Heny Dewajani
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang 65141, Indonesia

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENENTUAN KAPASITAS PRODUKSI DAN SELEKSI PROSES PRA RANCANGAN PABRIK KIMIA SABUN CAIR BERBASIS MINYAK KELAPA SAWIT KAPASITAS 40.000 TON/TAHUN Nur Laila Qomariah; Heny Dewajani
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.474

Abstract

Saat ini jaman semakin berkembang dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Dalam menjaga kebersihan serta kesehatan diri,  sabun berperan sebagai pembersih kulit dari kotoran, minyak maupun bakteri. Sabun adalah sebuah produk dari campuran senyawa kimia dengan berbagai bentuk yang digunakan untuk bahan pembersih tubuh. Sabun yang sering dijumpai dikalangan masyarakat berupa sabun mandi, sabun cuci, dan sabun kecantikan. Penelitian ini membahas penentuan kapasitas produksi dan seleksi proses pada sabun cair berbasis minyak kelapa sawit dengan katalis kalium hidroksida sebagai bahan baku utama pembuatan sabun. Tujuan dari penelitian ini menentukan kapasitas produksi dan seleksi proses pembuatan sabun cair berbasis minyak kelapa sawit yang digunakan pada prarancangan pabrik sabun cair tahun 2024. Kapasitas produksi dihitung dengan menggunakan metode linier, dimana cara yang digunakan ialah menghitung rata-rata kebutuhan produk dalam 5 tahun terakhir yaitu 2016-2020 untuk memperkirakan hasil pada tahun 2024. Selanjutnya seleksi proses, ditentukan untuk mendapatkan proses pembuatan dan komposisi sabun yang menghasilkan produk paling cocok untuk kebutuhan masyarakat dengan penekanan dalam biaya produksi. Hasil dari penelitian ini adalah kapasitas produksi pabrik sabun cair ditahun 2024 sebanyak 40.000 ton/tahun. Dan metode yang terpilih saponifikasi trigiserida dengan kondisi proses panas. Dari hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa kapasitas produksi pabrik sabun cair ditahun 2024 sebanyak 40.000 ton/tahun. Metode yang terpilih yakni saponifikasi trigiserida dengan kondisi proses panas. Dapat disimpulkan bahwa dengan kebutuhan sabun masyarakat yang besar dan hasil produk penelitian ini yang berkualitas, maka layak didirikan sebuah pabrik sabun pada tahun 2024.
PEMBUATAN SABUN MANDI CAIR DARI MINYAK KELAPA SAWIT DENGAN METODE HOT DAN COLD PROCESS Masita Rachmawati; Heny Dewajani
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.437

Abstract

Di era pandemi, menjaga kebersihan tubuh dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terpapar penyakit. Dalam menjaga kebersihan tubuh, sabun mandi cair sangat membantu untuk bisa secara maksimal membersihkan kotoran dan kuman di kulit. Sabun mandi cair dapat dibuat melalui proses saponifikasi antara minyak (trigliserida) dengan basa alkali berupa KOH. Tahapan pembuatan sabun mandi cair meliputi pembuatan soap base, pemanasan soap base, pelarutan soap base, dan penetralan serta penambahan zat aditif. Metode pembuatan soap base terdapat metode cold process dan hot process. Selain itu, jenis minyak dan konsentrasi basa alkali yang digunakan dapat beragam serta penambahan zat aditif, seperti pewarna dan pewangi. Pada penelitian ini dilakukan percobaan pembuatan sabun mandi cair menggunakan minyak kelapa sawit dengan metode cold dan hot process lalu melakukan variasi konsentrasi KOH pada metode yang terbaik pada percobaan sebelumnya. Produk sabun mandi yang dihasilkan akan diuji terhadap parameter yang ada di SNI 06-4085-1996 Tentang Syarat Mutu Sabun Mandi Cair. Hasil penelitian menunjukkan produk sabun mandi yang terbaik dihasilkan dari metode hot process dengan menggunaan konsentrasi KOH 40% b/b memiliki tekstur soap base yang lebih lembut, lebih cepat memadat, memiliki pH 9, berbentuk cair kental, berbau khas, berwarna kuning jernih, memiliki rendemen sebesar 98%, viskositas 21,0121 cSt, dan massa jenis 1,0215 g/ml.
PRA-RANCANGAN PABRIK SHOWER GEL DARI SODIUM LAURYL ETHER SULFATE DENGAN PENAMBAHAN MINYAK SAKURA PADA KAPASITAS 75.000 TON/TAHUN Nabila Rizki Amalia; Heny Dewajani
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.485

