Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Rekonstruksi Hukum Keluarga Dan Waris Islam Di Era Disrupsi Digital: Perspektif Maqāṣid Al-Sharī'ah Saiful Ibnu Hamzah
Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 15 No. 1 (2026): Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Muhammadiyah University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/mqsd.v15i1.33318

Abstract

Studi sosio-legal normatif ini mengkaji bagaimana disrupsi digital menantang regulasi hukum keluarga dan waris Islam di Indonesia dengan memperkenalkan fenomena-fenomena baru yang membebani kerangka hukum konvensional. Digitalisasi telah memungkinkan pelaksanaan pernikahan daring (termasuk pertukaran mahar digital), pewarisan mata uang kripto (cryptocurrency) dan aset digital lainnya (seperti akun kreator konten, pendapatan iklan digital, dan nama domain), serta penerapan Kecerdasan Buatan (AI) dan blockchain untuk verifikasi identitas dan autentikasi dokumen. Inovasi-inovasi ini telah menciptakan kekosongan hukum dan ketidakpastian dalam kodifikasi nasional hukum keluarga Islam yang disusun di era pra-digital, sekaligus memunculkan pertanyaan etis yang mendalam mengenai garis keturunan (nasab), hak kepemilikan, dan perlindungan data pribadi. Dengan mengadopsi pendekatan sosio-legal normatif yang berlandaskan pada maqāṣid al-Sharīʿah, studi ini mengevaluasi bagaimana lima tujuan utama Syariah yaitu perlindungan agama (ḥifẓ al-dīn), jiwa (ḥifẓ al-nafs), akal (ḥifẓ al-ʿaql), keturunan (ḥifẓ al-nasl), dan harta (ḥifẓ al-māl) dapat memandu reformasi hukum. Temuan penelitian menunjukkan bahwa hukum Islam memiliki fleksibilitas epistemologis untuk merespons disrupsi digital. Rekonstruksi hukum berbasis maqāṣid diusulkan melalui: (1) pengakuan terhadap keabsahan akad pernikahan daring dengan syarat ketat berupa integrasi audio-visual waktu nyata (real-time) dan jaminan identitas yang terverifikasi; (2) pengkodifikasian aset digital yang memiliki nilai ekonomi (mutaqawwim) sebagai harta warisan (tarikah) yang diakui secara hukum; dan (3) perumusan mekanisme perencanaan warisan digital untuk melindungi hak para ahli waris. Implikasi kebijakan dari studi ini menganjurkan adanya amendemen (perubahan) terhadap peraturan nasional untuk memastikan keadilan, kepastian hukum, dan kemaslahatan umum (maslahah) di era digital. Kata Kunci: Hukum Keluarga Islam, Disrupsi Digital, Maqāṣid Al-Shari'ah, Pernikahan Daring, Warisan Digital.
PERLINDUNGAN HUKUM HARTA WAKAF DI INDONESIA PERSPEKTIF TEORI TUJUAN HUKUM GUSTAV RADBRUCH Amjad Dziky Bachtiar; Abdul Wahab; Saiful Ibnu Hamzah
Ghaly: Journal of Islamic Economic Law Vol. 4 No. 2 (2026): Ghaly: Journal of Islamic Economic Law
Publisher : Islamic Economic Law Study Program, Faculty of Sharia Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Islamic State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/3we18h66

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji perlindungan hukum harta wakaf yang disengketakan oleh ahli waris, dengan berfokus secara mendalam pada satu putusan, yaitu Perkara Nomor 1363/Pdt.G/2012/PA.Tbn tentang tanah wakaf di Desa Jarorejo, Kabupaten Tuban. Studi ini menerapkan metode yuridis normatif melalui tiga bentuk pendekatan: kasus, konseptual, serta perundang-undangan. Pisau analisis yang digunakan bertumpu pada konsepsi Trias Tujuan Hukum besutan Gustav Radbruch, yang membedah keabsahan hukum melalui indikator keadilan (gerechtigkeit), kemanfaatan (zweckmäßigkeit), beserta kepastian hukum (rechtssicherheit). Temuan riset memperlihatkan adanya tiga kekosongan hukum (vakum normatif) dalam putusan tersebut. Hal ini mencakup belum adanya batas waktu kedaluwarsa untuk menggugat Akta Ikrar Wakaf (AIW), nihilnya sistem notifikasi formal bagi ahli waris pihak wakif, serta lemahnya kewajiban yang bersifat memaksa terkait sertifikasi lahan wakaf. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada penerapan trias Radbruch secara terpadu untuk membedah satu kasus konkret yang dapat diverifikasi, sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan yang bersifat preskriptif dan aplikatif guna memperkuat regulasi wakaf suatu pendekatan integratif yang belum dijumpai dalam literatur kajian wakaf sebelumnya.
Judicial Reasoning Constructs Online Gambling as Grounds for Divorce: Alasan Hukum Menganggap Perjudian Daring sebagai Alasan Perceraian Farhan Yafi Izzudin Azmi; Saiful Ibnu Hamzah; Gandhung Fajar Panjalu
Academia Open Vol. 12 No. 1 (2027): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.12.2027.15761

