNO Vol. 21 No. 83 (2023): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gradasi dan porositas agregat terhadap karakteristik campuran AC-BC menggunakan aspal yang disubstitusi sebagian dengan plastik HDPE. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah rekayasa laboratorium mengacu pada Spesifikasi umum Bina Marga 2018 Revisi II dan menggunakan cara pencampuran basah (wet process). Persentase HDPE yang disubstitusikan terhadap aspal adalah sebesar 0,0%, 4,0%, 5,0% dan 6,0%. Agregat yang digunakan terdiri dari 2 komposisi campuran untuk membedakan besarnya pori dalam campuran yang diharapkan akan memengaruhi kinerja campuran yang diteliti. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan komposisi campuran tidak berpengaruh secara signifikan terhadap karakteristik Marshall karena adanya substitusi HDPE terhadap kedua campuran. Pada campuran I, semakin besar persentase substitusi HDPE terhadap aspal mengakibatkan penurunan stabilitas, flow dan VMA meningkat, VIM relatif meningkat dan VFB yang semakin menurun. Pada campuran II, semakin besar persentase substitusi HDPE terhadap aspal mengakibatkan stabilitas meningkat sedangkan flow berfluktuasi, VMA dan VIM juga meningkat, serta VFB menurun. Maka, untuk campuran I dengan kadar agregat halus yang besar membutuhkan aspal yang cukup besar dengan kadar HDPE yang disubstitusikan sebesar 2,75% saja terhadap berat aspal. Sedangkan untuk campuran II dengan kadar agregat kasar yang besar membutuhkan aspal yang relative sedikit sehingga jumlah HDPE yang dapat disubstitusikan sebesar 4,25% terhadap berat aspal. Keyword: High Density Polyethylene; gradasi; porositas; Laston (AC-BC)
Pengaruh Variasi Kandungan Bahan Pengisi Filler Fly Ash Batu Bara Pada Campuran Beraspal Panas Jenis Lataston Hot Rolled Sheet Wearing Course (HRS-WC) Karunia R. Wenur; Steve Ch. N. Palenewen; Joice E. Waani
TEKNO Vol. 21 No. 85 (2023): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi kandungan filler fly ash pada campuran lataston HRS-WC melalui pengujian Marshall. Metode pengujian ini mengacu pada Spesifikasi umum Bina Marga 2018. Pada penelitian ini menggunakan fly ash dari PLTU Sulut-3 2x50 MW Kema dan material dari Lansot Kema. Persentase fly ash yang digunakan terhadap berat filler adalah 25%, 50%, 75% dan 100%. Hasil dari pengujian karakteristik Marshall pada campuran lataston HRS-WC didapatkan nilai stabilitas untuk kadar fly ash 0% 1281.18 kg; 25% 1065.59 kg; 50% 812.33 kg; 75% 784.48 kg; 100% 716.14 kg. Nilai Flow untuk kadar fly ash 0% 4.56 mm; 25% 4.48 mm; 50% 4.33 mm; 75% 4.16 mm; 100% 3.95 mm. Nilai VMA untuk kadar fly ash 0% 19.045%; 25% 20.105%; 50% 22.43%; 75% 21.687%; 100% 23.650%. Nilai VIM untuk kadar fly ash 0% 5.106%; 25% 6.348%; 50% 9.077%; 75% 8.203%; 100% 10.503%. Nilai VFB untuk kadar fly ash 0% 73.192%; 25% 68.440%; 50% 59.682%; 75% 62.197%; 100% 55.590. Dari hasil pengujian didapatkan penambahan filler fly ash pada campuran lataston HRS-WC menyebabkan terjadinya perubahan nilai-nilai karakteristik Marshall dibandingkan sebelum ditambahkan fly ash. Kata kunci: fly ash, HRS-WC, Marshall
Analisis Variasi Gradasi Agregat Gabungan Terhadap Karakteristik Campuran Aspal Panas Pada Lapis Aspal Beton (AC-WC) Venli Dotulung; Lucia G. J. Lalamentik; Steve Ch. N. Palenewen
TEKNO Vol. 21 No. 85 (2023): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gradasi agregat merupakan salah satu parameter yang mempengaruhi kekuatan suatu lapisan perkerasan. Secara teoritis, amplop gradasi gabungan untuk lapis permukaan AC-WC memiliki rentang dan variasi yang relatif banyak. Gradasi agregat dalam campuran beraspal yang memenuhi amplop gradasi memiliki banyak variasi yang menghasilkan campuran beraspal, sehingga penentuan gradasi yang menghasilkan campuran beraspal yang paling optimum perlu dilakukan pemeriksaan dan pengujian Marshall. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja campuran aspal panas laston AC-WC melalui pengujian Marshall dengan menggunakan beberapa variasi gradasi agregat untuk mendapatkan hasil yang optimal. Analisis dilakukan terhadap 3 variasi gradasi agregat dengan menggunakam material agregat quary ex-Lolak dan aspal pertamina pen 60/70. Masing-masing variasi menggunakan 5 variasi kadar aspal yaitu 5,0%, 5,5%, 6,0%, 6,5%, 7,0%, serta kadar aspal optimum sebesar 6,20%. Dari hasil analisis diperoleh variasi I diperoleh hasil dengan nilai karakteristik stabilitas, kelelehan, Marshall Quotient, dan stabilitas sisa perendaman tertinggi yaitu stabilitas sebesar 912,47 kg, kelelehan sebesar 3,34 mm, Marshall Quotient sebesar 273,06 kg/mm, serta stabilitas sisa perendaman sebesar 91,70%; Variasi II menghasilkan nilai VMA yang tertinggi yaitu sebesar 16,34%, sementara nilai tertinggi untuk VIM, VIM PRD, dan kepadatan dihasilkan oleh variasi III, dengan nilai masing-masing yaitu VIM sebesar 4,141%, VIM PRD sebesar 2,75% serta kepadatan sebesar 2,405 ton/m3.
Pengaruh Bottom Ash Batu Bara Sebagai Pengganti Filler Terhadap Kriteria Marshall Pada Campuran Beraspal Panas Jenis Lapis Tipis Aspal Beton (HRS-WC) Dave N. N. Umboh; Steve Ch. N. Palenewen; Mecky R. E. Manoppo
TEKNO Vol. 22 No. 87 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i87.53978

