Muhammad Amin Abdullah, Muhammad Amin
Unknown Affiliation

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Dimensi Etis-Teologis dan Etis-Antropologis dalam Pembangunan Berwawasan Lingkungan Abdullah, Muhammad Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.17-26

Abstract

Isu pembangunan berwawasan lingkungan sebenarnya belum lama. Jika kita ambil patokan konferensi Stockholm yang diadakan oleh PBB pada tahun 1072, maka isu tersebut baru berumur dua puluh tahun. Isu lingkungan hidup mulai gencar dibicarakan oleh Ilmuan, politikus dan para cendikiawan Ketika dunia maju sudah lama menikmati kue pembangunan hasil teknologi Industri dan dunia berkembang sedang merayab menuju era industrialisasi. Para pemimpin politik dunia berkembang meragukan kemauaan baik dunia maju Ketika baru-baru ini dunia maju mengajukan persyaratan perlunya pengkaitan dana bantuan luar negeri dengan isu lingkungan hidup dan pelestarian lingkungan. Ironisnya, pada saat duni amju telah menikmati hasil revolusi industry dan sudah pula merasakan pahit getirnya dampak negative era industrialisasi terhadap lingkungan hidup (hujan asam, pemunahan jenis, lubang ozon, pemanasan global dan sebagainya ), maka mereka buru-buru menghimbau perlunya pembangunan berwawasan lingkungan. Sebaliknya, Ketika dunia berkembang baru hendak memasuki era industrialisasi dengan dampak negative seperti yang telah dialami oleh negara-nera industry maju, maka dunia berkembang pun perlu mempertimbangkan rencana-rencana pembangunannya, terlepas adanya himbauan darinegara maju atau tidak. Dalam sisuasai yang dilematis seperti ini, lagi-lagi dunia berkembang yang sarat dengan berbagai persoalan social-ekonomi banyak mendapat tekanan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Keadan social-ekonomi duania berkembang membutuhkan akselerasi pembangunan, sedang isu globalisasi lingkungan hidup menambah beban tambahan yang perlu dipertimbangkan secara serious oleh dunia berkembang, termasuk Indonesia, jika mereka ingin terlepas dari nasib serupa yang dialami oleh dunia maju.
Aspek Epistemologis Filsafat Islam Abdullah, Muhammad Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.9-22

Abstract

Epistemologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme, yang berarti pengetahuan. Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini: (1) Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahuinya? (2) Apakah sifat dasar pengetahuan itu? Apakah ada dunia yang benar­benar di luar pikiran kita, dan kalau ada, apakah kita dapat mengetahuinya? Ini adalah persoalan tentang apa yang kelihatan (phenomena/ appearance) versus hakekat (noumena/essence). (3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dari yang salah? Ini adalah soal tentang mengkaji kebenaran atau verifikasi. Secara garis besar, ada dua aliran pokok dalam epistemologi. Pertama, adalah idealism atau lebih populer dengan sebutan rasionalism, yaitu suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran 'akal', 'idea', 'category', 'form' sebagai sumber ilmu pengetahuan. Di sini peran panca indera dinomor duakan. Sedang aliran yang kedua adalah realism atau empiricism yang lebih menekankan peran 'indera' (sentuhan, penglihatan, penciuman, pencicipan, pendengaran) sebagai sumber sekaligus sebagai alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Di sini peran akal dinomor duakan. Kedua (atau ketiga) ini saling bersiteguh mempertahankan keyakinan masing-masing, yang kadang-kadang sangat eksklusif, sehingga para pengamat yang datang belakangan dapat melihat secara jelas di mana letak kelemahan dan kekuatan argumen masing-masing.
Studi Islam Ditinjau dari Sudut Pandang Filsafat (Pendekatan Filsafat Keilmuan) Abdullah, Muhammad Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 58 (1995)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1995.3358.83-105

