Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

NASKAH LONGSER KARYA H. R HIDAYAT SURYALAGA SEBAGAI BAHAN PANGAJARAN DI SMA/MA/SMK (Ulikan Struktural-Sémiotik) FIRMANSYAH, ARIEF
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3090

Abstract

Dewasa ini peminat drama longser semakin menurun, hal itu disebabkan oleh sajian cerita yangditampilkan tidak sesuai dengan keadaan di masa sekarang. Tujuan diadakan penelitian ini adalahuntuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan karya sastra, khususnya naskah longser kemudianditerapkan sebagai bahan pembelajaran di SMA/MA/SMK. Penulis menggunakan dua metodepenelitian, yaitu metode deskriptif analitis dan struktural-semiotik. Sumber data yang digunakandalam penelitian ini adalah dari kumpulan naskah drama karya H.R Hidayat Suryalaga yang tidakditerbitkan, difokuskan pada dua naskah longser yang berjudul “Mad Toing” dan “Tisolédat”.Setelah proses identifikasi terhadap naskah longser tersebut dapat dideskripsikan kedua naskahtersebut bertemakan tentang kemanusiaan yaitu mengenai masalah moral dan masalah sosial yangsedang berlangsung.Kata Kunci: naskah longser, bahan pangajaran, struktural-semiotikAbstractNowadays interest in the longser drama is increasingly declining, which is due to the fact thatits presentation does not 􀂿t with the current situation. The goal of this study was to identify anddescribe literature works, in particular the manuscript of longser as a teaching material at SMA/MA/SMK. Two research methods were used, namely a descriptive analytical method and a structuralsemioticmethod. The data stemmed from the unpublished collection of drama manuscripts by H.RHidayat Suryalaga, focusing on two longser manuscripts entitled “Mad Toing” and “Tisolédat”.Examination of the manuscripts indicates that the main theme of the texts is humanity, speci􀂿callythe moral and social issue in modern day times.Keywords: longser manuscript, teaching material, structural-semiotic
TRANSFORMASI DAN PROSES PEWARISAN PERTUNJUKAN TEATER TRADISIONAL LONGSER D. Nurfajrin Ningsih; Arif Firmansyah
Aksara: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 1 (2022): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/aksara.v6i1.308

Abstract

This study aims to describe the changes in Longsér based on its development, and how the process of inheriting Longsér is carried out by the Sunda Kiwari Theater. In the show, Longser is delivered in the local language, namely Sundanese which tells about everyday life. The Longsér group that has been known is the Panca Warna group. This study uses a qualitative approach with analytical descriptive method. The data collection technique is based on the results of observations and interviews with the Sunda Kiwari theater. The traditional Longsér theater performance by Teater Sunda Kiwari has been transformed into a more modern form according to the demands of the market and the wishes of the people. Based on the six aspects studied, almost all aspects of the structure underwent a transformation, such as changes using text/scripts, director intervention, and a more modern stage setting.
Rajah: Tradisi lisan Carita Pantun Mang Ayi di Masyarakat Sunda Arif Firmansyah; Novi Anoegrajekti; D Nurfajrin Ningsih; Sudartomo Macaryus
CARAKA Vol 9 No 1 (2022): December 2022
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/caraka.v9i1.13310