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh substitusi bahan pengisi (filler) berupa bottom ash pada campuran HRS-WC melalui pengujian Marshall. Variasi kadar aspal digunakan sebesar 4%, 5%, 6%, 7%, dan 8%. Kadar Aspal Optimum (KAO) yang didapat dari hasil pengujian yaitu sebesar 7,40%. Variasi bottom ash menggunakan kadar sebesar 10%, 25%, 50%, 75% dan 100% terhadap berat filler. Kadar campuran optimum yang didapat dari hasil pengujian dengan substitusi bottom ash yaitu sebesar 29%. Hasil Pengujian Marshall diperoleh nilai tertinggi disetiap karakteristik dengan substitusi bottom ash sebagai berikut. Nilai Stabilitas 977,77 kg pada kadar 10%, Flow 4,14 mm pada kadar 100%, VMA 19,453% pada kadar 10%, VIM 5,61 % pada kadar 10%, VFB 100% pada kadar 100%, Marshall Quetients 254,58 kg/mm pada kadar 10%. Nilai stabilitas, VMA, VIM menurun seiring bertambahnya kadar filler bottom ash. Sedangkan nilai VFB dan Marshall Quetient meningkat seiring bertambahnya kadar filler bottom ash. Hasil pengujian menunjukkan bahwa secara keseluruhan hasil pengujian berdasarkan karkteristik Marshall terhadap substitusi bottom ash memiliki nilai yang sudah memenuhi syarat spesifikasi Bina Marga 2018 sehingga, material bottom ash dapat digunakan fungsinya sebagai pengganti bahan pengisi (filler). Akan tetapi tidak dapat menggantikan bahan pengisi (filler) dengan bottom ash sepenuhnya atau dengan kadar 100% karena berdasarkan pengujian nilai VIM, VMA dan MQ tidak memenuhi syarat spesifikasi Bina Marga 2018. Kata kunci: filler, HRS-WC, bottom ash, Marshall
Pengaruh Rendaman Air Pasang Laut (Rob) Terhadap Stabilitas Pada Perkerasan Aspal Lapis AC-WC Adegratia E. Lumintang; Steve Ch. N. Palenewen; Mecky R. E. Manoppo
TEKNO Vol. 22 No. 88 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i88.55365

