Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Wajan Bolic Sebagai Alat Penguat Signal Untuk Desa Minim Signal Yulita Yulita; Andi Muhammad Irfan Taufan Asfar; Andi Muhamad Iqbal Akbar Asfar; Nurlinda Nurlinda; Andi Ilham Rivaldi
Unri Conference Series: Community Engagement Vol 3 (2021): Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/unricsce.3.67-71

Abstract

Communication is an important element used to help realize common interests in achieving a goal to be achieved. Communication is very necessary in the continuity of the learning process, especially during this Covid-19 period. The Covid-19 pandemic has brought significant changes to various sectors, including the education sector, where all rely on the use of technology that can connect teachers and students, thus making it easy for students to get good network coverage to take part in online learning. This is a major problem for students who live in areas with minimal signal, where each student has to struggle to find a signal and even climb a hill which of course will be dangerous for his safety, as happened in Pationgi village, where the location is very far from the city, resulting in network coverage in the village is very minimal. The implementation of PKM will be a solution for the community in providing an alternative by converting used frying pans into simple signal amplifiers. This used skillet will be combined with a repeater equipped with unshielded twisted pair (UTP) cable so that the signal produced is much better and facilitates internet access through the empowerment of the youth of the Pationgi village mosque. The impact of implementing PKM supports the learning process during the Covid-19 pandemic, increases partner creativity and supports digital literacy programs.
Diseminasi kelompok Karang Taruna Desa Pationgi dalam pembuatan Biofoam kemasan pengganti Styrofoam Irna Erviana; Andi Muhammad Irfan Taufan Asfar; Andi Muhamad Iqbal Akbar Asfar; Muhamamd Safar; Sartika Sari Dewi; Wiwi Damayanti; Yulita Yulita
ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masayarakat Vol 3 No 2 (2022): ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/ab.v3i2.6604

Abstract

Bio foam is an alternative packaging to replace Styrofoam made from natural raw materials such as starch, with the addition of fiber to strengthen its structure. Bio foam is a product that is not only biodegradable but also renewable. The raw material for packaging bio-foam in this service activity is peanut shell waste, a combination of rice husk waste. Peanut shell and rice husk waste are used as ingredients in manufacturing bio-foam because these materials contain high carbon elements, producing K-dots compounds that can benefit human life if processed. This service activity was carried out in Pationgi Village, Patimpeng District, Bone Regency, with three main stages: counseling, training, and mentoring. This community service activity aims to provide knowledge and skills to Karang Taruna Group partners in processing peanut shell waste and rice husks into environmentally friendly alternative packaging (bio-foam) as a substitute for Styrofoam. As a result of this community service, the Pationgi Village Youth Group partners now have more knowledge and skills about how to process nutshell and rice husk waste to make bio-foam packaging that is better for the environment and can be used instead of Styrofoam.
PENGUATAN SIGNAL PADA DAERAH MINIM SIGNAL MELALUI TRANSFORMASI WAJAN BEKAS DALAM MENDUKUNG KOMUNIKASI WARGA DESA PATIONGI DI MASA COVID 19 Yulita Yulita; Andi Muhammad Irfan Taufan Asfar; Andi Muhamad Iqbal Akbar Asfar; Cheriani Cheriani; Nurlinda Nurlinda; Andi Ilham Rivaldi
E-Amal: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 3: September 2021
Publisher : LP2M STP Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/eamal.v1i3.891

Abstract

Desa Pationgi merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Patimpeng dengan jarak dari kota Kabupaten sangatlah jauh berkisar 67,5 km yang harus ditempuh selama 2-3 jam sebab infrastruktur jalan yang masih jauh dari kata layak. Masalah lain yang menjadi fokus utama saat ini adalah jangkauan jaringan atau signal bagi para pelajar yang melaksanakan pembelajaran online selama pandemi Covid-19 dimana setiap pelajar harus berjuang mencari signal bahkan mendaki bukit yang tentunya berbahaya bagi keselamatannya. Pelaksanaan PKM akan membantu masyarakat dalam memberikan solusi khususnya dalam pemenuhan akses jaringan melalui pemberdayaan remaja mesjid desa Pationgi. Salah satu kegiatan transformasi yang dilaksanakan adalah mengubah wajan bekas menjadi alat bantu penguat signal sederhana. Wajan bekas ini akan dikombinasikan dengan repeater dan kabel UTP supaya signal yang dihasilkan jauh lebih baik serta memudahkan akses internet. Dampak dari pelaksanaan yaitu dapat mendukung proses pembelajaran selama masa pandemi Covid-19 didaerah Minim signal
OPTIMALISASI LIMBAH SERBUK GERGAJI DAN SEKAM PADI MENJADI PRODUK ASAP CAIR RAMAH LINGKUNGAN Yulita Yulita; Andi Muhammad Irfan Taufan Asfar; Andi Muhamad Iqbal Akbar Asfar; Andi Riska; Andi Nurannisa; Hasmariyanti Hasma; Murasyidah Masri Murasyida
Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024 Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5
Publisher : Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan limbah serbuk gergaji dan sekam padi di Desa Pationgi, Kecamatan Patimpeng, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, menjadi isu krusial, karena akumulasi limbah ini biasanya hanya dibakar atau dibuang ke sungai, yang menyebabkan polusi udara dan air. Untuk itu, kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan untuk mentransformasi limbah serbuk gergaji dan sekam padi menjadi asap cair atau insektisida cair menggunakan teknik pirolisis. Kegiatan ini melibatkan tiga tahapan utama dalam pelaksanaannya, yaitu Sipakatau (Penyuluhan), Sipakalebbi (Pelatihan/Peragaan), dan Sipakainge (Pendampingan), yang merupakan istilah yang digunakan dalam masyarakat Bugis untuk memudahkan pemahaman oleh mitra. Hasil dari kegiatan pengabdian ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan dan pengetahuan mitra dalam tiga komponen utama: pengetahuan tentang kegunaan limbah serbuk gergaji dan sekam padi, produksi insektisida cair, dan pemasaran. Secara rinci, peningkatan pengetahuan mitra dalam memanfaatkan limbah serbuk gergaji dan sekam padi mencapai 90%, kemampuan dalam menghasilkan insektisida cair mencapai 100%, dan pengetahuan tentang pemasaran meningkat sebesar 80%. Peningkatan keterampilan ini tidak hanya mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan mitra, tetapi juga menghasilkan produk pengganti pestisida kimia yang lebih ramah lingkungan, yang berpotensi meningkatkan perekonomian mitra secara berkelanjutan.