Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Konsep Fantasi dalam Film Danissa Dyah Oktaviani
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i2.3356

Abstract

Fantasy films were born from the development of fiction films that have shown existence since the beginning of its history. Fantasy films have their own charm because they can penetrate time and space compared to other genres. Fiction films develop from their creators both in terms of story and cinematography because fiction films are at the center of the poles: real and abstract. Its greatest strength lies in its ability to integrate and combine with other genres without exception and can be broadly developed unlimitedly. That is because fantasy films contain elements with different characteristics from other films where if a fantasy film has one element in the making of the film then it has been said to be a fantasy film. The elements or components that are seen are derived from the narrative and cinematic elements of filmmaking which contain ideas of stories, characters, and settings in a film. These three elements are the forming components of fantasy films that are fictitious and imaginative. The idea of the story is not based on an imaginary reality, that is a fiction that makes no sense. In the case of fantasy films, filmmakers will compete to develop and present ideas that have not been thought of before, so the audience seems to be carried away in a new world outside of real life. Character characters in fantasy films are the imagination of creators in fictitious forms, such as: animal characters, extraterrestrials, monsters, robots, and non-physical characters such as ghosts, spirits and holograms. While the background elements in fantasy films have a character setting place and time imaginative events are unique in unknown times or dimensions, can be past, present, and future with the centuries formed by the creators.
Perubahan Karakter Rangga Sebagai Salah Satu Bentuk Proses Kreatif Mira Lesmana Dalam Film Ada Apa dengan Cinta 2 (2016) Sugeng Nugroho; Danissa Dyah Oktaviani
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 13, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i2.1937

Abstract

Mira Lesmana, produser terkemuka Indonesia, membuat gebrakan dengan meliris dan menulis sendiri cerita film Ada Apa dengan Cinta 2. Kekuatan film ini tidak semata-mata bersandar dari sekuel sebelumnya, namun juga dikemas dengan aliran cerita yang menarik. Alur menggantung pada sekuel sebelumnya merupakan peluang besar untuk mengembangkan kreatifitas. Bentuk kreativitas Mira Lesmana dalam menulis cerita film ini adalah untuk mengubah karakter utama, Rangga. Karakter Rangga sengaja dibuat berbeda didasari tokoh Cinta. Perubahan karakter Rangga terjadi pada awal dan akhir cerita. Perubahan karakter Rangga dapat dilihat dari ekspresi, dialog dan tanggapan dari orang lain mengetahui sehingga dapat diketahui perubahan karakter dasar (karakter tokoh 3D) adalah fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Perubahan karakter Rangga dapat diketahui melalui pendekatan psikologi yang didalamnya memuat karakterisasi tokoh, kostelasi tokoh, dan konsepsi tokoh. Melalui pendekatan tersebut akan nampak struktur, dinamika, dan perkembangan tokoh Rangga sehingga dapat diketahui perubahan karakter Rangga yang berdampak pada kehidupannya dalam film ini. Mira Lesmana, Indonesia's leading producer, made a breakthrough by writing  story itself and released the film “What’s Up with Love? 2”. The strength of the film is not simply leaning on the previous sequel, but also packed with interesting stories flow. Flow hang on previous sequel is a great opportunity to develop creativity. Mira Lesmana form of creativity in the writing of this movie is to change the main character, Rangga. Characters of  Rangga deliberately made different based on the character of Cinta. Rangga character changes occur at the beginning and end of the story. Character of Rangga change can be seen from the expression, dialogue and feedback from others to know that it can be seen changes in the basic character (characters 3D) is a physiological, sociological, and psychological. Rangga character change can be known through the psychological approach which includes the characterization of the figures, kostelasi character, and character conception. Through this approach would seem the structure, dynamics and character development that can be known Rangga character changes that have an impact on life in this film.
Pola Karya Konvensi pada Film Sekuel Studi Kasus Film Ada Apa Dengan Cinta? 2 Danissa Dyah Oktaviani; Sugeng Nugroho
Jurnal Kajian Seni Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Kajian Seni Vol 3 No 1 November 2016
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.151 KB) | DOI: 10.22146/jksks.29875