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui bentuk-bentuk kepercayaan masyarakat Sunda pada rajah carita pantun Mang Ayi serta mengetahui korelasi kepercayaan dengan kehidupan masyarakat Sunda saat ini. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dan deskriptif kualitatif. Penelitian menjelaskan realita empirik di balik fenomena seni tradisi carita pantun secara mendalam, rinci, dan tuntas. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kepercayaan masyarakat Sunda pada rajah carita pantun sangatlah masih besar terlihat pada bentuk kegiatan yang melibatkan rajah carita pantun, antara lain syukuran 40 hari bayi yang baru lahir, siraman calon pengantin yang akan menikah, kunjungan tokoh publik, upacara adat museum Salamet Balik Ka Pangasalan, dan ruwatan benda pusaka.   Rajah: The oral tradition of Carita Pantun Mang Ayi in the Sunda Community   Abstract: This research aims to find out the forms of Sundanese people's beliefs in carita pantun and to know the correlation of beliefs with the life of Sundanese people today. This research uses a qualitative descriptive method. This research wants to describe the empirical reality behind the phenomenon in depth, detail, and thoroughly. Based on the results of the analysis, it is known that the trust of the Sundanese people in the rajah of the carita pantun is still very large, which can be seen in the form of activities that involve the rajah of the carita pantun, among others: 40-day thanksgiving for a newborn baby, showering of brides-to-be, visits by public figures, traditional museum ceremonies "Salamet Balik Ka Pangasalan" and the treatment of heirlooms.
OPTIMALISASI TRADISI MANTUN: PENGEMBANGAN ECONOMIC RESILIENCE MELALUI INDUSTRI KREATIF Arif Firmansyah; Novi Anoegrajekti; Dini Nurfajrin Ningsih; Sudartomo Macaryus
Prosiding Seminar Nasional dan Internasional HISKI 2023: THE 31st HISKI INTERNATIONAL CONFERENCE ON LITERARY LITERACY AND LOCAL WISDOM (JUNI 2023)
Publisher : Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/psni.v3i0.90

Abstract

Potensi Tradisi Mantun sebagai sebuah seni pertunjukan menjadi salah satu prioritas yang dapat dikembangkan menjadi industri kreatif. Tujuan tersebut representatif dengan potensi Indonesia yang memiliki keragaman budaya baik seni pertunjukan maupun sastra lokal yang apabila dikelola dengan baik bisa menghasilkan ekonomi kreatif untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat pendukungnya. Fokus penelitian ini adalah optimalisasi tradisi mantun: pengembangan economic resilience melalui industri kreatif. Sub fokusnya fungsi dan makna tradisi mantun serta optimalisasinya melalui industry kreatif untuk meningkatkan ketahanan ekonomi masyakat pendukungnya. Penelitian ini menggunakan metode etnografi. Data yang diperoleh berdasarkan hasil observasi, rekaman, serta wawancara. Adapun hasil penelitiannya, 1) Makna yang terkandung dalam Tradisi Mantun berupa makna keselamatan, hubungan masyarakat dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Dan fungsi  Tradisi Mantun pada masyarakat pendukungnya yaitu fungsi dakwah, fungsi interaksi sosial, fungsi pendidikan dalam rangka sosialisasi nilai sosial, dan penangkal individualisme, 2) para juru pantun telah melakukan optimalisasi dalam sajian pertunjukannya dengan tetap berpegang pada norma adat yang berlaku dalam masyarakat. Inovasi pertunjukan yang telah dilakukan kemudian dikembangkan melalui digitalisasi sehingga menghasilkan produk industri kreatif film dokumenter sebagai media promosi pertunjukan.
Telaah Buku Berjudul Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut: Cakap Berbahasa Dan Bersastra Indonesia Untuk SMA Kelas XI, Karya Rahmah Purwahida Dan Maman Gunawan Gunawan; Arif Firmansyah
Journal on Education Vol. 7 No. 2 (2025): Journal on Education: Volume 7 Nomor 2 Tahun 2025 In Progress (Januari-Februari
Publisher : Mathematics Education Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v7i2.8147

