Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

IDENTIFIKASI KUMARIN DAN PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP TOTAL KUMARIN PADA EKSTRAK BUAH API-API PUTIH (A. marina): COUMARIN IDENTIFICATION AND EFFECT OF SOLVENTS ON TOTAL COUMARIN CONTENT OF API-API PUTIH FRUIT (A. marina) EXTRACT Alik Kandhita Febriani; Khairul Anam
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 4 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i4.452

Abstract

Api-api putih (Avicennia marina) adalah salah satu jenis mangrove yang memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, tannin, steroid, saponin, terpen, glikosida, dan kumarin. Pada tanaman api-api putih, kadar kumarin total tertinggi ada pada buahnya dibandingkan dengan daun dan kulit batangnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar kumarin total ekstrak buah api-api putih yang diekstraksi dengan pelarut yang berbeda serta profil senyawa kumarin pada tiap pelarut menggunakan metode KLT. Ekstraksi dilakukan dengan metode sokletasi secara sekuensial dengan pelarut berturut-turut n-heksana, kloroform, metanol, dan air. Penentuan kadar kumarin total diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 274 nm. Total kumarin dinyatakan dalam mg CE (Coumarin Equivalent)/100 g ekstrak. Kumarin (1,2 benzopyrone) digunakan sebagai senyawa standar. Skrining fitokimia menunjukkan simplisia buah api-api putih mengandung alkaloid, tannin, saponin, flavonoid, dan steroid/triterpenoid. Ekstrak metanol merupakan ekstrak dengan rendemen terbanyak yaitu 22,22% diikuti dengan ekstrak air (12,77%), kloroform (0,48%), dan n-heksana (0,36%). Kadar kumarin total tertinggi yaitu 80,9 ± 1,4 mg CE/100 g ekstrak metanol diikuti dengan ekstrak air sejumlah 17,5 ± 1,4 mg CE/100 g ekstrak, ekstrak kloroform 10,9 ± 0,4 mg CE/100 g ekstrak, dan ekstrak n-heksan sejumlah 6,08 ± 0,4 mg CE/100 g ekstrak. Hasil penentuan kumarin total dapat dilihat bahwa kadar kumarin total tertinggi ada pada ekstrak metanol didukung dengan hasil identifikasi menggunakan metode KLT yang memperlihatkan noda kumarin yang terlihat jelas dibandingkan dengan ekstrak lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa metanol adalah pelarut terbaik untuk mengekstrak kumarin pada buah api-api putih.
IDENTIFIKASI KUMARIN DAN PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP TOTAL KUMARIN PADA EKSTRAK BUAH API-API PUTIH (A. marina): COUMARIN IDENTIFICATION AND EFFECT OF SOLVENTS ON TOTAL COUMARIN CONTENT OF API-API PUTIH FRUIT (A. marina) EXTRACT Alik Kandhita Febriani; Khairul Anam
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 4 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i4.452

Abstract

Api-api putih (Avicennia marina) adalah salah satu jenis mangrove yang memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, tannin, steroid, saponin, terpen, glikosida, dan kumarin. Pada tanaman api-api putih, kadar kumarin total tertinggi ada pada buahnya dibandingkan dengan daun dan kulit batangnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar kumarin total ekstrak buah api-api putih yang diekstraksi dengan pelarut yang berbeda serta profil senyawa kumarin pada tiap pelarut menggunakan metode KLT. Ekstraksi dilakukan dengan metode sokletasi secara sekuensial dengan pelarut berturut-turut n-heksana, kloroform, metanol, dan air. Penentuan kadar kumarin total diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 274 nm. Total kumarin dinyatakan dalam mg CE (Coumarin Equivalent)/100 g ekstrak. Kumarin (1,2 benzopyrone) digunakan sebagai senyawa standar. Skrining fitokimia menunjukkan simplisia buah api-api putih mengandung alkaloid, tannin, saponin, flavonoid, dan steroid/triterpenoid. Ekstrak metanol merupakan ekstrak dengan rendemen terbanyak yaitu 22,22% diikuti dengan ekstrak air (12,77%), kloroform (0,48%), dan n-heksana (0,36%). Kadar kumarin total tertinggi yaitu 80,9 ± 1,4 mg CE/100 g ekstrak metanol diikuti dengan ekstrak air sejumlah 17,5 ± 1,4 mg CE/100 g ekstrak, ekstrak kloroform 10,9 ± 0,4 mg CE/100 g ekstrak, dan ekstrak n-heksan sejumlah 6,08 ± 0,4 mg CE/100 g ekstrak. Hasil penentuan kumarin total dapat dilihat bahwa kadar kumarin total tertinggi ada pada ekstrak metanol didukung dengan hasil identifikasi menggunakan metode KLT yang memperlihatkan noda kumarin yang terlihat jelas dibandingkan dengan ekstrak lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa metanol adalah pelarut terbaik untuk mengekstrak kumarin pada buah api-api putih.
Inovasi Produk Jamu dan Strategi Komunikasi Visual: Pendampingan Kemandirian Ekonomi Santri Pondok Pesantren Yayasan Ar Rodiah Semarang Wimzy Rizqy Prabhata; Evieta Rohana; Khairul Anam; Fitri Wulandari; Widyaningrum Utami; Eva Annisaa; Intan Rahmania Eka Dini; Adhe Setya Pramayoga
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 5 (2026): Volume 9 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i5.25431

