Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Diseminasi kelompok Karang Taruna Desa Pationgi dalam pembuatan Biofoam kemasan pengganti Styrofoam Irna Erviana; Andi Muhammad Irfan Taufan Asfar; Andi Muhamad Iqbal Akbar Asfar; Muhamamd Safar; Sartika Sari Dewi; Wiwi Damayanti; Yulita Yulita
ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masayarakat Vol 3 No 2 (2022): ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/ab.v3i2.6604

Abstract

Bio foam is an alternative packaging to replace Styrofoam made from natural raw materials such as starch, with the addition of fiber to strengthen its structure. Bio foam is a product that is not only biodegradable but also renewable. The raw material for packaging bio-foam in this service activity is peanut shell waste, a combination of rice husk waste. Peanut shell and rice husk waste are used as ingredients in manufacturing bio-foam because these materials contain high carbon elements, producing K-dots compounds that can benefit human life if processed. This service activity was carried out in Pationgi Village, Patimpeng District, Bone Regency, with three main stages: counseling, training, and mentoring. This community service activity aims to provide knowledge and skills to Karang Taruna Group partners in processing peanut shell waste and rice husks into environmentally friendly alternative packaging (bio-foam) as a substitute for Styrofoam. As a result of this community service, the Pationgi Village Youth Group partners now have more knowledge and skills about how to process nutshell and rice husk waste to make bio-foam packaging that is better for the environment and can be used instead of Styrofoam.
Integrasi Nilai Budaya dalam Sistem Irigasi Tradisional Pabbage Wae sebagai Mekanisme Resolusi Konflik Air Sartika Sari Dewi; Andi Muhammad Irfan Taufan Asfar; Andi Muhamad Iqbal Akbar Asfar; Muhlis Muhlis; Andi Nurannisa; Wiwi Damayanti
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 15 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v15i1.104083

Abstract

Sistem irigasi tradisional Pabbage Wae masyarakat Bugis tidak hanya berfungsi sebagai teknik distribusi air, tetapi sebagai pranata sosial-budaya dalam pengelolaan sumber daya agraris. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi nilai budaya dalam sistem Pabbage Wae serta implikasinya terhadap resolusi konflik air. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain convergent parallel melalui etnografi kualitatif dan regresi linear berganda. Hasil kualitatif menunjukkan bahwa distribusi air dijalankan melalui musyawarah, sistem giliran, pengawasan kolektif, dan sanksi sosial yang berlandaskan nilai Tellu Pattola dan A’bulo Sibatang. Hasil kuantitatif menunjukkan bahwa modernisasi (mean = 3,15) dan perubahan sosial (mean = 3,20) berada pada tingkat moderat, sementara eksistensi dan implementasi Pabbage Wae tetap sangat tinggi (mean = 4,55). Nilai koefisien determinasi yang rendah (R² = 0,024) dan signifikansi yang tidak memenuhi ambang statistik (p = 0,070) mengindikasikan bahwa keberlanjutan Pabbage Wae tidak dipengaruhi secara signifikan oleh faktor eksternal, melainkan ditopang oleh internalisasi nilai budaya dan mekanisme sosial. Penelitian ini menegaskan kebaruan dengan memposisikan sistem irigasi tradisional sebagai mekanisme resolusi konflik berbasis nilai budaya, bukan sekadar infrastruktur teknis, dimana pranata lokal berperan sebagai fondasi tata kelola sumber daya bersama yang menjaga harmoni dan stabilitas distribusi air di tengah tekanan modernisasi.