Abstract

Bahasa Indonesia, yang memiliki peran sebagai bahasa nasional dan identitas bangsa, menjadi elemen penting dalam memperkuat wawasan kebangsaan dan keterampilan komunikasi generasi muda. Dalam era globalisasi, penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi kompetensi utama, tidak hanya dalam konteks akademis tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Buku Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut: Cakap Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA Kelas XI karya Rahmah Purwahida dan Maman hadir untuk mendukung penguasaan bahasa dan sastra Indonesia melalui pendekatan kontekstual yang relevan dengan Kurikulum Merdeka. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian materi buku tersebut dengan capaian pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka, menilai kelayakan kebahasaan, serta mengevaluasi kelengkapan dan keakuratan materi yang disajikan. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dan metode analisis isi, penelitian ini menemukan bahwa materi dalam buku ini disusun secara sistematis dan sesuai dengan kompetensi dasar dalam Kurikulum Merdeka, seperti keterampilan membaca kritis, menulis teks, serta apresiasi sastra. Buku ini juga menerapkan pendekatan berbasis konteks yang memfasilitasi pengembangan kompetensi abad ke-21, seperti berpikir kritis dan kreatif, serta mendukung pembelajaran berbasis proyek yang relevan dengan tuntutan dunia modern.
Representasi Nilai Estetika dalam Lirik Lagu Asmalibrasi dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran di SMA Nur Sherina Sopianti; Arif Firmansyah
EDUKASIA: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 4 No. 1 (2023): Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : LP. Ma'arif Janggan Magetan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62775/edukasia.v4i1.255

Abstract

he purpose of this research to describes the aesthetic value in the physical structure used in the lyrics of Soegi Bornean’s Asmalibrasi song and describes the implications of this research for learning Indonesian in high school. This research uses a qualitative description. The data source in this research is obtained from the lyrics of Asmalibrasi song by Soegi Bonean. This research uses documentary techniques, writing techniques and reading techniques. The theory used in the physical structure of Asmalibrasi song lyrics such as diction, imagery and language style used in conveying the meaning of an Asmalibrasi song lyric. This research is applied to Indonesian language learning in high school class X phase E of the Merdeka Curriculum. Implications for students' understanding of Indonesian language, cultural understanding, level of listening to lyrics and understanding meaning, and introduction to kebhinekaan Indonesia.
Konstruksi Makna, Identitas Lokal, dan Spiritualitas dalam Folklor Batu Kuda: Kajian Semiotika Peirce Arif Firmansyah; Nova Aldhita Vatahhayati; Miftahul Malik
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.7839

Abstract

This study aims to obtain and describe the moral value of the oral tradition of Horse Stone folklore based on Pierce's semiotics in classifying objects based on the classification of symbols, icons, and indices. Pierce's use of semiotics is related to the uses possessed by folklore itself. All types of folklore, whether oral folklore, partly oral folklore or non-oral folklore, have uses or functions that are very important for human life. This makes folklore in life can describe the way a person involves himself in the midst of community life. The method used qualitative method with a semiotic approach, because the results of data that have been generated and collected on the Horse Stone folklore will be described in the form of written data. Finally, the results of data processing are used as a proposal for literature teaching materials in high school based on the Independent Curriculum in the form of modules. Learning folklore or folklore has a very important role in efforts to preserve noble values and local cultural wisdom. In education, folklore can be used as a learning medium and can be used as learning material for students. The use of folklore as an educational medium can be utilized in various disciplines, which of course the selection of folklore used must be right with the subject matter to be delivered. The use of folklore as an educational medium also acts as one step in preserving existing local culture. Therefore, getting used to delivering lessons through teaching materials is an effort to preserve folklore as part of culture, both protection, utilization and development of folklore in the future. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dan mendeskripsikan nilai moral dari tradisi lisan folklor Batu Kuda ini berdasarkan semiotik Pierce dalam penggolongan objek berdasarkan klasifikasi simbol, ikon, dan indeks. Penggunaan semiotika Pierce ini berkaitan dengan kegunaan yang dimiliki oleh folklor itu sendiri. Keseluruhan jenis folklor baik folklor lisan, folklor sebagian lisan ataupun folklor non lisan, memiliki kegunaan atau fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Hal tersebut membuat folklor dalam kehidupan itu dapat menggambarkan cara seseorang melibatkan dirinya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Metode yang digunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotik, karena hasil data yang telah dihasilkan dan dikumpulkan pada folklor Batu Kuda akan dideskripsikan dalam bentuk data tertulis. Terakhir hasil pengolahan data dijadikan sebagai usulan bahan ajar sastra di SMA berdasarkan Kurikulum Merdeka berbentuk modul. Pada isi cerita folklor Batu Kuda ini, peneliti mendapatkan 11 hasil analisis data yang menggunakan semiotika Pierce yang pengklasifikasianya berdasarkan objeknya yang di dalamnya terdapat : Ikon adalah tanda yang menyerupai bentuk objek aslinya. Terdapat tiga (3) data dari hasil analisis ikon pada folklor Batu Kuda. Indeks adalah tanda yang berkaitan dengan hal yang bersifat kausal, atau sebab akibat. Terdapat tiga (3) data dari hasil analisis indeks pada folklor Batu Kuda. Dan Simbol adalah tanda yang berkaitan dengan penandanya dan juga petandanya. Terdapat lima (5) data dari hasil analisis simbol pada folklor Batu Kuda. Dengan total keseluruhan data yang diperoleh dalam analisis semiotika pada folklor Batu Kuda yaitu berjumlah sebelas (11) data yang terdiri dari tiga pengkategorisasian.
Rajah dalam Tradisi Ngaruwat Gunung Manglayang di Kampung Cikoneng Kabupaten Bandung: Kajian Semiotika Roland Barthes Arif Firmansyah; Miftahul Malik; Denisa Ayu Nita; Siska Marlina
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8385

