Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RANCANGAN TEKNIS SISTEM PENYALIRAN TAMBANG PADA PENAMBANGAN BATUGAMPING DI UP. PARNO, DESA KARANGASEM, KECAMATAN PONJONG, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Raditya Mahardhika; Hartono; Inmarlinianto
INTAN Jurnal Penelitian Tambang Vol. 5 No. 2 (2022): INTAN Jurnal Penelitian Tambang
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan Program Studi S1 Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56139/intan.v5i2.148

Abstract

UP. Parno is a limestone mining company operating in Karangasem Village, Ponjong District, Gunungkidul Regency. UP. Parno has an IUP with an area of 5.7 hectares by implementing an open mining system (surface mining) with the quarry method. Surface mining affects the surface due to climate. When it rains, the falling rainwater can pool in the mining area and around the lower mining openings. If it is dry, no rainwater enters the mining area. Thus, an adequate mine drainage system design is needed. Water discharge is the main thing to determine a good mine drainage system design. Based on the results of the calculation of rainfall data from 2011 to 2020, it is known that the planned rainfall is 101.70 mm/day, and the rainfall intensity is 43.77 mm/hour with a five-year return period of rain. The purpose of making an open channel is to drain rainwater that enters the mining area and drain runoff so that the mine road does not stagnate. The designed open channel has dimensions of b = 1.50 m; B = 1.00 m; d = 0.60 m; h = 0.50 m; a = 0.60 m. Culverts function to drain water from open channels that cut off haul roads. The culverts required are made of smooth cement surface, with a diameter of 0.35 m. The water flowing by the open channel will go to the settling pond to be purified first before flowing into the river around the mining area. The settling pond is designed to consist of three compartments with an area of 264 m2 each and 666 m3 volume. Dredging of sediment in settling ponds must be carried out every 10 months and 13 days.
Kajian Geometri Jalan Angkut Terhadap Fuel Ratio Pada Penambangan Batubara Seam A2 Di PT Bukit Asam Tbk, Tanjung Enim Chandradevi, Vandya Aulia Azzahra; Ratminah, Wawong Dwi; Saputro, Kristanto Jiwo; Haq, Shofa Rijalul; Inmarlinianto
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol. 11 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jtp.v11i2.15623

Abstract

Jalan angkut merupakan salah satu faktor yang memiliki peran penting dalam menunjang efisiensi operasi pengangkutan batubara. Kondisi geometri jalan angkut akan berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar dan produktivitas alat angkut. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengevaluasi kondisi geometri jalan angkut, serta mengkaji mengenai dampak dari geometri jalan angkut terhadap konsumsi bahan bakar dan produktivitas di PT Bukit Asam Tbk, Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Metode penelitian mencakup studi literatur dan observasi lapangan untuk memperoleh data primer dan sekunder mengenai kondisi geometri jalan angkut batubara. Dari hasil observasi lapangan dilakukan analisis dengan metode simulasi untuk nilai rimpul yag dihasilkan. Hasil analisis ditemukan bahwa ketidaksesuaian geometri seperti lebar jalan yang kurang memadai, kemiringan curam, radius tikungan kecil, serta superelevasi dan cross slope yang tidak sesuai. Hal tersebut dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar dan menurunkan produktivitas. Upaya perbaikan yang dilakukan, meliputi pelebaran jalan, penyesuaian kemiringan, pengaturan superelevasi, cross slope, serta memperbesar radius tikungan pada beberapa ruas, terbukti mampu meningkatkan kapasitas angkut dari 56.696,64 ton/bulan menjadi 66.527,65 ton/bulan. Jumlah ritase juga meningkat dari 1,69 kali/jam menjadi 2,02 kali/jam, sementara konsumsi bahan bakar sedikit menurun dari 10,59 liter/jam menjadi 10,58 liter/jam. Perubahan tersebut berdampak pada penurunan fuel ratio dari 0,48 menjadi 0,41 yang telah sesuai dengan standar perusahaan. Temuan ini menegaskan bahwa kondisi geometri jalan angkut memiliki pengaruh langsung terhadap produktivitas, penggunaan bahan bakar, serta nilai fuel ratio.