Abstract

Dalam kegiatan keilmuan, seorang ilmuan dituntut untuk mempunyai "asumsi dasar" atau "postulasi" yang jelas, yang dibangun di atas dasar pemikiran yang sistimatis-metodologis. Tanpa asumsi dasar atau postulasi yang kokoh, jelas dan sistimatis, maka analisa pemecahan persoalan yang hendak ditawarkan tidaklah akan tajam dan sulit mengarah kepada titik focus tujuan tertentu yang hendak dicapai. lbarat sebuah "kacamata baca" yang dirancang sesuai dengan ilmu-ilmu dasar optic, begitu pula "asumsi dasar" atau postulasi yang hendak dipertahankan haruslah dihimpun disusun dan dirumuskan secara matang dan sistimatis sesuai bidang keilmuan tertentu, sehingga dengan demikian dapat diharapkan mempermudah mengantarkan pada sebuah analisa yang mapan dan dapat pula dipertanggungjawabkan secara akademik. Bangunan pemikiran filsafat --lebih-lebih filsafat keilmuan­- sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah tatanan asumsi dasar atau postulasi yang disusun sccara sistimatis-argumentatif-demonstratif sehingga mempunyai daya kekuatan analisis yang tajam terhadap berbagai persoalan yang hendak dipecahkan, rancang bangun keilmuan Islamic Studies tidak bisa tidak juga perlu dipertimbangkan. Sehubungan dengan judul tersebut di atas, penulis mempunyai asurnsi bahwa "Islamic Studies" atau juga disebut "Dirasat lslamiyah" tidak lain dan tidak bukan adalah kegiatan keilmuan, untuk tidak mengatakan hanya sebagai kegiatan keagamaan. Dilema antara keduanya diuraikan lebih lanjut  beberapa saat lagi. Jika Islamic Studies/Dirasat Islamiyah memang masuk dalam wilayah "Keilmuan", maka telaah filsafat ilmu terhadap bangunan atau rancang bangun keilmuan Islamic Studies tidak bisa tidak juga perlu dipertimbangkan.
Preliminary Remarks On The Philosopy of Islamic Religious Science Abdullah, Muhammad Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 61 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3661.1-26

Abstract

Dari sudut pandang filsafat Ilmu, penerapan istilah “science” dalam Islamic religious science merupakan hal yang dapat diperdebatkan, bahkan cukup kontroversial. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah “dapatkah diskusi serius dalam filsafat Ilmu (philosophy of Science) diterapkan dalam pembahasan Islamic Religious Science (ilmu-ilmu keislaman)?” Artikel ini mencoba menganalisis konsekuensi-konsekuensi dari dimasukkannya diskusi filsafat ilmu dalam tubuh Islamic religious science, berangkat dari kenyataan tidak adanya pemikir kontemporer muslim yang menganalisis persoalan tersebut. Sebagai langka awal, perdebatan filosofis antara tiga pakar filsafat ilmu yaitu Karl R. Popper, Thomas Kuhn dan Imre Lakatos tentang konsep “science” diangkat, untuk selanjutnya dilihat relevan-sinya bagi Islamic religious science. Lebih spesifik, artikel ini menyoroti hubungan antara Islamic Religious Science dengan research programnya Imre Lakatos, dan menggarisbawahi bahwa rekonstruksi Islamic Religious science adalah dalam wilayah historical Islam. Satu hikmah terpenting yang dapat dipetik dari perdebatan diatas adalah penegasan bahwa semua teori, konsep formula, prinsip-prinsip dalam Islamic science hanyalah merupakan produk manusia, masyarakat dan budaya semata. Lewat kesadaran inilah ilmu-ilmu keislaman tersebut terbuka untuk dipertanyakan ulang, dirumuskan Kembali sesuai dengan tantangan jaman yang mengitarinya. Persoalan yang muncul kemudian adalah adanya hambatan dari para peneliti sendiri yang mencemaskan apakah mereka mengadakan studi keislaman atau sesuatu yang lain. Sosok Islamic Religious science yang baru (setelah dihubungkan dengan philosophy dan sociology of knowlage) harus mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh tiga demensi pendekatan atas agama Islam yaitu: linguistic-historical, theological-philosophical dan Socio-anthropological. Yang lebih penting lagi, hubungan antara tiga pendekatan ini haruslah bersifat sirkular dalam arti bahwa pendekatan multi-dimensi tersebut harus berdialog antara yang satu dan lainnya secara serius sebagai sebuah kesatuaan entitas dengan seluruh implikasi dan konsekuensinya.sebagai kesimpulan, ilmu keislaman yang kritis hanya dapat dikonstruksikan secara sistematis lewat model pendekatan tiga dimensi yang bersifat sirkular dalam mana setiap dimensi dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan yang lain. Dengan jalan inilah konteks penemuan (discovery) dalam Islamic religious science dapat berkembang dan konteks justifikasinya dapat ditekan serendah mungkin.
Kajian Ilmu Kalam di IAIN Menyongsong Perguliran Paradigma Keilmuan keislaman pada Era Milenium Ketiga. Abdullah, Muhammad Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 1 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.381.78-101

Abstract

The paper is aiming at offering new paradigm in studying Islamic theology. It starts by describing the existing theological discourse in Indonesian Islamic higher education. It is found that theology, due to its important and central position in religion, has been sacralized. The historical aspect uf its logic, methodology and development are being protected from criticism cannot be evaluated and reformulated. As a result most Muslims find it difficult to establish a mutual dialog with people of other religions in this pluralistic world and on the social, economic, cultural and political spheres.  Before proposing a new approach in studying theology, the paper forwards epistemological-methodological questions: Is it possible to combine or establish a dialog between philosophy and theology? Is it allowed to review and reformulate all systematic structure, content and methodology in theology developed by classical and medieval theologians to meet the new needs and changes? Can it be said that what is now called theological doctrine or dogma is nothing other than theory developed by human beings living in a particular time and space? The answers of these questions will determine the nature of the study of theology in the future.