Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Effect of The Addition of Acacia Powder Ash and Carbide Welding Ash to Increase the Production of Brick Craftsmen Marlia Adriana; Norminawati Dewi; Budi Kurniawan; Intan Safitri
International Journal of Research in Vocational Studies (IJRVOCAS) Vol. 2 No. 4 (2023): IJRVOCAS - Special Issues - International Conference on Science, Technology and
Publisher : Yayasan Ghalih Pelopor Pendidikan (Ghalih Foundation)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53893/ijrvocas.v2i4.155

Abstract

Many bricks are produced by small business and industries as construction materials. As the population increases, there is also more demand for bricks in construction construction. The materials used in this study are waste from the acacia wood burning process and carbide welding ash waste. These two materials will be tested into additives from making bricks. The research method was carried out using testing of moisture content, specific gravity, Atterberg limit testing (Liquid limit) as well as a visual description of bricks with an outside temperature without a combustion process. Of the three samples, the average moisture content obtained, the lowest moisture content value was 69.41% in a mixture of clay soil plus acacia ash which showed that the soil category was a soft organic clay category with the characteristic that the soil could be pressed with the tip of the thumb so that the soil was suitable to be used as additional raw material in making stone stones without burning. The results of the average soil specific gravity test of 2 samples showed a Gs value of 2.64 at a temperature of t0 C, this shows that the soil with the organic clay category is in accordance with the test results on the moisture content that the clay soil is the basic raw material. The liquid limit test in this study showed the average value of water content in bricks without additives as much as 120.36%: the average value of water content in bricks with additives from the values of the three samples can be known that the mineral clay material is of the montmorillonite type with a liquid limit value of 100-900. Visual observations showed that bricks printed using clay soil raw materials without additives showed a break (split) in half during the drying process for 2 days with a temperature of 30oC; the mixture of clay soil and welded ash of the brick carbide experienced small cracks / crak on the surface with the drying process at the same temperature while the mixture of clay soil with acacia ash showed intact bricks without intact bricks without fractures or cracks on the surface in the drying process using the same temperature.
Analisis Kuat Tekan Beton Geopolimer Menggunakan Fly Ash dan Serbuk Kulit Kayu Galam Budi Kurniawan; Ines Saraswati Machfiroh; Intan Safitri
Buletin Profesi Insinyur Vol 7, No 1 (2024): Buletin Profesi Insinyur (Januari-Juni)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bpi.v7i1.240

Abstract

Pembangunan infrastruktur di Provinsi Kalimantan Selatan akan terus meningkat khususnya pada Kabupaten Tanah Laut. Hal ini terjadi mengingat Kabupaten Tanah Laut merupakan Kabupaten yang direncanakan memiliki Kawasan Industri Strategis Nasional yang terletak di Kecamatan Jorong. Maka diperlukannya bahan material untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kawasan industri tersebut. Selain itu, Kabupaten Tanah Laut dikenal dengan daerah penjual kayu galam yang sebagian hanya dipergunakan berupa batangnya saja dan untuk kulit kayu galam tidak ada nilai ekonomisnya hanya menghasilkan sampah yang biasa ditumpuk atau dibakar. Di Kecamatan Jorong juga terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menghasilkan limbah B3 dalam jumlah cukup banyak sekitar 120 ton per hari setiap pengoperasian PLTU tersebut. Diharapkan dalam pemenuhan bahan material pembangunan kawasan industri tersebut dapat memanfaatkan limbah yang ada di sekitar seperti beton geopolimer. Dalam pembuatan beton geopolimer dilakukan penggantian bahan baku semen oleh Fly Ash yang dicampurkan dengan alkali aktivator dan penambahan campuran dengan serbuk kulit kayu galam dengan perbandingan 74:26 antara Fly Ash dan alkali aktivator dalam bahan pengganti semen. Dan perbandingan antara Fly Ash dan alkali aktivator dengan serbuk kulit kayu galam sebanyak 75:25. Hasil dari analisa kuat tekan beton umur 28 hari didapatkan hasil rata-rata paling tinggi adalah kuat tekan campuran beton normal tanpa ada pengganti semen dengan Fly Ash dan serbuk kulit kayu galam sebesar 21,153 MPa.Kata kunci: beton geopolimer, Fly Ash, kuat tekan, serbuk kulit kayu galam
TEKNOLOGI KONSTRUKSI PADA LAHAN RAWA DI KALIMANTAN SELATAN: TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS Muhammad Rizan Adam; Budi Kurniawan; Norminawati Dewi
Jurnal Rekayasa Konstruksi Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Rekayasa Konstruksi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kalimantan Selatan memiliki lahan rawa seluas 2,5 juta hektar, mencakup 66% dari total wilayah, yang menimbulkan tantangan kompleks dalam pembangunan infrastruktur. Karakteristik tanah rawa yang memiliki daya dukung rendah, kadar air tinggi, dan kompresibilitas besar memerlukan pendekatan konstruksi yang khusus dan adaptif. Penelitian ini menganalisis perkembangan teknologi konstruksi di lahan rawa Kalimantan Selatan melalui tinjauan literatur sistematis terhadap 45 publikasi terpilih dari berbagai database. Analisis kualitatif difokuskan pada inovasi dalam teknologi pondasi, stabilisasi tanah, dan penggunaan material konstruksi. Hasil menunjukkan bahwa teknologi preloading dengan Prefabricated Vertical Drain (PVD) mampu mengurangi penurunan tanah hingga 60% dan mempercepat konsolidasi 4,2 kali lipat. Pondasi tiang pancang beton prategang berdiameter 40–60 cm dan kedalaman 25–40 meter dapat menahan beban hingga 280 ton per tiang. Geotekstil woven meningkatkan nilai CBR hingga 285%, sementara stabilisasi dengan semen 10–15% menghasilkan kuat tekan 400–800 kPa. Penggunaan material lokal seperti abu sekam padi dan kapur terbukti efektif dan ekonomis. Ke depan, fokus perlu diarahkan pada pemantauan jangka panjang, integrasi teknologi digital, dan pemanfaatan material berkelanjutan berbasis limbah lokal.
Kelayakan Agregat Batu Gunung Katunun sebagai Material Kelas B Berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2 Fajri Ramadhan; Norminawati Dewi; Tekad Budiantoro; Budi Kurniawan
Jurnal Rekayasa Konstruksi Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Rekayasa Konstruksi (Mei)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi kelayakan agregat batu Gunung Katunun yang diproses melalui stone crusher PT. Berkah Serasi Perkasa sebagai material Lapis Pondasi Bawah (LPB) Kelas B berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium terhadap sampel agregat yang diambil secara representatif dari lokasi tambang. Pengujian meliputi analisa saringan, berat jenis dan penyerapan, batas cair, batas plastis, serta abrasi Los Angeles. Hasil pengujian menunjukkan penyerapan 2,2%, batas cair 31,28%, batas plastis 7,15%, dan abrasi 29,60%. Gradasi agregat dapat disesuaikan sehingga berada dalam rentang spesifikasi Kelas B. Secara umum, material ini berpotensi digunakan sebagai LPB Kelas B untuk mendukung pembangunan jalan lokal, namun pengendalian gradasi dan verifikasi parameter plastisitas tetap diperlukan pada tahap penerapan lapangan.