Abstract

Shower gel merupakan salah satu kosmetik pembersih yang memiliki varian aroma beragam yang memiliki efek relaksasi. Minyak sakura digunakan sebagai aromaterapi yang mempunyai khasiat tinggi antioksidan dan anti inflamasi. Shower gel mempunyai zat aktif yang penting yaitu surfaktan sebagai penghasil busa. Surfaktan Sodium Lauryl Ether Sulfate (SLES) merupakan surfaktan anionik yang memiliki sifat pembusa dan pengemulsi yang baik. SLES merupakan turunan dari Sodium Lauryl Sulfate (SLS) yang memiliki sifat lebih lembut dalam penggunaannya. Pra-rancangan pabrik shower gel dengan bahan baku surfaktan SLES dirancang beroperasi kontinyu selama 330 hari, 24 jam per hari dengan jumlah karyawan proses sebanyak 120 orang. Proses pembuatan shower gel melalui beberapa tahapan, antara lain tahap persiapan bahan baku, tahap pencampuran bahan, tahap proses ekstraksi bunga sakura, dan tahap penyimpanan serta pengemasan produk. Bentuk perusahaan dari pabrik shower gel adalah PT (Perseroan Terbatas) dengan struktur line and staff. Sistem kerja karyawan berdasarkan pembagian jam kerja yang terdiri dari karyawan shift dan non-shift. Berdasarkan hasil analisis ekonomi dan kelayakan pabrik diperoleh dari Return On Invesment (ROI) sebelum pajak sebesar 93,70% dan setelah pajak 83,64%. Pay Out Time (POT) sebelum pajak sebesar 1 tahun dan setelah pajak sebesar 1,1 tahun. Break Even Point (BEP) sebesar 29%. Internal Rate of Return (IRR) sebesar 56,4%. Dengan demikian pra-rancangan pabrik shower gel kapasitas 75.000 ton/tahun layak untuk dipertimbangkan pendiriannya.
SELEKSI PROSES DAN PENENTUAN KAPASITAS PRODUKSI INDUSTRI SABUN MANDI CAIR BERBAHAN BAKU VIRGIN COCONUT OIL (VCO) Noufi Mujibur Ridlo; Heny Dewajani
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 8, No 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.502

Abstract

Sabun mandi merupakan kebutuhan pokok yang universal, karena hampir semua manusia menggunakan sabun untuk keperluan hidupnya. Manfaat utama sabun yaitu untuk melembabkan kulit, memutihkan kulit, dan menjaga kesehatan kulit. Sabun memiliki banyak bentuk, salah satunya adalah sabun cair. Sabun cair dapat dihasilkan dari Virgin Coconut Oil, karena memiliki kandungan asam laurat tinggi yang berguna untuk kesehatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan proses yang paling efektif dalam pembuatan sabun cair dan menentukan kapasitas produksi dalam industri sabun cair. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses saponifikasi trigliserida efektif untuk digunakan karena mempertimbangkan beberapa hal yang dapat mempengaruhi jalannya industri kedepannya, seperti konversi yang dihasilkan, suhu operasi, energi yang dibutuhkan, serta limbah atau produk samping yang dihasilkan. Selain itu, penentuan kapasitas produksi harus dilakukan agar kapasitas produksi di industri sesuai dengan kebutuhan konsumsi masyarakat. Penentuan kapasitas dilakukan dengan perhitungan pertumbuhan rata-rata pertahun pada proses produksi sabun mandi cair, dengan menggunakan data ekspor dan impor pada tahun 2016-2020 untuk mendapatkan hasil perkiraan pada tahun 2024. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kapasitas produksi yang didapatkan sebesar 80.000 ton/tahun.
ANALISA JUMLAH STAGE TEORITIS PADA KOLOM DISTILASI PABRIK PLASTICIZER Yufrida Amalia; Fannania Setyo Erdiyanti; Heny Dewajani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 5 No. 1 (2019): February 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v5i1.9

Abstract

Proses finishing merupakan salah satu proses yang dilakukan di pabrik plasticizer dan bertujuan untuk mendapatkan hasil produk yang bebas dari pengotor. Pada proses ini digunakan steam distillation untuk memisahkan crude ester (produk) dari garam-garam hasil reaksi, sisa octanol, dan air. Selama ini di pabrik tersebut belum ada yang melakukan analisa jumlah stage secara teori pada kolom distilasi yang digunakan. Perhitungan jumlah stage diperoleh dari grafik menggunakan metode McCabe Thiele. Selanjutnya dibandingkan antara hasil secara teori dengan keadaan aktual pada pabrik. Jumlah stage pada kolom distilasi secara teoritis telah sesuai dengan kondisi aktual pabrik yaitu sebanyak 8 stage. Letak stage umpan secara teoritis pada stage ke- 5 tetapi pada kondisi aktual di pabrik terletak pada stage pertama.
PENINGKATAN KUALITAS GONDORUKEM DENGAN PENAMBAHAN CHELATING AGENT DAN ADSORBEN PADA PROSES PENGOLAHAN GETAH KARET (PINUS MERKUSII) DI PT. PERHUTANI ANUGERAH KIMIA Rahmad Abubakar Nur Hidayat; Satrio Nugroho; Heny Dewajani; Aris Yuni
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.255