Abstract

Film Ada Apa dengan Cinta? 2 is a romance drama genre fi lm that was released in 2016. This study will identify the characteristics of the genre of the fi lm Ada Apa Dengan Cinta? 2 as drama romance. Dilakuakan identifi cation process using the basic scheme of the genre. The analysis aims to look at the depth of a movie as a genre film drama romance. The theory used is a genre theory drama by Jane Stokes as the main genre and romance as a sub-genre. The results of the research will be found pieces of pictures depicting scenes drama become romance film characteristics are becoming a common convention in the fi lm Ada Apa Dengan Cinta? 2. Characteristics of the setting and location diantanya is commonly used in everyday life, using the iconography in the form of specifi c causal fashion, narrative events culinary journey, locations and adventurous vacation, the whole character is the protagonist, and the structure of the plot told a farewell and an encounter back in love triangle. As a sequel, the film has differences with its predecessor
Branding Produk Umkm Daster Sambung Sawitri melalui Media Digital Agus Fatuh Widodo; Danissa Dyah Oktaviani; Fadlilah Hanifah; Dhea Fildza Hadhira; Alifatul Izzah
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 1, No 1 (2022): Jan-Jun
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1129.73 KB) | DOI: 10.26858/srq.v1i1.33452

Abstract

Perkembangan teknologi dapat menyelesaikan persoalan ruang dan waktu. Pandemi covid 19 yang melanda dunia sejak Desember 2019 menimbulkan dampak ke berbagai sektor kehidupan. Salah satunya memunculkan masalah perekonomian. Adanya peraturan pembatasan sosial berskala besar membuat banyak pedagang yang tidak bisa menjual dagangannya. Banyak penjual menghentikan sementara pekerjaannya dan tidak sedikit pula yang akhirnya gulung tikar karena tidak bisa bertahan. Pengusaha UMKM Daster Sambung Sawitri merupakan salah satu pedagang yang dapat bertahan dengan segala keterbasan yang ada. Berdasarkan hal tersebut, UMKM ini dipilih untuk dilakukan pendampingan. Strategi yang digunakan untuk pengembangan UMKM ini adalah dengan Branding Produk. Metode yang digunakan sebagai aplikasi rencana branding dilakukan dengan cara observasi, identifikasi masalah, dan analisis pemecahan masalah. Setelah menemukan inti permasalahan dan solusi terbaik maka pelaksanaan pendamipingan dilakukan dengan serangkaian kegiatan, yaitu pembuatan nama dan logo produk baru, pembuatan foto iklan produk, pembuatan video iklan iklan produk, pembuatan tagwear, pembuatan nota custom, dan pembuatan banner. Strategi tersebut dilakukan dengan melihat sejarah perkembangan UMKM dengan harapan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas sehingga dapat menaikkan mutu kehidupan usaha yang ditekuni.
Kolaborasi Konsep Imajinasi Kreatif dan Intelektual dalam Adaptasi Pengembangan Media Film di Tengah Pandemi Danissa Dyah Oktaviani
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i2.6766

Abstract

ABSTRAKKeterbatasan mobilitas di masa pandemi sebagai salah satu langkah mencegah penyebaran wabah virus ikut membatasi pergerakan dunia media khususnya industri film. Film merupakan karya seni yang merepresentasikan kehidupan di alam semesta sehingga selayaknya mempunyai ruang lingkup yang luas pula. Tulisan ini membahas ruang kreativitas dengan mengaplikasikan konsep imajinasi kreatif tidak terbatas yang dimiliki oleh sineas dalam menciptakan sebuah karya seni di tengah masa pandemi dengan mengembangkan imajinasi intelektual. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kolaboratif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk menghasilkan sebuah temuan alternatif konsep baru dengan cara menggabungkan konsep-konsep yang ada sebelumnya Hasil temuan penelitian ini adalah bentuk kolaborasi konsep imajinasi kreatif dan intelektual dalam berkarya membuat sineas tetap dapat bergerak dengan bebas dalam keterbatasan. Proses kreatif sineas dapat memanfaatkan segala unsur film untuk menghasilkan produk dengan mempertimbangkan dan melihat media film dari sudut pandang karya seni yang memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menyampaikan pesan kepada khalayak luas sehingga industri film tetap dapat bertahan di masa pandemi. Kesimpulan dalam penelitian ini merujuk pada usaha sineas yang tidak memberi batasan dalam berkarya akan lebih tenang dan teliti dalam melihat peluang produksi karya film dengan memanfaatkan banyak platform sehingga tidak terjebak dalam situasi pandemi.  
OLAH DATA RISET: DASAR KUNCI KEKUATAN DAN KEBERHASILAN FILM DOKUMENTER Oktaviani, Danissa Dyah; Widoyo, Agus Fatuh; Subagya, Timbul
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 7, No 2 (2023): September
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v7i2.47308