Abstract

ABSTRAK Jamu merupakan warisan pengobatan herbal Nusantara yang memiliki potensi ekonomi besar namun sering kali tidak menarik minat generasi muda. Diperlukan inovasi produk dan strategi visual yang kuat agar jamu dapat bersaing di pasar saat ini. Yayasan Ar Rodiah Semarang memiliki santri usia remaja dengan potensi kreativitas tinggi yang dapat diarahkan menjadi produsen kreatif melalui pendampingan kewirausahaan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan santri mengenai penyakit degeneratif, mengajarkan pembuatan jamu dalam bentuk herbal shot, dan meningkatkan kemampuan desain visual dan pemasaran. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim KKNT 118 Universitas Diponegoro pada Juni hingga Agustus 2025 dengan melibatkan 29 santri. Metode yang digunakan adalah pendampingan partisipatif yang meliputi edukasi kesehatan, praktik formulasi sediaan, pelatihan teknik fotografi dan videografi produk, hingga uji coba pasar di Car Free Day (CFD) Tembalang. Data dikumpulkan melalui instrumen pre- dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Hasil penilaian mendemonstrasikan peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan santri. Skor rata-rata meningkat sebesar 35,89 poin, dari nilai awal (pre-test) 52,31 menjadi 88,21 pada post-test. Santri berhasil memproduksi herbal shot yang siap untuk dipasarkan dan mampu menyusun konten pemasaran visual yang estetik untuk meningkatkan daya tarik produk. Pendampingan interaktif dan terintegrasi dari hulu hingga hilir terbukti efektif mengubah paradigma santri dari sekadar penjual jamu tradisional menjadi produsen kreatif. Integrasi antara inovasi produk herbal dan komunikasi visual menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing produk jamu di pasar modern. Kata Kunci: Herbal Shot, Jamu, Komunikasi Visual, Kreativitas Remaja, Pendampingan Partisipatif                                               ABSTRACT Jamu, an Indonesian herbal medicine, has significant economic potential but often fails to attract younger generations. Strong product innovation and visual strategies are essential for jamu to compete in today's market. The Ar Rodiah Foundation in Semarang oversees teenage students (santri) with high creative potential who can be directed toward becoming creative producers through entrepreneurial mentoring. This activity aims to increase students' knowledge regarding degenerative diseases, the production of jamu in the form of "herbal shots," and the enhancement of visual design and marketing capabilities. The UNDIP KKNT 118 team conducted this community service activity from June to August 2025, involving 29 students. The method used was participatory mentoring, which included health education, formulation practice, training in product photography and videography techniques, and market testing at the Tembalang Car Free Day (CFD). Data were collected through pre- and post-tests to measure improvements in knowledge and skills. The results showed a significant increase in students' knowledge and skills. The average score increased by 35.89 points, rising from an initial pre-test value of 52.31 to 88.21 in the post-test. The students successfully produced herbal shots tailored to market preferences and were able to create aesthetically pleasing visual marketing content to enhance product appeal. Interactive and integrated mentoring, from upstream to downstream, has proven effective in shifting students' paradigms from traditional jamu sellers to creative producers. The integration of herbal product innovation and visual communication is the primary key to increasing the competitiveness of jamu products in the modern market. Keywords: Herbal Shot, Jamu, Visual Communication, Adolescent Creativity, Participatory Mentoring.