Abstract

Faktor yang mempengaruhi kerusakan perkerasan jalan sampai kurangnya daya tahan struktur lapisan aspal salah satunya ialah air (genangan). Ruas jalan boulevard amurang merupakan jalan yang sering mengalami tergenangnya air pasang atau banjir rob. Berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan (Revisi 2), nilai Marshall Test untuk lapis aspal beton Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) adalah minimal 800 kg untuk stabilitas dan minimal 3 mm untuk kelelehan plastisnya. Penelitian ini untuk mengetahui seberapa pengaruh rendaman air pasang laut (rob) terhadap perkerasan jalan lapis permukaan AC-WC dengan menyimulasikan kejadian lapangan di laboratoium dengan meninjau kinerja stabilitas terhadap campuran aspal AC-WC. Mengolah data dari wawancara hingga data gelombang tinggi hasil variasi rendaman untuk benda uji adalah 1x24 jam, 3x24 jam, 7x24 jam dan 21x24 jam. Nilai stabilitas rendaman 1 x 24 sebesar 966.28 kg sedangkan terjadinya penurunan paling signifikan yaitu 17,55% kg pada 21 x 24 jam. kelelehan (flow) yang meningkat pada rendaman terlama dengan air laut sebesar 3,86mm. Nilai VMA naik setelah rendaman air laut terlama sebesar 19,408%. Nilai VIM meningkat berkisar 5,917%. Nilai VFB dengan nilai 67,677% setelah rendaman air laut terlama. nilai kepadatan rendaman 21 x 24 jam memperoleh penurunan dengan nilai 2.170gr/cc. Kata kunci: air pasang laut, lapis aspal beton ACWC, Marshall Test, rendaman
Studi Kinerja Campuran AC-BC Menggunakan LGA Asbuton Dimodifikasi Dengan Aspal Keras Raymond Ch. Suciawan; Steve Ch. N. Palenewen; Lucia G. J. Lalamentik
TEKNO Vol. 22 No. 88 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i88.55412

Abstract

Indonesia memiliki aspal alam sekitar 650 juta ton yang dapat digunakan untuk mengurangi penggunaan aspal keras, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Pulau Buton (Sulawesi Tenggara) merupakan tempat dimana aspal alam yang dapat meningkatkan ketahanan campuran itu ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kadar aspal optimum pada campuran AC-BC tanpa asbuton dan mencari penggunaan maksimum asbuton pada campuran AC-BC. Dari hasil penelitian kadar aspal yang terkandung dalam asbuton hasil ekstrasi sebesar 22,97%. Kadar aspal optimum pada campiran AC-BC tanpa asbuton sebesar 6% dengan nilai stabilitas 1192,94 kg/mm, flow 3,89 mm, VMA 16,865%, VIM 4,646% dan VFB 72,482%. Dan presentase kadar maksimum penggunaan asbuton pada campuran AC-BC terdapat pada variasi 10,048% dengan nilai stabilitas 1249,12 kg/mm, flow 3,81mm, VMA 17,205%, VIM 5%, VFB 71,025%. Disimpulkan penambahan kadar asbuton dalam campuran AC-BC dapat meningkatkan kinarja campuran dan sesuai dengan spesifikasi DPU Bina Marga 2018, namun sudah tidak efektif jika penambahan melebihi batas maksimum, yaitu pada kadar 10,048 %. Kata kunci: AC-BC, Asbuton, LGA, Marshall Test