Abstract

Film dokumenter memiliki kekuatan untuk mengubah pola pikir penontonnya. Kekuatan tersebut diperoleh dari sudut pandang yang dihadirkan dalam film tersebut. Sudut pandang dibangun dari fakta-fakta yang disusun secara terstruktur kemudian menghasilkan sebuah pemikiran yang baru. Semakin banyak fakta yang diperoleh maka film documenter akan semakin menarik karena di dalamnya memuat kekayaan data yang dapat diolah yang bersumber pada kedalaman riset. Melalui riset mendalam, memilah data sesuai kotak-kotak di setiap bagian, dan menyusunnya secara terstruktur agar mudah dipahami. Proses riset yang sistematis dan terstruktur dapat dilakukan ketika pembuat film benar-benar paham apa yang akan ditulis dan kebutuhan seperti apa yang diperlukan bersumber pada ide yang dimiliki sebelumnya. Riset yang baik akan memperhatikan unsur-unsur visual yang memuat apa saja konten yang akan dimasukkan dan bagaimana cara pengambilan audio visualnya. Riset dalam film dokumenter akan mempengaruhi nilai sebuah film. Semakin mendalam sebuah riset maka film yang dihasilkan akan semakin bermakna. Batasan dalam melakukan riset juga perlu dilakukan guna memastikan luaran film selalu terjaga arah tujuannya. Batasan itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembuat film
THE MOJOARUM SITE AS A SOURCE OF IDEAS FOR CREATING BATIK MOTIFS FOR KEBAYA CLOTHES Desiatri, Olivia Evi; Oktaviani, Danissa Dyah
Runtas : Journal Of Arts And Culture Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/runtas.v2i1.4846

Abstract

This study aims to make Mojoarum Site as a source of inspiration in creating batik motif for Javanese blouse. The artwork creation process begins with exploration stage by doing direct observation toward Mojoarum site. The results of the observations are then used as a batik motif on Javanese blouse. Designing process is the next stage after exploration where, at this stage, the selection of the most suitable batik motifs is carried out. The last step is embodiment process in which this step uses covering and dying technique in creating batik motifs. Naphthol was chosen as coloring matter for resulting sense of beauty to the artwork. Overall, the embodiment process comprises nyorek (creating pattern), membatik (drawing batik motif), coloring, melorod (releasing wax from fabric), sewing, and finishing. This creation process resulted in four works and each one was named according to the history of the formation of the Mojoarum site as a village. The name of the first work is Slobog Paceklik, the second work is Udan Liris Bramantha, the third work is Sidomukti Sutrepta, and the fourth work is Sidomukti Rahayu Windraya. We then call the batik motifs relulted from this artwork creation as Mojoarum Batik Motif. It is expected that the society inspired to be more care with environment and tries to maintain cultural preservation through the creation of Mojoarum Batik Motifs.
Aksesibilitas Kaum Inklusif Disabilitas Batik Ciprat Rumah Kinasih dengan Kreativitas Penciptaan Busana Karnaval Oktaviani, Danissa Dyah; Purnomo, Muhammad Arif Jati; Hajja, Syarifah Nur; Subagya, Timbul
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 5 No 3 (2024): Jurnal Abdimas Kartika Wijaya Kusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v5i3.559