Abstract

Gondorukem merupakan hasil getah yang disadap dari pohon pinus. Untuk meningkatkan harga jual gondorukem maka sebelum dijual ke pasaran getah pinus akan mengalami proses pemurnian. Oleh karenanya diperlukan perbaikan proses pemurnian dan pencucian getah karet sebagai bahan baku dengan cara penambahan bahan yang bersifat adsorbing dan de-chelating yaitu Zeolit dan EDTA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi EDTA, zeolit dan campuran EDTA-zeolit terhadap sifat fisik-kimia gondorukem. Tahapan pemurnian yaitu pencucian larutan getah dengan asam oksalat, kemudian penambahan konsentrasi zeolit 1%, 2%, 3% 4% EDTA 0,3%, 0,6%, 0,9%, 1,2% dan campuran zeolit 1, 2, 3, 4% dan EDTA 0,3, 0,6, 0,9, 1,2% dari massa getah. Lalu dilakukan distilasi untuk mendapatkan hasil gondorukem, kemudian dilakukan analisa kualitas produk. Analisa yang dilakukan adalah uji warna gardner, uji titik lunak, dan uji kadar asam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi dan waktu hanya berpengaruh nyata terhadap warna, titik lunak dan bilangan asam gondorukem yang dihasilkan. Penambahan EDTA dengan konsentrasi 0,6% titik lunak yang dihasilkan berkisar antara 78°C – 88°C dengan bilangan asam berkisar antara 184,2 mg KOH/g – 201,65 mg KOH/g. Lamanya waktu berpengaruh terhadap titik lunak dan bilangan asam sedangkan variasi konsentrasi EDTA berpengaruh pada warna yang dihasilkan.
STUDI LITERATUR PENGARUH JENIS KATALIS DAN SUHU REAKSI TERHADAP PROSES PIROLISIS GLISEROL MENJADI AKROLEIN Akh. Ifan Fitril Fadilah; Heny Dewajani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.228

Abstract

Meningkatnya produksi biodiesel menghasilkan peningkatan gliserol sebagai produk samping sekitar 10% berat gliserol pada industri biodiesel. Gliserol dapat dikonversi menjadi bahan kimia bernilai tinggi seperti acetaldehid, akrolein, formaldehid, dan acetol. Berbagai metode dapat digunakan untuk konversi gliserol antara lain pirolisis dan steam gasifikasi. Proses pirolisis terjadi reaksi dehidrasi gliserol menghasilkan akrolein atau asetol sebagai produk reaksi utama tergantung kondisi reaksi dan permukaan asam katalis. Akrolein digunakan dalam kedokteran, pengolahan air, industri perminyakan sebagai biosida. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari kajian literatur dari beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengkonversi gliserol dan menentukan metode terbaik yang digunakan terhadap yield akrolein. Kajian dilakukan dengan membandingkan jenis katalis yang digunakan pada proses pirolisis serta suhu proses yang dilakukan peneliti sebelumnya. Hasil dari kajian literatur berupa kesimpulan untuk mengetahui kondisi optimal dalam menghasilkan akrolein dari pirolisis gliserol.
PENGARUH WAKTU PENGADUKAN DAN PERSENTASE PENAMBAHAN NaOH PADA PROSES TREATING PERTASOL CA DI PPSDM MIGAS CEPU Rizqy Ianatus Saida; Tiara Retsa Putri Agustin; Heny Dewajani; Rieza Mahendra Kusuma
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 1 (2022): March 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i1.322