Abstract

The purpose of this study is to determine the procession of the Mount Manglayang ngaruwat tradition as an effort to preserve tradition and to analyze the forms of denotation and connotation in the text of the ngaruwat text of Mount Manglayang. This study uses Roland Barthes' semiotic theory. The research method used is a qualitative descriptive method with data in the form of words, phrases and sentences in the rajah text and data sources obtained from the results of interviews with the figures involved. Data collection techniques use observation, interview and documentation techniques. The tradition of ngaruwat Mount Manglayang carried out by the people of Cikoneng Village, Cibiru Wetan Village and all the people around Mount Manglayang aims to ward off disaster or purify themselves from disaster and danger. Based on the results of the research conducted, it is concluded: (1) the procession of the Mount Manglayang ngaruwat tradition begins with sanduk-sanduk, rajah, ngarekes, nanjebkeun pamali and ends with community balakecrakan. (2) The rajah text that is chanted during the Mount Manglayang ngaruwat tradition procession consists of 12 stanzas and in total there are 134 lines from each stanza. After analysis, there were 50 lines included in connotation and 84 lines included in denotation. Abstrak Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui prosesi tradisi ngaruwat Gunung Manglayang sebagai upaya pelestarian tradisi serta menganalisis bentuk denotasi dan konotasi dalam teks rajah ngaruwat Gunung Manglayang. penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskrptif kualitatif dengan data berupa kata, frasa dan kalimat dalam teks rajah dan sumber data didapatkan dari hasil wawancara terhadap tokoh yang terlibat. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Tradisi ngaruwat Gunung Manglayang yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Cikoneng Desa Cibiru Wetan dan seluruh masyarakat sekitar Gunung Manglayang bertujuan untuk tolak bala atau pensucian diri dari malapetaka dan marabahaya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka disimpulkan: (1) prosesi tradisi ngaruwat Gunung Manglayang yaitu dimulai dengan sanduk-sanduk, rajah, ngarekes, nanjebkeun pamali dan diakhiri dengan balakecrakan masyarakat. (2) Teks rajah yang dilantunkan saat prosesi tradisi ngaruwat Gunung Manglayang ini terdiri dari 12 bait dan total keseluruhan terdapat 134 larik dari setiap baitnya. Setelah dianalisis terdapat 50 larik termasuk ke dalam konotasi dan 84 larik termasuk ke dalam denotasi.