Abstract

Keterbatasan penyandang disabilitas bukan merupakan sebuah batas. Penyandang disabilitas berhak mendapatkan kesetaraan dengan segala kemampuan yang dimiliki. Harapan dapat muncul sebagai penyemangat kaum disabilitas saat muncul sebuah teknologi yang selaras dengan potensi penyandang disabilitas di berbagai aspek. ISI Surakarta melalui prodi Desain Mode Batik memiliki perhatian yang tinggi dalam mengembangkan kaum disabilitas dengan pemberdayaan dalam potensi fesyen dan batik. Melalui PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) Kemitraan dengan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, ISI Surakarta memberikan perhatian khusus pada Yayasan Rumah Kinasih yang juga bergerak mengembangkan kaum disabilitas di bidang batik. ISI Surakarta mendukung penuh dengan memberikan perencanaan dan pelatihan pengembangan produk batik dan fesyen, yaitu pelatihan tata rias dan busana karnaval. Pelatihan difasilitasi penuh oleh ISI Surakarta dengan dapat menghasilkan luaran yang bermanfaat bagi seluruh pihak, di antaranya peningkatan kualitas daya kreatif dan daya cipta kaum disabilitas pada bidang produksi hilirisasi batik dan pembuatan busana karnaval berbasis lokal genius. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup dan rasa percaya diri kaum disabilitas dalam menjalankan hidup dengan pengembangan potensi terbaiknya.
Penciptaan Busana Art Wear Jellabiya Husna Al-Fakhir Kepada Santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam II Tangerang Banten Hajja, Syarifah Nur; Oktaviani, Danissa Dyah
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 10 No 1 (2025): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/jppm.v10i1.1023

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat karya seni ini memberikan motivasi kepada santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam II Jayanti, Tangerang, Banten untuk bisa memiliki kreativitas pada penciptaan busana art wear. Pengabdian kepada masyarakat karya seni ini juga mengenalkan kepada santri bahwa fashion art wear juga bisa berguna pada perkembangan dan penerapan IPTEKS di kalangan pondok pesantren. Tujuan dari pelatihan busana ini bisa menjadi media promosi bagi Daar el-Qolam II bahwa Santri juga bisa berkarya dan menjadi desainer profesional. Tentunya dengan menerapkan asas keislaman dan tidak terlepas dari motto pondok dan panca jiwa pondok. Metode pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini berupa pelatihan dan pendampingan teknik merancang busana art wear sampai teknik pembuatan busana yang akan menghasilkan satu buah busana art wear. Para santri menyatakan bahwa mereka mendapatkan ilmu pengetahuan baru dalam pembuatan busana art wear yang bisa mereka gunakan saat ada kegiatan Milad Pondok Pesantren, kegiatan HUT RI, dan Jambore Nasional. This Artwork community service program motivates students of Daar el-Qolam II Jayanti Islamic Boarding School, Tangerang, Banten to be able to have creativity in the creation of art wear fashion. This Artwork Community Service also introduces students to the fact that art wear fashion can also be useful in the development and application of science and technology among Islamic boarding schools. The purpose of this fashion training can be a promotional media for Daar el-Qolam II that Santri can also work and become professional designers. Of course, by applying Islamic principles and not apart from the Pondok Motto and Panca Jiwa Pondok. The method of approach used in this activity is in the form of training and mentoring in art wear fashion design techniques to fashion making techniques that will produce one art wear. The students stated that they gained new knowledge in making art wear that they could use when there were Milad Pondok Pesantren activities, Indonesian Independence Day activities, and National Jamborees.
Bentuk Kerjasama Kompas TV Dan RBTV Dalam Pelaksanaan Sistem Stasiun Jaringan (SSJ) Utami, Citra Dewi; Oktaviani, Danissa Dyah
Capture : Jurnal Seni Media Rekam Vol. 6 No. 2 (2015)
Publisher : Seni Media Rekam ISI Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5381.425 KB) | DOI: 10.33153/capture.v6i2.745

Abstract

Sistem Stasiun Jaringan (SSJ) is a broadcasting system in the world that is now being intensively carried out in Indonesia. The entire private television stations in Indonesia are required to switch to using SSJ and left the broadcasting system centralization. The focus of this study aims to investigate the implementation of the SSJ in Indonesia which is first implemented by Kompas TV with one member of the affiliation network, RBTV (Reksa Birama TV). Cooperation agreement between Kompas TV and RBTV appears differently with another cooperation model in the Kompas TV network.The approach of the research used qualitative descriptive, and the data collection used: (1) direct observation, (2) interview, (3) document review, and (4) literature. The result of research showed that cooperation of Kompas TV and RBTV formed a cartel which contained six points of cooperation, namely (1) Empowerment of human resources together, (2) Production of a joint program, (3) broadcasting program, and (4) development of shared infrastructure (5) the use of shared equipment, and (6) cooperation arrangements in the contract within a certain time.Keywords: SSJ, Kompas TV, RBTV, and cartel