Abstract

Pertasol CA merupakan salah satu produk dari PPSDM Cepu yang digunakan sebagai solvent dalam berbagai industri seperti industri cat, varnish, tinta, dan ban. Produksi pertasol CA terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan dari konsumen PPSDM Migas Cepu. Permasalahan yang dihadapi pada produksi CA adalah adanya kandungan sulfur yang mempengaruhi mutu produk pertasol karena dapat menimbulkan korosi, menurunkan mutu produk, bau tidak enak saat pembakaran dan penurunan stabilitas pada penyimpanan. Untuk menghilangkan sulfur ini maka dilakukan proses caustic treating menggunakan NaOH sebagai pengikat sulfur. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh waktu pengadukan dan persentase penambahan NaOH pada proses treating untuk meningkatkan kualitas pertasol CA. Variasi yang digunakan yaitu waktu pengadukan (15 menit, 30 menit dan 45 menit) dan persentase penambahan NaOH (5%, 10%, 15%, dan 20%) . Parameter uji pada penelitian ini antara lain uji densitas, uji warna, doctor test, analisis aromatic content, analisis copper strip corrosion, uji distilasi, dan analisis sulfur content. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah penurunan kadar sulfur sebesar 33.90% dari kadar sulfur awal 151.9 ppm dengan persentase penambahan NaOH terbaik sebesar 20% dan waktu pengadukan 15 menit. Dari hasil uji didapatkan densitas sebesar 750.4 kg/m3, uji warna +30, distilasi dengan suhu 58°C - 165°C, doctor test negatif, kandungan aromatik sebesar 16%, analisis copper strip corrosion nomor 1, dan sulfur content sebesar 100.4 ppm.
PEMILIHAN JENIS MINYAK DALAM PEMBUATAN SABUN MANDI CAIR DENGAN METODE HOT PROCESS Farah Maulidha; Heny Dewajani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.490

Abstract

Sabun merupakan kebutuhan sekunder yang cukup banyak digunakan dalam aspek kehidupan yang berfungsi untuk menghilangkan kotoran. Sabun mandi cair berasal dari reaksi saponifikasi antara trigliserida yang berasal dari asam lemak pada minyak dengan basa alkali (kalium hidroksida). Tahapan pembuan sabun mandi cair yaitu pembuatan soap base dengan pemanasan, pelarutan soap base, penetralan dan penambahan zat aditif berupa pewarna dan essence. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jenis minyak yang digunakan agar menghasilkan sabun mandi cair dengan kualitas terbaik. Penelitian ini menggunakan metode hot dengan jenis minyak yang digunakan yaitu minyak kelapa sawit, minyak kelapa, VCO (Virgin Coconut Oil), dan campuran minyak tersebut dengan perbandingan 1:1:1. Karakteristik sabun yang diamati adalah keadaan, pH, randemen hasil, viskositas, dan densitas sesuai dengan parameter yang ada di di SNI 06-4085-1996 Tentang Syarat Mutu Sabun Mandi Cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis minyak yang dapat mengasilkan sabun dengan kualitas terbaik dan sudah sesuai dengan SNI-1996 adalah VCO (Virgin Coconut Oil) dengan konsentrasi KOH 30% (%w/v) menghasilkan sabun dengan warna yang jernih, dengan pH 8, randemen hasil 93%, viskositas 75,2229 cSt dan massa jenis 1,0237 gram/cm3.
SELEKSI PROSES DAN PENENTUAN KAPASITAS PRODUKSI INDUSTRI SABUN MANDI CAIR BERBAHAN BAKU VIRGIN COCONUT OIL (VCO) Noufi Mujibur Ridlo; Heny Dewajani
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.502

Abstract

Sabun mandi merupakan kebutuhan pokok yang universal, karena hampir semua manusia menggunakan sabun untuk keperluan hidupnya. Manfaat utama sabun yaitu untuk melembabkan kulit, memutihkan kulit, dan menjaga kesehatan kulit. Sabun memiliki banyak bentuk, salah satunya adalah sabun cair. Sabun cair dapat dihasilkan dari Virgin Coconut Oil, karena memiliki kandungan asam laurat tinggi yang berguna untuk kesehatan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan proses yang paling efektif dalam pembuatan sabun cair dan menentukan kapasitas produksi dalam industri sabun cair. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses saponifikasi trigliserida efektif untuk digunakan karena mempertimbangkan beberapa hal yang dapat mempengaruhi jalannya industri kedepannya, seperti konversi yang dihasilkan, suhu operasi, energi yang dibutuhkan, serta limbah atau produk samping yang dihasilkan. Selain itu, penentuan kapasitas produksi harus dilakukan agar kapasitas produksi di industri sesuai dengan kebutuhan konsumsi masyarakat. Penentuan kapasitas dilakukan dengan perhitungan pertumbuhan rata-rata pertahun pada proses produksi sabun mandi cair, dengan menggunakan data ekspor dan impor pada tahun 2016-2020 untuk mendapatkan hasil perkiraan pada tahun 2024. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kapasitas produksi yang didapatkan sebesar 80.000 ton/tahun.