Abstract

General Background: Online gambling has developed into a social issue affecting family stability and creating new challenges for legal institutions. Specific Background: In divorce cases at the Religious Court of Surabaya, judges face challenges when addressing online gambling because existing legal provisions do not explicitly regulate it as a divorce ground. Knowledge Gap: Previous studies have mainly examined the social and causal relationship between online gambling and divorce, while the construction of judicial reasoning used by judges has received limited attention. Aims: This study aims to examine how judges construct legal reasoning when using online gambling as a basis for divorce in Decision Number 1800/Pdt.G/2026/PA.Sby. Results: Using a qualitative case study combined with socio-legal studies, data were collected through interviews with a senior judge of the Religious Court of Surabaya and analysis of court documents. The findings show that judges do not merely apply legal provisions formally but develop complex reasoning involving purposive interpretation, contextualization of digital social realities, and substantive justice considerations. Maqāṣid al-syarī’ah functions as one reasoning framework supporting judicial decisions beyond literal legal texts. Novelty: This study reveals the gap between written judgments and the actual judicial reasoning process in addressing digital-era family law issues. Implications: The research contributes to understanding judicial decision-making processes in religious courts when responding to emerging digital social phenomena. Highlights: Judges apply contextual interpretation beyond formal legal provisions in online gambling divorce cases. Judicial reasoning involves legal interpretation, digital social realities, and justice considerations. Maqāṣid al-syarī’ah is used as a reasoning framework in judicial decision construction. Keywords: Legal Reasoning, Online Gambling, Religious Courts, Substantive Justice.
Tinjauan Maqashid Syariah Atas Perkawinan Beda Agama : (Analisis Komprehensif SEMA No. 2 Tahun 2023) Saiful Ibnu Hamzah
Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 14 No. 1 (2025): Maqasid Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Muhammadiyah University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/mqs.v14i1.27554

Abstract

This article provides a comprehensive analysis of Supreme Court Circular Letter (SEMA) No. 2 of 2023 concerning the registration of interfaith marriages in Indonesia, specifically through the lens of Maqasid Syariah. It delves into the legal, philosophical, religious, and human rights dimensions, presenting both arguments supporting and opposing the SEMA. The research employs a normative juridical method, utilizing statutory, conceptual, and case approaches, drawing from primary and secondary legal materials, including relevant jurisprudence. The analysis reveals that SEMA No. 2 of 2023, while aiming for legal certainty and uniformity in interpreting the Marriage Law, faces significant challenges. Its proponents emphasize legal positivism, natural law, and Pancasila values to uphold the sacredness of marriage and public morality, often aligning with the preservation of religion and lineage as per Maqasid Syariah. Conversely, opponents argue that the SEMA infringes upon human rights, contradicts legal pluralism, and possesses weak legal standing as a circular letter. The study highlights inconsistencies in judicial interpretations, particularly regarding Constitutional Court Decision No. 71/PUU-XX/2022 and post-SEMA district court rulings, which complicate its practical implementation. The SEMA's restrictive stance may inadvertently lead to legal subterfuge and create legal uncertainties for families, especially concerning children's status and inheritance rights, which can be viewed as detrimental to the preservation of offspring and property in Maqasid Syariah. This article concludes by suggesting the need for legislative reform to harmonize marriage laws with Indonesia's pluralistic society and human rights principles, while also considering the broader objectives of Maqasid Syariah. Keywords: Interfaith Marriage, SEMA No. 2 Tahun 2023, Maqasid Syariah.